Ranjang Panas Sang CEO 3

Ranjang Panas Sang CEO 3
Bela


__ADS_3

"Apa yang harus kita lakukan Tuan?" Tanya salah satu anak buahnya.


"Satu mobil masuk ke dalam agar aku bisa tahu siapa yang melempar granat." Ucap pemimpin tersebut.


"Baik Tuan." Jawab pria tersebut.


Pria itupun menyuruh satu mobil untuk masuk ke dalam mansion sedangkan pimpinan tersebut menggunakan teleskop untuk mengetahui pergerakan Daddy Raka.


"Opa, satu mobil bergerak ke arah mansion dan salah satu pria menatap ke arah mansion dengan menggunakan teleskop." Lapor Albert putra pertama dari pasangan Rani dengan dokter Adrian.


"Adakah di antara kalian penembak jitu untuk menembak pria yang menggunakan teleskop?" Tanya Daddy Raka.


"Aku bisa Buyut." Jawab Agnes putri ke tiga dari pasangan Daddy Ray dan Mommy Abigail.


"Baik, tembak pria itu tanpa di ketahui oleh pria itu." Ucap Daddy Raka.


"Baik Buyut." Jawab Agnes.


"Albert dan Adrianus setelah Agnes menembak pria itu lempar bom ke arah mobil yang mendekati mansion!" perintah Daddy Raka.


"Baik Opa." Jawab Albert dan Adrianus secara bersamaan.


Agnes yang bersembunyi di balik tembok dimana ada lubang yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Agnes mengarahkan pistolnya ke arah pria tersebut yang merupakan pimpinannya.


Dor


"Akhhhhhhhh." teriak pria tersebut yang merupakan pimpinan para penjahat.


Bruk


Duarr


Duarr


Agnes berhasil menembak kening pria tersebut membuat pria itupun langsung ambruk dan mati seketika bersamaan Albert dan Adrianus melempar granat membuat mobil itupun meledak dan para penjahat di dalam mobil mati seketika.


"Si*l, pimpinan kita mati dan satu mobil juga meledak." umpat salah satu pria tersebut dengan wajah kesal.


"Apa yang kita harus lakukan Tuan?" Tanya anak buahnya.


"Aku akan pikirkan dulu." Ucap pria tersebut yang merupakan tangan kanan pria yang tadi di tembak mati oleh Agnes.


"Tinggal empat mobil jadi kalian yang tidak mengendarai mobil keluar dari mobil!" perintah pria tersebut.


"Baik." Jawab mereka bersamaan.


Mereka pun satu persatu keluar dari mobil hingga menyisakan teman mereka yang merangkap sebagai sopir.


"Kalian berempat kendarai mobil untuk masuk ke dalam mansion!" perintah pria tersebut.


"Tapi Tuan, nanti kami berempat akan mati." Ucap anak buahnya sambil menahan amarahnya karena dijadikan sebagai tamengnya.


"Betul sekali, aku masih ingin hidup." Ucap temannya.

__ADS_1


"Aku juga." Ucap ke dua pria tersebut.


"Kita adalah anggota mafia, apakah kalian tahu seorang anggota mafia tidak akan takut mati jadi laksanakan perintahku!" perintah pria tersebut sambil menatap ke arah mereka dengan tatapan tajam.


"Tapi ..." ucapan ke empat pria tersebut terpotong oleh tangan kanan pria tersebut.


"Laksanakan perintahku atau kalian berempat akan aku tembak!" Ancam pria tersebut.


"Baik Tuan." ucap mereka berempat secara bersamaan.


Mereka berempat menyalakan mesin mobil kemudian mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Mobil mereka berpencar menuju ke arah mansion sedangkan tangan kanan pria tersebut memberikan kode untuk menyerang mansion dengan cara berpencar.


"Tembak!" Perintah Daddy Raka.


Dor


Dor


Dor


Suara tembakan saling bersahutan dan suara jeritan kematian ikut saling bersahutan hingga para penjahat menyisakan dua belas orang dan berada di dalam mansion.


"Kita turun menggunakan lift untuk membantu mereka." Ucap Albert yang berada di lantai empat.


"Ok." Jawab Adrianus, Leona, Katarina, Abigail, Adara, Adira, Abner dan Alvaro bersamaan.


"Aku akan turun dari sini." Ucap Agnes sambil keluar dari persembunyiannya.


"Maksudnya?" Tanya Adrianus, Leona, Katarina, Abigail, Adara dan Adira bersamaan kecuali ke dua kakak kembarnya karena mereka mengerti ucapan adik kembarnya.


"Apa? Agnes ini tinggi sekali." Ucap Albert.


"Betul Agnes, bagaimana bisa kamu melompat setinggi ini." Sambung Adrianus.


"Tenang saja Paman, Agnes bisa melakukannya." Ucap Abner.


Abner terpaksa mengatakan hal itu karena Leona, Katarina, Abigail, Adara dan Adira juga ingin bicara.


"Kalau begitu aku akan temani Agnes, kalian pergilah karena kita tidak punya waktu." Ucap Adara putri ke tiga dari pasangan Daddy Rico dengan Mommy Karen.


"Betul yang dikatakan Kak Adara, aku juga menemani Agnes." sambung Adira putri ke empat dari pasangan Daddy Rico dengan Mommy Karen.


Selesai mengatakan hal itu Adara dan Adira menyusul Agnes. Mereka melompat ke arah batang pohon yang kebetulan sangat tinggi ke batang satunya yang ada di bawahnya seperti tupai.


"Kita segera turun untuk membantu mereka." Ucap Albert.


"Ok." Jawab Adrianus, Leona, Katarina, Abigail, Abner dan Alvaro bersamaan.


Mereka berenam berjalan ke arah lift menuju ke lantai dasar sedangkan Adara, Adira dan Agnes masih melompat hingga beberapa menit kemudian mereka sudah berada di lantai satu.


"Agnes ke arah kanan, Adira ke arah kiri sedangkan aku ke arah depan." Ucap Adara.


"Ok." Jawab Adira dan Agnes bersamaan.

__ADS_1


Mereka bertiga berjalan memasuki mansion hingga mereka melihat Daddy Raka, Hero, Arsene dan Arsenal bersama para bodyguardnya menyerang para penjahat.


Adara, Adira dan Agnes langsung membantunya dengan gerakan yang lincah terlebih Adira dan Agnes sangat lincah karena saat ini Adira dan Agnes belum menikah sedangkan Adara sudah menikah.


Ting


Pintu lift terbuka Adrianus, Leona, Katarina, Abigail, Abner dan Alvaro keluar dari kotak persegi empat tersebut kemudian membantu menyerang para penjahat.


Bantuan mereka sangat berarti membuat para penjahat semakin terdesak dan tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah babak belur.


"Kita adakan mereka Opa?" Tanya Albert.


"Yang hidup bawa mereka ke ruang bawah tanah sedangkan yang sudah meninggal kubur di halaman belakang secara massal." Jawab Daddy Raka.


"Baik Opa." Jawab Albert.


Semua cucu dan cicit pria bersama para bodyguard yang masih hidup melakukan apa yang diperintahkan oleh Daddy Alvaro sedangkan para gadis dan wanita merapikan dan membersihkan kekacauan yang ada di mansion.


Setengah jam kemudian Rico, Leonard, dokter Adrian, Ronald, Marcel, Rey, Ray, Leo dan Kenzo datang dengan berlari tergesa-gesa. Pasalnya mereka melihat beberapa mobil rusak akibat terkena granat dan banyak orang mati dengan tubuh gosong.


Mereka sangat takut anggota keluarganya terluka karena itulah mereka berlari. Mereka bernafas lega karena melihat para gadis dan wanita sedang merapikan kekacauan dan membersihkan noda darah yang mengenai barang - barang yang ada di mansion.


"Apa yang terjadi? Semuanya baik-baik sajakan? Yang lainnya kemana?" Tanya Daddy Rico beruntun.


"Kami di serang oleh sekelompok orang yang tidak di kenal dan Kami baik-baik saja Dad." Jawab Adara.


"Para pria sebagian membawa para penjahat ke ruang bawah tanah sedangkan yang sudah meninggal kubur di halaman belakang secara massal." Jawab Adira.


Para wanita dan para gadis melihat seorang gadis cantik berjalan ke arah para pria tampan tersebut membuat Mommy Karen istri dari Daddy Rico, Adriana istri dari Leonard, Rani istri dari dokter Adrian, dokter Kasandra istri dari Ronald, Sandra istri dari Marcel, Katarina istri dari Rey, Mommy Abigail istri dari Daddy Ray, Jovanka istri dari Leo dan Adara istri dari Kenzo menatap ke arah para suaminya masing-masing yang sangat tampan untuk meminta penjelasan.


Grep Grep Grep


Grep Grep Grep


Grep Grep Grep


"Oh ini Bela, putri dari kepala pelayan." Jawab Rico, Leonard, dokter Adrian, Ronald, Marcel, Rey, Ray, Leo dan Kenzo bersamaan sambil masing-masing memeluk istrinya yang sangat dicintainya.


'Si*l, Aku pikir mereka belum ada yang menikah tapi ternyata sudah. Aku sangat cantik dan lebih cantik dari mereka jadi Aku sangat yakin pasti di antara mereka pasti akan tertarik dengan kecantikanku.' Ucap Bela dalam hati.


Grep


"Putriku sayang, akhirnya kamu bebas." Ucap kepala pelayan sambil memeluk tubuh putri semata wayangnya.


Kepala pelayan tersebut mendengar kalau putrinya selamat dari penculikan membuat kepala pelayan tersebut berlari ke arah ruang keluarga untuk menemui putrinya yang sangat disayanginya.


"Ayah lepas, aku tidak suka di peluk." Ucap Bela sambil berusaha melepaskan pelukan Ayahnya.


'Huh ... Aku sangat malu mempunyai seorang Ayah yang miskin.' Sambung Bela dalam hati.


"Ayah tahu kamu tidak suka di peluk tapi Ayah sangat senang melihatmu baik-baik saja." Ucap Ayahnya sambil melepaskan pelukannya.


"Ayah, Aku ingin tinggal di sini." Ucap Bela.

__ADS_1


'Agar aku bisa mendekati salah satu cucu pria tampan dari Tuan Besar Raka agar Aku bisa hidup dengan enak.' Sambung Bela dalam hati.


__ADS_2