Ranjang Panas Sang CEO 3

Ranjang Panas Sang CEO 3
Hari Pertama Jovanka Berkerja


__ADS_3

Jovanka menghembuskan nafasnya dengan perlahan untuk mengatur emosinya sedangkan Leo menatap ke arah lantai dan melihat selembar foto keluarga bersama serpihan kaca yang sudah hancur akibat di banting oleh Jovanka. Di foto tersebut ada Ayah kandungnya, Ibu tirinya dan adik tirinya sedangkan Jovanka tidak ada.


Grep


"Hiks ... Hiks ... Hiks ...." Isak Jovanka sambil memeluk suaminya.


"Sstttttt... Sudah jangan menangis." Ucap Leo dan membalas pelukan istrinya sambil mengusap punggungnya dengan perlahan.


"Aku tidak tahu apa jadinya Aku jika seandainya kita tidak dipertemukan." Ucap Jovanka sambil masih mengeluarkan air matanya.


"Mungkin sudah takdir kita dipertemukan dengan cara yang tidak pernah kita duga. Kakak janji akan selalu melindungimu dan membuatmu tidak menangis lagi. Kakak hanya ingin melihatmu menangis karena bahagia bukan menangis karena kesedihan." Ucap Leo.


"Hati Kakak sangat sakit jika melihatmu menangis seperti saat ini." Sambung Leo.


Jovanka sangat terharu dengan ucapan suaminya dan dalam hatinya berjanji akan memberikan yang terbaik untuk suami dan keluarga suaminya walau nyawa menjadi taruhannya.


Setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukannya kemudian Leo menghubungi sekretaris untuk memanggil office Girls.


"Sekarang duduklah di kursi kebesaranmu karena kursi itu yang pantas kamu duduki dan biarkan Kakak mengambil semua pigura untuk di buang di tong sampah karena mereka pantas tinggal di tong sampah." Ucap Leo setelah Leo selesai menghubungi sekretaris yang sudah lama bekerja di perusahaan.


"Baik." Jawab Jovanka sambil duduk di kursi kebesarannya.

__ADS_1


Leo mengambil pigura sebanyak empat pigura yang ada di meja, dua pigura di etalase dan satu pigura ukuran besar yang menempel di dinding serta satu lukisan foto keluarga.


Tidak ada satupun foto milik Jovanka padahal perusahaan tersebut milik keluarga ibunya yang dikelola suaminya dan di ambil alih oleh Ibu tirinya.


Hal itulah membuat Jovanka sangat marah dan membenci Ayah kandungnya dan juga Ibu tiri serta adik tirinya.


Tok tok tok


Tiba-tiba pintu ruangan tersebut di ketuk seseorang sebanyak tiga kali.


"Masuk." Jawab Leo sambil membuang semua pigura tersebut di tong sampah.


Ceklek


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Tanya sekretaris tersebut dengan suara menggoda.


'Dasar sekretaris centil, berani menggoda suamiku.' Ucap Jovanka dalam hati.


'Walau pria ini sudah menikah, Aku tidak perduli karena Aku tidak kalah cantik dengan istrinya dan Aku akan berusaha untuk merebutnya bagaimanapun caranya terlebih tidak orang yang berani menolak pesona ku.' Ucap sekretaris tersebut dalam hati dan penuh percaya diri sambil melirik sinis ke arah Jovanka.


"Pemilik perusahaan ini adalah istriku jadi tanyakanlah padanya." Jawab Leo tanpa menatap ke arah sekretaris tersebut.

__ADS_1


"Apa yang bisa saya bantu Nyonya?" Tanya sekretaris tersebut sambil menahan kesal.


"Aku ingin kamu membersihkan pecahan kaca itu dan bakar sampah itu tanpa sisa sedikitpun!" Perintah Jovanka.


"Maaf Nyonya itu tugas cleaning service." Ucap sekretaris tersebut.


"Aku tahu tapi Aku ingin kamu melakukannya." Ucap Jovanka.


"Tapi ..." ucapan sekretaris tersebut terpotong oleh Leo.


"Lakukan atau kamu ingin di pecat." Ucap Leo dengan nada dingin.


"Baik Tuan." Jawab sekretaris tersebut sambil menahan amarahnya.


"Maaf Tuan dan Nyonya, Saya akan mengambil sapu dan pengki." Sambung sekretaris tersebut.


Sekretaris tersebut keluar dari ruangan tersebut sambil menahan amarahnya sedangkan Leo dan Jovanka tahu kalau sekretaris tersebut menahan amarahnya.


'Akan Aku rebut suamimu bagaimanapun caranya.' Ucap sekretaris tersebut dalam hati.


'Aku tahu Kamu pasti merencanakan sesuatu yang jahat yaitu merebut suamiku tapi Aku ingin tahu apakah Suamiku lebih percaya sama Aku atau sekretaris itu.' Ucap Jovanka dalam hati.

__ADS_1


'Aku akan berhati-hati dan jika wanita itu menyakiti istriku maka Aku tidak segan-segan menghukumnya.' Ucap Leo dalam hati.


__ADS_2