Puzzle

Puzzle
Episode 13


__ADS_3

Sorak sorakan terdengar dari sekumpulan para ultas setiap kelas membuat suara menjadi


sangat bising. Biar pun cuaca siang hari sangat terik, namun tak melunturkan


semangat mereka untuk mendukung para lelaki yang kini tengah berjuang.


“Alva ganteng banget anjir,” pekik salah satu siswi membuat


Maurin sedikit mendengus mendengarnya.


“Ganteng dari Monas kali,” gerutu Maurin membuat Keyra


tersenyum tipis mendengarnya.


Suara dendang dangdut milik Vallen menggema diseluruh


lapangan membuat siapa pun ikut bergoyang, termasuk Nathan. Kini laki-laki


berwajah imut itu memperlihatkan goyangan sumur bor membuat semuanya tertawa


lucu.


“Nathan gila anjir,” celetuk salah satu siswi yang kini


tengah bergerumul membentuk setengah lingkaran menghadap lapangan dengan lesehan.


“Lanjut Nath!” seru Reyvan sambil mengikuti goyangan ala-ala


Bang Jale.


“Astaga Nathan, Reyvan,” seru Michael sambil menggelengkan


kepalanya pelan melihat tingkah memalukan sahabatnya.


“Tarik, Mang!” sahut Nathan kini berganti posisi goyangan


lebih parah dari pada yang pertama.


Celetukan demi celetukan dilontarkan untuk para anggota


Eryschthon yang kini menampilkan aksi goyangannya, termasuk ketos legend


Aryasatya. Memang sedari tadi Daffa hanya mengikuti tingkah Nathan serta


sahabatnya dengan kaku. Itu pun sebab ia ditarik oleh Alva, sahabat dengan


tingkah absurd setara dengan Nathan.


Mata cokelat itu kini memperhatikan setiap gerakan kaku yang


Daffa mainkan, membuat lengkungan tipis dibibirnya terbit. Sunny sangat


menikmati hiburan yang ada di depannya.


“Lo kenapa dah?” Keyra mengerutkan dahinya bingung dan


mengikuti arah pandangan Sunny.


“Aish ganggu aja lo, Key!” sungut Maurin saat tahu Sunny


tengah memperhatikan Daffa.


Sementara Ayrin hanya diam memperhatikan lapangan yang kini


tengah dipenuhi para siswi, “Lo nggak ada niatan buat ngasih minum Kak Alva,


Queen?”


Maurin menoleh dan menggelengkan kepalanya pelan, sangat


berbeda dengan Keyra yang kini tengah diam-diam mencubit lengan Maurin membuat


sang empu mendelik protes.


“Haus ,woy!” pekik Michael sambil merebut minuman milik


Alva.


Nathan menoleh dengan tatapan mengejek, “Oke makasih


ciwi-ciwi nanti gue salamin.” Nathan mengedipkan sebelah matanya sambil


tersenyum manis.

__ADS_1


“Minuman Daffa pasti,” tebak Reyvan membuat Nathan


mengangguk antusias.


“Asek dapet minuman gratis, banyak pula. Nikmat Tuhan mana


yang kau dustakan?” Nathan menghayati setiap kalimatnya sambil memejamkan mata.


Sebuah botol air mineral menjulur di hadapan Daffa membuat


ia yang tengah menunduk kini mendongakkan kepalanya. Alih-alih mengambil


botolnya Daffa malah tersenyum geli.


Seluruh anggota Eryschthon yang tadi bising memperebutkan


minuman, kini memusatkan perhatiannya pada seorang siswi yang tengah berhadapan


dengan ketos sekaligus ketua dari Eryschthon, sekumpulan geng traveling pecinta alam.


“Eh itu siapa?” senggol Hito pada Kenzo yang hanya dibalas


gelengan tak tahu.


“Gacor anjir tuh cewek berani nyamperin Daffa,” celetuk


Reyvan yang mendapat toyoran dari Alva.


“Bacodan kau merusak suasana, bhujank!” protes Alva membuat


Reyvan mendengus kesal.


Daffa yang sedari tadi diam membuat siswi di hadapannya


sedikit kesal, sebab sudah lama ia menjulurkan namun sama sekali tak disentuh


oleh ketos legend yang diisukan sangat anti dengan perempuan.


“Mau nerima apa nggak, nih? Capek masnya,” seru Sunny sambil


menghentakkan kakinya kesal.


Spontan Daffa tertawa melihat tingkah Sunny seperti anak


meraih pergelangan tangan Sunny dan menuntunnya duduk disamping kanan tepat


satu kursi kosong yang tersisa.


Sunny mendelik tak terima melihat tingkah Daffa. Namun, ia


urungkan ketika Daffa memberikan sesuatu dari dalam saku jaketnya yang ia ambil


dari gantungan.


“Buat lo,” ujar Daffa mengulurkan sebatang cokelat membuat


Sunny menatap curiga padanya.


“Ada jampi-jampinya gak nih?” selidik Sunny membuat Daffa


tertawa pelan.


“Real. Ini cokelat


gue beli dari minimarket bukan dari


dukun seperti yang lo sangka,” tandasnya sambil meletakkan cokelat batangan


yang sejak tadi menggugah iman Sunny pada tangannya kosong.


∞∞∞


Hai manis!


Are you miss me?


Pesan itu lagi. Sunny mengerutkan dahinya bingung. Sebenarnya


siapa sih dibalik chat yang selama


ini ia terima.


Sambil melempar ponsel pada nakas di depannya, yang tak ayal menimbulkan

__ADS_1


suara cukup keras. Namun, tak membuat remaja cantik itu mengalihkan perhatiannya.


Sejak kepulangannya beberapa saat yang lalu ia memang sudah disuguhkan


pemandangan mansion yang selalu terlihat sepi.


Gadis mungil itu menatap sayu lukisan yang terpampang jelas kebahagiaan


di dalamnya. Lukisan yang sudah sangat usang, namun tidak melunturkan estetika


saturasi warna yang masih tetap cerah seperti baru saja dibuat.


Sunny tak ingin ia menjadi lukisan yang semakin lama akan semakin


menghilang dan usang. Ia ingin menjadi memori yang akan selalu diingat dan


dikenang.


Ting


Lamunan Sunny buyar saat ponselnya menampilkan satu pesan singkat


membuat ia buru-buru meninggalkan mansion milik ayahnya.


Diterpa angin malam membuat Sunny merapatkan jaketnya. Derai ombak


menghiasi keheningan Sunny. Sangat damai rasanya.


Rembulan kini bersinar terang seakan mendukung suasana yang amat


gelap gulita menjadi sedikit bercahaya. Bintang pun tak kalah indahnya


menghiasi langit cantik malam ini. Sunny tersenyum sendu. Terakhir kali ia


seperti ini saat semuanya baik-baik saja


Suara langkah kaki terdengar dari belakang membuat Sunny menoleh


dan mendapati seorang laki-laki yang tengah melangkah ke arahnya. Sunny tak


dapat melihat wajah itu, namun dari cara berjalan Sunny tahu siapa itu. Entah


itu benar atau tidak.


Semakin lama bayangan itu semakin dekat, membuat Sunny


bangkit waspada. Bukan takut. Ia hanya waspada jika itu adalah orang jahat.


Masalahnya saat ini ia pun tak tahu ada dimana.


“Hei, gue bukan orang jahat kok,” laki-laki bayangan hitam


itu terhenti dengan jarak satu meter dari Sunny.


Sunny berdehem pelan, “H-hai, lo yang tadi contact gue?”


Laki-laki di depannya mengangguk dan melangkah ke ara Sunny


mengikis jarak diantara mereka.


Sedikit demi sedikit wajah laki-laki itu terlihat, namun tak


sampai kurun waktu lama wajah itu kini sepenuhnya terlihat.


Deg


Suara Sunny tiba-tiba menghilang. Ia bagaikan orang bisu


ditengah padang pasir. Layaknya jangkrik yang terbiasa berbicara kini ia


kehilangan suara. Ia menatap laki-laki di depannya dengan wajah sangat amat


terkejut.


“Erfan?” suara Sunny terdengar berbisik.


“Long time no see, Riza.


Kok lo kaget gitu, sih?” tanya Erfan menatap Sunny bingung.


“Lo jahat! Selama ini kemana?” seru Sunny tak terima membuat


Erfan merengkuhnya dalam pelukan hangat.

__ADS_1


__ADS_2