
Ke 3 kluarga besar itu kembali ke istana mereka masing masing hari ini, 3 mobil mewah keluar dari area vila itu, mereka sudah puas berlibur dan lagi pun kematian Juliano pasti sudah menyebar.
membutuhkan waktu 16 jam untuk mereka kembali ke kota. Di dalam salah satu mobil, ada istri yang duduk di sebelah supir, bukan duduk di sebelah sang suami.
"Ibu mu kenapa?".
"Kok ayah malah bertanya pada Farel?, Seharusnya Farel yang bertanya pada ayah" ayah dan anak itu bertengkar di kursi belakang.
"Ya siapa tau saja Farel mengetahui alasan mamanmu bersikap seperti itu".
Perubahan sikap dan tingkah laku, membuat tuan Davies cemas pada istri nya, ini juga adalah salah 1 alasan kenapa mereka mempercepat kepulangan mereka ke kota.
Davies cemas, berkali kali Davies bertanya, dan istri nya malah bersikap dingin pada nya, bersikap seperti korban trauma di mana para korban nya akan berubah sikap, perilaku, dan beberapa nya ada yang tak mau berbicara.
Apa yang sebenarnya terjadi, Davies tidak tau, tapi dia harus mencari tau hal ini, istri nya tiba tiba menjadi diam dan sangat cuek pada mereka, ini sudah terjadi 3 hari yang lalu, apakah karna kematian Juliano?, Tuan Davies sempat berfikir seperti itu, tapi itu tidak lah mungkin, karna saat kematian Juliano istri nya menangis dan masih tetap berbicara, masih normal, jadi apa yang membuat istri tercinta nya menjadi seperti ini?.
Saat ini Davies, Lana dan juga Farel sudah pulang ke rumah mereka, Lana langsung masuk ke kamar nya, menyuekan semua pelayan yang menunduk hormat pada ke 3 orang itu.
"Ayah, aku mau istirahat dulu" Farel berpamitan pada sang ayah.
"Ya istirahat lah, ayah akan bicara pada ibu mu" Farel pergi masuk ke kamar nya, sedangkan Davies menyusul istri nya ke dalam kamar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Davies memeluk tubuh istri nya dari belakang, dan meletakan kepala nya pada pundak sang istri, "Sayang ada apa dengan mu?, Tolong beritau aku, jangan menyembunyikan apa pun dari ku, jika aku melakukan kesalahan, maaf kan lah aku, dan beritau apa yang telah ki perbuat", Lana melepaskan pelukan sang suami dari pinggang nya.
"Tidak, bukan kau yang membuat kesalahan".
"Lalu?".
"Anak mu, anak kita, hiks hiks hiks" Lana menangis di depan Davies, Davies yang melihat itu tersentak dan panik.
"Ada apa hem?, Ada apa dengan anak kita?" Davies memeluk Lana, pelukan hangat yang membuat hati Lana sedikit tenang.
"Anak kita telah me...".
"Me apa?" Davies menjadi panik.
__ADS_1
"Farel membunuh Juliano" tuan Davies langsung melepaskan pelukan nya karna terkejut.
"Tidak, anak ku tidak mungkin melakukan hal itu, kau bercanda, kau berhayal Lana".
"Tidak, aku mendengar Farel dan Kania berbicara di vila waktu itu, mereka membicarakan soal kematian Juliano, dan Farel lah yang mendorong Juliano ke jurang".
Tuan Davies terduduk lemas di atas ranjang nya, sedangkan Lana menangis dan berjongkok di lantai, dia tak mengerti kenapa anak nya bisa seperti ini?, Ada apa dengan putra kecil nya?.
Mereka berdua tak tau jika ada yang menguping pembicaraan dari balik pintu.
"(Bagaimana ini?, Ibu dan Ayah sudah tau kebenaran nya, Apakah aku akan di masukan di penjara?, Tidak, itu tak boleh terjadi, sebelum hal itu terjadi, aku harus pergi dari rumah ini, ya melarikan diri adalah jalan yang cocok untuk sekarang)" Farel kecil melangkah kan kaki nya dengan cepat menuju ke arah kamar nya, Farel mengambil koper besar nya dan memasukan semua yang ia perlukan nanti di dalam koper.
Di dalam kamar, tuan Davies memikirkan dia harus apa dengan anak nya.
"Kita harus menyembunyikan hal ini" Lana mengangkat kepala nya dan menatap sang suami.
"Apa yang kau katakan?".
"Ya kita harus melakukan nya".
"Tidak, aku tidak mau menyembunyikan kebenaran sebesar ini, tidak" Lana melangkah ke belakang, menghindari sang suami.
"Dia kakak ku Davies, dia teman mu, kakak ku tak mungkin tega meninggalkan kita, semarah apa pun kakak ku, aku yakin dia tak mungkin melakukan nya".
"Tidak Lana, tidak, jangan beritau ini pada siapa pun, cukup kita yang tau".
"Kania, Kania juga mengetahui nya, walaw aku tak memberitau mereka, Kania yang akan memberitau semua orang".
"Tidak, itu tidak akan terjadi, aku akan mengurus itu".
"Tuan maaf menggangu, tapi tuan muda Farel menghilang dari kamar nya".
"APA?!!!" Lana dan Davies terkejut dan langsung membuka pintu kamar mereka.
"Bagaimana bisa?" Davies.
"Kami juga tak tau Tuan, tiba tiba tuan muda sudah tak ada lagi di kamar nya".
__ADS_1
"Cari tuan muda kalian, karna pekerjaan kalian lah yang akan di pertaruhkan di sini, CEPAT!!!" Davies membentak anak buah nya.
"Segera laksanakan tuan" anak buah itu pergi dari sana.
"Lihat, Farel pasti mendengar pembicaraan kita tadi".
"Lalu kenapa?, Itu memang benar kan?, Sudah lah bukan kah lebih baik kita mencari nya dulu" Lana dan Davies juga ikut mencari sang anak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa kau melarikan diri Farel?, JAWAB AYAH!!!" Farel tersentak saat sang ayah membentak nya tepat di depan nya.
"I... itu ayah, a... aku, aku takut hiks".
"LALU KENAPA KAU TAK TAKUT SAAT MELAKUKAN HAL ITU?!!!" Sang ibu membentak anak nya dengan menggoyangkan tubuh Farel.
"Hiks hiks, a... aku aku" Farel terbata bata, dia sungguh ketakutan saat ini.
"Lana, lebih baik kau keluar dulu, biar aku saja yang bicara pada nya".
"Dia anak ku Davies bukan hanya anak mu".
"Kau sedang sangat marah Lana, ku mohon keluar lah, jika kau di sini maka Farel tak akan mengatakan apa pun".
"Tapi Davies...".
"Ku mohon Lana, agar semua nya cepat selesai".
"Baiklah, tapi kau katakan pada ku apa pun itu".
"Ya" Lana keluar dari kamar sang anak, Davies menutup pintu kamar, meninggalkan Lana yang menatap pintu tertutup itu.
"Jadi Farel, katakan semua nya pada ayah, tanpa terkecuali, jangan sembunyikan apapun lagi".
"A... Aku menyukai Kania, dan a... Aku tak mau Kania denkat dengan orang lain, kak Juliano terlalu dekat dengan Kania, dan aku tak suka itu ayah, aku bingung harus apa dan hanya itu yang ada di fikiran ku, maaf ayah, maaf, Farel minta maaf hiks hiks hiks" Farel menangis setelah nya.
Tuan Davies tentu terdiam dan terkejut dengan kejujuran sang anak, cinta?, Apakah dia salah dengar?.
__ADS_1
TBC