Rapunzel & Obsesi Dua Pria

Rapunzel & Obsesi Dua Pria
30| Berkat Aidan


__ADS_3

“Pelangi! Lo baik-baik aja, kan?” pekik Chika dengan wajah panik saat melihat Pelangi turun dari atas motor Aidan. Bersama dengan Dira, mereka berlari mendekati Pelangi.


“Lo baik-baik aja, kan? Bara nggak apa-apain lo, kan?” serbu Dira sambil mengecek tubuh Pelangi dengan memutar-mutarnya.


“Gue nggak papa,” jawab Pelangi sambil tersenyum menenangkan.


“Mata lo bengkak, Ngi! Ya ampun, kaki gue lemas banget rasanya,” kata Chika benar-benar lemas.


Pelangi menggaruk kepalanya, sepertinya ia sudah membuat dua temannya cemas. “Aidan yang bantu gue pulang, kalau nggak ada dia mungkin gue bakal hilang,” aku Pelangi.


Chika dan Dira bernafas lega. “Thanks banget, Dan. Kalau sampai Pelangi nggak balik, gue benar-benar bakal nelpon abang dia,” ujar Chika di timpali anggukan oleh Dira.


“Tapi kalian nggak telepon abang gue, kan?”


“Belum, padahal hampir,” jawab Dira.


Pelangi tersenyum lega, ia kemudian memutar badan menatap Aidan secara penuh. “Makasih udah nolong gue, makasih buat bentakannya dan makasih juga buat pesannya,” ucap Pelangi tulus.


“Sama-sama,” balas Aidan sambil mengusap pucuk kepala Pelangi. “Masuk sana, dari tadi lo kena udara malam,” suruhnya.


Pelangi menahan senyumannya, cowok ini begitu perhatian. “Eh, jaket lo.”


“Pakai aja, kapan-kapan bisa lo balikan,” ucap Aidan sambil tersenyum tipis. “Gue cabut,” pamitnya kemudian memakai helmnya kembali, selepas itu motor Aidan melesat pergi.


Pelangi memandang kepergian Aidan hingga tertelan oleh jarak. Pertanyaan yang sempat hendak ia tanyakan hanya mampu tertahan. Pelangi juga tidak punya keberanian menanyakan hal tersebut, sebab itu bukan urusannya.


“Ayo masuk, kita dari tadi nungguin lo di teras tau nggak sih. Ini kepala gue rasanya mau pecah mikirin lo ke mana, udah kaki gue di gigitin nyamuk lagi!” omel Chika dengan wajah cemberut dan masam.


“Sialan emang si Bara! Ingat, Ngi, kalau sampai Bara gangguin lo lagi, jangan pikir panjang buat aduin ke kantor polisi! Lo harus bertindak!” sungut Dira berapi-api.


“Bener banget! Kalau bisa dia harus di penjara! Meresahkan banget,” timpal Chika.


Pelangi tertawa melihat kedua temannya misuh-misuh mendumel. Mereka menaiki anak tangga menuju kamar Chika.


“Bara bawa lo ke mana aja tadi, Ngi?” tanya Dira setelah mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.


“Dia bawa gue ke rumah dia, cuman buat ambil mobil doang. Dia bilang kasian gue kalau duduk di motor gituan, terus di ajak makan di pinggiran,” jawab Pelangi menjelaskan.


Chika dan Dira sontak tercengang, mulut mereka terbuka dan mata membulat tak percaya. “Serius dia bawa lo ke rumahnya buat ganti mobil doang?” ulang Dira memastikan sekaligus takjub.


“Iya, gue juga nggak mikir kalau dia bakal kayak gitu. Sehabis makan, gue di ajak keliling-keliling doang sampai larut. Dia nggak bicara banyak, nggak juga macam-macam sama gue,” lanjut Pelangi menceritakan. Masih ia ingat betul bagaimana Bara memperlakukannya, cowok itu tidak mudah di tebak.


“Terus, kok bisa lo ketemu sama Aidan dan mata lo bengkak?”


“Waktu di jalan, gue minta sama Bara buat anterin gue pulang. Dia bilang iya, tapi nggak lama dia malah setop di parkiran gitu. Awalnya gue kira dia mau ngapain gitu kan, tapi yang ada dia ambil ponsel gue dan langsung pergi gitu aja.” Pelangi menerawang, mencoba mengingat lebih jelas kejadian tersebut.


“Gue nungguin dia balik, tapi nggak muncul-muncul. Di situ gue di godain beberapa cowok, kelihatan mabuk juga, makanya gue nangis. Gue kira Bara datang, tapi ternyata itu Aidan,” sambung Pelangi dengan senyum tipis tercetak di bibirnya.


“Terus Bara datang?” Chika terlihat sangat penasaran dengan cerita Pelangi.


“Iya.” Pelangi menganggukkan kepalanya, ia mulai menceritakan bagian di mana Bara mengatakan tidak akan pernah mengganggunya lagi. “Aidan benar-benar marah, dia beberapa kali bentak gue sampai gue kaget dan takut. Tapi gue liat ada tatapan cemas di matanya, Aidan benar-benar kaget waktu liat gue keluar malam.”


“Dan gue nggak kaget kalau Aidan marah besar. Dia suka sama lo, Ngi, mungkin bukan sekadar suka doang,” timpal Dira.


Yah, Pelangi pun berpikir seperti itu. Namun ia hanya menyembunyikan dalam hati, tentang perasaan Aidan padanya adalah privasi cowok itu. Pelangi tidak perlu pengakuan langsung, sebab perilaku Aidan sudah menunjukkan semuanya.


“Gue penasaran, Bara bawa lo ke mana sih? Tadi lo bilang cowok mabuk, ya?” tanya Chika.


Pelangi mengangguk, ia juga heran tempat apa itu. “Kayak dugem deh, soalnya dari luar tempat gue sedikit kedengaran suara musik. Cewek-cewek yang datang juga pakaiannya terbuka semua.”

__ADS_1


Dira menjentikkan jarinya beberapa kali. “Nggak salah lagi, lo di bawa ke club malam. Gila tuh cowok, berani banget.”


“Club?” Pelangi tercengang, tidak percaya bahwa dirinya berada di luar tempat laknat itu. Pelangi hanya pernah mendengar tempat dengan nama club malam dari Saka, abangnya itu pernah berkata bahwa di sana menyeramkan.


“Tapi lo nggak di bawa masuk kan sama, Bara?”


Pelangi menggeleng. “Tuh cowok nggak mudah di tebak, tapi gue rasa dia cowok baik. Modelannya doang brengsek, tapi dia jaga gue banget, sih,” tutur Pelangi.


“Jaga apaan?! Dia ninggalin lo di tempat itu!” omel Dira.


“Iya, dia memang ninggalin gue. Tapi kalian sadar nggak sih kalau Bara nggak ke mana-mana? Soalnya waktu Aidan nelepon handphone gue, Bara langsung menunjukkan mukanya. Terus waktu gue di goda sama cowok yang mabuk, mereka nggak pegang-pegang gue, mereka langsung pergi. Gue rasa itu bukan kebetulan,” seloroh Pelangi terheran-heran.


Chika mengangguk menimpali. “Kayak alasan dia aja buat mempertemukan lo sama Aidan. Iya nggak sih?”


Dira bertepuk tangan, benar-benar takjub dengan kejadian yang menimpa Pelangi. “Bara punya rencana kayaknya? Tapi semoga aja tuh cowok emang baik, luarnya doang yang nyampah banget.”


Pelangi memandang jaket yang masih melekat pada tubuhnya, ingatannya jatuh pada pertemuan mereka di tempat itu. Seakan sudah di rencanakan, tapi apa motif tindakan Bara? Jika dia ingin mempertemukan Pelangi dengan Aidan, kenapa harus di tempat itu?


“Eh, ngomong-ngomong, Aidan ngapain di club?” heran Dira dengan pandangan yang mengarah pada Chika dan Dira.


Mereka punya pertanyaan yang sama dalam benak masing-masing.


...🌈🌈🌈


...


Di sekolah, Pelangi memutuskan bertemu dengan Aidan. Mereka teman dekat, kan? Bukan masalah besar menanyakan hal tertentu pada cowok itu.


Pelangi mencari Aidan di kelas cowok itu, berharap sekali menemukan Aidan di sana. Sebab Pelangi tidak makan bekalnya hanya karena ingin menanyakan hal ini.


“Cari siapa, Ngi?” tanya Ben—yang setahu Pelangi ketua kelas XI IPS-I


“Di ruang OSIS, dia bilang mau ke sana tadi.”


Pelangi membulatkan mulutnya, ia tersenyum ramah. “Makasih ya, gue pergi dulu.” Selepas itu, Pelangi berlari menuju ruang OSIS. “Ck! Kenapa harus di ruang OSIS, sih? Di sana pasti rame,” decak Pelangi.


Pintu ruangan OSIS tertutup, sehingga yang harus Pelangi lakukan adalah mengintip dari jendela. Ia tidak punya banyak keberanian mengetuk pintu dan menanyakan keberadaan Aidan.


“Eh, ada,” kata Pelangi akhirnya bernafas lega. Cowok itu tengah membersihkan beberapa buku di rak, juga sesekali bercengkerama dengan temannya.


Melihat itu, membuat Pelangi mengulas senyum. Entahlah, bibirnya otomatis tersenyum saat melihat cowok itu.


“Eh, Pelangi? Ngapain?”


Sang empu terlonjak kaget hingga tidak sengaja menjatuhkan papper bag yang berisi jaket yang ia bawa. Pelangi memutar tubuh segera, kemudian tersenyum janggung melihat Jordan menatapnya terheran-heran. Pelangi memungut kembali jaket yang jatuh di dekat kakinya.


“Itu ...” Pelangi jadi bingung sendiri harus mengatakan apa.


“Cari Aidan, ya?”


Mau tidak mau Pelangi mengangguk, sebab memang itu tujuannya datang kemari hingga mau repot-repot mengintip bagai maling. “Iya, dia ada?” tanyanya hanya sekedar menepis rasa malu.


Jordan mengulas senyum—menahan tawa. “Bentar gue panggilin,” kata Jordan sembari membuka pintu, tubuhnya tidak masuk, hanya kepala saja yang menyembul ke dalam ruang OSIS. “Oi, Dan! Di cari cewek,” seru Jordan cukup kencang.


“Siapa?”


Mendengar suara itu membuat jantung Pelangi langsung berdebar, tak luput juga darah yang bersedir kencang. Pelangi mengatur nafas, berabe kalau ia bersikap aneh di hadapan Aidan.


“Oh, Pelangi?” ucap Aidan tidak terkejut. Cowok itu mendekat, berdiri di depan Pelangi dengan seulas senyum tipis. “Kenapa?” tanyanya terlalu halus.

__ADS_1


“Em, ini.” Pelangi memberikan jaket milik Aidan. “Thanks, ya,” ucapnya tulus. Padahal bukan itu alasannya datang kemari, namun ia berharap semoga Aidan memperpanjang cerita mereka.


“Ya elah santai aja balikinnya. Besok-besok juga nggak papa,” seloroh Aidan ringan. Namun dia menerima papper bag tersebut.


Pelangi tersenyum, kikuk sekali ia dihadapan Aidan. Pelangi ingin menanyakannya tanpa basa-basi, namun rasanya itu terlalu kurang ajar. Ia juga tidak pandai membuat topik pembicaraan hingga sampai di pertanyaan yang hendak ia ajukan.


“Ada yang mau lo katakan?” tanya Aidan seakan mengerti.


“Eh, enggak kok. G-gue balik dulu kalau gitu.” Sungguh, ia sudah seperti orang goblok saat ini.


“Mau ngomong apa?” tanya Aidan lembut sembari menahan tangan Pelangi agar tidak pergi dulu. “Tanya aja, gue senang lo mau tanya-tanya sama gue,” lanjutnya diiringi tawa kecil.


Pelangi menguatkan hati, bukan masalah besar menanyakan hal itu bukan? “Buat yang tadi malam, thanks ya.” Ah, Pelangi memang goblok sekali.


“Oh, iya sama-sama,” jawab Aidan. “Lo baik-baik aja kan semalam? Gue nggak sempat nanya keadaan lo.”


“Gue baik-baik aja, berkat lo,” sahut Pelangi hangat. Sepertinya ini situasi yang sangat pas. “Gue boleh tanya sesuatu?” ucap Pelangi penuh harap.


“Tanya aja.”


“Lo kok bisa ada di club malam? Bukannya nggak boleh ya ke sana?” tanya Pelangi akhirnya terutarakan. Walau cukup deg-degan, tapi rasa penasarannya begitu besar hingga ia berani menanyakan hal itu.


Aidan tertawa, gemas dia acak rambut Pelangi. “Nggak usah mikir macam-macam, gue nggak mungkin melakukan aneh-aneh di sana. Lagipula, gue sukanya sama lo, bukan sama club malam,” kelakar Aidan ringan.


“Ih, gue serius!” decak Pelangi cemberut.


“Gue lebih serius,” bisik Aidan di depan wajah Pelangi.


Mata Pelangi berkedip-kedip beberapa kali, wajah Aidan sedekat ini, dan ia baru sadar bahwa cowok itu begitu tampan. Sampai-sampai Pelangi hanya terpaku pada wajah cowok itu, terkunci dalam netranya yang pekat.


“Gue kerja di sana, lo kan tau gue nggak punya orang tua,” jelas Aidan setelah menjauhkan sedikit wajahnya. “Tapi tadi malam last night, gue nggak akan ke sana lagi setelah ini,” lanjutnya.


Pelangi tertegun, hatinya terenyuh mendengar penjelasan Aidan. Ingatannya jatuh pada perkataan Raka, bahwa hidup itu keras. Dan Aidan sudah merasakannya, padahal dia belum dewasa namun sudah merasakan kekejaman dunia. Ah, Pelangi jadi semakin takut tua.


“Berapa lama?” tanya Pelangi


“Apanya yang berapa lama?”


“Kerjanya.”


Aidan mangut-mangut. “Satu tahun mungkin?” Aidan gidikkan bahunya. “Lupa gue,” kekehnya pelan.


“Setahun?” mulut Pelangi terbuka, pandangannya semakin sendu juga terkejut. Bagaimana bisa Aidan melewati semua itu sendirian? Ini terlalu mengejutkan bagi Pelangi.


“Santai aja natapnya, lo makin gemesin kalau gini.” Aidan sentil kening Pelangi pelan, kemudian tertawa melihat gadis itu meringis dan sedikit cemberut. “Cuman lo dan dua teman gue aja yang tau kalau gue kerja di sana. Yang artinya lo spesial, gue percaya sama lo untuk berbagi rahasia,” ucap Aidan dengan sorot mata teduh dan tulus.


“Gue bakal pegang rahasia lo, dan gue selalu siap mendengarkan semua rahasia lo,” jawab Pelangi langsung tanpa pikir panjang. Ia tersenyum dan menepuk pundak Aidan beberapa kali. “Kita teman dekat, kan?”


“Teman hidup,” ralat Aidan santai, selepas itu dia tertawa. “Gue nggak pernah mikir sampai sini kalau kita bakal sedekat ini. Gue pikir lo cewek dingin bin cuek, tapi semakin dekat gini, gue tau kalau lo itu manja.”


Pelangi mengangguk tanpa menampik. “Semua orang yang mulai kenal gue pasti akan bilang gue manja. Dari kecil, gue nggak pernah hidup sendirian, gue selalu di kelilingi orang-orang yang sayang sama gue. Sampai sekarang, makanya gue manja,” jelas Pelangi tanpa segan menceritakannya.


“Lo beruntung,” kata Aidan dengan seulas senyum tipis


“Semua orang beruntung di dunia ini, hanya saja mereka punya tingkat keberuntungan yang berbeda-beda.”


Aidan tersenyum lebih lebar. Dia lantas mengusap surai perempuan ini, menatap netranya yang cerah dengan tatapan kagum dan cinta. “Benar, semua orang beruntung di dunia ini,” timpal Aidan kian mendekatkan wajahnya. Tangannya turun ke pipi Pelangi, mengusapnya lembut dan halus. “Dan gue beruntung punya lo di sini,” bisiknya terlihat bahagia.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


__ADS_2