
Layar monitor itu terus menyala. Menyidari kornea mata Sunny
yang sudah terlihat sangat lelah. Jam dinding pun mulai berdetak, menunjukkan
angka yang sudah lewat dari tengah malam. Hawa dingin dari luar jendela pun
mulai mengusik ketenangan perempuan cantik itu.
Kacamata yang bertengger manis di pangkal hidungnya pun
sudah merosot berkali-kali. Membuatnya sedikit kesal. Sepertinya situasi saat
ini sedang tidak mendukung Sunny. Beberapa kali ia mengucek mata kecilnya
sambil menguap kecil.
Matanya pun semakin berat, hingga tanpa sadar ia
meninggalkan monitor itu dalam keadaan menyala. Namun, siapa sangka dibalik itu
semua terselip sebuah pesan yang isinya sangat mengejutkan.
∞∞∞
Pagiku cerahku
Matahari bersinar
Ku gendong tas hitamku
Di pundak ....
Selamat pagi semua
Ku nantikan dirimu
Di atas bangku ku
Menantikan guru
Guruku tersayang
Guruku tercinta
Tanpamu apa jadinya
Sunny
Tak bisa nakal lagi
Berhenti membolos
Guruku
Terima kasihku
Nakalnya diriku selalu
masuk BK
Namun, segala catatan
Kau berikan
Keyra pun menghentikan lagunya kala Bu Dayut memasuki kelas.
Tatapan guru separuh baya itu menajam kala ia mendengar lagu pada bait
terakhir. Namun, tak urung membuat Keyra menyembunyikan wajahnya takut-takut.
“Mampus, Bu Dayut denger!” umpat Maurin sambil menendang
bangku Keyra pelan.
Sunny tertawa kecil dibalik buku yang sengaja ia dirikan
tinggi-tinggi.
“Laknat lo semua! Ada guru bukannya bilang,” sungut Keyra
sambil melirik takut-takut pada Bu Dayut yang tengah sibuk mengabsen.
Ayrin menggelengkan kepalanya pelan, sambil memperhatikan
guru killer di depannya.
Keyra pikir ia terbebas dari guncangan Bu Dayut, namun
nyatanya guru paruh baya itu tak sebaik apa yang Keyra sangka.
Dengan langkah slow motion, Bu Dayut menghampiri Keyra
dengan tatapan tak terbaca. Bukannya takut, Keyra justru tersenyum tanpa beban.
__ADS_1
“Ngapain kamu senyum-senyum, gitu?” sentak Bu Dayut galak.
Keyra terguncang pelan. “Sensi banget, Bu. Lagi pms, ya?”
sahut Keyra dengan wajah polosnya.
Sunny menyikut pelan.
“Apaan, Sun?” tanya Keyra tak tahu situasi.
Sunny berkata tanpa suara, “Bodoh!”
Maurin pun sudah menenggelamkan wajahnya ke dalam tas. Ia
malu mempunyai sahabat lemot seperti Keyra. Wajahnya boleh imut, tetapi kalau
sifatnya lemot akut siapa pun berpikir lagi untuk mendekati dirinya. Mempunyai
sahabat kelewat polos, jatuhnya bisa jadi bodoh.
“Pusing Ibu tengok kau, Keyra. Saben hari aya-aya wae
tingkahna,” ujar Bu Dayut dengan berbagai macam Bahasa, membuat Keyra
menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Roni pun ikut menyahut, “Keyra emang suka gitu, Bu. Ngajak
becanda dia.”
“Bacyod lo, Roni!” protes Keyra kesal.
“Sudah-sudah. Nggak ada yang nyuruh kalian berdebat!”
pungkas Bu dayut sembari berlalu.
∞∞∞
“Daf, hari ini kita ada latihan nggak?” tanya Nathan tanpa
mengalihkan pandangannya dari buku catatan.
“Libur ulu. Gue lagi ada urusan,” jelas Daffa sambil
menyerahkan buku catatannya pada Kenzo.
Reyvan menatap punggung Daffa bingung. “Tumben lo pake
menghadap ke arah Daffa.
“Ceritanya panjang, dan gue sendiri juga nggak tahu,” ujar
Daffa cuek.
Kenzo yang biasanya diam, kini ikut terlarut obrolan
sahabatnya. “Kalau ada apa-apa cerita aja. Kita siap kok nampung keluh kesah
lo,” nasihat Kenzo yang diakhiri tepukan pelan di bahu Daffa.
Hito menjentikkan jarinya tanda persetujuan.
“Sikap lo udah kayak ditinggal doi, anjir!” canda Alva
sambil terkekeh pelan.
Saking asyiknya berbicara, ke lima laki-laki tampan itu tak
menyadari tatapan Guru Chen menatap mereka sambil menumpukan kepalanya di atas
meja. Anak-anak yang menyadarinya itu justru berpura-pura sibuk menulis. Mereka
tahu Guru Chen bukanlah tipe guru yang pemarah, melainkan santuy tetapi tegas akan
tetap dijunjung tinggi.
“Kalian ngobrolin apa? Asyik banget kayaknya,” celetuk Guru
Chen sambil menarik salah satu bangku kosong dari belakang, lalu berhenti tepat
di samping meja milik Daffa.
Sontak saja kelima laki-laki itu seketika terdiam mendengar
celetukan asing yang berada di samping Daffa. Netta pun tak kuasa lagi menahan
tawanya, dengan terpingkal-pingkal ia mentertawakan wajah pucat dari Nathan.
Seluruh kelas pun menatap mereka dengan tatapan geli.
Bukannya malu Daffa justru menyebar senyuman menawannya, membuat seisi kelas menyuraki
Eryshthon.
__ADS_1
“Oke anak-anak, pelajaran hari ini cukup. Kalian bisa
istirahat, tapi ingat! Jangan sampai ada dari salah satu kalian membolos kelas
berikutnya,” ujar Guru Chen membuat seluruh laki-laki di kelas itu berdecak
pelan.
Guru Chen selalu bisa menyengkan hati muridnya, ia tak
membeda-bedakan meskipun sebenarnya bukan wali kelas dari kelas itu.
Setelah kepergian Guru Chen, kelas pun menjadi tak kondusif.
Obrolan saling bersahut keras membuat kelas menjadi bising, seperti Alva yang
siap untuk berdendang ria. Melupakan kelas sebelah yang diisi oleh Bu Dayut,
wali kelas mereka sendiri.
Suara musik yang memekakkan telinga itu pun sampai ke kelas
yang tengah Bu Dayut ajar. Mendadak suasanan ikut menjadi bising, akibatnya
pelajaran mereka pun tertunda. Sebab, Bu Dayut yang tiba-tiba keluar kelas
tanpa permisi.
“Bu Dayut sawan itu?” celetuk Roni pada Denta yang tengah
sibuk menyalin catatannya.
Sunny menggeleng pelan. “Paling kelas sebelah. Gue denger
yang di sebelah kita itu kakak kelas, tapi entahlah bener nggak.” Endikan bahu
tak tahu dari Sunny membuat Keyra memukul bahunya pelan.
“Songong banget lo. Itu tuh kelas 12 Tei 1. Gue denger kelas
mereka kena gusuran gara-gara kelas 11,” terang Keyra sambil menatap Sunny
sinis.
“Oh. Gue nggak peduli,” sahut Sunny tanpa beban, mengabaikan
tatapan Keyra yang seakan ingin membunuh.
Maurin pun tak mau kalah. “Pantes aja tadi banyak kakak
kelas yang lewat sini,” ujarnya menggebu-gebu.
“Berita apa sih yang lo nggak tahu, Key?” sahut Glora heran.
Keyra tertawa kecil mendengar penuturan Glora, tetangga dari
bangkunya.
“Lo belum tahu aja Keyra. Dia punya banyak akses dengan
berbagai macam cara,” seru Maurin memanyunkan bibirnya sebal.
Ayrin pun hanya diam sambil menyimak perbincangan mereka.
Tanpa sadar pikiran Ayrin melayang pada kejadian yang tak
mengenakkan. Membuat dirinya dan keluarga ikut terseret pada masalah yang
sangat harus dihindari. Tanpa sadar ia tengah memasui zona berbahaya itu.
Kedatangan Bu Dayut ke dalam kelas Daffa membuat spot jantung
kecil untuk para penghuni kelas. Sontak saja dengan gerakan kalang kabut mereka
menduduki bangku. Ada pula yang nekat menaiki meja guna lebih cepat untuk
sampai di tempat tujuan.
Alva menatap Bu Dayut dengan mata berkedip-kedip seperti
boneka. Sementara Nathan sudah bertengger manis, semanis senyuman yang selalu
ia umbar untuk wali kelas tercintanya.
“Daffa mana?” tanya Bu Dayut dengan tatapan siap perang.
Merasa terpanggil, Daffa pun bangkit dari mimpi indahnya dan
menatap wajah Bu Dayut dengan mata yang memerah khas bangun tidur.
“Kelas 12 Tei, Ibu minta kalian turun ke lapangan semua.
Sekarang!” bentak Bu Dayut garang.
__ADS_1