Puzzle

Puzzle
Episode 28


__ADS_3

Pagi


ini Sunny berangkat lebih telat dari hari biasa. Kaki mungil itu membawa


dirinya melewati pintu gerbang utama. Terlihat bukan hanya dirinya saja yang


dihukum, melainkan ada Keyra dan Maurin. Sementara Ayrin dapat di duga anak


rajin itu sudah bertengger manis di bangkunya.


“Kalian


telat juga?” tanya Sunny membuat ke dua sahabatnya itu menoleh.


“Iya,


nih. Kebetulan sopir gue rada ngaret,” sahut Keyra kesal.


“Kalau


gue emang sengaja. Lagipula malas jadi anak baik mulu. Nanti dimanfaatin,”


celetuk Maurin tanpa beban.


Melihat


tiga orang siswi yang bergerumul, Daffa pun tidak tinggal diam. Segera ia


menghampirinya, namun langkah tegas itu terhenti kala matanya tanpa sengaja


bertabrakan dengan mata cokelat milik Sunny.


Dengan


memutar balikkan tubuhnya Daffa meninggalkan Sunny yang jelas-jelas menatap


dirinya juga.


“Kak


Daffa, tunggu!” seru Sunny agak keras.


Bukannya


berhenti Daffa malah mempercepat langkahnya meninggalkan Sunny yang jauh di


belakang. Namun, karena kecerobohan Sunny yang sudah mendarah daging, tanpa


sengaja ia menabrak sebuah batu besar yang memang letaknya sangat tidak


strategis. Tubuh mungil itu terjatuh mengenaskan dengan luka dengkul yang


lumayan besar.


Tetapi,


Sunny tak peduli. Ia bahkan tak merasakan sakit sedikit pun. Padahal darah


segar itu sudah mengalir hingga kaus kaki pendeknya.


“Kak,


tunggu! Gue mau jelasin semuanya.” Lagi dan lagi Sunny berteriak agar Daffa mau


mendengarkannya.


Tanpa


sengaja dahi Sunny bertabrakan dengan punggung keras milik seorang laki-laki. Tangan


kanannya pun terangkat untuk mengusap dahinya yang  terasa nyeri.


“Kak,


lo salah paham.” Sunny memegang pergelangan tangan milik Daffa dengan pandangan


memohon. “Plis izinin gue buat jelasin,” lirih Sunny sambil menundukkan


kepalanya dalam.


Mendengar


lirihan Sunny, akhirnya Daffa pun tidak tega. Namun, tatapannya menatap dengkul


Sunny yang menyisakan banyak darah di kaus kaki putihnya. Sontak Daffa

__ADS_1


berjongkok untuk melihat luka yang menganga lebar itu.


“Kaki


lo ... berdarah,” ucap Daffa pelan.


Sunny


menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Udah biasa gue,” sahut perempuan itu


tersenyum lebar, menutupi rasa perih yang menjalar kala Daffa menyentuh


tepi-tepi lukanya yang berdenyut nyeri.


“Nanti


infeksi. Ayo! Gue obatin kaki lo,” sanggah Daffa dengan paksa membopong tubuh


mungil Sunny.


Adegan


romantis itu pun tak luput dari pemandangan Keyra.


***


“Tadi


gue lihat lo lagi bopong cewek. Siapa itu, Daf?” tanya Alva sembari menumpukkan


kepalanya di atas lipatan tangan.


Kenzo


menyimak dalam diam.


“Nggak


ada,” kata Daffa cuek.


Reyvan


mengerutkan dahinya bingung. “Bos, lo beneran lagi deket sama Sunny?”


“Nggak


Nathan


mengabaikan obrolan teman-temannya, ia dengan adem ayem menatap ponsel yang


tengah memperlihatkan sebuah akun sosial media milik Keyra. Nampaknya perempuan


itu jarang sekali memposting masalah pribadinya, bahkan postingan terakhirnya


adalah ketika ia tengah berada di tengah keramaian sebuah mall. Itu pun bersama


sahabatnya.


“Belum.


Masih otw proses,” celetuk Kenzo


datar.


“Buset! Sekalinya bersuara dalam juga


mas,” tutur Alva dengan wajah terkejut.


Nathan


menoyor dahi Alva pelan. “Jijik gue lihatnya,” sinisnya sambil menatap Alva


aneh.


“Nggak


masalah lo jijik, yang penting Maurin demen sama gue.” Alva menaik-naikkan


alisnya sambil tersenyum pongah.


“Lo


belum cerita tentang masalah lo waktu mukulin Alva, ‘kan? Bisa tolong


dijelaskan wahai saudara Nathaniel,” tutur Hito membuat tatapan penasaran kini

__ADS_1


mengalihkannya pada laki-laki imut dengan muka yang ditekuk.


“Bukan


masalah panjang, sih. Intinya gue salah paham aja,” papar Nathan sambil


tersenyum kecil.


“Tapi,


apa lo udah baikan sama Alva?” Daffa membuka suara, tepat ketika Nathan hendak


berlalu.


Namun,


bukannya menjawab. Nathan justru berlalu meninggalkan pertanyaan Daffa yang


mengambang di udara. Sedangkan Alva hanya menatap Daffa tanpa ekspresi. Ia tahu


laki-laki itu pasti butuh jawaban.


***


Ayrin


kira Sunny akan duduk bersamanya, namun perkiraannya melenceng jauh. Justru


perempuan manis itu lebih memilih duduk bersama Glora, yang notabenenya duduk


dengan Denta. Namun, Denta tidak mempermasalahkan itu. Ia pun segera bangkit


dan lebih memilih duduk dengan Jebros. Laki-laki yang sebenarnya bernama Aldi.


“Glo,


gue duduk sama lo ya,” pinta Sunny.


Glora


pun mengangguk, lalu mempersilahkan untuk Sunny mengisi bangku yang tadinya


dimiliki oleh Denta.


“Nta, sorry,” ucap Sunny membuat Denta


menoleh.


“Santuy,”


sahut Denta menatap Sunny tersenyum kecil.


Melihat


Sunny yang tiba-tiba berubah tempat duduk pun menimbulkan banyak pertanyaan di


benak Ayrin dan Keyra. Tentu saja Maurin perempuan tersantuy yang melihat


kepindahan bangku Sunny hari ini.


“Sun,


lo lagi ada masalah sama sahabat lo itu?” tanya Glora pelan. Siapa pun yang


berdampingan dengan perempuan itu pasti akan merasa segan. Entah apa yang ada


di dalam auranya. Padahal jika dilihat, Sunny adalah perempuan biasa yang


sangat ramai.


Sunny


menggeleng pelan. “Nggak kok, gue suntuk aja. Lagipula gue harus banyak-banyak


bersosialisasi dengan penghuni kelas, ‘kan?


“Iya,


sih. Lo murid baru juga. Tapi, aneh aja rasanya,” sahut Glora sambil menggaruk


kepalanya yang tak gatal.


“Gue


cuma mendekatkan diri dengan kalian kok. Nggak ada hal lain,” ungkap Sunny yang

__ADS_1


diakhiri senyuman lebarnya.


__ADS_2