
Ringisan yang keluar dari bibir sobek itu terus menerus
terdengar membuat seseorang di depannya mendengus kesal. Dengan sengaja ia
menekan luka lebam disekitar sudut bibirnya sambil tersenyum iblis.
“ASTAGA! Wajah gue sakit semua woy,” protes Alva membuat
Daffa mendengus, sebab hanya Alva yang sedari tadi tak pernah berhenti meracau.
Sangat berbeda Nathan yang kini tengah menikmati cemilan
Kenzo sambil terduduk menatap layar besar di depannya yang selalu dan selalu
menampilkan serial kartun kucing biru yang sangat membenci hewan berjenis
tikus. Dengan humor yang sangat receh Nathan tertawa membuat semuanya menatap
ngeri melihat makhluk setengah bocah itu.
“Anjir nggak bisa diem lo, ya! Dari tadi gerutu mulu,” dengus
Daffa yang lantas melemparkan diri ke atas sofa, persetan dengan Alva.
Memang, sejak tadi Daffa sudah menahan diri untuk tidak
membuang Alva ke rawa-rawa. Tetapi keinginannya harus ditahan dulu. Karena sejak
kedatangan Hito beserta anggota Eryschthon lainnya, kini kediaman Kenzo menjadi
sangat ramai.
Sampah makanan ringan kini sudah memenuhi ruang keluarga
membuat para maid sedikit kesusahan untuk membersihkannya.
“Dia siapa, Bro?” bisik Bryan sambil menunjuk salah satu
maid yang terlihat mungil dengan seragam pas ditubuhnya.
Kenzo menoleh sepintas, “Dia maid baru, yang gue denger dia
masih sekolah. Soalnya emang setiap pagi gue nggak pernah lihat dia.”
“Wah ada apa, nih? Kayaknya seru,” sahut Alexian ikut
memposisikan diri ditengah-tengah Kenzo dan Bryan.
Sontak saja membuat ke dua manusia pergi meninggalkan
Alexian yang kini terjatuh mengenaskan diatas karpet berbulu dengan corak MU
pesepak bola kesukaan Kenzo.
“Lo ngapain sujud sukur ditengah hari bolong gini?” tanya Rifqi
mengerutkan dahinya bingung.
“Ketiban durian runtuh,” Alexian mendesis kesal yang dibalas
tatapan aneh dari Rifqi sambil menggaruk kepalanya tak gatal.
“Dari mana, Qi?” tanya Reynaldi sambil menumpu kepalanya
dibantal sofa.
“Minta jambu tempat Mba Umi,” ujar Rifqi sambil mengangkat
__ADS_1
sekantung plastik berisi jambu air membuat seluruh temannya bangkit dan
menyerbu kresek miliknya.
“Wah janda tetangga Maurin itu, ‘kan?” Hito berujar semangat
sambil menegakkan tubuhnya membuat Robby tersungkur mengenaskan, karena sejak
tadi ia menumpang ditubuh besar Hito.
“Anjir! Bangun gak bilang-bilang,” umpat Robby sambil
mendengus kesal, sebab push rank-nya
gagal.
“Gimana makin cihuy gak?” tanya Alexian dengan wajah cerah
ceria. Tentu saja siapa yang tidak suka dengan bening-bening terlebih ia adalah
wanita.
Rifqi mengabaikan semua pertanyaan temannya, namun ia
menampilkan senyum setannya sambil melirik Kenzo yang kini menatapnya ngeri.
“Gak ada!” tolak Kenzo membuat semuanya mendengus pasrah.
∞∞∞
Duduk melingkar dengan buku yang berserakan sudah biasa
untuk perempuan dengan tingkah absurdnya.
Ayrin yang notabenenya paling waras kini sudah terkontaminasi pergilaan yang
Sunny berdehem pelan agar semua sahabatnya diam. Tentu saja,
bukan hal tidak penting ia mengumpulkan sahabatnya. Ada sesuatu hal yang harus
mereka bincangkan. Masa depan dari anggota pergulatannya.
“Jadi, permasalah tadi disebabkan oleh Maurin. Gue udah coba
buat hubungin Daffa, tapi belum ada kejelasan. Dan pasti kalian mempunyai
pertanyaan yang sama dengan gue. Untuk sementara waktu gue harap salah satu
dari kalian nggak ada yang mencoba ngorek infomasi dari siswa maupun siswi SMA
Aryasatya. Sebab, ini masalah tentang pribadi dan orang lain nggak berhak tahu.
Apalagi warga sekolah, dapat dimengerti?”
Anggukan kompak dari ke tiga sahabatnya membuat Sunny
tersenyum tegas. Memang ada saatnya ia harus bersikap dewasa dan ada saatnya
pula ia bersikap seperti remaja kebanyakan.
Suasana pun sedikit mencair dengan ajakan Maurin untuk
memetik jambu milik tetangga kompleknya yang dikabarkan berbuah lebat. Sudah
pasti rasanya pun manis, seperti penulisnya. Ea
“Maurin! Bangsul, sekali lagi lo goyangin gue getok lo
__ADS_1
lama-lama,” pekik Keyra kesal sambil berpegangan erat pada dahan yang saat ini
ia peluk.
Sontak Sunny tertawa keras sekali hingga membuat Mba Umi
tersenyum geli melihat tingkah lucu Keyra.
“Cocok lo, Key. Casting jadi monyet,” canda Maurin memegangi
perutnya yang terlalu banyak tertawa.
Ayrin pun hanya menggeleng pelan melihat tingkah Keyra yang
selalu menjadi korban dari kejahilan Maurin.
Bruk
Pendaratan Keyra mulus. Pandangan tajam ia arahkan pada
Maurin yang tengah berusaha bersembunyi darinya.
“Sini lo setan! Greget gue pengen ngasih cap biru,
lumayankan buat kenang-kenangan dari gue sebelum pergi,” celetuk Keyra asal,
namun mampu membuat langkah Maurin terhenti.
“Maksud lo apa, Key?” selidik Maurin membuat Keyra gelagapan
sembari menatap ke sembarang arah.
“Lo nggak bener-bener mau ninggalin kita, ‘kan?” tanya Sunny
menatap wajah Keyra serius.
“Apaan, sih! Kalian baperan deh,” alibi Keyra sambil tertawa
kecil.
“Jaga ucapan, Key. Candaan lo nggak asik,” cetus Maurin sambil
berlalu meninggalkan Keyra.
Sunny menepuk bahu Keyra pelan. “Kalau ada apa-apa jangan
segan buat cerita sama kita,” Sunny bergumam pelan yang hanya dapat didengar
Keyra.
Sementara Ayrin bagai seorang algojo siap perang, ia terus
menatap Keyra tanpa berkedip. Padahal kalau dihitung sudah lima menit yang lalu
Ayrin tidak mengedipkan matanya. Apa tidak perih jika terus menerus dipaksakan
seperti itu.
Keyra mengelus dadanya pelan sambil berjongkok memunguti
buah jambu yang berserakan. Ia raih plastik kresek disaku sambil menitikkan air
matanya dalam diam.
“Gue gak mau ngecewain kalian, maaf. Semoga kalian bisa
hadir tanpa gue,” Keyra mengusap berkali-kali air mata yang sialnya tidak mau
__ADS_1
berhenti itu.