Puzzle

Puzzle
Episode 20


__ADS_3

Layar monitor itu terus menyala. Menyidari kornea mata Sunny


yang sudah terlihat sangat lelah. Jam dinding pun mulai berdetak, menunjukkan


angka yang sudah lewat dari tengah malam. Hawa dingin dari luar jendela pun


mulai mengusik ketenangan perempuan cantik itu.


Kacamata yang bertengger manis di pangkal hidungnya pun


sudah merosot berkali-kali. Membuatnya sedikit kesal. Sepertinya situasi saat


ini sedang tidak mendukung Sunny. Beberapa kali ia mengucek mata kecilnya


sambil menguap kecil.


Matanya pun semakin berat, hingga tanpa sadar ia


meninggalkan monitor itu dalam keadaan menyala. Namun, siapa sangka dibalik itu


semua terselip sebuah pesan yang isinya sangat mengejutkan.


∞∞∞


Pagiku cerahku


Matahari bersinar


Ku gendong tas hitamku


Di pundak ....


Selamat pagi semua


Ku nantikan dirimu


Di atas bangku ku


Menantikan guru


Guruku tersayang


Guruku tercinta


Tanpamu apa jadinya


Sunny


Tak bisa nakal lagi


Berhenti membolos


Guruku


Terima kasihku


Nakalnya diriku selalu


masuk BK


Namun, segala catatan


Kau berikan


Keyra pun menghentikan lagunya kala Bu Dayut memasuki kelas.


Tatapan guru separuh baya itu menajam kala ia mendengar lagu pada bait


terakhir. Namun, tak urung membuat Keyra menyembunyikan wajahnya takut-takut.


“Mampus, Bu Dayut denger!” umpat Maurin sambil menendang


bangku Keyra pelan.


Sunny tertawa kecil dibalik buku yang sengaja ia dirikan


tinggi-tinggi.


“Laknat lo semua! Ada guru bukannya bilang,” sungut Keyra


sambil melirik takut-takut pada Bu Dayut yang tengah sibuk mengabsen.


Ayrin menggelengkan kepalanya pelan, sambil memperhatikan


guru killer di depannya.


Keyra pikir ia terbebas dari guncangan Bu Dayut, namun


nyatanya guru paruh baya itu tak sebaik apa yang Keyra sangka.


Dengan langkah slow motion, Bu Dayut menghampiri Keyra


dengan tatapan tak terbaca. Bukannya takut, Keyra justru tersenyum tanpa beban.

__ADS_1


“Ngapain kamu senyum-senyum, gitu?” sentak Bu Dayut galak.


Keyra terguncang pelan. “Sensi banget, Bu. Lagi pms, ya?”


sahut Keyra dengan wajah polosnya.


Sunny menyikut pelan.


“Apaan, Sun?” tanya Keyra tak tahu situasi.


Sunny berkata tanpa suara, “Bodoh!”


Maurin pun sudah menenggelamkan wajahnya ke dalam tas. Ia


malu mempunyai sahabat lemot seperti Keyra. Wajahnya boleh imut, tetapi kalau


sifatnya lemot akut siapa pun berpikir lagi untuk mendekati dirinya. Mempunyai


sahabat kelewat polos, jatuhnya bisa jadi bodoh.


“Pusing Ibu tengok kau, Keyra. Saben hari aya-aya wae


tingkahna,” ujar Bu Dayut dengan berbagai macam Bahasa, membuat Keyra


menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Roni pun ikut menyahut, “Keyra emang suka gitu, Bu. Ngajak


becanda dia.”


“Bacyod lo, Roni!” protes Keyra kesal.


“Sudah-sudah. Nggak ada yang nyuruh kalian berdebat!”


pungkas Bu dayut sembari berlalu.


∞∞∞


“Daf, hari ini kita ada latihan nggak?” tanya Nathan tanpa


mengalihkan pandangannya dari buku catatan.


“Libur ulu. Gue lagi ada urusan,” jelas Daffa sambil


menyerahkan buku catatannya pada Kenzo.


Reyvan menatap punggung Daffa bingung. “Tumben lo pake


menghadap ke arah Daffa.


“Ceritanya panjang, dan gue sendiri juga nggak tahu,” ujar


Daffa cuek.


Kenzo yang biasanya diam, kini ikut terlarut obrolan


sahabatnya. “Kalau ada apa-apa cerita aja. Kita siap kok nampung keluh kesah


lo,” nasihat Kenzo yang diakhiri tepukan pelan di bahu Daffa.


Hito menjentikkan jarinya tanda persetujuan.


“Sikap lo udah kayak ditinggal doi, anjir!” canda Alva


sambil terkekeh pelan.


Saking asyiknya berbicara, ke lima laki-laki tampan itu tak


menyadari tatapan Guru Chen menatap mereka sambil menumpukan kepalanya di atas


meja. Anak-anak yang menyadarinya itu justru berpura-pura sibuk menulis. Mereka


tahu Guru Chen bukanlah tipe guru yang pemarah, melainkan santuy tetapi tegas akan


tetap dijunjung tinggi.


“Kalian ngobrolin apa? Asyik banget kayaknya,” celetuk Guru


Chen sambil menarik salah satu bangku kosong dari belakang, lalu berhenti tepat


di samping meja milik Daffa.


Sontak saja kelima laki-laki itu seketika terdiam mendengar


celetukan asing yang berada di samping Daffa. Netta pun tak kuasa lagi menahan


tawanya, dengan terpingkal-pingkal ia mentertawakan wajah pucat dari Nathan.


Seluruh kelas pun menatap mereka dengan tatapan geli.


Bukannya malu Daffa justru menyebar senyuman menawannya, membuat seisi kelas menyuraki


Eryshthon.

__ADS_1


“Oke anak-anak, pelajaran hari ini cukup. Kalian bisa


istirahat, tapi ingat! Jangan sampai ada dari salah satu kalian membolos kelas


berikutnya,” ujar Guru Chen membuat seluruh laki-laki di kelas itu berdecak


pelan.


Guru Chen selalu bisa menyengkan hati muridnya, ia tak


membeda-bedakan meskipun sebenarnya bukan wali kelas dari kelas itu.


Setelah kepergian Guru Chen, kelas pun menjadi tak kondusif.


Obrolan saling bersahut keras membuat kelas menjadi bising, seperti Alva yang


siap untuk berdendang ria. Melupakan kelas sebelah yang diisi oleh Bu Dayut,


wali kelas mereka sendiri.


Suara musik yang memekakkan telinga itu pun sampai ke kelas


yang tengah Bu Dayut ajar. Mendadak suasanan ikut menjadi bising, akibatnya


pelajaran mereka pun tertunda. Sebab, Bu Dayut yang tiba-tiba keluar kelas


tanpa permisi.


“Bu Dayut sawan itu?” celetuk Roni pada Denta yang tengah


sibuk menyalin catatannya.


Sunny menggeleng pelan. “Paling kelas sebelah. Gue denger


yang di sebelah kita itu kakak kelas, tapi entahlah bener nggak.” Endikan bahu


tak tahu dari Sunny membuat Keyra memukul bahunya pelan.


“Songong banget lo. Itu tuh kelas 12 Tei 1. Gue denger kelas


mereka kena gusuran gara-gara kelas 11,” terang Keyra sambil menatap Sunny


sinis.


“Oh. Gue nggak peduli,” sahut Sunny tanpa beban, mengabaikan


tatapan Keyra yang seakan ingin membunuh.


Maurin pun tak mau kalah. “Pantes aja tadi banyak kakak


kelas yang lewat sini,” ujarnya menggebu-gebu.


“Berita apa sih yang lo nggak tahu, Key?” sahut Glora heran.


Keyra tertawa kecil mendengar penuturan Glora, tetangga dari


bangkunya.


“Lo belum tahu aja Keyra. Dia punya banyak akses dengan


berbagai macam cara,” seru Maurin memanyunkan bibirnya sebal.


Ayrin pun hanya diam sambil menyimak perbincangan mereka.


Tanpa sadar pikiran Ayrin melayang pada kejadian yang tak


mengenakkan. Membuat dirinya dan keluarga ikut terseret pada masalah yang


sangat harus dihindari. Tanpa sadar ia tengah memasui zona berbahaya itu.


Kedatangan Bu Dayut ke dalam kelas Daffa membuat spot jantung


kecil untuk para penghuni kelas. Sontak saja dengan gerakan kalang kabut mereka


menduduki bangku. Ada pula yang nekat menaiki meja guna lebih cepat untuk


sampai di tempat tujuan.


Alva menatap Bu Dayut dengan mata berkedip-kedip seperti


boneka. Sementara Nathan sudah bertengger manis, semanis senyuman yang selalu


ia umbar untuk wali kelas tercintanya.


“Daffa mana?” tanya Bu Dayut dengan tatapan siap perang.


Merasa terpanggil, Daffa pun bangkit dari mimpi indahnya dan


menatap wajah Bu Dayut dengan mata yang memerah khas bangun tidur.


“Kelas 12 Tei, Ibu minta kalian turun ke lapangan semua.


Sekarang!” bentak Bu Dayut garang.

__ADS_1


__ADS_2