
Kania menangis dan duduk di samping sang kakak, meletakan kepala sang kakak di pangkuan nya.
"Hiks hiks, kakak bertahan lah kita akan ke lumah sakit ya hiks hiks" air mata terus bercucuran di mata Kania.
"Ka... kakak tidak a... pa a... pa, Ka... nia jaga diri baik baik ya?" Juliano sangat sulit mengatakan kata perkata.
"Kakak, kepala kakak melah, apakah itu sakit?, Hiks hiks, kakak halus di sini sama Kania, hiks hiks, Kania mau kakak, hiks kakak kan udah janji".
"Ma...af, ka...kak enggak bisa ja...gain Ka...nia lagi" kondisi Juliano semakin keritis, darah terus mengalir, bahkan pakaian Kania sudah ternodai oleh darah Juliano.
"Kakak nggak boleh ngomong gitu, hiks hiks, nanti Kania pukul, hiks hiks" Kania mengancam kakak nya.
Juliano tersenyum, "Jaga... Diri... Baik... Baik ya?" Juliano mengelus wajah mulus Kania dan setelah nya mata Juliano tertutup, tangan Juliano pun tak lagi berada di pipi Kania.
"Kak?, Kakak, Kakak jangan tidul, kak hiks hiks kakak hiks" Kania mengguncang tubuh Juliano agar sang kakak terbangun.
"Kakak kita pulang dulu, baru nanti kakak bobok hiks hiks, jangan bobok di sini, hiks hiks kakak bangunðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜, Huaaa kakak bangunðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜" Kania terus mengguncang tubuh sang kakak berharap dia terbangun.
"KANIA!!!, JULIANO!!!" Sang ayah dan ibu yang ada di sana histeris melihat apa yang ada di bawah sana, mereka semua langsung turun dan mendekati ke 2 anak itu.
"Apa yang terjadi dengan nya?" Ray bertanya.
"Kak Juli bobokðŸ˜, Kania udah coba bangunin tapi hiks, kak Juli nggak bangun juga hiks, huaðŸ˜ðŸ˜, mama kenapa kak Juli nggak mau bangun?" Kania memeluk erat tubuh sang ibu.
Semua nya bersedih, kaki Risa lemas dan terduduk di tanah, anak nya, anak yang dia banggakan pergi begitu saja, Risa pingsan dan Ray menangis di depan anak nya, sedangkan di belakang sana ada Farel yang tersenyum bahagia.
Galen berjalan mendekat ke arah sang ayah, hendak bertanya tapi mata nya langsung tertuju pada kakak nya yang tertidur di tanah.
"Loh kok kakak tidur di sini?, Mama juga kok ikut tidur?, Kenapa semua nya nangis?, Terus itu apa di kepala kak Juliano?" Galen mulai cemas dan takut saat dia menanggap darah sebagai air merah itu terus mengalir dari kepala sang kakak.
"Ayah ada apa?, Tante, bunda, paman, ada apa ini?" Cemas Galen.
Farel datang dan menepuk pundak Galen, "Kak Juliano jatuh dan kepala nya terkena batu, kak Juliano sudah meninggal😞".
__ADS_1
"APA YANG KAU BILANG!!!" Galen tersulut emosi, tak mungkin itu.
"Tidak, kakak bangun lah, aku tau kau hanya main main, kau hanya bercanda dengan Kania bukan?, Buka lah mata mu, kalau tidak aku akan membuat kamar mu berantakan" Galen berusaha membangunkan sang kakak, tapi tetap tak bisa.
"Kakak, hiks hiksðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜huaa, nggak, kakak bangun, hiks hiks, kak, bangun lahðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜huaaa, ayah kakak ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜".
Semua nya menitihkan air mata nya, Kania tak henti menangis begitupun dengan Galen, Lana dan Karina juga ikut menangis sedangkan Davies dan Yuda menenangkan semua orang di sana, Ray mengangkat anak nya dan membawa nya keluar dari jurang, Davies mengangkat Galen keluar dari jurang, sedangkan Kania bersama sang ayah Yuda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kania tak berhenti menangis membuat mata nya sembap, "Kakak bangun lah hik, bukan kah kakak sudah janji pada Kania hik, kakak harus menepati nya hik".
"Sudahlah sayang, kau tak boleh begitu, kalau Kania terus seperti itu, nanti kak Juliano sedih, nanti kak Juliano nggak bisa tenang di sana, Kania mau buat kak Juliano sedih?" Pertanyaan itu langsung di jawab gelengan cepat oleh Kania.
"Nggak mau, hiks, Kania mau kak Juliano bahagia hiks".
"Itu baru anak mama🙂" Karina mengelus rambut Kania.
"Kak Galen berhenti menangis😡" Kania mengacak pinggang di depan Galen.
Galen mengangkat kepala nya dan menatap Kania, "Ada apa?, Hiks hiks".
"Kak Galen harus berenti nangis, nanti kak Juli jadi sedih, aku nggak mau kak Juli sedih".
"Kania tau dari mana?".
"Mama tadi bilang ke Kania gitu, jadi kak Galen juga nggak boleh nangis, kak Galen gak mau kan kalo kak Juli sedih?" Pertanyaan manis Kania di jawab gelengan oleh Galen.
"Nah kalo gitu kak Galen harus senyum nggak boleh sedih dan nangis lagi" Galen mengangguk.
Setelah berhasil menenangkan Galen, Kania melihat bunda Risa menangis di sana, Kania memberi isyarat pada Galen, Galen yang mengerti langsung mengangguk, Galen dan Kania berjalan mendekat ke arah bunda Risa.
"Bunda, bunda nggak boleh sedih ya, nanti cantik bunda ilang" Galen membujuk sang ibu.
__ADS_1
"Kata mama, kalau kita nangis, nanti kak Juli nggak bahagia dan sedih di sana, jadi bunda nggam boleh sedih, nanti kak Juli ikut sedih" Kania juga membujuk Risa.
Risa yang terharus dan tersentuh akan ke2 malaikat itu langsung memeluk ke2 nya sangat erat dan menangis di dalam pelukan ke 2 nya.
"Eh😕😲" ke 2 malaikat kecil itu terkejut saat tangisan Risa semakin pecah bukan semakin membaik.
"Bunda, kok bunda makin nangis sih?" Kania cemas.
"Bunda gak papa kok, bunda cuma kagum sama kalian, ternyata kalian udah dewasa, bunda boleh peluk kek gini dulu kan?".
"Kenapa nggak?" Jawab kompak ke 2 nya, Risa memeluk lebih erat menahan tangis di dalam pelukan sang anak, semua yang melihat itu tersentuh dan ikut menitihkan air mata nya.
Tapi di sisi lain.
"(Tunggulah Galen, setelah semua ini berakhir, ku pastikan kau juga akan berakhir seperti kakak mu)" monolog Farel dalam hati dengan ekspresi datar dan dingin.
Upacara pemakaman telah usai, dan semua orang beristirahat di kamar mereka masing masing, kali ini anak anak tak tidur sendiri, mereka tidur di temani sang orang tua. Tapi Kania kecil haus, sebisa mungkin Kania lepas dari pelukan sang mama agar tak menggangu tidur sang mama.
"(Mama sama papa capek, Kania nggak boleh ganggu)" Saat Kania berhasil lepas dari orang tua nya, Kania melihat bahwa wadah air di nakas sudah kosong, terpaksa Kania turun ke bawah untuk mengambil air.
Saat di bawah Kania bertemu dengan Farel di ruang tengah yang selama ini ia hindari, Farel yang mengetahui keberadaan Kania, langsung mendekat.
"Kania, kenapa kau belum tidur?".
"Kania haus" Kania langsung pergi ke dapur dengan wajah cuek nya, Farel mengikuti Kania dan menggenggam tangan nya.
"Kenapa Kania menghindar dari kakak?".
"Lepasin Kania kak" Kania memberontak guna melepaskan genggaman erat sang kakak.
Tapi Farel tetap menahan lengan Kania walaw harus sedikit lebih kuat dan menyakiti Kania itu sendiri.
Selanjutnya...
__ADS_1