Puzzle

Puzzle
Episode 12


__ADS_3

Ringisan yang keluar dari bibir sobek itu terus menerus


terdengar membuat seseorang di depannya mendengus kesal. Dengan sengaja ia


menekan luka lebam disekitar sudut bibirnya sambil tersenyum iblis.


“ASTAGA! Wajah gue sakit semua woy,” protes Alva membuat


Daffa mendengus, sebab hanya Alva yang sedari tadi tak pernah berhenti meracau.


Sangat berbeda Nathan yang kini tengah menikmati cemilan


Kenzo sambil terduduk menatap layar besar di depannya yang selalu dan selalu


menampilkan serial kartun kucing biru yang sangat membenci hewan berjenis


tikus. Dengan humor yang sangat receh Nathan tertawa membuat semuanya menatap


ngeri melihat makhluk setengah bocah itu.


“Anjir nggak bisa diem lo, ya! Dari tadi gerutu mulu,” dengus


Daffa yang lantas melemparkan diri ke atas sofa, persetan dengan Alva.


Memang, sejak tadi Daffa sudah menahan diri untuk tidak


membuang Alva ke rawa-rawa. Tetapi keinginannya harus ditahan dulu. Karena sejak


kedatangan Hito beserta anggota Eryschthon lainnya, kini kediaman Kenzo menjadi


sangat ramai.


Sampah makanan ringan kini sudah memenuhi ruang keluarga


membuat para maid sedikit kesusahan untuk membersihkannya.


“Dia siapa, Bro?” bisik Bryan sambil menunjuk salah satu


maid yang terlihat mungil dengan seragam pas ditubuhnya.


Kenzo menoleh sepintas, “Dia maid baru, yang gue denger dia


masih sekolah. Soalnya emang setiap pagi gue nggak pernah lihat dia.”


“Wah ada apa, nih? Kayaknya seru,” sahut Alexian ikut


memposisikan diri ditengah-tengah Kenzo dan Bryan.


Sontak saja membuat ke dua manusia pergi meninggalkan


Alexian yang kini terjatuh mengenaskan diatas karpet berbulu dengan corak MU


pesepak bola kesukaan Kenzo.


“Lo ngapain sujud sukur ditengah hari bolong gini?” tanya Rifqi


mengerutkan dahinya bingung.


“Ketiban durian runtuh,” Alexian mendesis kesal yang dibalas


tatapan aneh dari Rifqi sambil menggaruk kepalanya tak gatal.


“Dari mana, Qi?” tanya Reynaldi sambil menumpu kepalanya


dibantal sofa.


“Minta jambu tempat Mba Umi,” ujar Rifqi sambil mengangkat

__ADS_1


sekantung plastik berisi jambu air membuat seluruh temannya bangkit dan


menyerbu kresek miliknya.


“Wah janda tetangga Maurin itu, ‘kan?” Hito berujar semangat


sambil menegakkan tubuhnya membuat Robby tersungkur mengenaskan, karena sejak


tadi ia menumpang ditubuh besar Hito.


“Anjir! Bangun gak bilang-bilang,” umpat Robby sambil


mendengus kesal, sebab push rank-nya


gagal.


“Gimana makin cihuy gak?” tanya Alexian dengan wajah cerah


ceria. Tentu saja siapa yang tidak suka dengan bening-bening terlebih ia adalah


wanita.


Rifqi mengabaikan semua pertanyaan temannya, namun ia


menampilkan senyum setannya sambil melirik Kenzo yang kini menatapnya ngeri.


“Gak ada!” tolak Kenzo membuat semuanya mendengus pasrah.


∞∞∞


Duduk melingkar dengan buku yang berserakan sudah biasa


untuk perempuan dengan tingkah absurdnya.


Ayrin yang notabenenya paling waras kini sudah terkontaminasi pergilaan yang


Sunny berdehem pelan agar semua sahabatnya diam. Tentu saja,


bukan hal tidak penting ia mengumpulkan sahabatnya. Ada sesuatu hal yang harus


mereka bincangkan. Masa depan dari anggota pergulatannya.


“Jadi, permasalah tadi disebabkan oleh Maurin. Gue udah coba


buat hubungin Daffa, tapi belum ada kejelasan. Dan pasti kalian mempunyai


pertanyaan yang sama dengan gue. Untuk sementara waktu gue harap salah satu


dari kalian nggak ada yang mencoba ngorek infomasi dari siswa maupun siswi SMA


Aryasatya. Sebab, ini masalah tentang pribadi dan orang lain nggak berhak tahu.


Apalagi warga sekolah, dapat dimengerti?”


Anggukan kompak dari ke tiga sahabatnya membuat Sunny


tersenyum tegas. Memang ada saatnya ia harus bersikap dewasa dan ada saatnya


pula ia bersikap seperti remaja kebanyakan.


Suasana pun sedikit mencair dengan ajakan Maurin untuk


memetik jambu milik tetangga kompleknya yang dikabarkan berbuah lebat. Sudah


pasti rasanya pun manis, seperti penulisnya. Ea


“Maurin! Bangsul, sekali lagi lo goyangin gue getok lo

__ADS_1


lama-lama,” pekik Keyra kesal sambil berpegangan erat pada dahan yang saat ini


ia peluk.


Sontak Sunny tertawa keras sekali hingga membuat Mba Umi


tersenyum geli melihat tingkah lucu Keyra.


“Cocok lo, Key. Casting jadi monyet,” canda Maurin memegangi


perutnya yang terlalu banyak tertawa.


Ayrin pun hanya menggeleng pelan melihat tingkah Keyra yang


selalu menjadi korban dari kejahilan Maurin.


Bruk


Pendaratan Keyra mulus. Pandangan tajam ia arahkan pada


Maurin yang tengah berusaha bersembunyi darinya.


“Sini lo setan! Greget gue pengen ngasih cap biru,


lumayankan buat kenang-kenangan dari gue sebelum pergi,” celetuk Keyra asal,


namun mampu membuat langkah Maurin terhenti.


“Maksud lo apa, Key?” selidik Maurin membuat Keyra gelagapan


sembari menatap ke sembarang arah.


“Lo nggak bener-bener mau ninggalin kita, ‘kan?” tanya Sunny


menatap wajah Keyra serius.


“Apaan, sih! Kalian baperan deh,” alibi Keyra sambil tertawa


kecil.


“Jaga ucapan, Key. Candaan lo nggak asik,” cetus Maurin sambil


berlalu meninggalkan Keyra.


Sunny menepuk bahu Keyra pelan. “Kalau ada apa-apa jangan


segan buat cerita sama kita,” Sunny bergumam pelan yang hanya dapat didengar


Keyra.


Sementara Ayrin bagai seorang algojo siap perang, ia terus


menatap Keyra tanpa berkedip. Padahal kalau dihitung sudah lima menit yang lalu


Ayrin tidak mengedipkan matanya. Apa tidak perih jika terus menerus dipaksakan


seperti itu.


Keyra mengelus dadanya pelan sambil berjongkok memunguti


buah jambu yang berserakan. Ia raih plastik kresek disaku sambil menitikkan air


matanya dalam diam.


“Gue gak mau ngecewain kalian, maaf. Semoga kalian bisa


hadir tanpa gue,” Keyra mengusap berkali-kali air mata yang sialnya tidak mau

__ADS_1


berhenti itu.


__ADS_2