
Keesokan hari nya, Kania sedang bermain bersama Galen, dan sekarang adalah waktunya Galen mencari keberadaan sang adik kecil, dengan mata yang di tutup kain hitam, Galen terus berjalan sambil merabah rabah agar dia tak melukai diri nya sendiri.
"Heheheh😂" Kania tertawa kecil.
"Kania jangan bergerak, kau harus menjadi patung".
"Aku tidak gerak kok😂😂" Kania kecil telah berbohong, dia terus saja berpindah tempat, membuat sang kakak sulit menangkap nya.
BTW para orang tua sedang sibuk menghendel perusahaan lewat internet, walaw liburan, mereka tetap tak bisa meninggalkan pekerjaan mereka begitu saja.
Saat Kania dan Galen sedang bermain di ruang tamu, mata kecil Kania menangkap sosok Farel dan Juliano di luar.
"Kenapa kak Farel sama kak Juliano keluar?, Bukan nya kata bunda nggak boleh keluar?" bisik Kania.
Kania berdiri di ambang pintu, melihat ke belakang ke arah Galen yang sedang mencari nya.
"Kania kau di mana?".
Dan di sisi lain, ke 2 kakak nya yang berjalan keluar vila, Kania terus berfikir, dan menatap ke arah belakang juga depan, di sisi lain ada Galen yang sedang bermain bersama nya, dan di sisi lain rasa penasaran akan ke 2 kakak nya.
Kania sudah memutuskan, "Terus cari kak" Kania sedikit berteriak, dan Galen mendengar, Galen kembali mencari tapi Kania melangkah ke luar, mengikuti ke 2 kakak nya dari belakang secara diam diam.
Farel dan Juliano pergi masuk ke hutan, "hah hutan?" Kania cemas dengan ke 2 kakak nya itu, Kania terus mengikuti untuk memastikan keamanan sang kakak dari belakang.
"Di mana bola nya jatuh?" Juliano bertanya pada Farel.
"Mungkin di sekitaran sini kak, bagaimana kalau kita cari di sebelah sana?" Farel menunjuk ke arah Kiri.
"Ya sudah, ayo kita cari sama sama" Juliano dan Farel mulai melangkah ke arah yang Farel tunjukan, Kania terus mengikuti berusaha berjalan dengan tenang agar tak menimbulkan suara.
"Aku harus mendapatkan nya kak, kalau tidak ayah pasti marah" Farel menggunakan alasan bahwa bola kasti yang di tanda tangani milik ayah nya menghilang, dan masuk ke hutan.
"Iya, tak apa, ayo terus mencari sebelum waktu makan siang datang".
"Iya kak🙂 (😏😏)".
Farel mengarahkan Juliano pada area jurang, sedangkan Kania di belakang sana terus mengikuti dan mengawasi.
Sedangkan Galen di rumah, dia tak mendengar jawaban dari Kania, berkali kali Galen memanggil Kania tapi tak ada balasan dari sang empu, Galen membuka penutup mata nya dan mencari Kania dengan cemas.
__ADS_1
"KANIA!!!!, Ayolah cukup bersembunyi nya, di mana kau?" Galen mencari ke sana dan kemari, tapi tetap saja tak menemukan apa pun, "PELAYAN!!!" Galen berteriak memanggil para pelayan di vila, dan para pelayan langsung datang.
"Ada yang bisa kami bantu tuan muda?🙇♀️" Semua pelayan menunduk hormat.
"Apakah kalian melihat Kania?" Para pelayan melihat satu sama lain, dan menggeleng bersamaan.
"Di mana kalian meletakan mata?, Kenapa tak ada yang melihat Kania, segera cari Kania, CEPAT!!!" Teriakan Galen membuat semua orang tua turun dari lantai atas dengan tergesah gesah.
"Ada apa Galen?, Kenapa kau berteriak?" Yuda bertanya.
"Paman, aku tak menemukan Kania".
"APA?!!!" Semua orang tua terkejut.
"Bagaimana bisa?" Davies (ayah Farel).
"Tadi aku dan Kania bermain, mata ku di tutup dan aku mencari Kania, tapi saat aku memanggil nya, aku tak mendengar sautan dari nya, aku tak tau dia di mana, maaf ayah, bunda, aku sudah gagal menjaga Kania😞" Galen kecil menunduk, dia kesal pada diri nya sendiri, dia marah pada diri nya sendiri, dia tak bisa menjaga sang adik.
"Ya sudah, kita cari sama sama ya" Karina mengelus kepala Galen.
Semua nya mencari Kania, dan akhir nya semua orang tua sadar kalau bukan hanya Kania yang menghilang, tapi Juliani dan juga Farel.
"Aku tak melihat mereka setelah sarapan pagi" Lana.
"Aku juga" Ray (ayah Galen dan Juliano).
"Hais, kemana ke 3 anak itu?" Karina sudah cemas saat ini.
"Jangan berfikir negatif dulu, mari kita cari bersama, siapa tau mereka bermain di suatu tempat" Risa mencoba menenangkan nyonya Adiputra.
Semua orang di vila sibuk mencari keberadaan ke 3 orang anak itu, mencari ke setiap sudut ruangan dan ke tempat yang lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Juliano dan Farel sudah berada lebih dekat dengan jurang.
"Farel hati hati, lihat di sana ada jurang" Juliano menarik lengan Farel dari pinggir jurang.
"Baik kak" Farel dan Juliano melihat ke bawah jurang, "kak apakah mungkin bola nya ada di sana?", Tunjuk Farel ke arah jurang.
__ADS_1
"Kalau memang ada di sana, maka kita tak ada pilihan lain selain meminta orang dewasa untuk mengambil nya" usul Juliano.
"Tapi kan kak😞...., Baiklah Farel panggil yang lain dulu, kakak tunggu sebentar di sini ya?".
"Baiklah" Farel berjalan pergi, sedangkan Juliano kembali melihat ke arah jurang, "Apa mungkin bola nya jatuh ke sini?".
Farel membalik badan nya, dan seringaian terlihat di bibir Farel, dengan cepat Farel berlari dan...
Bruk
"ARGHH!!😫" Farel mendorong Juliano ke dalam jurang, tapi Juliano menggengam erat tanaman rambat di dekat nya.
Farel menangkap tangan kakak nya, dan menahan nya, "Tarik aku Farel😫" Juliano sudah sangat ketakutan.
"Kenapa aku harus menarikmu, jika aku memang menginginkan mu mati kak?😏".
"Apa yang kau maksud Farel?, Sadar lah, dan bantu aku naik".
"Aku tak suka orang lain dekat dengan Kania, dan kau sudah terlalu dekat dengan Kania, bukan kah aku harus menyingkirkan musuh ku?" Mereka masih saling menggenggam 1 sama lain.
"Tapi aku kakak mu Farel, aku di tugaskan menjaga kalian, aku menyayangi kalian semua bukan hanya Kania".
"Kau lupa?, Kau bukan lah kakak kandung ku😏" Juliano tersentak, hati nya terasa sakit juga tubuh nya, "aku tidak suka saat melihat mu dan Kania dekat kak, aku tak suka itu, dan aku perlu menyingkir kan mu agar tak ada yang dekat dengan Kania".
"Kau gila Farel, kau bukan lah adik ku, aku tak punya adik seperti mu".
"Aku juga tak menganggap mu kakak ku, jadi selamag tinggal Juliano😏" Farel melepaskan genggaman Juliano dari tangan nya.
"Tidak Farel, jangan lepaskan, kumohon, Farel" Juliano berusaha mati matian untuk tetap bertahan, tapi tetap tidak bisa, Farel benar benar melepaskan tangan nya dan Juliano langsung terguling guling hingga kepala nya membentur batu besar.
Farel berdiri, "Hah, 1 halangan telah musnah, tinggal 1 lagi, bersiaplah Galen😏" Farel membalikan tubuh nya.
Farel terkejut saat mendapati Kania di sana, Kania terdiam di sana, tak berekspresi apa apa, "Kania, kakak bisa jelas kan" Farel berjalan mendekat ke arah Kania.
Kania yang tersadar langsung berlari ke arah jurang, Farel mencoba menahan dan menghentikan, tapi Kania kecil sangat lincah hingga bisa mengelak dari nya, dengan cepat Kania langsung turun ke arah jurang mendekag ke arah kakak nya yang berlumuran darah.
"Ka... Kania jangan kesini" Juliano berusaha menghentikan Kania agar dia tak membahayakan diri sendiri, tapi Kania tak perduli, air mata sudah keluar dari mata indah nya.
Bersambung...
__ADS_1