
Pagi
ini Sunny berangkat lebih telat dari hari biasa. Kaki mungil itu membawa
dirinya melewati pintu gerbang utama. Terlihat bukan hanya dirinya saja yang
dihukum, melainkan ada Keyra dan Maurin. Sementara Ayrin dapat di duga anak
rajin itu sudah bertengger manis di bangkunya.
“Kalian
telat juga?” tanya Sunny membuat ke dua sahabatnya itu menoleh.
“Iya,
nih. Kebetulan sopir gue rada ngaret,” sahut Keyra kesal.
“Kalau
gue emang sengaja. Lagipula malas jadi anak baik mulu. Nanti dimanfaatin,”
celetuk Maurin tanpa beban.
Melihat
tiga orang siswi yang bergerumul, Daffa pun tidak tinggal diam. Segera ia
menghampirinya, namun langkah tegas itu terhenti kala matanya tanpa sengaja
bertabrakan dengan mata cokelat milik Sunny.
Dengan
memutar balikkan tubuhnya Daffa meninggalkan Sunny yang jelas-jelas menatap
dirinya juga.
“Kak
Daffa, tunggu!” seru Sunny agak keras.
Bukannya
berhenti Daffa malah mempercepat langkahnya meninggalkan Sunny yang jauh di
belakang. Namun, karena kecerobohan Sunny yang sudah mendarah daging, tanpa
sengaja ia menabrak sebuah batu besar yang memang letaknya sangat tidak
strategis. Tubuh mungil itu terjatuh mengenaskan dengan luka dengkul yang
lumayan besar.
Tetapi,
Sunny tak peduli. Ia bahkan tak merasakan sakit sedikit pun. Padahal darah
segar itu sudah mengalir hingga kaus kaki pendeknya.
“Kak,
tunggu! Gue mau jelasin semuanya.” Lagi dan lagi Sunny berteriak agar Daffa mau
mendengarkannya.
Tanpa
sengaja dahi Sunny bertabrakan dengan punggung keras milik seorang laki-laki. Tangan
kanannya pun terangkat untuk mengusap dahinya yang terasa nyeri.
“Kak,
lo salah paham.” Sunny memegang pergelangan tangan milik Daffa dengan pandangan
memohon. “Plis izinin gue buat jelasin,” lirih Sunny sambil menundukkan
kepalanya dalam.
Mendengar
lirihan Sunny, akhirnya Daffa pun tidak tega. Namun, tatapannya menatap dengkul
Sunny yang menyisakan banyak darah di kaus kaki putihnya. Sontak Daffa
__ADS_1
berjongkok untuk melihat luka yang menganga lebar itu.
“Kaki
lo ... berdarah,” ucap Daffa pelan.
Sunny
menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Udah biasa gue,” sahut perempuan itu
tersenyum lebar, menutupi rasa perih yang menjalar kala Daffa menyentuh
tepi-tepi lukanya yang berdenyut nyeri.
“Nanti
infeksi. Ayo! Gue obatin kaki lo,” sanggah Daffa dengan paksa membopong tubuh
mungil Sunny.
Adegan
romantis itu pun tak luput dari pemandangan Keyra.
***
“Tadi
gue lihat lo lagi bopong cewek. Siapa itu, Daf?” tanya Alva sembari menumpukkan
kepalanya di atas lipatan tangan.
Kenzo
menyimak dalam diam.
“Nggak
ada,” kata Daffa cuek.
Reyvan
mengerutkan dahinya bingung. “Bos, lo beneran lagi deket sama Sunny?”
“Nggak
Nathan
mengabaikan obrolan teman-temannya, ia dengan adem ayem menatap ponsel yang
tengah memperlihatkan sebuah akun sosial media milik Keyra. Nampaknya perempuan
itu jarang sekali memposting masalah pribadinya, bahkan postingan terakhirnya
adalah ketika ia tengah berada di tengah keramaian sebuah mall. Itu pun bersama
sahabatnya.
“Belum.
Masih otw proses,” celetuk Kenzo
datar.
“Buset! Sekalinya bersuara dalam juga
mas,” tutur Alva dengan wajah terkejut.
Nathan
menoyor dahi Alva pelan. “Jijik gue lihatnya,” sinisnya sambil menatap Alva
aneh.
“Nggak
masalah lo jijik, yang penting Maurin demen sama gue.” Alva menaik-naikkan
alisnya sambil tersenyum pongah.
“Lo
belum cerita tentang masalah lo waktu mukulin Alva, ‘kan? Bisa tolong
dijelaskan wahai saudara Nathaniel,” tutur Hito membuat tatapan penasaran kini
__ADS_1
mengalihkannya pada laki-laki imut dengan muka yang ditekuk.
“Bukan
masalah panjang, sih. Intinya gue salah paham aja,” papar Nathan sambil
tersenyum kecil.
“Tapi,
apa lo udah baikan sama Alva?” Daffa membuka suara, tepat ketika Nathan hendak
berlalu.
Namun,
bukannya menjawab. Nathan justru berlalu meninggalkan pertanyaan Daffa yang
mengambang di udara. Sedangkan Alva hanya menatap Daffa tanpa ekspresi. Ia tahu
laki-laki itu pasti butuh jawaban.
***
Ayrin
kira Sunny akan duduk bersamanya, namun perkiraannya melenceng jauh. Justru
perempuan manis itu lebih memilih duduk bersama Glora, yang notabenenya duduk
dengan Denta. Namun, Denta tidak mempermasalahkan itu. Ia pun segera bangkit
dan lebih memilih duduk dengan Jebros. Laki-laki yang sebenarnya bernama Aldi.
“Glo,
gue duduk sama lo ya,” pinta Sunny.
Glora
pun mengangguk, lalu mempersilahkan untuk Sunny mengisi bangku yang tadinya
dimiliki oleh Denta.
“Nta, sorry,” ucap Sunny membuat Denta
menoleh.
“Santuy,”
sahut Denta menatap Sunny tersenyum kecil.
Melihat
Sunny yang tiba-tiba berubah tempat duduk pun menimbulkan banyak pertanyaan di
benak Ayrin dan Keyra. Tentu saja Maurin perempuan tersantuy yang melihat
kepindahan bangku Sunny hari ini.
“Sun,
lo lagi ada masalah sama sahabat lo itu?” tanya Glora pelan. Siapa pun yang
berdampingan dengan perempuan itu pasti akan merasa segan. Entah apa yang ada
di dalam auranya. Padahal jika dilihat, Sunny adalah perempuan biasa yang
sangat ramai.
Sunny
menggeleng pelan. “Nggak kok, gue suntuk aja. Lagipula gue harus banyak-banyak
bersosialisasi dengan penghuni kelas, ‘kan?
“Iya,
sih. Lo murid baru juga. Tapi, aneh aja rasanya,” sahut Glora sambil menggaruk
kepalanya yang tak gatal.
“Gue
cuma mendekatkan diri dengan kalian kok. Nggak ada hal lain,” ungkap Sunny yang
__ADS_1
diakhiri senyuman lebarnya.