
"Bagiamana bisa seorang anak kecil yang bahkan belum tau apa arti cinta, bisa mengatakan hal seperti itu?".
"Ya ayah benar, aku masih kecil, aku tak tau arti dari cinta, tapi apakah ayah tau bagaimana perasaan ku saat Kania berada sangat dekat dengan kak Juliano?, Perasaan yang bahkan membuat aku bingung hingga berminggu minggu, aku juga bertanya pada diri ku, kanapa aku bisa merasakan hal seperti itu?, Bagaimana bisa aku berfikir untuk melenyapkan saudara ku sendiri?, Dan setiap pertanyaan ku, jawaban nya hanya 1 ayah 'Kania', Entah apa dan kenapa, tapi itu yang ku rasakan".
Tuan Davies memutar bola mata nya, dia masih tak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini, "Berarti kau tak menyesal telah membunuh kakak mu sendiri?".
"Tidak" Jawaban yang singkat itu berhasil membuat ke 2 tangan Davies mengepal cukup kuat.
"Kau tau akibat apa yang akan timbul karna masalah ini?, Apa kau sudah memikirkan akibat nya?".
"Sayang nya 'iya', Kluarga akan terpecah dan Kania juga pasti akan membenci ku, kluarga Adiputra dan Surendra mungkin tak akan lagi menjalin kerja sama bisnis dengan kita, dan akan menyebabkan kerugian bahkan mungkin kebangkrutan untuk kita".
Tuan Davies langsung mencekram pundak sang anak, "Kau sudah tau akan hal itu, lalu kenapa kau masih melakukan tindakan yang akan membuat semua itu menjadi nyata?".
"Kania, ayah jawaban untuk setiap pertanyaan yang kau lontarkan hanya 1 dan akan selalu 'Kania' ".
Davies melempar vas bunga di hadapan nya, "Kau...".
"Aku akan menerima apa pun hukuman yang akan ayah dan ibu berikan" Farel menunduk.
"Kalau begitu kemas semua pakaian dan keperluan mu, kau akan ayah kirim ke Amerika untuk belajar dan hidup di sana, tanpa ayah dan ibu mu, tanpa kami semua".
Farel sangat tersentak, bola mata mungil nya membola, "Ayah apakah ada pilihan lain selain menjauhkan ku dari kalian?" Farel ingin kelonggaran.
"Apa?, Kau ingin apa?, Apa kau mau berita tentang pewaris Dawson telah membunuh kakak nya sendiri tersebar di publik?, Kau mau itu?, Dan ya mungkin kau hanya akan di hukum 5 tahun penjara, tapi bisa di pastikan semua nya akan menjauh dari mu termasuk 'Kania mu'" Davies menahan rasa kesal dan amarah nya.
Farel kembali menunduk, "Baiklah, aku akan melakukan seperti apa yang ayah mau".
Sedikit merasa lega mendapati jawaban dari anak nya, setelah ini biar ia yang urus bagaimana agar hal ini tak terdengar di telinga ke 2 kluarga itu.
Tanpa di ketahui, nyonya Lana ibu dari Farel, menguping dari balik pintu itu, dia mendengar semua nya, sedikit samar tapi Lana masih bisa mendengar kebenaran nya.
Lana terkejut saat mendengar penuturan sang anak, langkah mundur di ambil sang nyonya.
"Bagaimana bisa seorang ibu tak mengenal anak nya sendiri?, Bagaimana bisa Farel tumbuh menjadi seperti ini?, Apa, apa yang harus aku lakukan sekarang?".
***
__ADS_1
Di dalam kamar.
"Kau hanya harus menuruti apa yang ayah katakan, semua akan baik baik saja saat keadaan menjadi terkendali".
"Berapa lama aku akan tinggal di Amerika?".
"16 tahun, selama 16 tahun itu kau akan di asingkan di sana, jauh dari semua orang adalah hukuman yang pantas untuk mu".
"Tapi ayah itu terlalu lama?, Aku melakukan ini untuk Kania, tapi kenapa ayah malah menjauhkan ku dari K...".
"KANIA KANIA KANIA!!!!😠😤, Sudah cukup dengan omong kosong ini Farel" Davies mencekram kuat pundak sang anak.
"A... Ayah kau me...".
"Apa?, Sakit?" Davies semakin mencekaram kuat pundak anak nya, "Ini bukan apa apa Farel, kau akan jauh lebih tersakiti jika kau masih berada di sini, maka ...".
Suara ketukan pintu memotong kalimat tuan Davies.
"Ada apa?" Davies berdiri dan menghadap ke pintu yang belum terbuka itu.
Tuan Davies langsung membuka pintu itu dengan keras, membuat Farel sendiri terkejut juga pegawai itu.
"Kapan?".
"Barusan saja tuan".
Davies langsung pergi dari kamar sang anak, menuruni setiap anak tangga dan menyambar salah 1 kunci mobil di sana, Davies tak ingin apa yang di takutkan nya menjadi kenyataan.
...----------------...
Siapa yang tau kalau Lana akan pergi ke rumah sang kakak, Ray Surendra. Kedatangan Lana langsung di buka kan pintu oleh para pelayan, sang kakak juga langsung turun saat mendengar dari pelayan jika sang adik mengunjunginya.
"Ada apa hem?" Ray memeluk hangat sang adik, tapi tidak dengan Lana sendiri.
"Kak, ada yang perlu aku bicarakan" wajah cemas Lana membuat kakak nya juga ikut cemas.
"Apa?".
__ADS_1
"Farel..." Lana membisu.
"Apa?".
"Kita cari tempat lain saja kak" Lana menarik lengan sang kakak untuk keluar dari rumah besar itu, membawa kakak nya pergi dengan mobil yang ia bawa tadi.
"Kita mau kemana?".
"Kemana saja" Ray semakin cemas saat melihat adik nya tak bisa diam.
Di dalam perjalanan yang sudah cukup jauh dari wilayah rumah Surendra, mereka saat ini berada di jalanan tanpa penduduk, hanya jalanan di sana.
"Kak, Farel.... Dia... Farel yang telah membunuh Juliano" Ray langsung mengerem mendadak mendengar itu.
"Apa kau tidak bisa bercanda nanti saja?, Kakak sedang menyetir" Ray bersiap untuk menjalankan kembali mobil nya.
"Lana serius kak, Farel... Dia sudah melenyapkan Juliano dengan mendorong nya ke jurang, hiks aku juga tak menyangka anak ku bisa seperti itu hiks hiks hiks, aku tak tau, hiks maaf kak, maaf kan Lana" Lana menangis sedangkan Ray masih terdiam karna terkejut.
Mana mungkin anak sekecil Farel bisa memikirkan seperti itu bukan?, Tak ada anak kecil yang berfikir untuk membunuh, itu tak mungkin.
"Tak mungkin Lana, apa yang kau katakan?" Intonasi Ray terdengar bergetar.
"Dia keponakan ku, dia sudsh ku anggap anak ku, tidak mungkin, dia tak mungkin melakukan nya, dia baik aku tau itu".
"Tidak kak, aku tak berbohong hiks hiks, aku juga kecewa hiks, aku mendengar Kania dan Farel berbicara di dapur vila waktu itu, mereka membicarakan kemariab Juliano".
"Kania?, Tidak mungkin Kania ikut andil, KAU BERBOHONG!!!" Orang tua mana yang akan percaya jika anak kecil yang sudah di sayangi nya dan di anggapnya anak sendiri bisa melakukan hal semacam itu?, Tak ada bukan.
"Kania dia memang tidak, tapi Kania mengetahui dan melihat semua nya kejadian waktu itu, Kania pasti sudah di ancam sampai Kania tak berani mengatakan nya pada kita".
Ray terdiam membisu, bagiaman bisa dia tak mengenal anak yang selama ini selalu ia rawat dan sayangi?.
"Kenapa?, Kenapa Farel melakukan itu?" Tangisan Ray pecah saat itu juga.
Lana ragu memberitau sang kakak, Lana ragu memberitau alasan di balik pembunuhan itu, apa yang harus Lana lakukan?.
TBC
__ADS_1