
Kania sudah berada di depan pintu, tapi entah kenapa, selalu saja ada orang yang menabrak nya.
Brak
"Maaf maaf🙏, maaf kan saya" ucap pria itu sambil memungut buku nya, pria itu tak melihat siapa yang di tabrak nya.
"Haiss, kenapa semua orang suka sekali menabrak ku, apa mereka tak ada cara lain untuk mendekati ku?" Kania sudah mulai geram sekali, sungguh tubuh nya jadi sakit.
"Heh, bangun kau" ucap Kania pada pria yang masih berjongkok di bawah sana, masih setia memungut buku buku nya.
Perlahan pria itu berdiri, dan menatap Kania, kacamata besar, rambut lepek rapih, dan pakaian yang begitu rapih, membuat Kania merasa muak, di tambah lagi dengan buku buku besar dan banyak yang dia bawa.
"Culun atau cupu?, Kira kira kau lebih pantas di panggil apa?" Tanya Kania sinis.
Tak berani menjawab hanya bisa menunduk dan menatap ke bawah.
"Ck, aku tak meminta mu untuk menunduk mata 4" ayolah Kania semakin geram karna tindakan pria di depan nya, suara Kania membuat semua mahasiswa yang ada di dalam kelas keluar hanya untuk melihat apa yang terjadi.
Pelan dan hati hati, pria itu mendongak menatap Kania.
"(😦😦hah!!!)" Entah kenapa tapi netra itu, sorot mata itu, Kania merasakan sesuatu yang aneh, perasaan di mana dia sendiri sudah sangat lupa, tapi yaa Kania yakin jika perasaan ini pernah terjadi di dalam hidup nya, d'javu, Kania meresa seperti nostalgia akan tatapan itu.
"Cu... Culun" jawab nya sambil kembali menunduk.
Kania tersadar dari lamunan nya, dan memasang sringaian nya.
"Baiklah kalau itu pilihan mu, culun" Kania sengaja memberikan penekanan pada kata culun, untuk menyinggung pria di depan nya.
Dengan angkuh nya Kania melangkah memasuki kelas, mengabaikan pria itu di luar.
Kania duduk di pinggir paling belakang, duduk sendiri di sana, sedangkan si 'culun' yang tadi, dapat di lihat jelas oleh Kania jika dia duduk di kursi paling depan.
__ADS_1
"Ck😏" senyum remeh Kania.
Setelah nya pembelajaran di mulai di mana sang dosen terus saja berbicara tanpa henti membuat Kania merasa risih, terlebih lagi dia tak membawa headset.
Kania menepuk pundak mahasiswi yang duduk di depan nya, mahasiswi itu sedikit terkejut dan tersentak secara bersamaan saat tau yang menepuk pundak nya adalah Kania si dewi kampus.
"Kau punya headset?" Tanya datar Kania.
"Pu... Punya nona."
"Berikan."
Dengan gugup dan takut mahasiswi itu mengeluarkan headset nya di tas, dan memberikan nya pada Kania.
"Ambil lah" Kania memberi 5 lembar uang 100 pada mahasiswi itu dan mengambil headset di tangan mahasiswi itu, membersihkan headset itu dengan tisu yang ia bawa, bahkan Kania memberikan sedikit cairan pembersih tangan pada headset itu.
"Trima kasih nona."
"Kania, bisakah kau mengerjakan contoh soal di depan?" Sang dosen memberi perintah pada Kania, semua sorot mata mahasiswa tertuju pada Kania, Kania langsung melepas headset nya, dan berjalan maju ke arah papan tulis.
Kania melihat sekilas soal matematika di depan, setelah nya, "aku tak tertarik mengerjakan soal itu..." Kania menoleh menatap si culu yang duduk di sana, "... Bagaimana jika kau saja yang mengerjakan nya, ku rasa kau lebih tertarik" Kania mengucapkan nya dengan begitu santai, sedangkan sang objek menjelalak kan mata nya terkejut.
Pria culun itu menatap sang dosen guna meminta izin, sang dosen yang mengerti maksud nya langsung saja mengangguk kan kepala nya tanda setuju. Perlahan 'culun' itu berjalan ke arah papan tulis, mulai mengerjakan soal di depan dengan teliti, Kania memperhatikan dari belakang, melihat bagaimana si pria 'culun' itu mengerjakan tugas.
"Bagus, pintar, semua nya benar☺️" puji sang dosen, pria itu hanya menunjukan senyuman nya dan kembali berjalan ke kursi nya.
"Tak buruk untuk pria seperti mu😏" Kania menepuk pundak nya, "trima kasih nona," Kania memutuskan pergi dari kelas sebelum pria itu menyelesaikan ucapan trima kasih nya, dosen di sana tak berani bertanya ke mana Kania akan pergi, pada akhir nya kelas berlanjut tanpa kehadiran sang dewi kampus.
Loteng kampus, tempat di mana Kania berada saat ini, menyejuk kan fikiranya dari berbagai macam keramaian, melihat langit biru dan menghirup udara di sana.
Tiba tiba ada orang yang membuka pintu loteng, membuat Kania mengalihkan atensi nya.
__ADS_1
"CULUN KAU!!!😡" Yah wajar jika Kania marah, si culun ini berhasil menggagal kan waktu santai nya.
"Ma... Maaf nona, saya kesini cuma mau belajar, maaf kan saya" 1 bentakan itu berhasil membuat tubuh pria ini bergetar hebat, membuat Kania yang melihat nya berseringai, memikirkan sesuatu yang akan dia lakukan pada si culun satu ini😏.
"Owh, baiklah, tak apa, aku saja yang akan pergi" Kania melangkahkan kaki nya berniat pergi.
"Ti... Tidak nona, biar aku saja yang pergi, nona bisa tetap di sini" ucap si pria culun itu sambil menunduk.
"Berani memerintahku ternyata."
Mendengar penuturan dari sang dewi membuat pria itu tersentak kaget, yaa dia salah berbicara yang membuat dia merutuki mulut nya itu.
"😏who's your name?" Tanya Kania dari belakang pria itu, mereka saling memunggungi satu sama lain, tapi beda nya Kania menoleh ke arah pria itu, sedangkan pria itu hanya menunduk tak bergeming.
"Ga... Galen..."
"Mulai sekarang kau akan menjadi budak ku, berjalan di belakang ku akan menjadi kebiasaan mu, mengikuti ku kemana pun aku pergi akan menjadi keseharian mu, dan menuruti apa yang aku mau akan menjadi tugas mu, aku tak menerima penolakan..." Tukas Kania tak terbantahkan, Kania melanjutkan kata kata nya, "...dan semua nya akan di mulai dari detik ini".
Mata Galen terbelalak tak percaya, sungguh ini adalah hal yang sangat mengejutkan bagi nya, tubuh nya membeku tak bergerak dan bergeming sedikit pun, entah apa yang di khawatirkan oleh Galen, dia hanya lah seorang pria 'culun' tak ada yang bisa di ambil dari nya kecuali kepintaran.
Itulah yang orang lain fikirkan tentang Galen, sedangkan Galen dan Kania saat ini sedang memikirkan hal yang berbeda.
"(Kau akan menjadi mainan ku mulai sekarang😏)" Monolog Kania dalam hati nya.
Sedangkan Galen masih setia membeku di posisi nya, entah apa yang saat ini ada di fikiran nya.
Galen Ray Surendra
Pria yang di kenal culun oleh sang dewi, pintar, bertubuh tinggi layaknya pria, berkacamata tebal, rambut lepek nan rapih, pakaian yang sedikit longgar, dan buku buku besar yang di bawa nya, membuat Kania merasa risih, alasan itu lah yang membuat Kania menjadikan Galen sebagai budak nya.
Menjadikan Galen sebagai mainan nya mungkin itu akan menyenangkan, sedangkan Galen sendiri?, dia menurut, karna dia hanya ingin menyelesaikan tujuan nya berkuliah(?).
__ADS_1
TBC