
Bugh
Sebuah tinjuan melayang tepat pada sisi wajah Alva membuat
sang empu sedikit terhuyun.
“Lo kenapa, Nath?” tanya Daffa sambil memegangi pundak
Nathan yang sedikit naik turun.
Terlihat dari tatapannya yang begitu tajam semua anggota
Eryschthon pun sedikit terkejut, sebab jarang sekali Nathan semarah ini pada
sahabatnya. Tidak mungkin jika tiba-tiba ia kesurupan jin sekolahan yang
mengamuk.
“Iya, Nath. Lo ada apa tiba-tiba mukul Alva?” tanya Michael
menerutkan dahinya bingung sambil menggiring Alva terduduk kembali di tempat
semula.
Kini lima anggota Eryschthon tengah bersitegang. Duduk
melingkari meja kantin dengan Daffa di depan mereka layaknya hakim agung.
Sementara Kenzo yang berada di samping kanan, seperti algojo siap perang. Dan
yang lainnya tetap mengarahkan pandangannya pada dua makhluk yang tengah
bermunculan api magma siap masak.
Mereka bahkan tak menyadari sejak tadi Keyra berada tepat di
belakang bangku yang kini mereka singgahi. Tentu saja jiwa kekepoan Keyra
bergetar mendengar Eryschthon terlibat pertengkaran, apalagi sesama anggota
seperti ini.
Ditengah kekepoan yang melanda tiba-tiba Keyra merasa
seperti diperhatikan. Dan ya, kini anggota tersebut berpusat padanya. Tapi
tunggu bukan padanya, namun pada seseorang kini tengah menarik piring miliknya
sambil menyuapkan batagor sedikit demi sedikit.
“Jajan nggak ngajak ih,” protes Maurin sambil menatap Keyra
sinis.
“Lo dihukum, Jamilah. Lantas gimana gue ngajaknya?” sahut
Keyra santai sambil merebut pula piring bagator yang tersisa sedikit.
Maurin nyengir lucu sambil menatap sekelilingnya, namun ia
mengerutkan dahinya bingung saat melihat Eryschthon yang menatap dirinya tak
santai. Maurin pun berbisik, “Mereka kenapa pada ngeliatin gue?”
Keyra menoleh cepat sambil meminum jus alpukatnya, “Entah.
Gue pikir lo tahu.”
Maurin menoyor kepala Keyra pelan membuat sang empu
mendengus kesal, “Gue nanya sama lo, Keyot!”
Keyra merasa panggilannya diplesetkan menjadi Keyra Peyot
membuat jiwa psikopatnya sedikit terguncang. Keyra mengabaikan Maurin dan
__ADS_1
kembali memusatkan pendengarannya.
“Nath, kalau ada masalah bicarain baik-baik jangan sampai
anggota lain tahu. Gue harap kalian bisa mengambil jalan tengah dimasalah ini,”
ujar Reyvan sambil menepuk pundak Nathan sedikit keras dan bangkit meninggalkan
kantin.
“Cabut,” ajak Daffa yang diangguki anggota Eryschthon sambil
merapikan kembali bangku plastik yang sudah mereka acak-acak dari pertengkaran
kecil tadi.
∞∞∞
“Jadi bener Eryschthon pecah gara-gara Alva sama Nathan
memperebutkan Maurin?” celetuk salah satu siswi dengan sedikit keras.
Maurin yang kebetulan lewat kini memusatkan perhatiannya
pada koridor kelas IPA membuat ia sedikit mempertajam pendengarannya.
“Tadi gue sempet denger kalau Nathan bawa-bawa nama Maurin
waktu debat sama Alva,” siswi lainnya pun ikut nimbrung tanpa memperdulikan
Maurin yang kini tepat di belakang mereka.
“Emang sok cantik itu cewek. Mentang-mentang ketua dancer seenaknya aja dia deketin cowok
sana sini, kemarin Kenzo sekarang Alva, satu geng pula. Ih gak tahu malu banget
sih jadi cewek,” siswi dengan berpakaian ketat itu pun kini mengibaskan
tangannya jijik sambil melangkah pergi mengabaikan Maurin yang menatapnya
Cekalan tangan dari Maurin membuat siswi itu menoleh dan
pura-pura terkejut.
“Kalau lo nggak suka sama gue, bilang! Jangan ngajakin yang
lain hanya untuk menjatuhkan gue. Kesannya lo lemah banget butuh bantuan,”Maurin
berujar datar namun tetap dengan tatapan tajamnya.
Sontak siswi dengan bername
tag Cyra tertawa cukup keras membuat wajahnya sedikit memerah, “Ya ampun,
lo sadar nggak sih ngomong sama siapa. Maurin ... Maurin, lo ini sok polos atau
bener-bener ogeb, sih?” sambil menggelengkan kepalanya pelan siswi tersebut
tersenyum geli.
“Cyr, harusnya lo ngaca deh. Dimata gue, lo itu terlihat
lemah banget. Lo jelek-jelekin gue ke sana-sini cuma buat dapat dukungan. Hello
... lo bawa tuh kaca lebar-lebar, kalau perlu lo pasang tepat di depan mata lo
sendiri. Biar nggak lupa sama yang namanya berkaca,” tandas Maurin
memperlihatkan senyum termanisnya lalu pergi meninggalkan Cyra yang kini tengah
emosi terhadapnya.
∞∞∞
Gerbang sekolah kini telah menjadi kebiasaan Ayrin, Sunny,
__ADS_1
Maurin dan Keyra untuk bersenda gurau sebelum melanjutkan perjalanannya untuk
pulang ke rumah masing-masing.
“Keyra balikan sama mantan, uhuy. Traktirannya ditunggu,”
celetukan Sunny membuat Keyra menoleh kesal.
“Sembranganan aja. Gue gebok pake bibir Daffa ***** lo,”
Keyra dengan ucapan absurdnya membuat
seketika mendapat timpukan gumpalan kertas gratis dari Sunny.
“Anjir kertas kuis gue jangan dijadiin korban, bodoh!” sungut
Maurin sambil memungut gumpalan kertasnya dan melipatnya rapih.
Tatapan tajam kini Maurin layangkan pada Sunny yang sudah
menampilkan dua jari salam perdamaian di muka bumi yang katanya bulat ini.
“Itu Eryschthon bukan, sih?” tanya Ayrin sambil menunjuk
salah satu motor yang sangat familiar bagi Maurin.
“Itu motornya Kak Alva, gaes. Tapi kenapa jam segini mereka
udah keluar?” Keyra mengerutkan dahinya bingung sambil menatap satu per satu
sahabatnya yang kini mengendikan bahunya tanda tak tahu.
“Lagi nggak ada acara kali,” Sunny berujar sambil terus
memperhatikan motor putih dengan corak identik harimau mengaum, sama persis
dengan logo brand ternama milik
Kenzo.
“No, pasti ada
sesuatu. Lo lihat sendiri itu motor nggak ada temennya. Apa gue temenin aja
kali ya, siapa tahu gue diajak pulang bareng,” sahut Keyra tertawa geli sambil
menggigiti kukunya.
Sementara Maurin memutar bola matanya malas menanggapi
perkataan Keyra yang akan semakin ngelantur jika terus menerus ditanggapi.
“Yare-yare-yare itu Kak Alva dipukul,” Ayrin berpekik heboh membuat Maurin spontan
membangkitkan dirinya dari ayunan taman.
“Eh anjir itu kok nggak dipisahin,” Sunny panik sendiri
melihat Nathan memukuli Alva bertubi-tubi, namun tak kunjung mendapat balasan
dari Alva sendiri.
“Kak Alva bahlul anjir kenapa dibiarin gitu,” Keyra gemas
sambil menahan diri untuk tidak ikutan baku hantam dengan para lelaki.
Ditengah kehebohan pertengkaran Eryschthon, kini Maurin
memikirkan sesuatu yang sejak tadi mengganggu benaknya. Ia melirik ke arah Alva
dan Nathan sambil menatapnya datar. Namun, tanpa ia duga Alva tersenyum
kepadanya menandakan semua akan baik-baik saja.
“Jadi bener gue penyebab perpecahan Eryschthon?” Maurin
__ADS_1
bergumam pada sendiri sambil membalas senyuman Alva sedih.