
Langit sudah sangat gelap saat ini, bagaimana tidak, jam di dinding saja sudah menunjukan pukul 9 malam.
"Wahh kami lupa waktu, ku rasa kami harus pulang sekarang" tuan Yuda berdiri dari sofa yang ia duduki.
"Ini sudah sangat malam teman, menginaplah di sini" Davies.
"Tak ada alasan untuk om, tante, dan Kania menolak, karna di sini kami sudah mempersiapkan semua nya, khusus untuk tamu malam ini" Farel.
Tuan Yuda melirik sang istri untuk meminta persetujuan, dan sang istri menganggukan kepala nya, tuan Yuda juga melirik sang anak.
"Terserah pada kalian saja".
"Ya sudah kalau begitu, kami akan menginap di sini, maaf jika kami merepotkan" Yuda.
"Kau ini bilang apa, kami malah senang kalian menginap di sini, ayo ku lihat kan kamar kalian, Farel ajak Kania ya".
"Baik ayah, ayo" Farel mengajak Kania untuk pergi dari sana.
Mereka semua meninggalkan ruang tamu dan berjalan ke lantai 2, di mana kamar tamu berada di lantai tersebut, ada lebih dari 6 kamar tamu di sana.
"Kau ingin di lantai 2, atau di lantai 3 tepat di sebelah kamar ku?" Farel bertanya pada Kania yang berdiri di sebelah nya.
"Aku di sini saja, cukup lelah untuk turun dan naik tangga" alasan Kania.
"Baiklah kalau begitu" Farel membuka pintu kamar yang ada di hadapan mereka saat ini.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar.
"Jika kau tak suka, kita bisa pindah ke kamar yang lain".
"Tidak, tak perlu, aku bisa tidur di sini".
"Baiklah kalau begitu, aku akan meninggalkan mu di sini, istirahat lah, kau bisa memanggil ku jika perlu sesuatu".
"Baiklah" Farel pergi dan menutup pintu kamar itu.
"(Bagus, rencana awal sudah berjalan dengan sangat mulus, sekarang tinggal aku yang bertindak...)" Kania duduk di pinggir ranjang nya, "(...Maaf kak, aku kesini bukan untuk berkunjung, tapi untuk mengungkap jati diri mu)" Kania merebahkan diri nya pada ranjang yang empuk milik nya.
__ADS_1
Kania menunggu di kamar nya sambil mengutak atik gadget yang ia punya di dalam kamar, menunggu sampai rumah besar ini benar benar hening tanpa suara sedikit pun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cukup lama memang Kania menunggu rumah ini sepi, bahkan jam sekarang sudah menunjukan pukul setengah 12 malam, Kania tak bisa menyalahkan orang di dalam nya, karna rumah sebesar ini kan tak mungkin di tempati oleh 5 orang saja.
Kania keluar dari kamar nya dengan perlahan, berusaha tak menimbulkan suara sekecil apa pun, menuruni tangga dengan perlahan, gelap, semua lampu di matikan saat ini.
Rumah sebesar ini mana mungkin tak memiliki cctv, bahkan saat Kania memeriksa nya tadi, ada lebih dari 13 cctv yang tersebar di setiap inci rumah. Kania mengganti rekaman cctv menjadi rekaman yang kemarin.
***
Flashback
Saat ini sudah pukul 10 lewat, tapi rumah masih belum sepi juga, masih ada terdengar beberapa suara dari luar, karna Kania yang tak bisa terus terus menunggu, Kania keluar dari kamar nya, Kania mengenal dan ingat setiap letak ruangan di rumah ini, termasuk ruangan cctv.
Kania yang sudah sampai di depan pintu ruangan, langsung membuka pintu dan mendapati 2 orang pengawas di sana.
Muda, tuan Davies merekrut pegawai muda.
"Emm, sepertinya saya salah jalan, rumah ini terlalu besar, maaf mengganggu kalian" Kania kembali menarik handel pintu itu sehingga pintu itu akan tertutup, tapi Kania kembali membuka nya, "Siapa nama kalian?".
"Saya Erlang, dan ini Ardi" jawab gugup pegawai yang 1 nya.
"Owh".
"Apakah nona mau kami antarkan?" Erlang.
"Ah, ku rasa tak perlu, aku akan menemukan nya sendiri, fokus saja pada pekerjaan kalian..." Kania menutup pintu nya, "Jangan sampai kalian melakukan kesalahan😏" Kania pergi dari sana dengan seringaian yang terlihat di wajah nya.
Kania tak pergi begitu saja, Kania meninggalkan kamera mini di gagang pintu bagian dalam, di mana Kania bisa melihat semua yang ada di dalam.
Dengan usaha nya, Kania berhasil membuat ke 2 penjaga muda itu pergi dari sana, Kania meminta seseorang untuk membuat ke 2 penjaga itu pergi dari sana, dan ini lah yang terjadi.
Saat ke 2 penjaga itu pergi, Kania masuk dan mulai mengutak atik semua komputer dan tombol yang ada di sana, dengan menggunakan sarung tangan karet yang ia bawa, membuat sidik jari Kania tak akan terdeteksi di sana.
Setelah selesai, Kania pergi dari sana dengan memeriksa semua lebih dulu, jangan sampai dia meninggalkan jejak walaw sekecil semut pun, Kania juga tak lupa untuk mengambil kamera nya sebelum ke 2 penjaga itu sadar akan kehadiran si kamera mini itu.
__ADS_1
***
Kania terus melangkah, menyelusuri setiap inci rumah itu, dengan tetap berhati hati, berjaga jaga agar tak ada orang yang melihat nya nanti. Kania tak berhasil menemukan apa pun, dia dari tadi berfikir di mana kira kira ke ayah dan anak itu menyembunyikan nya. Ruang bawah tanah?, Ya Kania mencari jalur ruang bawah tanah itu, tapi Kania tak kunjung menemukan nya, samapai pada saat di mana tubuh Kania melewati 1 pintu yang berada di bawah tangga.
"Apakah benar ini?, Ah ku harap benar pintu ini" Kania mengambil kembali kamera kecil nya dan mencari tempat yang pas untuk menyembunyikan nya. Mata Kania berhenti mengedar saat melihat ada tanman bunga pelastik di depan nya, Kania langsung bergerak cepat dan menyembunyikan kamera nya, berharap semua orang tak mengetahui nya.
Setelah selesai Kania pergi menjauh, jangan sampai ada orang yang melihat nya.
"Kania?, Kau sedang apa di sini?" Farel tiba tiba muncul dan menepuk pundak Kania dari belakang.
"Emm, aku ingin ke dapur, haus" bohong Kania.
"Tapi arah dapur bukan di sini".
"Aku tak tau" Kania menundukkan kepala nya.
"Ya sudah kemarilah, dapur lewat sini, bukan sana, lagipun kau harus menghidupkan lampu nya jadi kau mudah untuk ke dapur" Farel menepuk tangan nya 2 kali, "Lampu hidup" semua lampu di sana langsung hidup, menerangi rumah besar itu membuat Kania sedikit merasa silau.
Farel membawa Kania kedapur tanpa rasa curiga sedikit pun.
"Kita sudah sampai, minumlah" Kania langsung mengambil gelas kaca yang berada di sana menungkan air putih dan segera meminum nya hingga tandas, dia memang haus di tambah lagi Farel yang tiba tiba muncul di hadapan nya, beruntung posisi Kania saat itu tidak di tempat itu, jika tidak, maka Farel bisa mencurigai nya saat terjadi sesuatu.
"Sudah" ucap Kania saat meletakan gelas kosong itu.
Farel mengambil beberapa lembar tisu di atas meja, membersihkan air yang membasahi wajah dan leher Kania, Kania terlalu terburu buru tadi.
Jujur Kania luluh dengan sikap dan prilaku Farel pada nya, kelembutan ini membuat Kania ingin memeluk sosok Farel di depan nya. Dia menyayangi Farel... Dulu, saat Farel dengan senang nya bermain dan bahagia bersama nya, tanpa ada rasa cemburu dan iri pada orang lain yang dekat dengan nya.
Dulu?, Apakah itu pernah terjadi?.
Kania menepis pemikiran nya, dan kembali masuk ke kamar nya, Farel mengantar kan Kania ke kamar nya takut Kania tersesat lagi karna faktor rumah yang terlalu besar.
Di dalam kamar, Kania bisa bernafas lega.
"Aku berhasil😏" siapa yang tak suka saat rencana nya berjalan dengan baik?, Begitu juga dengan Kania saat ini.
TBC
__ADS_1