Rapunzel & Obsesi Dua Pria

Rapunzel & Obsesi Dua Pria
32| Shock


__ADS_3

Semalam sempat hujan, sehingga meninggalkan embun halus yang memenuhi pandangan. Bekas rintik hujan menetes di dedaunan, cahaya mentari menciptakan hawa sejuk yang pas untuk lagi yang cerah.


Tempat parkir sudah mulai penuh di isi siswa-siswi yang membawa kendaraan sendiri, halaman depan dan koridor pun tak kunjung sepi. Malah, koridor terlihat begitu ramai hari ini, semua orang menatap ponsel dan saling berbisik ramai.


Pelangi yang berjalan di tengah-tengah mereka mengernyitkan kening, heran saat semua penghuni koridor menatapnya sinis namun tidak begitu kentara. Tatapannya mereka persis saat kedua abang Pelangi berulah.


“Hm, kenapa ya?” gumam Pelangi sambil mengusap pipi. Ia benci di tatap seperti ini, lagi-lagi ia merasa seperti seorang penjahat yang tidak sama sekali di terima kehadirannya.


“Psikopat banget tuh orang gila! Sebulan Gara koma, dan akhirnya meninggal juga!”


Langkah Pelangi langsung terhenti, ah atau jantungnya juga ikut berhenti. Tubuh Pelangi terasa berat untuk kembali berjalan, telinganya tidak bisa di paksa untuk tuli.


“Ini udah korban ke berapa, sih? Dulu Saka pernah kan gebukin cowok seangkatannya kan karena cuman colek lengan Pelangi?”


Tangan Pelangi terkepal sangat kuat, kejahatan kedua kakaknya kembali di bongkar dan di ungkit. Mungkin bukan hanya keempat cewek di sana yang membicarakan abangnya, melainkan seluruh murid di SMA Harapan terus membongkar semua kejahatan yang pernah Saka dan Raka lakukan. Dan semuanya selalu bersangkutan dengannya.


“Kasihan si Gara. Dia memang salah sih karena nonjok Pelangi, tapi nggak juga sampai bikin meninggal.”


“Abang-abang Pelangi tuh psikopat, apa lagi yang namanya Raka. Kenapa nggak langsung bunuh aja si Gara? Kenapa malah di biarin kritis dan makin kesakitan coba?”


“Psikopat. Dia buat Gara mati perlahan.”


Ucapan mereka saling bersahutan, terasa dengungan menyakitkan di telinga Pelangi. Tetes demi tetes air matanya menetes, semua orang mengatakan kedua kakaknya psikopat dan brengsek.


“Cih! Bagus deh kalau dia dengar,” sungut salah satu dari mereka dengan pandangan begitu sinis dan muak. Selepas itu keempat orang itu menjauh, bersama beberapa orang di sekitar Pelangi.


“Bunda ...,” panggil Pelangi dengan dada terasa sesak. Air matanya semakin berjatuhan, kakinya enggan melangkah pergi agar bisik-bisik menyakitkan itu enyah dari telinganya.


Ini bukan hari yang cerah untuk Pelangi.


“Aidan?” Pelangi hapus air matanya secepat kilat, dengan nafas menderu begitu kencang ia berlari mencari keberadaan cowok itu. Tanpa peduli tatapan siswa-siswi yang menusuk dan menjauhinya, Pelangi hanya ingin bertemu dengan Aidan dan mengatakan semua keresahannya.

__ADS_1


Kring!!! Bel panjang tanda masuk berbunyi, namun Pelangi tidak sama sekali menghentikan pacuan kakinya mencari Aidan. Tidak peduli semua orang menatapnya jengah dan muak, tidak peduli sebanyak apa cacian mereka dan mengatakan air matanya hanya air mata buaya.


“Aidan!!!” panggil Pelangi begitu keras saat melihat cowok itu hendak memasuki kelas. Pelangi berlari, dadanya sudah begitu sesak.


“Pe-Pelangi ...?” kaget Aidan melihat kondisi Pelangi saat ini. “Ngi ...” sorot matanya menjadi sendu, sedih melihat raut kesakitan gadis itu.


“Kita perlu bicara, Dan ... kita perlu bicara.” Dengan terisak-isak Pelangi berkata, ia sudah terlihat menyedihkan di hadapan Aidan dan orang yang melihatnya. “I-ini salah ...” ia menggeleng keras, air matanya bercucuran membasahi pipi yang memerah dan pucat.


Aidan menatap sekitarnya, saat merasa tidak ada guru, dia langsung menarik Pelangi menuju taman belakang yang sepi. Hanya di sana tempat yang pas untuk situasi Pelangi saat ini.


“Aidan,” panggil Pelangi dengan bibir bergetar. Ia tarik tangannya dari genggaman cowok itu, kakinya melangkah sedikit menjauh. “Gara meninggal ...,” ucapnya dengan raut penuh ketakutan. “Dia meninggal karena gue.” Sungguh, tidak ada yang lebih mengerikan selain di tatap sebagai pembunuh.


“Pelangi, enggak. Dia me—“


“Enggak, Dan. Dia mati karena gue. Semua orang bilang abang gue psikopat! Semua karena gue, Dan!” teriak Pelangi histeris. Kakinya melangkah mundur saat Aidan hendak menggapainya, Pelangi bahkan menggelengkan kepala dengan netra menyedihkan.


“Pelangi—“


Aidan mendekat dan langsung memegang pinggang gadis itu. “Hey, dengar,” ucapnya dengan tegas nan lembut. “Lo nggak salah, semua udah terjadi dan yang salah itu Gara!” tekannya penuh keyakinan.


“Enggak, Dan! G-gue yang buat dia mati!! Dan lo sebentar lagi kayak gitu! Jauhi gue! Please, gue nggak mau lo mati ...” Pelangi terisak semakin kencang, tubuhnya kian bergetar.


“Pelangi,” panggil Aidan dengan suara berbisik yang halus. Dekapan di pinggang gadis itu semakin mengerat, wajah mereka semakin mendekat. Dari sini, dapat Aidan lihat sorot takut dan cemas di mata itu.


“Aidan, lepas! Lo bisa mati!”


“Hey, dengar,”


“Aidan gue mohon!!! Abang gue bakal dat—“


Aidan merangkum wajah Pelangi dan menyuruh perempuan itu menatap matanya. Pelangi menjadi diam namun tangisnya tak kunjung mereda. “Hey, dengar. Gue nggak akan terluka, itu cuman ketakutan lo aja. Tenang, ya? Gue nggak akan jadi kayak Gara,” tuturnya selembut mungkin di iringi usapan di pipi Pelangi.

__ADS_1


“Tap—“


“Sayang,” potong Aidan hingga gadis itu kembali terdiam. Kedua tangan besarnya setia merangkum wajah memerah gadis itu, memandang netranya menenangkan. “I'm fine, jangan takut. Apa yang lo pikirkan nggak mungkin terjadi. Gue janji nggak akan pernah terluka karena abang lo,” bisiknya sungguh-sungguh.


Tangis Pelangi kembali pecah, tangannya menyentuh tangan Aidan di wajahnya, menatap mata itu masih dengan sorot penuh ketakutan. “Gue takut ...,” lirihnya dengan suara bergetar. “Takut banget, Dan. Gue takut lo kayak Gara.” Wajahnya menunduk dalam, lintasan darah dan wajah terluak Aidan muncul di kepalanya.


Aidan mencium kening Pelangi lama, mencoba menenangkan perempuan itu. “Semuanya akan baik-baik saja. Percaya sama gue, abang lo nggak akan bisa lukai gue,” ucapnya meyakinkan. Aidan mengusap pipi Pelangi yang basah, tanpa segan ia cium kembali kedua mata perempuan itu. “Jangan nangis, ini lebih menyakitkan daripada sebuah tonjokan, sayang,” ucapnya penuh kelembutan.


Netra Pelangi yang redup memandang kedua bola mata Aidan dalam-dalam. Nafasnya sudah mulai teratur dan air matanya mulai berhenti berjatuhan. “Tapi untuk saat ini gue mohon buat lo jauhi gue,” pintanya masih di landa cemas luar biasa.


Aidan menarik tengkuk Pelangi, hingga hidung mereka bersentuhan. Aidan tatap kedua bola mata itu intens, senyumnya terpampik miring. “Gue nggak akan pernah ngejauhi lo sampai kapan pun. Bahkan jika lo punya pacar sekalipun, gue nggak akan pernah ngejauh!” tekannya bukan hanya sekedar pernyataan, melainkan kenyataan yang akan Aidan lakukan sampai nanti.


Sedekat ini, membuat Pelangi mau tidak mau harus terkunci dalam petangnya netra itu. Masuk dalam rasa hangat dan aman saat pelan usapan terasa di kedua pipinya yang memerah. “Aidan,” panggilnya dengan suara kecil.


“Ya?” balas Aidan tanpa menghentikan usapannya di kedua pipi Pelangi. Betah memandang wajah perempuan itu sedekat ini. Mereka begitu dekat sampai-sampai Aidan berpikir bahwa mereka bukan hanya sekedar teman.


“Gue harap lo pegang janji lo,” tagih Pelangi penuh harap. “Gue nggak mau lo terluka, apa lagi meninggal,” lirihnya dengan kepala menunduk.


“Gue berjanji,” tegas Aidan tanpa keraguan. Jarinya mengangkat dagu Pelangi, kemudian ia tersenyum hangat ke arah gadis ini. “Jika gue meninggal, maka gue akan hidup lagi di masa depan dengan orang yang sama, dan dengan cinta yang sama pula.”


Pelangi terpaku, ini kali pertama ia merasa aman setelah Raka dan Saka. Pengakuan tanpa keraguan cowok itu cukup membuktikan bahwa kedekatan mereka melebihi seorang teman saja. Netranya yang hangat menggambarkan seluruh perasaan di dalamnya.


Pelan, dengan tangan masih bergetar, Pelangi usap permukaan wajah cowok itu. Dari alis, mata, hidung, pipi, hingga berhenti di bibir cowok itu. Tanpa sadar Pelangi tersenyum saat Aidan memejamkan matanya. Ia suka semua ekspresi wajah cowok ini.


“Aidan,” panggil Pelangi lagi dengan suara lebih berbisik.


“Iya, sayang?”


“Gue suka sama lo,” aku Pelangi sungguh-sungguh. Entah keberanian dari mana, ia memeluk tubuh cowok itu dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Aidan. “I love you,” ulangnya lebih serius.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


__ADS_2