
Kamar Sunny terlihat
sangat berantakan akibat ulahnya Maurin. Selepas pertengkarannya dengan senior yang tidak Sunny kenali, akhirnya
Daffa menyuruh ke dua perempuan itu untuk tidak melakukan hal-hal seperti tadi.
Akhirnya, Maurin
memutuskan untuk ikut Sunny saja. Sebab,
Regan belum keluar dari rumah sakit. Jadi, rumah itu akan menjadi tempat
perlindungannya sementara waktu. Sebelum Bang Maron datang menemuinya dan
menginterogasinya dengan berbagai cara.
Abangnya itu selalu tahu
akan cara mengetahui semua masalah Maurin. Padahal Bang Maron termasuk orang
yang tidak setiap waktu di rumah.
Tetapi, tentang kepekaannya wajib diacungi jempo. Bahkan masalah yang sudah berlalu
dalam waktu sebulan dapat laki-laki itu korek dengan rinci.
“Abang lo balik kapan?”
tanya Maurin merebahkan diri di sofa panjang dekat balkon.
Sunny mengalihkan
pandangannya dari laptop sejenak. Lalu, menggeram pelan sambil menjawab, “Kata
dokter hari ini juga udah bisa balik. Tapi, gue belum bilang sama dia. So, mungkin besok baru gue bilang.”
Maurin bangkit dari
rebahannya dengan wajah terkejut. “Nggak yakin gue kalau Bang Regan betah
seharian ini,” pikirnya sambil membuka-buka buku novel milik Sunny.
“Ya mau gimana lagi?
Katanya hari ini teman dia yang di Indo mau datang jenguk. Nggak mungkin kan
gue datang terus tiba-tiba ngajak dia balik,” ujar Sunny memiringkan kepalanya
ke kanan sambil menatap Maurin penuh.
“Iya juga, sih,” gumam
__ADS_1
Maurin sambil mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.
Tiba-tiba suara bel rumah
berbunyi, membuat Sunny yang awalanya fokus pada layar laptop menjadi buyar.
Namun, bukannya segera bangkit, remaja cantik itu malah meminta tolong pada
Maurin. Sebab, dirinya tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Awalnya Maurin tidak
terima dengan permintaan Sunny, tetapi berkat tatapan memohon dari Sunny.
Akhirnya, Maurin dengan berat hati bangkit dari sofa, lalu melenggang pergi
dari kamar.
Bunyi rentetan bel tidak terelakan, membuat Maurin
mempercepat langkahnya menuruni tangga dan bersiap untuk mengeluarkan
uneg-unegnya. Namun, ketika dirinya membuka pintu tersebut. Dunia seakan
berhenti. Angin seakan mentertawainya. Dan burung bahkan sempat berkicau.
“Hai, Maurin!” sapa Regan tersenyum ramah, lalu
Maurin hanya mengangguk singkat dan tersenyum tipis.
Menyisakan jarak untuk Regan memasuki rumah. Lalu, disusul oleh Kenzo dan Daffa.
Laki-laki yang Maurin kenal sejak ia memasuki eskul dancer.
“Wuih, Maurin! Gue biasanya lihat lo waktu nge-dance doang. Tapi, ternyata aslinya lo
cantik juga,” celetuk Hito dengan wajah terkagum-kagum.
Maurin hanya membalas celetukkan Hito dengan tertawa
kecil. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa. Terlebih wajah Alva terlihat
tidak suka saat Hito memuji dirinya.
“Maurin!!! Udah lama gue nggak pernah nyapa lo lagi,”
pekik Nathan lebay.
“Apaan sih, Nath. Nggak usah lebay. Kita satu sekolah,
kalau lo rindu gue tinggal ke kelas. Kayak biasa,” balas Maurin tersenyum geli.
__ADS_1
“Siaplah! Kuy, Kel. Jangan ganggu sobat kita yang mau
pdkt,” ajak Nathan terang-terangan pada Michael.
“Kita duluan, Rin. Hati-hati lo sama Alva, nanti masuk
angin,” canda Michael mengabaikan tatapan peringatan dari Alva.
Sepeninggalnya Nathan dan Michael, kini Alva tengah
berdiri tegak di hadapan Maurin yang menatap tanpa eskpresi. Bahkan wajah
menggemaskan itu berganti menjadi datar. Sedikit tidak adil menurut Alva.
Padahal jauh dari lubuk hati Maurin, ia sangat-sangat
menginkan Alva mengajak dirinya bergurau. Namun, bukan gurauan yang Maurin
dapat. Hanya sebuah senyuman tipis dan melenggang begitu saja. Meninggalkan
wajah keterkejutan dari Maurin.
Buru-buru perempuan itu netralkan, dan menutup
pintunya kembali. Berniat gabung dengan Sunny yang ternyata sudah berada di
ruang keluarga. Terdapat beberapa minuman di sana, yang Maurin hitung cukup
dengan dirinya gabung di sana.
Sofa yang tersisa hanya di samping Alva, tetapi Maurin
lebih memilih duduk di karpet seorang diri. Namun, bukan Nathan namanya jika ia
tidak memanas-manasi Alva dengan segala kekakuannya.
“Sendirian aja, Neng. Abang temanin, ya?” pinta Nathan
dengan nada bergurau.
“Ambilin gue minum dong, Nath.” Wajah Maurin terlihat
memohon. Namun, Nathan tidak mau ambil pusing dan berniat untuk bangkit dari
duduknya.
Namun, sebuah gelas terulur di hadapan Maurin. Bukan
Nathan yang membawakan, melainkan Alva. Sontak Maurin yang awalnya haus, kini
tiba-tiba menjadi kenyang hanya dengan menatap wajah tegas itu dari bawah.
__ADS_1