
Sudah 1 minggu ini Kania mengambil alih perusahaan Adiputra di dalam negri, sang ayah akan sering mengontrol kinerja sang anak, setiap 2 hari sekali tuan Yuda akan menyempat kan diri nya untuk datang ke prusahaan dan melihat lihat.
...----------------...
Tok Tok Tok
Seorang pegawai masuk ke ruangan Kania.
"Bagaimana persiapan RUPS?".
"Semua hampir beres nona, saat pemegang saham datang semua nya pasti sudah selesai".
"Bagus, jangan sampai ada yang kurang".
"Baik nona" pegawai untuk menunduk dan pergi dari ruangan Kania.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
RUPS di mulai, para pemegang saham semua nya sudah hadir di sana, bahkan Kania sendiri sudah berada di sana, memimpin rapat menggantikan sang ayah.
"Baiklah, trima kasih pada para pemegang saham yang sudah hadir di sini, hari ini saya tidak hanya akan membagikan Deviden, tapi saya juga meminta persetujuan dari kalian untuk rencana yang saya buat".
Semua orang di sana diam dan menatap Kania di depan, jujur Kania sedikit gerogi saat menghadap begitu banyak orang, apalagi dalam kondisi tegang seperti ini.
"Saya berencana untuk menurunkan harga dari produk yang kami buat, tidak banyak mungkin hanya sebesar 10% sampai 15% saja" beluk selesai Kania berbicara, tapi sudah ada yang memotong kalimat nya.
"Saya tidak setuju dengan itu" salah 1 orang berdiri, "keuntungan kita akan menipis, belum dengan pembeli dan pelanggan yang berhutang, bagaimana kau akan menutup hal itu?".
"Pelanggan dan pembeli tidak akan menghutang jika harga barang tersebut terjangkau" Kania menjawab.
"Walaw harga barang terjangkau, hal itu tak bisa menutup kemungkinan jika tak akan ada pelanggan yang berhutang" salah satu nya ikut bersuara.
"Walaw memang ada, kita bisa menutupi nya dengan pembeli baru yang akan menjadi pelanggan berikut nya🙂..." salah satu pria berdiri dan angkat suara sebelum Kania yang menjawab nya.
"😦" Kania terkejut, jantung nya berdebar lebih cepat dari semula, dan dia semakin gerogi.
"Jika harga suatu produk lebih murah dari produk yang lain, bukan kah mereka akan lebih memilih produk yang lebih murah dan terjangkau di kantong mereka?, Dan hal itu hanya bisa terjadi jika nona Kania bisa menjanjikan, jika produk yang di hasil kan akan tetap berkualitas" pria itu memandang Kania yang berdiri di sana.
"Ya, aku bisa menjamin jika kualitas produk kami tidak akan berkurang" dengan susah payah Kania akhirnya bisa mengatakan nya, jantung nya tak bisa berdetak normal seperti semula, kepala Kania terasa sedikit pusing, tapi Kania menahan nya.
Semua pemegang saham menyetujui keputusan yang di ambil Kania, dan rapat akhirnya selesai, semua nya pergi dari sana.
"Hai Kania👋😊" orang yang tadi datang menyapa Kania.
Kania menarik lengan orang tersebut dan membawa nya ke dalam ruangan nya. Kania menutup pintu nya.
__ADS_1
"Wahh, ada apa ini?, Apakah kau juga merindukan ku?😊".
"Apa yang kau lakukan di sini?, Dan bagaimana bisa?".
"Aku datang memenuhi undangan rapat pemegang saham, apakah itu salah?".
"Bagimana bisa?".
"Ya tentu bisa, karna aku membeli nya, pertanyaan apa itu Kania?" Orang itu mendudukan diri nya pada sofa di ruangan Kania.
"Dari kapan?" Kania ikut duduk.
"Emm🤔🤔🤔, entah, mungkin dari 2 tahun lalu".
"Bagaimana bisa?, Usaha apa yang kau punya?".
"Kenapa kau banyak bertanya Kania?, Aku merindukan mu, apakah kau tidak merasakan yang sama?" Suara Galen berubah lebih halus.
Jujur Kania senang melihat Galen ada di sini, dia juga menahan rasa rindu nya.
"Tidak, aku sudah bilang bukan, jangan menampakan wajah mu di depan ku lagi, anggap kita tak saling mengenal" Kania membelakangi Galen.
"Kau berbohong, aku tau kau merasakan hal yang sama".
"Itu tak pernah terjadi, aku tak pernah merasa begitu, kluarlah sekarang".
"Kenapa?, Apakah karna alasan malam itu?, Jangan bercanda, pergi lah".
"Aku mencintai mu Kania, aku sudah jatuh cinta pada mu" mata Kania membola terkejut, "Aku mencintai mu dengan tulus, bukan karna alasan malam itu".
"Aku tidak peduli dengan perasaan mu, karna bukan hanya kau yang mencintai ku, tapi banyak pria di luar sana juga mencintai ku, jadi untuk apa aku memperdulikan perasaan mu?".
"Alasan mu tak memperdulikan perasaan mereka karna kau tak merasakan hal yang sama, tapi aku tau, kau juga mencintai ku, aku tau itu, jujur saja Kania".
"Aku bilang tidak, kau terlalu pede untuk mengatakan nya, pergi lah, aku tak punya banyak waktu".
"Aku tak akan keluar sebelum kau mengatakan nya dengan jujur".
Kania menatap mata Galen, dan " aku tak mencintai mu, aku tak merasakan hal yang sama seperti mu", setelah nya Kania mengalihkan pandangan nya, hati Galen terluka, rasanya sangat sesak, sakit sekali.
"Pergilah Galen, kita tak saling mengenal, dan tolong jangan tampilkan wajah mu lagi" hcap Kania membelakangi Galen.
Suara bising dari luar terdengar, dan tiba tiba tuan Yuda masuk, Yuda melihat anak nya yang sedang berduaan dengan pria lain di sana.
"Siapa dia Kania?" Yuda.
__ADS_1
"Dia bukan siapa siapa, silahkan keluar" Kania mempersilahkan Galen untuk keluar.
"Tapi saya ingin bicara secara pribadi dengan tuan Yuda" Galen berhasil membuat jantung Kania maraton.
"Galen apa yang kau lakukan, pergi lah, kumohon" Kania berbisik pada Galen yang berdiri di sebelah nya.
Galen tak menggubris perkataan Kania, "Apakah boleh tuan?".
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tuan Yuda curiga, melihat ekspresi Kania yang tak bisa di tutupi.
"Ini soal Kania, anak mu" Galen.
"Baiklah" tuan Yuda menatap Kania yang berkeringat dingin.
Jantung Kania berdegup sangat cepat, "Kania keluarlah dulu" perintah sang ayah.
"Tapi...".
"Keluar" Kania tak bisa apa apa lagi, dia keluar dari ruangan itu dengan berat hati dan perasaan cemas yang teramat menyiksa.
Pintu ruangan itu tertutup, dan langsung di jaga oleh para bodyguard sang ayah, membuat Kania benar benar kehilangan peluang untuk menguping pembicaraan mereka.
Kania duduk gelisah di depan ruangan nya, sesekali melihat layar ponsel dan mematikan nya, jantung nya terus saja memompa darah, membuat tubuh Kania memproduksi lebih banyak kringat.
Ini sudah 1 jam lama nya tapi pintu itu tak kunjung terbuka, Galen juga kenapa tidak keluar dari ruangan itu?, Kania semakin cemas.
Pintu terbuka dan Kania langsung menyerobot masuk ke dalam ruangan itu, melihat Galen dan sang ayah sedang berdiri berhadapan, menatap Kania yang baru masuk.
"Baiklah kalau begitu, saya akan lergi dari sini" Galen menunduk memberikan hormat pada tuan Yuda, tuan Yuda hanya membalas erangan.
Kania yang berdiri di ambang pintu, bertanya pada Galen saat Galen berada di dekat nya.
"Ada apa Galen?, Apa yang kalian bicarakan?".
"Kau tak perlu tau Kania, fokus lah saja pada tujuan mu, akau akan mendukung dan membantu mu selalu🙂" Galen pergi dari sana.
Kania menatap ayah nya yang memasang wajah tanpa ekspresi, sungguh dia semakin takut dan cemas, apa yang sudah terjadi?, Apa yang Galen katakan?, Kenapa?, Apa?, Ada apa?, Semua pertanyaan itu mengelilingi kepala Kania.
TBC
Like♥️
Comment 💬
Vote✨
__ADS_1
Rate⭐
Thanks 😘