
Kania dan Galen masih setia berdiri di depan pintu atap, Kania masih berfikir tempat mana yang cocok begitupun Galen, dia membantu sang nona untuk berfikir.
"Bagaimana dengan lapangan Basket?" Saran Galen.
"Jika ada yang datang dan bermain?".
Galen diam dan kembali berfikir, "Gudang?".
Sekarang Kania bingung dengan cara berfikir Galen, "Jika kau tidak punya fikiran maka jangan berfikir" 1 pringatan dari Kania berhasil membuat Galen memilih diam.
Yak, Kania memdapatkan 1 tempat, "ikuti aku" Kania langsung melangkah menuruni tangga menuju tempat yang ia fikirkan tadi, Galen terus saja mengikuti Kania kemana dia melangkah, mereka berjalan di lorong yang mana tak ada Mahasiswa di sana.
Galen kesulitan membawa buku dan juga leptop milik Kania, beberapa kali buku yang ia gendong terus saja turun ke bawah, Kania risih melihat nya.
"Kemarikan leptop ku" ucap Kania datar, dan Galen memberikan laptop itu pada pemilik nya, mereka lanjut berjalan hingga sampai pada ruangan kolam renang.
"Kolam?".
"Yaa, tempat ini jarang di gunakan" Kania langsung duduk dan meletakan leptop pada pangkuan nya, di susul dengan Galen yang mulai meletakan buku nya.
"Nona ini serius?".
"Yaa ampun, kenapa kau sangat cerewet?, Apa kau tak bisa diam?" Ada apa dengan Galen?, Kenapa dia sudah berani banyak bicara pada Kania?.
"Ma... Maaf nona" Galen menunduk dan membuka buku Kania perlahan untuk kembali melanjutkan catatan nya.
Kania membuka leptop nya melanjutkan pekerjaan nya yang masih belum selesai, Kania berfikir jika akan lebih nikmat jika ada makanan yang menemani di sini, Kania mengambil uang dari kantung nya dan berinat memberikan pada Galen untuk di belikan beberapa makanan ringan dan juga cemilan.
"Ga..." Kania teringat jika di luar masih hujan bahkan terdengar semakin deras.
"Ada apa nona?".
__ADS_1
"Belikan aku es kopi susu di kantin dan beli beberapa makanan di sana, apa saja" ucap Kania sambil menyodorkan uang nya, sebenarnya Kania ingin meminta Galen untuk ke mini market dan membeli cemilan di sana, tapi ia urungkan mengingat di luar sedang hujan.
Galen mengambil uang itu dan pergi dari sana, Kania kembali menguta atik komputer nya entah apa yang di lakukan oleh nya.
Lebih dari 15 menit Kania sudah menunggu tapi Galen tak kunjung datang, "hais, di mana sih galon?, Dia ngapain coba sampe selama ini?" Kania sudah sangat kesal saat ini karna galon yang tak kunjung datang.
Tak lama dari amukan Kania, pintu itu terbuka dan menampakan galon yang sedang membawa 1 kantong besar yang berisi makanan ringan dan 1 gelas es kopi susu persisi seperti yang Kania minta.
Kania terkejut melihat kedatangan Galen, Galen terus aaja berjalan mendekat ke arah Kania dan meletakan semua nya di dekat Kania, "ini nona sudah ku belikan persis seperti yang nona mau".
"Kenapa tubuh mu basah?, Bukan kah aku menyuruh mu untuk membeli nya di kantin?".
"Di kantin sudah tidak ada apa apa nona, dan es kopi susu yang nona minta juga tidak ada, jadi saya memilih untuk keluar pagar dan pergi ke mini market" Jawab polos Galen.
Kania menggaruk kepala nya yang tak gatal, Kania merutuki kebodohan seorang galon, "ya sudah pergi ganti pakaian mu".
"Baik nona" Galen pergi dari sana dengan wajah datar nan dingin nya.
"Dasar, setelah yang aku lakukan dia tak ada mengatakan kata trima kasih?, Apakah sesulit itu untuk mengucapkan nya?, Tubuh ku menjadi basah karna dia, hah si*l" Galen pergi menuju toilet dan mengganti pakaian nya.
Galen sudah memakai pakaian nya, dan saat ini dia sedang menghadap cermin toilet, Galen menatap diri nya di cermin, ekspresi mengerikan, hanya menampilkan kedinginan yang sangat menusuk, Galen masih terus mengumpati wanita itu di dalam fikiran nya, setelah cukup tenang Galen keluar dari kamar mandi dan kembali ke area kolam renang.
Galen membuka pintu dan melihat sesuatu yang aneh, Galen berjalan mendekat ke Kania.
"Nona ini kok?".
"Ada sekelompok cowok yang dateng dan ngasih ini semua" ucap Kania yang masih setia dengan leptop nya.
Yaa di sana ada banyak sekali makanan ringan, bahkan ada 2 cup coklat hangat, dan juga lihat lah, ada jaket di sana, jaket berwarna hitam.
"Kau bisa pakai jaket nya, itu tak akan cocok untuk ku".
__ADS_1
"Tapi nona, mereka memberikan ini untuk nona, jika saya yang pakai mereka pasti tak setuju".
"Sudah lah pakai saja, jangan sampai kau sakit dan tak bisa mencatat untuk ku, aku yang akan ikut di rugikan".
"Baiklah nona" Galen menurut dan dia memakai jaket hitam nya, pas bahkan sangat cocok di tubuh Galen.
Tapi walaw begitu mereka adalah 2 orang yang berbeda, Kania yang mengetahui bahwa Galen memakai jaket itu hanya bisa menampilkan senyum kecil, tapi Galen?, Wajah nya semakin masam dan kesal.
"(Dia sangat ingin melihat ku di pikuli hingga membuat ku memakai jaket pemberian fans nya, cih)" decik tak suka Galen dalam hati, Galen duduk dan ingin memulai kembali memcatat.
Kania melemparkan snak pada Galen, "buka", Galen hanya menurut dan membuka bungkus snak itu. "Ini nona" Galen menyodorkan bungkus snak yang sudah terbuka pada Kania, Kania mengambil nya dan melirik snak yang berada di tangan nya.
Kania menyodorkan kembali snak itu pada Galen, "ambil, aku tak suka", Galen hanya diam bengong, Kania yang tak sabar langsung meletakan bukus snak di depan Galen dan mengambil snak lain untuk ia makan.
Galen hanya menurut mengambil dan memakan nya, sedikit demi sedikit cemilan di sana berkurang dan sampah mulai berserakan.
Kania meregangkan otot tubuh nya yang kaku, "bagaimana, sudah?" Kania menanyakan soal catatan pada Galen.
"Sudah nona, semua nya sudah ku salin".
"Bagus, kemarikan" Kania meminta buku nya kembali. Galen menyodorkan buku Kania dan berdiri, ikut meregangkan otot tubuh nya.
"Bantu aku membereskan kekacauan ini" Kania mengambil plastik besar di sana, plastik yang sempat di gunakan untuk membawa snak, Kania memungut setiap bungkusan snak, bahkan Galen pun ikut membantu membersihkan sampah nya. Kania terlalu fokus pada bukusan snak sehingga dia tak sadar jika sudab berada pada ujung kolam renang, Galen yang mengadari nya langsung menangkap tangan Kania dan menarik nya perlahan.
Greb
Mereka saling memeluk dan bertatap mata, walaw pun mata itu terhalang oleh kacama tebal, tapi hal itu tak bisa menutupi indah nya mata sang pemilik, sorot mata tajam nan tegas, dan Kania mencoba mengarungi sorot mata itu lebih dalam, Kania menemukan sesuatu yang berhasil membuat nya terkejut hebat.
"(tak punya hati, kekesalan, emosi, amarah, semua itu?, dia begitu membenciku ternyata)" Kania melepaskan pelukan nya dan kembali mengambil sampah tanpa mengatakan trima kasih atau memarahi sang pelaku.
Galen mendecik melihat sikap dingin itu lagi, sungguh dia belum pernah bertemu wanita searogan dan sesombong ini dalam hidup nya.
__ADS_1
Like, Comment, Share, Vote and Rate:)