Puzzle

Puzzle
Episode 35


__ADS_3

Kamar Sunny terlihat


sangat berantakan akibat ulahnya Maurin. Selepas pertengkarannya dengan senior yang tidak Sunny kenali, akhirnya


Daffa menyuruh ke dua perempuan itu untuk tidak melakukan hal-hal seperti tadi.


Akhirnya, Maurin


memutuskan untuk ikut  Sunny saja. Sebab,


Regan belum keluar dari rumah sakit. Jadi, rumah itu akan menjadi tempat


perlindungannya sementara waktu. Sebelum Bang Maron datang menemuinya dan


menginterogasinya dengan berbagai cara.


Abangnya itu selalu tahu


akan cara mengetahui semua masalah Maurin. Padahal Bang Maron termasuk orang


yang  tidak setiap waktu di rumah.


Tetapi, tentang kepekaannya wajib diacungi jempo. Bahkan masalah yang sudah berlalu


dalam waktu sebulan dapat laki-laki itu korek dengan rinci.


“Abang lo balik kapan?”


tanya Maurin merebahkan diri di sofa panjang dekat balkon.


Sunny mengalihkan


pandangannya dari laptop sejenak. Lalu, menggeram pelan sambil menjawab, “Kata


dokter hari ini juga udah bisa balik. Tapi, gue belum bilang sama dia. So, mungkin besok baru gue bilang.”


Maurin bangkit dari


rebahannya dengan wajah terkejut. “Nggak yakin gue kalau Bang Regan betah


seharian ini,” pikirnya sambil membuka-buka buku novel milik Sunny.


“Ya mau gimana lagi?


Katanya hari ini teman dia yang di Indo mau datang jenguk. Nggak mungkin kan


gue datang terus tiba-tiba ngajak dia balik,” ujar Sunny memiringkan kepalanya


ke kanan sambil menatap Maurin penuh.


“Iya juga, sih,” gumam

__ADS_1


Maurin sambil mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.


Tiba-tiba suara bel rumah


berbunyi, membuat Sunny yang awalanya fokus pada layar laptop menjadi buyar.


Namun, bukannya segera bangkit, remaja cantik itu malah meminta tolong pada


Maurin. Sebab, dirinya tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya.


Awalnya Maurin tidak


terima dengan permintaan Sunny, tetapi berkat tatapan memohon dari Sunny.


Akhirnya, Maurin dengan berat hati bangkit dari sofa, lalu melenggang pergi


dari kamar.


Bunyi rentetan bel tidak terelakan, membuat Maurin


mempercepat langkahnya menuruni tangga dan bersiap untuk mengeluarkan


uneg-unegnya. Namun, ketika dirinya membuka pintu tersebut. Dunia seakan


berhenti. Angin seakan mentertawainya. Dan burung bahkan sempat berkicau.


“Hai, Maurin!” sapa Regan tersenyum ramah, lalu


Maurin hanya mengangguk singkat dan tersenyum tipis.


Menyisakan jarak untuk Regan memasuki rumah. Lalu, disusul oleh Kenzo dan Daffa.


Laki-laki yang Maurin kenal sejak ia memasuki eskul dancer.


“Wuih, Maurin! Gue biasanya lihat lo waktu nge-dance doang. Tapi, ternyata aslinya lo


cantik juga,” celetuk Hito dengan wajah terkagum-kagum.


Maurin hanya membalas celetukkan Hito dengan tertawa


kecil. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa. Terlebih wajah Alva terlihat


tidak suka saat Hito memuji dirinya.


“Maurin!!! Udah lama gue nggak pernah nyapa lo lagi,”


pekik Nathan lebay.


“Apaan sih, Nath. Nggak usah lebay. Kita satu sekolah,


kalau lo rindu gue tinggal ke kelas. Kayak biasa,” balas Maurin tersenyum geli.

__ADS_1


“Siaplah! Kuy, Kel. Jangan ganggu sobat kita yang mau


pdkt,” ajak Nathan terang-terangan pada Michael.


“Kita duluan, Rin. Hati-hati lo sama Alva, nanti masuk


angin,” canda Michael mengabaikan tatapan peringatan dari Alva.


Sepeninggalnya Nathan dan Michael, kini Alva tengah


berdiri tegak di hadapan Maurin yang menatap tanpa eskpresi. Bahkan wajah


menggemaskan itu berganti menjadi datar. Sedikit tidak adil menurut Alva.


Padahal jauh dari lubuk hati Maurin, ia sangat-sangat


menginkan Alva mengajak dirinya bergurau. Namun, bukan gurauan yang Maurin


dapat. Hanya sebuah senyuman tipis dan melenggang begitu saja. Meninggalkan


wajah keterkejutan dari Maurin.


Buru-buru perempuan itu netralkan, dan menutup


pintunya kembali. Berniat gabung dengan Sunny yang ternyata sudah berada di


ruang keluarga. Terdapat beberapa minuman di sana, yang Maurin hitung cukup


dengan dirinya gabung di sana.


Sofa yang tersisa hanya di samping Alva, tetapi Maurin


lebih memilih duduk di karpet seorang diri. Namun, bukan Nathan namanya jika ia


tidak memanas-manasi Alva dengan segala kekakuannya.


“Sendirian aja, Neng. Abang temanin, ya?” pinta Nathan


dengan nada bergurau.


“Ambilin gue minum dong, Nath.” Wajah Maurin terlihat


memohon. Namun, Nathan tidak mau ambil pusing dan berniat untuk bangkit dari


duduknya.


Namun, sebuah gelas terulur di hadapan Maurin. Bukan


Nathan yang membawakan, melainkan Alva. Sontak Maurin yang awalnya haus, kini


tiba-tiba menjadi kenyang hanya dengan menatap wajah tegas itu dari bawah.

__ADS_1


__ADS_2