Puzzle

Puzzle
Episode 11


__ADS_3

Bugh


Sebuah tinjuan melayang tepat pada sisi wajah Alva membuat


sang empu sedikit terhuyun.


“Lo kenapa, Nath?” tanya Daffa sambil memegangi pundak


Nathan yang sedikit naik turun.


Terlihat dari tatapannya yang begitu tajam semua anggota


Eryschthon pun sedikit terkejut, sebab jarang sekali Nathan semarah ini pada


sahabatnya. Tidak mungkin jika tiba-tiba ia kesurupan jin sekolahan yang


mengamuk.


“Iya, Nath. Lo ada apa tiba-tiba mukul Alva?” tanya Michael


menerutkan dahinya bingung sambil menggiring Alva terduduk kembali di tempat


semula.


Kini lima anggota Eryschthon tengah bersitegang. Duduk


melingkari meja kantin dengan Daffa di depan mereka layaknya hakim agung.


Sementara Kenzo yang berada di samping kanan, seperti algojo siap perang. Dan


yang lainnya tetap mengarahkan pandangannya pada dua makhluk yang tengah


bermunculan api magma siap masak.


Mereka bahkan tak menyadari sejak tadi Keyra berada tepat di


belakang bangku yang kini mereka singgahi. Tentu saja jiwa kekepoan Keyra


bergetar mendengar Eryschthon terlibat pertengkaran, apalagi sesama anggota


seperti ini.


Ditengah kekepoan yang melanda tiba-tiba Keyra merasa


seperti diperhatikan. Dan ya, kini anggota tersebut berpusat padanya. Tapi


tunggu bukan padanya, namun pada seseorang kini tengah menarik piring miliknya


sambil menyuapkan batagor sedikit demi sedikit.


“Jajan nggak ngajak ih,” protes Maurin sambil menatap Keyra


sinis.


“Lo dihukum, Jamilah. Lantas gimana gue ngajaknya?” sahut


Keyra santai sambil merebut pula piring bagator yang tersisa sedikit.


Maurin nyengir lucu sambil menatap sekelilingnya, namun ia


mengerutkan dahinya bingung saat melihat Eryschthon yang menatap dirinya tak


santai. Maurin pun berbisik, “Mereka kenapa pada ngeliatin gue?”


Keyra menoleh cepat sambil meminum jus alpukatnya, “Entah.


Gue pikir lo tahu.”


Maurin menoyor kepala Keyra pelan membuat sang empu


mendengus kesal, “Gue nanya sama lo, Keyot!”


Keyra merasa panggilannya diplesetkan menjadi Keyra Peyot


membuat jiwa psikopatnya sedikit terguncang. Keyra mengabaikan Maurin dan

__ADS_1


kembali memusatkan pendengarannya.


“Nath, kalau ada masalah bicarain baik-baik jangan sampai


anggota lain tahu. Gue harap kalian bisa mengambil jalan tengah dimasalah ini,”


ujar Reyvan sambil menepuk pundak Nathan sedikit keras dan bangkit meninggalkan


kantin.


“Cabut,” ajak Daffa yang diangguki anggota Eryschthon sambil


merapikan kembali bangku plastik yang sudah mereka acak-acak dari pertengkaran


kecil tadi.


∞∞∞


“Jadi bener Eryschthon pecah gara-gara Alva sama Nathan


memperebutkan Maurin?” celetuk salah satu siswi dengan sedikit keras.


Maurin yang kebetulan lewat kini memusatkan perhatiannya


pada koridor kelas IPA membuat ia sedikit mempertajam pendengarannya.


“Tadi gue sempet denger kalau Nathan bawa-bawa nama Maurin


waktu debat sama Alva,” siswi lainnya pun ikut nimbrung tanpa memperdulikan


Maurin yang kini tepat di belakang mereka.


“Emang sok cantik itu cewek. Mentang-mentang ketua dancer seenaknya aja dia deketin cowok


sana sini, kemarin Kenzo sekarang Alva, satu geng pula. Ih gak tahu malu banget


sih jadi cewek,” siswi dengan berpakaian ketat itu pun kini mengibaskan


tangannya jijik sambil melangkah pergi mengabaikan Maurin yang menatapnya


Cekalan tangan dari Maurin membuat siswi itu menoleh dan


pura-pura terkejut.


“Kalau lo nggak suka sama gue, bilang! Jangan ngajakin yang


lain hanya untuk menjatuhkan gue. Kesannya lo lemah banget butuh bantuan,”Maurin


berujar datar namun tetap dengan tatapan tajamnya.


Sontak siswi dengan bername


tag Cyra tertawa cukup keras membuat wajahnya sedikit memerah, “Ya ampun,


lo sadar nggak sih ngomong sama siapa. Maurin ... Maurin, lo ini sok polos atau


bener-bener ogeb, sih?” sambil menggelengkan kepalanya pelan siswi tersebut


tersenyum geli.


“Cyr, harusnya lo ngaca deh. Dimata gue, lo itu terlihat


lemah banget. Lo jelek-jelekin gue ke sana-sini cuma buat dapat dukungan. Hello


... lo bawa tuh kaca lebar-lebar, kalau perlu lo pasang tepat di depan mata lo


sendiri. Biar nggak lupa sama yang namanya berkaca,” tandas Maurin


memperlihatkan senyum termanisnya lalu pergi meninggalkan Cyra yang kini tengah


emosi terhadapnya.


∞∞∞


Gerbang sekolah kini telah menjadi kebiasaan Ayrin, Sunny,

__ADS_1


Maurin dan Keyra untuk bersenda gurau sebelum melanjutkan perjalanannya untuk


pulang ke rumah masing-masing.


“Keyra balikan sama mantan, uhuy. Traktirannya ditunggu,”


celetukan Sunny membuat Keyra menoleh kesal.


“Sembranganan aja. Gue gebok pake bibir Daffa ***** lo,”


Keyra dengan ucapan absurdnya membuat


seketika mendapat timpukan gumpalan kertas gratis dari Sunny.


“Anjir kertas kuis gue jangan dijadiin korban, bodoh!” sungut


Maurin sambil memungut gumpalan kertasnya dan melipatnya rapih.


Tatapan tajam kini Maurin layangkan pada Sunny yang sudah


menampilkan dua jari salam perdamaian di muka bumi yang katanya bulat ini.


“Itu Eryschthon bukan, sih?” tanya Ayrin sambil menunjuk


salah satu motor yang sangat familiar bagi Maurin.


“Itu motornya Kak Alva, gaes. Tapi kenapa jam segini mereka


udah keluar?” Keyra mengerutkan dahinya bingung sambil menatap satu per satu


sahabatnya yang kini mengendikan bahunya tanda tak tahu.


“Lagi nggak ada acara kali,” Sunny berujar sambil terus


memperhatikan motor putih dengan corak identik harimau mengaum, sama persis


dengan logo brand ternama milik


Kenzo.


“No, pasti ada


sesuatu. Lo lihat sendiri itu motor nggak ada temennya. Apa gue temenin aja


kali ya, siapa tahu gue diajak pulang bareng,” sahut Keyra tertawa geli sambil


menggigiti kukunya.


Sementara Maurin memutar bola matanya malas menanggapi


perkataan Keyra yang akan semakin ngelantur jika terus menerus ditanggapi.


“Yare-yare-yare itu Kak Alva dipukul,” Ayrin berpekik heboh membuat Maurin spontan


membangkitkan dirinya dari ayunan taman.


“Eh anjir itu kok nggak dipisahin,” Sunny panik sendiri


melihat Nathan memukuli Alva bertubi-tubi, namun tak kunjung mendapat balasan


dari Alva sendiri.


“Kak Alva bahlul anjir kenapa dibiarin gitu,” Keyra gemas


sambil menahan diri untuk tidak ikutan baku hantam dengan para lelaki.


Ditengah kehebohan pertengkaran Eryschthon, kini Maurin


memikirkan sesuatu yang sejak tadi mengganggu benaknya. Ia melirik ke arah Alva


dan Nathan sambil menatapnya datar. Namun, tanpa ia duga Alva tersenyum


kepadanya menandakan semua akan baik-baik saja.


“Jadi bener gue penyebab perpecahan Eryschthon?” Maurin

__ADS_1


bergumam pada sendiri sambil membalas senyuman Alva sedih.


__ADS_2