Queen And Nerd Boy

Queen And Nerd Boy
21


__ADS_3

"Kenapa kau menyembunyikan masalah ini?, Why?" Galen sedikit merasa kecewa saat mendengar kejujuran dari Kania.


"Maaf kak, tapi waktu itu kita masih terlalu kecil, aku tak tau mana yang perlu ku lakukan dan tidak, saat aku ingin memberitau kakak, kakak menghilang" Kania tentu merasa bersalah.


Galen mencoba untuk tidak tersulut emosi, Galen mencoba tenang menghadapi kebenaran yang selama ini di sembunyikan, sakit sih rasa nya, bahkan sangking marah dan kesal nya Galen, tanpa sadar Galen membuat pena di genggaman nya hancur.


"Aku akan menghabisi pria brengs*k itu, tunggulah Farel, ku buat kau bertemu dengan kak Juliano👿" Galen semakin meremas serpihan pena yang ia pegang hingga membuat tangan nya berdarah karna tertusuk pecahan pena.


"Kak tenang lah, aku memberitau mu tentang ini bukan untuk membunuh Farel, tapi untuk bekerja sama".


"Apa maksud mu?, Apa kau sudah menyiapkan sebuah rencana?".


"Belum, aku belum merencanakan apa pun, tapi secepatnya aku akan memberikan kabar pada kakak".


Galen menghela nafas kasar, "Sungguh aku tak percaya dia bisa melakukan hal itu, apa alasan dia bisa melakukan kegiatan sekejam itu?" Galen memijat pelipisnya, kepala nya terasa nyeri.


"Kenapa dia bisa setega itu pada orang yang juga menyayangi nya?" Galen mencoba menahan kesedihan nya agar tak terlihat oleh Kania.


Darah terus mengalir dari telapak tangan Galen, Kania mengambil kotak p3k yang ia lihat di dekat lemari, dengan perlahan Kania menarik tangan Galen dan mengobati luka nya.


"Trima kasih karna sudah kembali kak" Kania dengan telaten membalut luka di telapak tangan Galen.


"Tapi kakak membenci alasan kakak kembali" kembali untuk menghancurkan Kania, sungguh Galen tak percaya jika dia melakukan nya, apa yang bisa membuatnya seperti ini?, Kenapa dia ingin membuat orang yang ia sayang menjadi sedih?, Bukan kah seharusnya dia menjaga sang adik kecil?.


"Bukan kah sekarang kakak membatalakan rencana itu?" Galen tak bisa menjawab, dia hanya terdiam. Kania tersenyum kecut mendapati diam nya sang kakak, Kania berdiri.


"Kania pamit pergi kak" Galen ikut berdiri.


"Apa perlu kakak antar?".


"Tak perlu, Kania tadi bawa mobil sendiri".


"Baiklah kalau begitu, hati hati di jalan" Kania tersenyum dan pergi dari sana, mata Galen tak terlepas dari punggung Kania, hingga Kania menghilang.


Galen bingung, sedih, senang, bahagia, marah, kecewa, cinta, kluarga, Galen bingung harus bagaimana, keputusan apa yang mau dia ambil, dan dia harus bagaimana?, Bahagia atau harus bersedih.


Tapi sepertinya kesedihan lebih dominan, Galen meneteskan air mata nya saat otak nya kembali mengingat kematian sang kakak Juliano, bagaimana Farel bisa melakukan hal itu pada nya?, Pada sang kakak?, Dan menipu semua orang?.

__ADS_1


...----------------...


Kania mencekram kuat setir mobil yang ia kendarai, mengendarai mobil dalam kecepatan 220km/jam, membuat jalanan berisik karna suara klakson mobil mobil lain.


Saat Kania sampai di rumah, Kania langsung berjalan cepat masuk ke kamar nya, tanpa perduli dengan beberapa orang yang melihatnya di ruang tamu dan berusaha memanggil nya.


"Ada apa dengan anak itu?".


Kania menutup pintu kamar nya, dan langsung menangis melepaskan semua kesedihan nya, Kania sengaja membuat kamar nya kedap suara, dan saat ini sebesar apa pun Kania menangis, semua orang tak akan bisa mendengar nya.


Kania terduduk di lantai dan bersandar di pintu kamar nya, dia suka kakak nya kembali, tapi dia kecewa saat mengetahui niat sang kakak kembali dan rencana untuk membohongi nya.


Kania berdiri dan memecahkan semua barang yang berada di dekat nya, semua produk kecantikan di atas meja rias nya, Kania lempar hingga pecah, harum minyak wangi menyerbak ke seluruh ruangan.


Kania melemparkan vas bunga yang berisi hidrogel, mengacak acak kasur nya, dan setelah nya Kania kembali menangis sambil merungkuk. Kania lupa akan kelinci kecil yang tinggal di dalam sangkar di kamar nya, kelinci kecil itu kepojok dan menatap Kania takut.


"Kak, mereka semua tak menjaga ku dengan baik hiks, mereka semua menyakitiku hiks, kembalilah kak, dan hukum mereka untuk aku hiks hiks" Kania setia merungkuk di bawah kasur nya, Kelinci kecil yang melihat itu keluar dari sangkar nya, dan berjalan mendekat ke arah Kania.


Suara isakan Kania terdengar di dalam kamar, dan sang kelinci kecil mendorongkan kepala nya pada kaki Kania, membuat Kania melihat apa yang berada di kaki nya.


Netra baby bunny itu membesar, melihatkan keimutan nya pada Kania, Kania memeluk dan mendekap kelinci kecil itu dan menangis sejadi jadi nya.


Ceklek


Pintu kamar Kania terbuka, dan Farel berjalan masuk, "Kania makan lah i..." Farel terkejut saat melihat kamar Kania yang penuh dengan pecahan barang dan kaca, Farel yang melihat Kania meringkuk langsung berlari mendekat.


"Ada apa Kania?, Apa yang terjadi?".


"Hiks hiks hiks".


"Tolong jawab aku, jangan hanya diam" Farel itu memang kejam, tapi tak di pungkiri dia sangat menyayangi Kania, hingga membuat Kania sendiri tersakiti karna itu.


Kania tetap diam dan memeluk kelinci nya, Farel tak bisa apa pun, Farel mendekap Kania dalam pelukan nya.


Kania merasakan hangat dan tenang, dia juga merasakan mengantuk setelah marah dan menangis.


"(Siapa pun orang yang membuat mu seperti ini, ku janjikan dia tak akan bisa hidup lebih lama)" Farel mengelus kepala Kania, Kania tertidur pada pelukan nyaman Farel.

__ADS_1


Saat Farel menyadari Kania yang sudah masuk ke alam mimpi nya, Farel mengangkat tubuh Kania dan meletakan Kania secara perlahan di kasur Kania, Farel menyelimuti tubuh Kania dan mengecup puncak kepala itu, "Tidur lah, aku akan mengurus orang itu" Farel pergi meninggalkan Kania.


"Berishkan kamar nona Kalian, dan jangan membuat tidur nya terganggu" perintah Farel pada pelayan di depan.


"Ada apa nak?" Karina bertanya.


"Entahlah tante, seperti nya Kania lelah dan marah marah".


"Kau serius?" Wajah Karina cemas.


"Tak apa tante, jangan cemas, Kania baik baik saja kok, dia sedang tidur saat ini" Karina dan Yuda menghembuskan nafas lega.


"Trima kasih ya Farel" tuan Yuda menepuk pundak Farel.


"Sudah lah om, sudah menjadi kewajiban Farel untuk melakukan nya, dan sekarang Farel ingin pulang, ada yang mau Farel lakukan".


"Mau kemana?" Tanya sang ayah.


"Adalah yah".


"Ya sudah, hati hati di jalan" Yuda.


"Ya om, Farel pamit dulu, Farel permisi ya om Tante" dengan lebar nya Farel menunjukan senyum nya dan melangkah pergi dari sana.


"(Siapa pun kau yamg membuat Kania ku menangis, maka bersiap lah menuju ajal mu, malaikat kematian mu datang)", Jangan kan membunuh orang asing, membunuh kakak nya sendiri saja Farel bisa melakukan nya.


TBC


Jangan lupa kek biasa


Like


Comment


Vote


Rate

__ADS_1


Share


__ADS_2