
"Tentu saja Kami tahu dan kejahatan mu sudah tidak bisa dimaafkan lagi." Ucap Hero sambil mengeluarkan pistolnya dari saku jasnya.
"Kak Hero, Kakak tidak mungkin tega menembakku kan?" Tanya Bela.
"Kenapa tidak tega? Kamu saja ingin memukul Kakak dengan menggunakan bisbol tapi Kami tahu akan apa yang Kamu lakukan." Jawab Hero sambil tersenyum devil.
Hero mengarahkan pistolnya ke arah kening Bela bersamaan teriakan Angel.
"Kak Hero jangan." Pinta Angel yang melihat Arsene memegangi ke dua tangan Bela sedangkan Hero bersiap menembak Bela.
"Bela terlalu jahat dan Dia tidak pantas untuk hidup." Ucap Hero sambil menarik pelatuknya.
"Aku tidak ingin tangan Kak Hero kotor oleh perempuan jahat seperti Bela." Ucap Angel sambil masih berjalan ke arah Hero.
Duag
"Akhhhhhhhh...Si*l!" Teriak Arsene.
Bela yang tidak ingin mati di tembak oleh Hero membuat Bela berpikir hingga akhirnya Bela mempunyai ide yaitu menginjak salah satu kaki Arsene membuat Arsene berteriak sambil memegangi kakinya yang lumayan sakit.
Grep
Pegangan Arsene pun terlepas dan hal itu tidak disia-siakan oleh Bela untuk menarik tubuh Angel kemudian mencekiknya.
"Minggir, jika tidak maka Aku tidak segan-segan membunuh wanita murahan ini." Ucap Bela.
"Justru kamulah yang murahan, lepaskan kekasihku!" Bentak Hero.
__ADS_1
Deg
Deg
Jantung Angel dan Bela sama - sama berdetak kencang ketika mendengar ucapan Hero namun Angel berusaha bersikap biasa saja karena saat ini dirinya dijadikan sandera oleh Bela dan Angel tidak ingin ada lagi korban kejahatan Bela.
"Kak Hero, benarkah wanita murahan ini kekasihnya Kak Hero?" Tanya Bela tidak percaya dengan mata berkaca-kaca.
"Sekali lagi Aku tekankan Angel bukan wanita murahan tapi kamulah yang murahan. Mengenai Angel memang benar Angel adalah kekasihku jadi jangan pernah sekali-kali menghina kekasihku." Jawab Hero dengan nada tegas.
Grep
Bruk
"Akhhhhhhhh...Si*l!" Teriak Bela.
Angel yang melihat Bela mulai lengah dan ingin membalas perkataan Hero membuat Angel menahan tangan Bela kemudian membanting tubuh Bela hingga jatuh ke lantai. Hal itu membuat Bela berteriak kesakitan karena tubuhnya terasa sakit.
Dor
Dor
"Akhhhhhhhh...!" Teriak Bela.
Hero yang sangat kesal dengan Bela menembak dada dan kening Bela membuat Bela berteriak kesakitan dan tidak berapa lama Bela menghemat nafas terakhirnya.
Kematian Bela membuat Angel dan Angela sangat terkejut karena untuk pertama kalinya mereka melihat Hero menembak seseorang dan orang itu adalah Bela tepat di depan mereka.
__ADS_1
"Angel." Panggil Hero.
"Angela." Panggil Arsene bersamaan.
Hening
Hening
Grep
Grep
Hero memeluk tubuh Angel yang gemetar begitupula Arsene yang memeluk tubuh Angela yang juga gemetar.
"Kenapa di tembak mati? Dia kan juga ingin hidup." Ucap Angel tanpa membalas pelukan Hero.
"Maaf, kejahatan Bela sudah terlalu banyak. Kakak sudah beberapa kali menasehatinya sampai pernah di penjara tapi Bela melakukan lagi karena itulah Kakak terpaksa menembaknya." Jawab Hero sambil melepaskan pelukannya.
"Mereka bertiga sudah sepantasnya mati karena mereka selalu melakukan kesalahan yang sama dan tidak pernah menyadari perbuatannya." sambung Arsene sambil ikut melepaskan pelukannya.
"Sekarang ke tiga mayat Bela, Rina dan Lisa kita apakan?" Tanya Angela sambil menatap ke arah Hero.
"Kamu bawa kantong plastik hitam yang Kakak minta?" Tanya Arsene tanpa menjawab pertanyaan Angela.
"Bawa." Jawab Angela sambil memperlihatkan kantong plastik ukuran besar.
"Bagus, Aku dan Arsene akan memasukkan mereka di kantong plastik hitam itu." ucap Hero.
__ADS_1
"Tapi ..." Ucap Angel dan Angela menggantungkan kalimatnya.
"Tapi apa?" Tanya Hero dan Arsene penasaran.