
Sorak sorakan terdengar dari sekumpulan para ultas setiap kelas membuat suara menjadi
sangat bising. Biar pun cuaca siang hari sangat terik, namun tak melunturkan
semangat mereka untuk mendukung para lelaki yang kini tengah berjuang.
“Alva ganteng banget anjir,” pekik salah satu siswi membuat
Maurin sedikit mendengus mendengarnya.
“Ganteng dari Monas kali,” gerutu Maurin membuat Keyra
tersenyum tipis mendengarnya.
Suara dendang dangdut milik Vallen menggema diseluruh
lapangan membuat siapa pun ikut bergoyang, termasuk Nathan. Kini laki-laki
berwajah imut itu memperlihatkan goyangan sumur bor membuat semuanya tertawa
lucu.
“Nathan gila anjir,” celetuk salah satu siswi yang kini
tengah bergerumul membentuk setengah lingkaran menghadap lapangan dengan lesehan.
“Lanjut Nath!” seru Reyvan sambil mengikuti goyangan ala-ala
Bang Jale.
“Astaga Nathan, Reyvan,” seru Michael sambil menggelengkan
kepalanya pelan melihat tingkah memalukan sahabatnya.
“Tarik, Mang!” sahut Nathan kini berganti posisi goyangan
lebih parah dari pada yang pertama.
Celetukan demi celetukan dilontarkan untuk para anggota
Eryschthon yang kini menampilkan aksi goyangannya, termasuk ketos legend
Aryasatya. Memang sedari tadi Daffa hanya mengikuti tingkah Nathan serta
sahabatnya dengan kaku. Itu pun sebab ia ditarik oleh Alva, sahabat dengan
tingkah absurd setara dengan Nathan.
Mata cokelat itu kini memperhatikan setiap gerakan kaku yang
Daffa mainkan, membuat lengkungan tipis dibibirnya terbit. Sunny sangat
menikmati hiburan yang ada di depannya.
“Lo kenapa dah?” Keyra mengerutkan dahinya bingung dan
mengikuti arah pandangan Sunny.
“Aish ganggu aja lo, Key!” sungut Maurin saat tahu Sunny
tengah memperhatikan Daffa.
Sementara Ayrin hanya diam memperhatikan lapangan yang kini
tengah dipenuhi para siswi, “Lo nggak ada niatan buat ngasih minum Kak Alva,
Queen?”
Maurin menoleh dan menggelengkan kepalanya pelan, sangat
berbeda dengan Keyra yang kini tengah diam-diam mencubit lengan Maurin membuat
sang empu mendelik protes.
“Haus ,woy!” pekik Michael sambil merebut minuman milik
Alva.
Nathan menoleh dengan tatapan mengejek, “Oke makasih
ciwi-ciwi nanti gue salamin.” Nathan mengedipkan sebelah matanya sambil
tersenyum manis.
__ADS_1
“Minuman Daffa pasti,” tebak Reyvan membuat Nathan
mengangguk antusias.
“Asek dapet minuman gratis, banyak pula. Nikmat Tuhan mana
yang kau dustakan?” Nathan menghayati setiap kalimatnya sambil memejamkan mata.
Sebuah botol air mineral menjulur di hadapan Daffa membuat
ia yang tengah menunduk kini mendongakkan kepalanya. Alih-alih mengambil
botolnya Daffa malah tersenyum geli.
Seluruh anggota Eryschthon yang tadi bising memperebutkan
minuman, kini memusatkan perhatiannya pada seorang siswi yang tengah berhadapan
dengan ketos sekaligus ketua dari Eryschthon, sekumpulan geng traveling pecinta alam.
“Eh itu siapa?” senggol Hito pada Kenzo yang hanya dibalas
gelengan tak tahu.
“Gacor anjir tuh cewek berani nyamperin Daffa,” celetuk
Reyvan yang mendapat toyoran dari Alva.
“Bacodan kau merusak suasana, bhujank!” protes Alva membuat
Reyvan mendengus kesal.
Daffa yang sedari tadi diam membuat siswi di hadapannya
sedikit kesal, sebab sudah lama ia menjulurkan namun sama sekali tak disentuh
oleh ketos legend yang diisukan sangat anti dengan perempuan.
“Mau nerima apa nggak, nih? Capek masnya,” seru Sunny sambil
menghentakkan kakinya kesal.
Spontan Daffa tertawa melihat tingkah Sunny seperti anak
meraih pergelangan tangan Sunny dan menuntunnya duduk disamping kanan tepat
satu kursi kosong yang tersisa.
Sunny mendelik tak terima melihat tingkah Daffa. Namun, ia
urungkan ketika Daffa memberikan sesuatu dari dalam saku jaketnya yang ia ambil
dari gantungan.
“Buat lo,” ujar Daffa mengulurkan sebatang cokelat membuat
Sunny menatap curiga padanya.
“Ada jampi-jampinya gak nih?” selidik Sunny membuat Daffa
tertawa pelan.
“Real. Ini cokelat
gue beli dari minimarket bukan dari
dukun seperti yang lo sangka,” tandasnya sambil meletakkan cokelat batangan
yang sejak tadi menggugah iman Sunny pada tangannya kosong.
∞∞∞
Hai manis!
Are you miss me?
Pesan itu lagi. Sunny mengerutkan dahinya bingung. Sebenarnya
siapa sih dibalik chat yang selama
ini ia terima.
Sambil melempar ponsel pada nakas di depannya, yang tak ayal menimbulkan
__ADS_1
suara cukup keras. Namun, tak membuat remaja cantik itu mengalihkan perhatiannya.
Sejak kepulangannya beberapa saat yang lalu ia memang sudah disuguhkan
pemandangan mansion yang selalu terlihat sepi.
Gadis mungil itu menatap sayu lukisan yang terpampang jelas kebahagiaan
di dalamnya. Lukisan yang sudah sangat usang, namun tidak melunturkan estetika
saturasi warna yang masih tetap cerah seperti baru saja dibuat.
Sunny tak ingin ia menjadi lukisan yang semakin lama akan semakin
menghilang dan usang. Ia ingin menjadi memori yang akan selalu diingat dan
dikenang.
Ting
Lamunan Sunny buyar saat ponselnya menampilkan satu pesan singkat
membuat ia buru-buru meninggalkan mansion milik ayahnya.
Diterpa angin malam membuat Sunny merapatkan jaketnya. Derai ombak
menghiasi keheningan Sunny. Sangat damai rasanya.
Rembulan kini bersinar terang seakan mendukung suasana yang amat
gelap gulita menjadi sedikit bercahaya. Bintang pun tak kalah indahnya
menghiasi langit cantik malam ini. Sunny tersenyum sendu. Terakhir kali ia
seperti ini saat semuanya baik-baik saja
Suara langkah kaki terdengar dari belakang membuat Sunny menoleh
dan mendapati seorang laki-laki yang tengah melangkah ke arahnya. Sunny tak
dapat melihat wajah itu, namun dari cara berjalan Sunny tahu siapa itu. Entah
itu benar atau tidak.
Semakin lama bayangan itu semakin dekat, membuat Sunny
bangkit waspada. Bukan takut. Ia hanya waspada jika itu adalah orang jahat.
Masalahnya saat ini ia pun tak tahu ada dimana.
“Hei, gue bukan orang jahat kok,” laki-laki bayangan hitam
itu terhenti dengan jarak satu meter dari Sunny.
Sunny berdehem pelan, “H-hai, lo yang tadi contact gue?”
Laki-laki di depannya mengangguk dan melangkah ke ara Sunny
mengikis jarak diantara mereka.
Sedikit demi sedikit wajah laki-laki itu terlihat, namun tak
sampai kurun waktu lama wajah itu kini sepenuhnya terlihat.
Deg
Suara Sunny tiba-tiba menghilang. Ia bagaikan orang bisu
ditengah padang pasir. Layaknya jangkrik yang terbiasa berbicara kini ia
kehilangan suara. Ia menatap laki-laki di depannya dengan wajah sangat amat
terkejut.
“Erfan?” suara Sunny terdengar berbisik.
“Long time no see, Riza.
Kok lo kaget gitu, sih?” tanya Erfan menatap Sunny bingung.
“Lo jahat! Selama ini kemana?” seru Sunny tak terima membuat
Erfan merengkuhnya dalam pelukan hangat.
__ADS_1