
“Roni, balikin buku gue!”
“Eh, ***** kemarin gue lihat ada film baru di cinema.”
“Woy, Denta! Lo dicariin bocah sebelah.”
“Kecilin suara kalian, gais! Mengganggu tahu nggak?!”
“Ish, gue kalah lagi vangsad!”
“Gue push rank,
diem dulu woy!”
Teriakan yang bersahut-sahut itu membuat kepala Sunny
berdenyut sakit. Perempuan itu sudah kembali ke kelas sejak beberapa saat yang
lalu, meninggalkan papahnya yang belum beranjak sama sekali.
“Anjir gue noob!”
“Ponsel lo kentang!”
Lama-kelamaan Sunny pun kesal sendiri, apalagi suara mereka
kian mendekat. Sepertinya dari salah satu kebanyakan muridn di kelas ini tak
ada yang menyadari perubahan raut wajah Sunny yang sudah sangat masam.
Maurin yang biasanya nemplok pada perempuan manis itu, kini
berubah menjadi anak gamers dan
menggabungkan diri di pojok ruangan dengan bentuk melingkar. Sengaja, kelasnya
mengambil sebuah matras di ruang gym. Katanya biar enak buat rebahan.
Suasana semakin tak kondusif dengan didukung oleh ketua
kelas yang ogebnya DNA kuadrat.
Bagaimana bisa, harusnya ia menjadi panutan kini malah
menjerumuskan anak-anak untuk berkarya. Hanya karena kelasnya yang sudah diubah
menjadi kedap suara. Memang, akal bulus Roni tak pernah berubah dari dulu.
“Tarik, Glo! Yang mehwong dong goyangannya,” seru Roni
semangat.
Api semangat pun membara kala Glora dengan senang hati
menunjukkan goyangan ashoynya di depan semua anak laki-laki. Bahkan pandangan
Sunny sempat terkejut melihat salah satu teman kelasnya yag mimisan melihat body montok milik Glora.
Semakin ke sini, tingkah teman kelasnya semakin gila. Jika
dibiarkan lebih lama mungkin menimbulkan perseteruan yang sama-sama tak mau
kalah.
Pandangan Sunny mengarah pada Ayrin yang tetap adem ayem
dengan buku bacaannya, sama sekali tak terusik dengan kebisingan kelas. Lalu,
ada Keyra yang tengah sibuk dengan ponsel. Sepertinya perempuan feminim itu
tengah men-stalker Eryshthon. Sudah sangat terbaca.
“Bisa pecah kepala gue lama-lama diam di kelas,” celetuk
Sunny dengan suara yang tenggelam akibat kebisingan.
Hingga tanpa sadar waktu pun cepat berlalu. Sampai tiba-tiba
pintu kelas dibuka paksa, menimbulkan suara dentuman yang sangat keras.
__ADS_1
Terlihat Guru Chen berdiri dengan senyum tipis, khasnya
melihat kelas yang lagi-lagi tak kondusif.
“Sudah selesai konsernya, anak-anak?” tanya Guru Chen
sembari meletakkan beberapa bukunya di atas meja. Lalu, mengarah pada
segerumbulan anak di pojok ruangan.
Roni yang mengikuti arah pandangan Guru Chen pun menyahut,
“Mereka lagi pada push rank, Guru.”
∞∞∞
“Anying, bavet, sialun! Kok bisa-bisanya lo nggak manggil
pas ada Guru Chen, Sun. Tega lo!” sungut Maurin kesal.
“Ya, lo sendiri sih. Damai banget sampai nggak sadar ada
Guru Chen,” sahut Sunny dengan tertawa kecil.
Maurin mencebikkan bibirnya kesal. “Harusnya lo ngasih tahu,
jamilah! Kan ponsel gue jadi nggak disita,” raungnya sambil menangis Bombay.
“Alaaah, sultan mah bebas. Tinggal beli lagi,” pungkas
Sunnya tanpa memperdulikan Maurin yang tengah bergalau ria.
“Kepala lo gue slepat!” umpat Maurin sambil menoyor kepala
Sunny pelan.
“Maurin! Berhenti dulu. Lo ngerasa jahat banget nggak, sih.
Tiba-tiba kita jauhin Ayrin sama Keyra,” kata Sunny serius.
Maurin yang tadinya kesal, kini berubah menjadi serius. “Ya,
Sunny berpikir keras. “Ya ... satu sisi gue nggak terima,
tapi ... nggak tahu. Gue ngerasa jahat banget sama mereka,” keluh Sunny kesal.
“Mereka aja jahat sama lo, masa lo mau sia-siain perjuangan
gue selama ini. Kalau iya nggak apa-apa, Sun. Gue ikhlas kok,” ucap Maurin
dengan nada yang dipaksakan.
Sunny menggeleng frustasi. Perempuan berwajah manis itu
bahkan menenggelamkan kepalanya pada lipatan ke dua tangan di atas meja.
Mendesah frustasi pun Maurin keluarkan, hanya karena melihat sikap Sunny yang
terlalu labil dalam mengambil keputusan.
“Sun, gue tahu ini berat buat lo. Tapi, nggak ada salahnya
kita memberi pelajaran buat mereka, meski gue tahu cara kita salah.
Mengikutsertakan seseorang yang nggak tahu apa-apa.”
Kata-kata dari Maurin mendadak sangat keras. Sunny yang
tadinya hendak minum pun menghentikan aktivitasnya dan memandangi Maurin dengan
raut yang tak terbaca.
∞∞∞
Sayonara
Sayonara
Sampai berjumpa pulang
__ADS_1
Nathan menyanyikan lagu yang terus menerus diulang dengan
lirik yang sama di sepanjang koridor kelasnya hingga basement. Alva yang sudah sejak tadi mendengarnya pun mulai jengah.
“Udahan kali, Nath. Langgeng banget lo nyanyi gituan mulu,”
celetuk Reyvan dengan nada mengejek.
“Tahu, nih. Eneg telinga gue itu-itu terus liriknya nggak
mau ganti,” sindir Alva tajam.
“Gue mencoba setia, mas bro. Jangan begitu, dong!” Nathan
bersungut kesal.
“Halah, bullshit!
Semua kata-kata yang lo ucapkan adalah kata-kata penenang hati perempuan aja,
Nath. Nyesel gue dengarnya,” tukas Daffa pedas.
“Udah tahu Nathan caem,
masih aja lo ladenin Daf.” Kenzo mengatakannya tanpa emosi.
Tiba-tiba Hito mengingat perkataan Nathan hari itu. “Nath,
katanya lo lagi deketin Keyra, ya?” tebaknya membuat raut wajah Nathan
berseri-seri.
“Whoa! Kok lo bisa tahu? Daffa lo ember ya,” sahut Nathan
menatap Daffa intimidasi.
Merasa ditatap seperti itu, Daffa pun mendengus kesal.
“Unfaedah gue nyebarin berita tentang lo,” ketus Daffa melenggeng pergi.
“Dih, baperan.” Alva menatap kepergian Daffa bingung.
“Al, Daffa minggat bukan karena dia baperan, tapi lihatlah.
Ada Sunny diujung koridor sana,” celetuk Reyvan sambil menunjuk Sunny yang
tengah berbincang kecil dengan Maurin.
Melihat keberadaan Maurin, Alva pun tak menyia-nyiakan
kesempatan.
“Nah, kan. Sahabat kita udah ada dua yang mengejar cinta.
Kita kapan, To?” tanya Reyvan sambil merangkul pundak Hito.
“Apaan, sih lo!” sela Hito menyingkirkan tangan Reyvan dari
pundaknya.
“Nggak bisa mendramatisir lo. Ah nggak asik!” sindir Reyvan
menatap Hito sinis.
“Udah apa! Kalian gabut banget ributin hal yang nggak
jelas,” sela Nathan sambil menatap satu per satu sahabatnya, kecuali Kenzo yang
tetap anteng dengan tangan menyangga salah satu tali tasnya.
“Bacyod!” umpat Reyvan dan Hito serempak.
Mendadak Nathan menutup bibirnya rapat-rapat sambil
mengumpati sahabatnya dari dalam hati. Sungguh sangat jomblo yang akut. Lihat
orang pdkt saja sudah panas. Makanya cari pacar!
Kalau nggak laku ya sudah nasib.
__ADS_1