Ranjang Panas Sang CEO 3

Ranjang Panas Sang CEO 3
Di pecat


__ADS_3

"Sayang, sekarang kita sama-sama mengecek dokumen agar cepat selesai." Ucap Leo setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Ok." Jawab Jovanka singkat.


Sepasang suami istri pun mulai mengecek satu persatu dokumen tersebut hingga mereka mendengar suara ketukan pintu.


"Masuk." Jawab Jovanka.


Ceklek


Sekretaris tersebut membuka pintu ruangan tersebut sambil membawa pengki dan sapu kemudian membersihkan pecahan kaca dan pigura tersebut.


Sekretaris tersebut melihat Jovanka duduk di kursi kebesarannya sedangkan suaminya duduk di kursi lain dan saling berhadapan yang hanya dibatasi oleh meja.


"Maaf Nyonya kenapa Tuan tidak duduk di kursi kebesaran?" Tanya Sekretaris tersebut yang ingin Leo membenci Jovanka.


"Sayang, apakah Sayangku ingin duduk di sini?" Tanya Jovanka tanpa menjawab pertanyaan Sekretarisnya.


"Tidak Sayang, Aku lebih suka duduk di sini." Jawab Suaminya sambil menatap wajah cantik istrinya sambil tersenyum kemudian melanjutkan mengecek dokumen.


"Kamu sudah dengar sendirikan? Jika sekali lagi kamu tidak bisa menjaga mulutmu lebih baik kamu keluar dari perusahaan ini." Ucap Jovanka sambil menatap tajam ke arah sekretarisnya.


"Sayang, lebih baik dia di pecat saja." Sambung Leo.


"Maaf Tuan dan Nyonya, saya janji tidak lagi banyak bicara. Tolong kasih kesempatan buatku." Mohon Sekretaris tersebut.


"Baik, Aku akan memberikan kesempatan terakhir dan jika tidak bisa menjaga mulutmu maka Aku tidak segan-segan menendangmu dari perusahaan ini." Ucap Jovanka.


"Baik Nyonya." Jawab sekretaris tersebut.

__ADS_1


"Sekarang pergilah!" Usir Jovanka.


"Baik Nyonya." Jawab sekretaris tersebut sambil menahan amarahnya.


Sekretaris itupun pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk membuang sampah.


'Awas saja akan Aku balas penghinaan ini.' Ucap sekretaris tersebut dalam hati.


Jovanka kembali melanjutkan pekerjaannya sedangkan Leo mencoret dan mengganti kata yang tepat pada dokumen tersebut. Hingga setengah jam kemudian mereka sudah selesai mengecek dokumen. Dokumen tersebut di pisah menjadi dua bagian, di mana bagian pertama adalah dokumen yang sudah benar dan sudah ditandatangani oleh Jovanka dan bagian ke dua dokumen yang perlu diperbaiki.


Jovanka menghubungi sekretarisnya untuk datang setelah beberapa saat pintu kembali di ketuk. Setelah ada jawaban dari Jovanka barulah pintu tersebut terbuka bersamaan Leo berjalan ke arah Jovanka dan berdiri di samping Jovanka.


"Ada yang bisa Saya bantu Nyonya?" Tanya Sekretaris tersebut.


'Kenapa Tuan Leo pakai pindah?' Tanya Sekretaris tersebut.


"Dokumennya sudah kami cek, yang sebelah kanan sudah benar dan yang sebelah kiri perlu diperbaiki." Jawab Jovanka.


'Padahal kalau duduk di sini Akukan bisa sengaja pura-pura menyenggol bahunya dengan menggunakan salah satu gunung kembarku.' Sambung sekretaris tersebut dalam hati.


'Cihh... Memang Aku tidak tahu rencana licikmu.' Ucap Leo dalam hati.


'Untung suamiku pindah kalau tidak Aku akan pindah kamar.' Ucap Jovanka dalam hati.


Sekretaris itupun pergi meninggalkan ruangan tersebut sambil menahan kesal karena lagi-lagi rencananya gagal.


"Sayang, kenapa sih tidak di pecat saja itu Sekretaris?" Tanya Leo.


"Nanti saja kalau Aku sudah menemukan penggantinya." Jawab Jovanka.

__ADS_1


"Bagaimana kalau pakai sekretarisku?" Tanya Leo memberikan usulan.


"Nanti Kak Leo tidak ada sekretarisnya." Ucap Jovanka.


"Kakak ada dua sekretaris jadi tenang saja dan jangan kuatir." Ucap Leo.


"Baiklah, jika nanti sekretaris itu berbuat masalah maka Aku tidak segan-segan memecatnya." Ucap Jovanka.


"Ok, kalau begitu bagaimana kalau kira sekarang ke kantor Kakak karena pekerjaan Kakak menumpuk?" Tanya Leo.


"Ok." Jawab Jovanka singkat.


Leo dan Jovanka keluar dari ruangan tersebut dan berjalan melewati sekretarisnya yang sibuk merevisi dokumennya.


"Aku dan suamiku ingin pergi ke perusahaan suamiku jadi kalau ada apa-apa hubungi saja Aku." Ucap Jovanka.


"Maaf Nyonya jam satu ada meeting dengan klien PT West Com Co-op di restoran Seroja." Ucap sekretaris tersebut.


"Apakah dokumennya sudah siap?" Tanya Jovanka.


"Belum Nyonya." Jawab sekretaris tersebut.


"Kenapa tidak disiapkan? Sudah tahu hari ini meeting." Ucap Jovanka dengan nada kesal.


"Maaf Nyonya, kerjaannya saya sangat banyak jadi belum sempat mengerjakannya." Ucap sekretaris tersebut.


"Aku tahu tapi seharusnya kami bisa memilih mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu dan mana yang tidak." Ucap Jovanka yang masih menahan kesal.


"Maaf Nyonya, semuanya penting jadi Saya kerjakan semuanya." Jawab sekretaris tersebut.

__ADS_1


"Lebih baik kamu keluar saja." Ucap Leo dengan nada kesal.


"Maksud Tuan, saya di pecat?" Tanya Sekretaris tersebut dengan wajah terkejut.


__ADS_2