
Suara teriakan pengacara tersebut membuat Leo, Jovanka, Tante Angel dan Tante Angela berjalan ke arah sumber suara di mana pengacara tersebut menodongkan senjata ke arah salah satu pelayan yang bekerja di mansion milik Leo.
"Ada apa ini?" Tanya Leo dengan nada dingin.
"Pria ini diam-diam mendengarkan apa yang tadi kita bicarakan dan sepertinya pria ini mata-mata." Jawab notaris tersebut sambil masih mengarahkan pistol ke arah pria tersebut yang menyamar menjadi seorang pelayan.
''Maaf Tuan, saya bukan mata-mata." Ucap pria tersebut berbohong.
"Jovanka, Tante Angel dan Tante Angela." Panggil Leo sambil memberikan kode ke arah Arsene tanpa memperdulikan pria tersebut.
Arsene yang mengerti langsung menangkap pria tersebut membuat pria tersebut memberontak namun karena pengacara tersebut menarik pelatuk membuat pria tersebut langsung terdiam.
"Ya." Jawab ke tiga wanita tersebut dengan serempak sambil melihat apa yang dilakukan oleh Arsene.
"Maaf, kami bertiga pergi dulu mengurus pria ini." Ucap Leo sambil berjalan ke arah pintu utama dengan diikuti oleh Arsene dan pengacara.
"Ok." Jawab ke tiganya bersamaan.
"Kalian bertiga berhati-hatilah dan jangan berpisah." Ucap Leo sambil menghentikan langkahnya ketika hampir sampai di depan pintu utama.
"Ok." Jawab ketiga wanita tersebut.
Pengacara tersebut membuka pintu utama dengan lebar kemudian Leo berjalan ke arah keluar mansion diikuti oleh Arsene dan pengacara.
"Tuan, saya tidak bersalah." Ucap pria tersebut sambil berjalan ke arah samping mansion karena dirinya di tarik oleh Arsene.
"Kalau tidak bersalah lalu kenapa kamu mendengarkan kami mengobrol?" Tanya pengacara tersebut.
Tidak semua orang tahu kecuali para pria dari keluarga besar Daddy Raka kalau pengacara tersebut juga merangkap sebagai anggota mafia.
Karena itulah ketika pengacara tersebut mengatakan sesuatu maka Leo langsung percaya kalau pria yang menyamar menjadi pelayan adalah seorang mata-mata.
"Maaf Tuan, aku tidak sengaja lewat." Jawab pria tersebut.
"Aku tidak percaya." Ucap pengacara tersebut.
"Tuan, Aku mohon percayalah padaku. Aku hanya orang miskin dan baru beberapa hari bekerja." Ucap pria tersebut.
"Sudah selesai bicaranya?" Tanya Leo dengan nada dingin sehingga suasananya terasa dingin sedangkan Leo masih berjalan.
Pria tersebut langsung terdiam hingga mereka melihat sebuah pintu. Pengacara tersebut membuka pintu tersebut yang berada di belakang mansion namun sebelumnya pengacara tersebut menempelkan telapak tangannya.
Mereka masuk ke dalam di mana di dalam ruangan tersebut sangat luas dan banyak berbagai macam alat untuk menyiksa membuat pria tersebut menelan saliva nya dengan kasar.
Glek
'Haruskah aku mengaku? Jika Aku mengaku pasti aku tidak mungkin selamat.' Ucap pria tersebut dalam hati.
'Tapi jika aku tidak mengaku pasti aku di siksa. Apa yang harus aku lakukan? Bod*h, kamu Tio kenapa bisa ketahuan oleh pria itu.' Ucap pria tersebut yang bernama Tio dalam hati.
Adegan Mengandung Kekerasan Tidak Untuk Di Tiru, Jika tidak suka Mohon di skip.
__ADS_1
"Ikat pria itu di kursi listrik!" Perintah Leo dengan nada dingin.
"Baik Tuan." Jawab Arsene.
Bruk
Klik Klik
Klik Klik
Arsene mendorong tubuh Tio hingga jatuh dalam posisi duduk kemudian Arsene menekan tombol. Otomatis ke dua tangan dan ke dua kakinya langsung terborgol.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Leo.
"Aku hanya seorang pelayan Tuan dan aku tidak tahu apa-apa." Jawab Tio.
"Arsene." Panggil Leo.
Drrtttttttt
"Akhhhhhhh... " Teriak Tio
Tanpa menjawab Arsene menekan tombol membuat Tio berteriak kesakitan karena seluruh tubuhnya terkena aliran listrik.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya ulang Leo tanpa memperdulikan keadaan Tio.
"Tu ... an ... A ... ku ti ... dak me ... ngerti." Ucap Tio dengan suara terputus - putus.
"Arsene cabut semua kukunya!" Perintah Leo tanpa punya perasaan.
"Baik Tuan." Jawab Arsene sambil berjalan ke arah meja untuk mengambil tang.
"Tuan .... Aku... Mohon jangan lakukan ... Itu." Mohon Tio.
"Kamu tahu, aku tahu kalau kamu berbohong dan aku paling benci di bohongi. Jadi siapa yang menyuruhmu?" Tanya Leo sambil menatap tajam ke arah Tio.
Arsene berjalan ke arah Tio sambil memegang tang kemudian menahan tangan kiri Tio dengan menggunakan tangan kiri karena tangan kanannya memegang tang.
"Aku tidak mengerti apa yang Tuan .... Akhhhhhhh!" teriak Tio.
Arsene menarik kuku pada ibu jarinya membuat Tio berteriak kesakitan.
"Jika kamu tidak mengatakan dengan jujur maka ke lima jari kananmu tidak mempunyai kuku." Ancam Leo tanpa punya rasa empati sedikit pun.
"Baik, aku akan katakan." Ucap Tio yang tidak kuat menahan siksaan.
"Tapi aku mohon setelah aku katakan, bebaskan aku." Ucap Tio.
"Katakan." Ucap Leo.
"Tuan Jono yang memerintahkan ku untuk mengawasi apa yang terjadi di mansion ini." Ucap Tio.
__ADS_1
"Siapa Tuan Jono?" Tanya Leo.
"Tuan Jono adalah Kakak kandung dari Ibu tirinya Jovanka yang bernama Nyonya Bela. Tuan Jono mendapatkan kabar dari anak buahnya kalau Nyonya Bela bersama suami dan keponakannya yang bernama Nona Belia di tangkap oleh keluarga Tuan." Jawab Tio.
"Kenapa mengawasi mansion ku?" Tanya Leo sambil menahan amarahnya.
"Untuk mencari tahu apa yang dilakukan Nyonya Leo dan ke dua tantenya dalam kesehariannya." Jawab Tio.
"Setelah tahu apa yang akan pria itu lakukan?" Tanya Leo yang enggan menyebutkan namanya.
"Setelah aku melaporkan, Tuan Jono akan menculik Nyonya Leo dan ke dua tantenya sebagai sandera untuk di tukar dengan Nyonya Bela bersama suami dan keponakannya." Jawab Tio.
"Selain kamu, apakah ada yang lainnya?" Tanya Leo sambil menahan amarahnya karena istri yang dicintainya akan dijadikan sandera begitu pula dengan ke dua Tante Jovanka.
"Tidak ada hanya aku." Jawab Tio.
"Aku tahu kamu berbohong, SIAPA LAGI!" Bentak Leo dengan suara menggelegar.
"Kepala pelayan." Jawab Tio.
"Kepala pelayan adalah orang kepercayaanku jadi tidak mungkin berkhianat." Ucap Leo.
"Awalnya iya tapi karena putrinya di sandera oleh salah satu Tuan Jono membuat kepala pelayan terpaksa mengikuti perintahnya." Jawab Tio.
"Arsene." Panggil Leo sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu.
"Tuan, aku sudah mengatakan dengan jujur jadi Aku mohon bebaskan aku." Mohon Tio.
Dor
"Akhhhhhhhh...." Teriak Tio.
Bruk
Tanpa menjawab ucapan Leo, Arsene menembak kening Tio membuat Tio berteriak kesakitan dan langsung meninggal di tempat.
Arsene dan pengacara tersebut pergi meninggalkan ruangan tersebut bersamaan kedatangan dua bodyguard. Dua bodyguard tersebut membawa mayat Tio untuk diberikan ke kandang singa 🦁.
"Apa yang mesti kita lakukan Tuan?" Tanya Arsene.
"Aku akan hubungi Daddy untuk mencari keberadaan putrinya paman Bona." Jawab Leo sambil berjalan ke arah pintu utama dengan diikuti Arsene dan pengacaranya.
"Apa yang kita akan lakukan terhadap kepala pelayan?" tanya pengacara tersebut.
"Aku akan bertanya secara pribadi." Jawab Leo.
Ceklek
Arsene membuka pintu utama dengan lebar kemudian Leo masuk ke dalam mansion dengan diikuti oleh Arsene dan pengacara. Namun baru beberapa langkah terdengar suara orang sedang berkelahi membuat Leo, Arsene dan pengacara yang bernama Arsenal yang merupakan kakak kandung Arsene berlari ke arah sumber suara.
Ke tiga mata pria tampan namun lebih tampan Leo matanya membulat sempurna melihat Jovanka, Tante Angel dan Tante Angela berkelahi dengan tiga orang gadis di ruangan dekat ruang makan.
__ADS_1
"Berhenti!" Teriak Leo.