Puzzle

Puzzle
Episode 27


__ADS_3

“Roni, balikin buku gue!”


“Eh, ***** kemarin gue lihat ada film baru di cinema.”


“Woy, Denta! Lo dicariin bocah sebelah.”


“Kecilin suara kalian, gais! Mengganggu tahu nggak?!”


“Ish, gue kalah lagi vangsad!”


“Gue push rank,


diem dulu woy!”


Teriakan yang bersahut-sahut itu membuat kepala Sunny


berdenyut sakit. Perempuan itu sudah kembali ke kelas sejak beberapa saat yang


lalu, meninggalkan papahnya yang belum beranjak sama sekali.


“Anjir gue noob!”


“Ponsel lo kentang!”


Lama-kelamaan Sunny pun kesal sendiri, apalagi suara mereka


kian mendekat. Sepertinya dari salah satu kebanyakan muridn di kelas ini tak


ada yang menyadari perubahan raut wajah Sunny yang sudah sangat masam.


Maurin yang biasanya nemplok pada perempuan manis itu, kini


berubah menjadi anak gamers dan


menggabungkan diri di pojok ruangan dengan bentuk melingkar. Sengaja, kelasnya


mengambil sebuah matras di ruang gym. Katanya biar enak buat rebahan.


Suasana semakin tak kondusif dengan didukung oleh ketua


kelas yang ogebnya DNA kuadrat.


Bagaimana bisa, harusnya ia menjadi panutan kini malah


menjerumuskan anak-anak untuk berkarya. Hanya karena kelasnya yang sudah diubah


menjadi kedap suara. Memang, akal bulus Roni tak pernah berubah dari dulu.


“Tarik, Glo! Yang mehwong dong goyangannya,” seru Roni


semangat.


Api semangat pun membara kala Glora dengan senang hati


menunjukkan goyangan ashoynya di depan semua anak laki-laki. Bahkan pandangan


Sunny sempat terkejut melihat salah satu teman kelasnya yag mimisan melihat body montok milik Glora.


Semakin ke sini, tingkah teman kelasnya semakin gila. Jika


dibiarkan lebih lama mungkin menimbulkan perseteruan yang sama-sama tak mau


kalah.


Pandangan Sunny mengarah pada Ayrin yang tetap adem ayem


dengan buku bacaannya, sama sekali tak terusik dengan kebisingan kelas. Lalu,


ada Keyra yang tengah sibuk dengan ponsel. Sepertinya perempuan feminim itu


tengah men-stalker Eryshthon. Sudah sangat terbaca.


“Bisa pecah kepala gue lama-lama diam di kelas,” celetuk


Sunny dengan suara yang tenggelam akibat kebisingan.


Hingga tanpa sadar waktu pun cepat berlalu. Sampai tiba-tiba


pintu kelas dibuka paksa, menimbulkan suara dentuman yang sangat keras.

__ADS_1


Terlihat Guru Chen berdiri dengan senyum tipis, khasnya


melihat kelas yang lagi-lagi tak kondusif.


“Sudah selesai konsernya, anak-anak?” tanya Guru Chen


sembari meletakkan beberapa bukunya di atas meja. Lalu, mengarah pada


segerumbulan anak di pojok ruangan.


Roni yang mengikuti arah pandangan Guru Chen pun menyahut,


“Mereka lagi pada push rank, Guru.”


∞∞∞


“Anying, bavet, sialun! Kok bisa-bisanya lo nggak manggil


pas ada Guru Chen, Sun. Tega lo!” sungut Maurin kesal.


“Ya, lo sendiri sih. Damai banget sampai nggak sadar ada


Guru Chen,” sahut Sunny dengan tertawa kecil.


Maurin mencebikkan bibirnya kesal. “Harusnya lo ngasih tahu,


jamilah! Kan ponsel gue jadi nggak disita,” raungnya sambil menangis Bombay.


“Alaaah, sultan mah bebas. Tinggal beli lagi,” pungkas


Sunnya tanpa memperdulikan Maurin yang tengah bergalau ria.


“Kepala lo gue slepat!” umpat Maurin sambil menoyor kepala


Sunny pelan.


“Maurin! Berhenti dulu. Lo ngerasa jahat banget nggak, sih.


Tiba-tiba kita jauhin Ayrin sama Keyra,” kata Sunny serius.


Maurin yang tadinya kesal, kini berubah menjadi serius. “Ya,


Sunny berpikir keras. “Ya ... satu sisi gue nggak terima,


tapi ... nggak tahu. Gue ngerasa jahat banget sama mereka,” keluh Sunny kesal.


“Mereka aja jahat sama lo, masa lo mau sia-siain perjuangan


gue selama ini. Kalau iya nggak apa-apa, Sun. Gue ikhlas kok,” ucap Maurin


dengan nada yang dipaksakan.


Sunny menggeleng frustasi. Perempuan berwajah manis itu


bahkan menenggelamkan kepalanya pada lipatan ke dua tangan di atas meja.


Mendesah frustasi pun Maurin keluarkan, hanya karena melihat sikap Sunny yang


terlalu labil dalam mengambil keputusan.


“Sun, gue tahu ini berat buat lo. Tapi, nggak ada salahnya


kita memberi pelajaran buat mereka, meski gue tahu cara kita salah.


Mengikutsertakan seseorang yang nggak tahu apa-apa.”


Kata-kata dari Maurin mendadak sangat keras. Sunny yang


tadinya hendak minum pun menghentikan aktivitasnya dan memandangi Maurin dengan


raut yang tak terbaca.


∞∞∞


Sayonara


Sayonara


Sampai berjumpa pulang

__ADS_1


Nathan menyanyikan lagu yang terus menerus diulang dengan


lirik yang sama di sepanjang koridor kelasnya hingga basement. Alva yang sudah sejak tadi mendengarnya pun mulai jengah.


“Udahan kali, Nath. Langgeng banget lo nyanyi gituan mulu,”


celetuk Reyvan dengan nada mengejek.


“Tahu, nih. Eneg telinga gue itu-itu terus liriknya nggak


mau ganti,” sindir Alva tajam.


“Gue mencoba setia, mas bro. Jangan begitu, dong!” Nathan


bersungut kesal.


“Halah, bullshit!


Semua kata-kata yang lo ucapkan adalah kata-kata penenang hati perempuan aja,


Nath. Nyesel gue dengarnya,” tukas Daffa pedas.


“Udah tahu Nathan caem,


masih aja lo ladenin Daf.” Kenzo mengatakannya tanpa emosi.


Tiba-tiba Hito mengingat perkataan Nathan hari itu. “Nath,


katanya lo lagi deketin Keyra, ya?” tebaknya membuat raut wajah Nathan


berseri-seri.


“Whoa! Kok lo bisa tahu? Daffa lo ember ya,” sahut Nathan


menatap Daffa intimidasi.


Merasa ditatap seperti itu, Daffa pun mendengus kesal.


“Unfaedah gue nyebarin berita tentang lo,” ketus Daffa melenggeng pergi.


“Dih, baperan.” Alva menatap kepergian Daffa bingung.


“Al, Daffa minggat bukan karena dia baperan, tapi lihatlah.


Ada Sunny diujung koridor sana,” celetuk Reyvan sambil menunjuk Sunny yang


tengah berbincang kecil dengan Maurin.


Melihat keberadaan Maurin, Alva pun tak menyia-nyiakan


kesempatan.


“Nah, kan. Sahabat kita udah ada dua yang mengejar cinta.


Kita kapan, To?” tanya Reyvan sambil merangkul pundak Hito.


“Apaan, sih lo!” sela Hito menyingkirkan tangan Reyvan dari


pundaknya.


“Nggak bisa mendramatisir lo. Ah nggak asik!” sindir Reyvan


menatap Hito sinis.


“Udah apa! Kalian gabut banget ributin hal yang nggak


jelas,” sela Nathan sambil menatap satu per satu sahabatnya, kecuali Kenzo yang


tetap anteng dengan tangan menyangga salah satu tali tasnya.


“Bacyod!” umpat Reyvan dan Hito serempak.


Mendadak Nathan menutup bibirnya rapat-rapat sambil


mengumpati sahabatnya dari dalam hati. Sungguh sangat jomblo yang akut. Lihat


orang pdkt saja sudah panas. Makanya cari pacar!


Kalau nggak laku ya sudah nasib.

__ADS_1


__ADS_2