Puzzle

Puzzle
Episode 3


__ADS_3

"Jadi lo dipukulin?!” pekik Sunny membuat pria disebelahnya menutup telinga kuat-kuat.


“Buset suara lo! Bisa dikecilin dikit nggak?” pria tersebut protes membuat Sunny tersenyum kikuk.


“Maaf deh. Luka lo banyak banget, ayo gue obatin biar nggak rabbies,” Sunny mengampit tangan kanan laki-laki itu dipundak mungil sambil memapah pria yang tidak dikenalnya itu.


"Nggak perlu gue bisa sendiri,” ujarnya sambil melepaskan tangan Sunny.


Sunny yang geram melihat kepongahan pria tersebut langsung menjitak kepalanya kuat-kuat membuat sang pria tersebut mengeluh kesakitan.


“Tega lo!” umpat pria tersebut seraya merangkul Sunny. “Jangan dzolimin orang yang tak berdaya, nanti lo kena batunya baru tahu rasa,” lanjut pria tersebut membuat Sunny memutar bola matanya malas.


Dengan segenap jiwa dan raga, akhirnya Sunny sampai dengan selamat di UKS yang memang letaknya sangat jauh dari taman belakang tadi. Napas yang dimiliki Sunny pun berkembang-kempis setelah memapah pria yang beratnya dua kali lipat dari miliknya.


“Badan lo berat banget mirip gorbon,” keluh Sunny menyeka peluh didahi seraya mengipasinya dengan buku yang entah milik siapa.


“Ikhlas nggak nih bantuin gue,” ujar pria tersebut sambil terkekeh kecil.


“Ikhlas lahir batin,” ujar Sunny penuh penekanan.


Tak lama kesunyian menghampiri mereka, membuat sang pria tersebut kebosanan. Iseng-iseng berhadiah pria tersebut berkata, “Lo anak baru atau memang lo nggak pernah kelihatan.”


“Ah! Gue anak baru,” Sunny membuka kotak P3K cuek.


Sunny yang terlalu serius itupun tak menyadari bahwa jarak mereka sangatlah dekat. Membuat pria tersebut menatapnya bola mata cokelat milik Sunny dalam-dalam. Hingga sang empu merasa terusik dan ia menyadari bahwa pria didepannya ini sangatlah tampan.


Dug ... dug ... dug ....


Bukan! Itu bukan suara jantung Sunny, percayalah sebesar apapun suara jantung berdetak ia tidak akan terdengar hingga keluar. Lantas kalau bukan suara jantung, suara apa?


“Kalian sedang apa disini,” Bu Dayut mengagetkan dua sejoli yang sedang beradu tatapan itu.


“Bu Dayut apa kabar?” sapa pria didepan Sunny seraya menaikkan alisnya.

__ADS_1


“Ya Allah, Daffa! Sudah ibu bilang jangan suka berantem, kamu ini besarnya mau jadi apa? Kalau besok Ibu lihat kamu masih berantem lagi. Ibu nggak akan segan-segan buat kelas tambahan khusus untuk kamu,” Bu Dayut berkacak pinggang.


Laki-laki tersebut adalah Daffa Adipura Barasatya. Sang ketos legend dengan kelakuan nakalnya. Meskipun ia nakal tetap saja guru-guru takkan pernah ada yang berani mengeluarkannya. Sebab, ia adalah cucu dari pemilik sekolah yang memang kakeknya sendiri.


“Bu Dayut tega sama Daffa,” racaunya histeris membuat Bu Dayut hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


“Dan untuk kamu Sunny. Kamu itu murid baru dan Ibu sudah melihat catatan BK kamu disekolah lama. Ibu harap kamu nggak akan seperti itu lagi, kamu paham Alfiatus Sunny Fariza?” Dayut yang memang sempat melihat catatan BK Sunny yang sangat mengejutkan untuk seorang perempuan.


“Baik, bu. Lagipula catatan BK saya ada alasannya,” bela Sunny membuat Bu Dayut hanya bisa menggelengkan kepalanya mempunyai dua murid yang sama nakal, namun berbeda jenis kelamin.


“Ya sudah ibu pergi dulu. Ibu harap kalian jangan lupa caranya masuk kelas,” ujar Bu Dayut berlalu.


Sepeninggalnya Bu Dayut dari UKS yang memang sejak kedatangannya berubah menjadi horror. Guru killer? Jelas bukan. Karena memang semua guru yang ada disini galak, jadi tidak ada yang namanya guru killer seperti disekolah lain.


“Jadi, nama lo Alfiatus Sunny Fariza?” tanya Daffa memecah keheningan.


“Iya. Kenapa?” Sunny menduduki bangsal UKS untuk melilitkan perban dikepala milik Daffa.


“Thanks. Lo udah bantuin gue, meskipun kita nggak kenal.”


“Oke, kita kenalan ulang. Kenalin gue Daffa Adipura Barasatya kelas 12 MIPA 1,” ujar Daffa sambil mengulurkan


tangannya.


Daffa Adipura Barasatya atau biasa dipanggil Daffa. Lelaki dengan sikap cuek dan bermulut pedas, namun sedikit tampan. Jangan sampai overdosis nanti lo semua pada baper nanti. Yang tentu saja mempunyai hobi bermain basket, jangan lupakan bahwa Daffa ini sebenarnya humoris abis. Kalau kalian memang sudah mengenalnya dekat.


Sunny pun menyambut uluran tangannya dan berkata, “Sunny kelas 11 IPS 2.”


“Gue kira lo kelas dari IPA,” Daffa terkekeh dan merapikan seragamnya sendiri.


“Enggak, gue malah nggak nyangka cowok bandel didepan gue ini anak IPA,” canda Sunny seraya terkekeh geli.


“Jangan ketawa lo!” ujar Daffa sengit.

__ADS_1


“Sorry, gue ke kelas dulu.”


Daffa yang melihat Sunny berlalu hanya diam seraya memperhatikan punggung kecil itu hilang dibelokan arah koridor kelas.


Disisi lain, tepatnya di kelas 11 IPS 2 sedang ada jam kosong yang kebetulan gurunya tidak masuk dan tidak memberi tugas. Sebagian laki-laki memang sudah ada yang menempati singgasana mereka, tepatnya dibawah ac dan wifi yang kebetulan berada di pojok kelas. Ada juga yang memanfaatkan situasi tersebut dengan menyerbu kantin.


Sunny yang melihat kelasnya bak kapal pecah hanya bisa memijat kepalanya pelan dan terus memasuki kelas untuk mencari sahabatnya. Namun Sunny tak melihat ada tanda-tanda sahabatnya pun segera bertanya sang ketua kelas yang terlihat menikmati tontonan film di laptopnya.


“Ron, sahabat gue pada kemana?” tanya Sunny sambil melirik layar laptop yang buru-buru ditutup oleh Roni.


“Hah? Oh ya! Lo dicariin sama mereka,” ujar Roni yang kebingungan.


“Mereka kemana?” Sunny mengerutkan dahinya bingung.


“Kantin. Mereka tadi sempet bilang ke kantin,” ujar Roni membuat keempat temannya tersenyum setan.


“Kenapa lo semua?” tanya Sunny yang memang sedikit bingung melihat kelima teman lelaki dikelasnya itu.


“Hahaha ... enggak. Udah sana cari sahabat lo itu,” usir Denta sambil tertawa geli membuat matanya tinggal segaris.


“Dih! Ya udah makasiih, guys! Jangan kangen sama gue,” canda Sunny yang memang sudah kenal dengan teman lelaki dikelasnya.


Sedangkan ditempat Ayrin, Keyra, dan Maurin. Mereka memang sejak tadi sudah ada di ruang gym, Ayrin yang sengaja tidur, Keyra yang berlatih karate sendirian, dan Maurin yang memang sengaja tidur-tiduran sambil bermain ponsel.


“Sunny nggak lo kabarin?” tanya Keyra yang mengagetkan Maurin.


“Ya ampun! Gue lupa,” Maurin menepuk dahinya pelan.


“Bego dipelihara,” Keyra menoyor pelannkepala Maurin.


“Sialan! Namanya human forget,” sahut Maurin sambil menggerucutkan bibirnya lucu.


“Lo itu bukan lupa, tapi perbegoan yang haqiqi. Makanya kalau punya otak itu sering-sering dilaundry jangan pake steam motor,” canda Keyra membuat Maurin menjitak kepalanya pelan.

__ADS_1


“Sialan! Belum pernah ngerasain diseruduk badak lo ya?” sengit Maurin sambil menatap Keyra tajam.


“Hahah ... kalau belum kenapa? Lo badaknya? Anjay mirip kok,” Keyra tertawa terbahak-bahak membuat Maurin semakin bersemangat menggelitiki pinggang Keyra.


__ADS_2