
Sesampainya di kantor, Pelangi melangkah masuk ke bangunan megah perusahaan ayahnya. “Lama banget gue nggak ke sini, padahal perusahaan punya ayah sendiri,” celetuk Pelangi.
“Nggak usah nyindir,” seloroh Saka sambil memakaikan topi ke kepala Pelangi. Saka menarik tangan Pelangi dan menggenggamnya. “Jangan balas sapaan orang di dalam, jalan lurus nggak usah curi-curi pandang!”
“Iya, bawel!”
Mereka mulai memasuki perusahaan ayah, semua orang mengenal Saka, ada banyak yang menyapa cowok itu. Namun Pelangi tidak, sebab ia berjalan dengan wajah menunduk hingga sampai di lift barulah ia mengangkat wajah.
“Gue udah kayak tahanan lo, Bang,” decak Pelangi kesal.
“Nggak usah ngomel, salah lo sendiri mau datang ke perusahaan Ayah.”
“Tapi nggak perlu kayak gini juga kali!”
Lift terbuka dan Saka langsung menundukkan kepala Pelangi hingga gadis itu mengaduh sakit. Terdengar bunyi krek di leher Pelangi, sampai-sampai membuat Saka terkejut.
“Ya Allah, Bang, sakit banget kepala gue,” ringis Pelangi sejadi-jadinya.
Saka langsung merangkul Pelangi, menaruh wajah adiknya di dadanya sambil mengusap tengkuk Pelangi. “Nggak sengaja,” ucapnya. Saka membuka pintu ruangan ayahnya dan malangkah masuk segera.
“Sial! Gue benar-benar kayak tahanan!” umpat Pelangi geram. “Awwshh!!” teriak Pelangi spontan saat Saka menjentik bibirnya cukup keras. “Abang!!! Sakit bibir Bow!” omelnya marah. Dua kali Saka menyakitinya.
“Mulut lo,” tegur Saka jengah. Melihat Pelangi hendak menangis, membuat Saka langsung mengusap bibir perempuan manja itu segera. “Maaf, maaf,” ucapnya merasa bersalah sekaligus panik.
“Sakit banget ini.”
“Iya maaf makanya. Nggak sengaja.” Saka terus mengusap bibir Pelangi, kemudian menarik adiknya itu dalam pelukannya sembari mengusap surainya. “Makanya jangan maki, denger dari mana coba,” omel Saka.
“Dari Bang Saka lah kalau main game!” sarkas Pelangi jengah. Bisa-bisanya Saka memarahinya karena memaki sedangkan cowok itu yang terus mengumpat di depan Pelangi jika sudah bermain game online.
Saka kalah. “Iya, iya maaf. Jangan nangis lo!”
Ayah yang duduk di kursinya sedari tadi hanya mampu memandang sambil tersenyum kedua anaknya. Mereka terlihat sangat menggemaskan, selalu saja ada yang membuat putrinya hendak menangis.
“Ayah, bibir Bow di sentil sama Bang Saka. Sakit tau,” adu Pelangi sambil berlari ke arah ayah.
“Ck, Bow! Gue udah minta maaf, nggak usah ngadu, deh!” geram Saka.
“Ayah melihatnya,” jawab ayah sambil mengusap surai anak perempuannya. “Ngapain ke sini? Ingin sesuatu?” tanya ayah lembut. Beliau bangkit, menuntun Pelangi untuk duduk di sofa.
__ADS_1
“Bow mau minta duit, Yah. Skincere Bow udah banyak yang habis,” jawab Pelangi.
“Tumben minta ke Ayah, biasanya ke Bang Raka.”
Pelangi mengibas-ngibaskan tangannya. “Bosan minta ke Bang Raka mulu.”
Ayah tersenyum dan menggelengkan kepala melihat putrinya yang manja ini. Beliau mengeluarkan dompet, mengambil satu kartu di sana. “Gunakan sampai kebutuhan kamu cukup,” kata ayah royal.
“Yess! Makasih Ayah!” Pelangi mengecup kedua pipi ayah, lalu memeluk pria yang paling ia cintai ini.
“Saka juga mau, ada banyak barang di dalam kamar Saka yang kadaluwarsa. Kayak televisi yang udah buluk, komputer Saka juga kurang, bahkan kasur Saka sudah jebol,” cerocos Saka panjang.
“Kamu ini, Ka, banyak sekali alasan untuk meminta uang,” omel ayah.
Pelangi tertawa mengejek, celotehan Saka tidak berguna. “Hm, Ayah, kita jalan-jalan ke luar, yuk? Bow udah lama nggak ke kantor ayah, pasti banyak yang berubah, kan?” ajak Pelangi.
“Tidak ada yang berubah,” jawab ayah dengan pandangan penuh arti.
“Masa nggak ada? Kantinya juga pasti banyak yang—“
“Bow!” sentak Saka dengan wajah marah, sorotnya tidak sehangat biasa kali ini. Pelangi terkejut, namun Saka tidak mengurangi tatapan tajamnya. “Lo lupa kalau lo dulu pernah mau di lecehin sama rekan bisnis Ayah? Lo lupa karena lo keliling-keliling nggak jelas lo nyaris di perkosa! Lo nggak mikir?!!” bentak Saka sejadi-jadinya. Matanya memerah sangat, nafasnya mulai tidak teratur.
“Saka! Apa-apaan ini?!” bentak ayah dengan sorot mata tajam.
Saka mengedipkan matanya—tersadar bahwa perkataannya keterlaluan. “Bow gue—“ perkataannya terhenti saat melihat Pelangi menangis. “Bow, abang nggak maksud gitu. Maaf, maaf,” ucapnya dengan perasaan cemas.
Ayah menarik Pelangi untuk di dekapnya, membisikkan kata-kata bahwa semuanya tidak akan pernah terjadi lagi. Ayah katakan pada Pelangi bahwa semuanya akan baik-baik saja dan jangan menangis.
Saka berpindah posisi, menarik rambutnya dengan kasar dan memukul mulutnya kencang-kencang. Saka menyentuh pundak Pelangi yang bergetar.
“Maafin abang, Bow. Sumpah, gue nggak maksud gitu. Jangan nangis, lo bikin gue takut, Bow.”
Itu menakutkan bagi Pelangi. Susah payah ia melupakan semua kejadian itu, dan kini Saka mengingatkannya dan semua hal yang pernah terjadi hari itu benar-benar hadir kembali. Padahal, tidak satu pun yang Pelangi ingat tentang kejadian waktu itu.
“Jangan nangis, Bow, maafin abang,” ucap Saka terus menerus. Ia berlutut di bawah Pelangi, menggenggam kedua tangannya erat. “Maafin abang.” Saka panik sungguh, rasanya benar-benar mengejutkan bahkan untuk dirinya sendiri.
Pelangi menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan, tangisnya masih setia bertahan dan tubuh masih bergetar. “Abang jangan duduk di sana, Bow nggak suka.”
Saka langsung berdiri dan duduk di samping Pelangi lagi. Ia tarik adiknya untuk ia dekap seerat mungkin, mengusap surainya sangat lembut.
__ADS_1
“Maafin abang, ya? Bow boleh marah sama abang, boleh tampar atau tonjok abang. Tapi jangan gini, jangan nangis kayak gini.”
Pelangi langsung memukul punggung Saka keras—hanya sekali. “Abang bikin Bow takut,” lirihnya.
“Iya abang salah. Maaf, jangan nangis gue mohon.”
Pelangi menarik diri, menatap wajah Saka yang memerah. “Tapi abang nangis,” kata Pelangi sambil mengangkup wajah kakaknya. “Bow kaget, rasanya kayak terjadi lagi,” gumamnya.
Saka menyentuh tangan Pelangi di pipinya, kian meneteskan air mata sebab ketakutan adiknya. “Maaf, abang nggak akan pernah bicara kayak gitu lagi. Jangan nangis tapi, deg degan gue, Bow.” Saka bahkan berpikir bahwa jantungnya tidak lagi berdetak.
“Iya, Bow maafin.”
Ayah menghela nafas panjang, kaget bukan main dengan perkataan Saka tadi. “Jangan pernah buat adikmu menangis lagi, Saka. Berhenti bicara nggak jelas,” tegur ayah dingin.
Saka menundukkan kepalanya. “Iya, Ayah, Saka salah. Maaf.”
“Sudah, sekarang kalian pulang. Jangan pergi ke mana-mana dan hubungi Ayah jika sudah sampai,” tegas ayah tak terbantah. “Pelangi pulang ya, sayang? Beli skincere-nya besok aja,” ucap ayah halus.
Pelangi menerima kecupan ayah di keningnya, namun ia enggan untuk beranjak. Sebab bukan uang yang menjadi alasannya datang kemari, melainkan izin ayahnya untuk Pelangi ikut tour besok.
“Ayah, Bow mau minta izin,” cicit Pelangi deg-degan.
“Izin apa?”
“Boleh Bow ikut tour besok?” tanya Pelangi sambil menggigit bibir bawahnya. Bahkan saat ayah hanya diam, membuat Pelangi yakin tahun ini ia akan kembali gagal.
Pun begitu dengan Saka, cowok itu tidak menanggapi dan memilih untuk diam.
“Pergilah, izin juga ke Bunda.”
Pelangi langsung mengangkat wajahnya, terkejut bukan main dengan sahutan ayahnya. “Serius? Ayah nggak bercanda kan?” tanya Pelangi dengan raut kaget sekaligus bahagia.
Ayah tersenyum melihat keantusiasan putrinya. “Ayah izinkan, karena ayah tahu kamu sangat menginginkannya.”
Pelangi terharu, ia langsung memeluk ayah dan mengatakan banyak terima kasih. Ini kabar bahagia setelah di buat menangis hebat oleh Saka. Ternyata semua hal itu harus di landasi dengan keberanian.
Hanya satu yang perlu Pelangi lumpuhkan, yaitu Raka.
🍁🍁🍁
__ADS_1