
Malam lebih terasa indah bagi Pelangi, padahal di luar tengah hujan deras sedari siang tadi. Ah, salah satu kesukaan Pelangi adalah hujan, di sana ia menemukan banyak ide untuk tulisannya dan menemukan berbagai kenangan indah selama hujan turun dalam hidupnya.
Tetes airnya tercetak di kaca jendela, memberi kesan terapi untuk Pelangi. Suara tetesannya yang menghantam bumi terdengar merdu menyapa telinga, bagai cumbuan hangat antara hujan dan tanah.
Di kamarnya, Saka duduk di atas sofa sembari membaca novel yang Pelangi tulis. Cowok dengan setelan kaos santai dan celana pendek itu duduk dengan anteng membaca, tidak menghiraukan suara hujan yang terdengar keras di telinganya.
“Abang,” panggil Pelangi.
“Hm?”
“Apa kenangan indah Bang Saka saat hujan turun?” tanya Pelangi.
Saka menurunkan novelnya, memfokuskan pandangannya hanya pada adiknya saja. “Kehadiranmu,” jawabnya singkat, padat dan jelas.
Pelangi tersenyum, ia beralih menatap kembali langit yang hitam. “Selain itu?”
“Hanya kehadiran lo di keluarga kita.”
“Ah, Bow jadi besar kepala,” kekeh Pelangi senang. Malam ini senyum Pelangi tidak kunjung pudar, sudah seharian di sekolah ia di buat salting sebab semua perlakuan Aidan padanya. Masa bodoh dengan gosip murahan lagi setelah ini.
“Kalau lo, kenangan apa yang indah saat hujan turun?” balik tanya Saka penuh rasa penasaran.
“Emm,” Pelangi berpikir sejenak. “Semua kenangan gue saat hujan selalu indah. Kayak main sama kalian di bawah hujan, malam ulang tahun gue saat hujan, dan kabar bahwa Bang Raka sukses menjadi pengusaha setelah menerobos hujan,” jelas Pelangi dengan wajah menerawang. Senyumnya tercetak begitu jelas, dadanya terasa begitu hangat.
“Terus?”
‘Tersenyum bersama Aidan saat hujan turun,' jawab Pelangi hanya dalam hati saja. Senyumnya kian lebar terpatri, ingatannya jatuh saat awal tetesan hujan menyapanya siang tadi. Bersama Aidan di sisinya, yang katanya mereka adalah teman dekat.
“Menghabiskan setiap malam saat hujan dengan keluarga, Bow,” jawab Pelangi akhirnya.
Saka tersenyum, novel di genggamannya di taruhnya asal di sisi kursi. Kemudian, Saka berjalan mendekati Pelangi dan duduk di atas meja belajar adiknya. “Kalau kenangan indah sama gue?” tanya Saka jahil.
Pelangi langsung berdecak, jarinya mengarah ke Saka. “Di usilin saat mandi hujan. Di kagetin waktu ada petir, pakai di matiin lampu segala lagi! Dan yang terakhir,” Pelangi mengantungkan perkataannya, matanya menatap penuh permusuhan ke arah Saka saat mengingat kejadian itu. “Jas hujan kesayangan gue robek karena di pakai sama abang!” lanjut Pelangi dengan pandangan sebal.
Saka tertawa, tangannya langsung hinggap di kepala Pelangi dan mengacaknya dengan gemas. “Semuanya indah, kan?” ledeknya geli.
“Sangat indah!” sahut Pelangi penuh penekanan. “Saking indahnya, Bow nggak bisa lupa,” sindirnya sambil mendelik sinis.
“Itu bagus,” timpal Saka ringan.
Setelah itu, tidak ada lagi pembicaraan. Pelangi sangat ingin mengatakan pada Saka bahwa ia memiliki teman laki-laki, namun pikirannya masih waras sehingga menyimpan hal itu sendirian. Pelangi berpikir untuk memberitahu abang-abangnya tentu saja mencegah hal-hal yang tidak baik, namun rasanya jika memberitahu maka semuanya akan jauh lebih rumit.
“Eh, besok gue mendaki, lho. Mau ikut?”
“Serius?!” mata Pelangi langsung berbinar, ini bukan kali pertama Saka memberitahu ingin mendaki. Cowok itu kuliah mengambil jurusan kehutanan, Saka suka menjelajah alam dan tempat-tempat baru.
“Tapi lo sekolah, nggak mungkin juga di bolehin sama abang lo satu itu,” lanjut Saka sedikit kecewa.
“Iya, gue juga paling nggak di bolehin sama Bang Raka,” timpal Pelangi lemas.
“Lo ... ngerasa terkekang nggak, Bow?” tanya Saka tiba-tiba. Nada suaranya halus dan berat, seakan itu adalah pertanyaan yang sudah lama ingin di sampaikan.
“Pernah” jawab Pelangi langsung dan tenang. Ia melempar senyum tipis dan menenangkan. “Bow memang pernah ngerasa terkekang, tapi nggak lama. Saat kalian ada di sisi gue, gue ngerasa aman dan bersyukur punya kalian,” tutur Pelangi penuh kejujuran.
Saka termangu, netranya lirih memandang adiknya.
__ADS_1
“Gue pernah berpikir untuk melarikan diri dari kalian supaya gue bisa bebas kayak remaja lain. Gue pernah berpikir buat pacaran sembunyi-sembunyi biar bisa ngerasain pacaran anak muda. Tapi kembali lagi, saat kalian hadir di dekat gue, gue ngerasa kalian adalah semuanya,” sambung Pelangi lagi. “Kalian lebih dari cukup buat Bow, kalian lebih berharga dari apa pun,” tukasnya sungguh-sungguh.
Saka mengusap sudut matanya dengan gerakan lambat, senyumnya terbit dengan lebar sebelum menarik Pelangi dalam pelukannya. “Gue sayang banget sama lo, Bow, sayang banget. Gue nyesal tanya itu, lo buat gue mau nangis,” kata Saka terdengar seperti anak kecil.
“Cih! Lebay banget,” kekeh Pelangi sambil memukul pelan kepala Saka. Jauh apa pun Pelangi menghindari mereka, maka semakin susah pula Pelangi bersikap seperti orang lain. Sedari kecil, Saka dan Raka selalu ada untuknya, menemaninya bermain dan melakukan apa saja untuknya. Keirian kadang menguasai Pelangi, namun saat Raka dan Saka ada di dekatnya, semua terasa lebih sempurna.
“Gue udah pernah bilang gini ke bang Raka, tapi malam ini gantian ke Bang Saka. Bow sayang abang, terima kasih udah jadi abang yang jahil buat Bow,” ucapnya penuh ketulusan.
...🌈🌈🌈
...
Aidan memarkirkan motornya di parkiran khusus anak murid, helmnya yang berwarna hitam di lepasnya dari kepala, tangannya menyugai acak rambutnya. Aidan turun dari motor, di sambut tatapan memuja para kaum hawa.
“Woy, bro! Anjay, lo lebih berseri hari ini,” sapa Fael di iringi rangkulan di pundak Aidan. Cowok berlesung pipi nan manis ini datang dari belakang, entah di mana motor yang biasa Fael pakai.
“Dan lo lebih menyebalkan hari ini,” timpal Aidan kalem.
“Itu bagus. Dira suka sama gue karena gue menyebalkan, mana ada copyannya gue di dunia ini!” ujar Fael penuh percaya diri.
Plak!
“ADOH!!” Fael memekik keras setelah mendapat tamparan di belakang kepalanya.
“Nggak ada duanya lah, orang modelannya gini!” sungut Tiara dengan raut wajah jijik dan memperagakan gaya muntah tepat di depan Fael.
“Sialan nenek lampir!” maki Fael dengan wajah jengkel. “Muncul dari mana sih lo, Ra?” omel Fael dengan wajah jengah. “Tiap gue ngomong ada aja ini Medusa, muncul kayak jin aja lo!”
“Lo yang manggil!” balik sungut Tiara jengah. Matanya mendelik tak suka pada Fael, mulutnya kocar-kacir mencibir.
“Ogah!” sahut Fael dan Tiara bersama. Keduanya saling mendelik, wajah keduanya tidak sama sekali bersahabat.
Aidan mendengus, buru-buru ia menjauhi dua orang tersebut. Namun tak lama setelahnya, Fael menyusulnya dan langsung merangkul pundaknya seperti tadi, lagi-lagi Aidan mendengkus kasar.
“Eh itu, Dira!” tunjuk Fael ke arah depan.
Aidan menatap lurus, senyumnya terbit begitu tipis. “Ada Pelangi juga,” tambahnya.
Fael langsung berlari mendekati Dira, namun tidak dengan Aidan yang tetap berjalan seperti biasa. Pandangan Aidan dan Pelangi bertemu, terkunci bersama dengan jarak yang kian menipis.
“Hai, Dir,” sapa Fael riang.
“Eh, tumben datang lambat,” kata Dira.
“Yang penting nggak lambat nikahin kamu nanti,” imbuh Fael dengan senyum lebar dan tatapan jahil.
Dira tersipu, gadis itu memukul halus pundak Fael sambil tertawa kecil.
Aidan mendengkus melihat tingkah sahabatnya, setelah itu ia fokuskan seluruh pandangannya pada Pelangi saja. Gadis itu menunduk, hanya diam dan memainkan kuku-kuku jarinya.
“Ke atas yuk, El,” ajak Dira. Belum sempat Fael menyahut, gadis itu langsung menarik cowok itu meninggalkan Aidan dan Pelangi dalam lingkup keheningan.
“Gue naik juga,” kata Pelangi tanpa mendongak.
“Tunggu dulu.” Aidan mencekal lembut pergelangan tangan Pelangi sehingga menghentikan langkah gadis itu. Aidan menarik Pelangi semakin dekat, tanpa ragu ia genggam tangan dingin perempuan itu. “Katanya teman dekat. Kalau teman kita harus jalan beriringan,” kata Aidan.
__ADS_1
“Masa gitu sih?” heran Pelangi. Kedua alisnya mengerut, tatapannya penuh tanya dan bingung mengarah pada Aidan. “Bohong banget!” sentaknya kemudian.
Aidan tertawa dan mengacak singkat pucuk kepala gadis itu. “Pantas abang-abang lo nggak bisa jauh dari lo. Gue aja nggak bisa, apa lagi mereka.”
“Apaan, sih?” delik Pelangi dengan pipi sedikit memerah.
Lagi-lagi Aidan tertawa. “Belum bel nih. Suka buku, kan? Ayo ke perpus.” Tanpa banyak bicara atau menunggu sahutan orang yang bersangkutan, Aidan langsung saja menarik Pelangi menuju gedung bagian selatan di mana perpustakaan besar SMA Harapan berada.
Masih ada sekitar lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi. Rata-rata siswa-siswi datang jam seperti ini, tidak heran koridor begitu ramai. Di tambah lagi melintasnya dua sejoli ini, kian membuat suasana koridor kian heboh.
“Selamat pagi, Bu,” sapa Aidan ramah pada Bu Fira—guru penjaga perpustakaan.
“Pagi, Nak. Eh, ada Pelangi juga,” balik sapa Bu Fira dengan wajah hangat dan senyum tulus.
“Selamat pagi, Bu,” kata Pelangi pun ikut menyapa.
“Kita masuk dulu ya, Bu.” Aidan kembali menggenggam tangan Pelangi, membawanya masuk semakin dalam di dunia tulisan.
“Gue belum pernah di sini,” ungkap Pelangi dengan mata yang memandang sekeliling, di mana rak-rak besar di susun begitu rapi dan di beri nama sesuai genre buku. Ini adalah perpustakaan modern.
“Serius nggak pernah?” kaget Aidan dengan mata mengerjap.
“Iya, nggak pernah. Kata Bang Saka, perpustakaan ini pernah nelan korban jiwa, di bawa ke alam gaib gitu. Terus gue nggak di bolehin ke sini sama Bang Saka,” jelas Pelangi tanpa ragu menceritakannya.
Aidan tertawa geli, dalam benaknya ia bertanya, mengapa ada gadis sepolos dan semanis Pelangi di dunia ini. “Dan lo percaya?” tanya Aidan takjub.
“Percayalah! Apa lagi saat itu Bang Saka masih sekolah di sini, dia larang gue pergi ke tempat-tempat sepi sendirian,” tutur Pelangi lagi. Tangannya mulai merabat menyentuh sampul-sampul buku pelajaran yang berada di hadapannya.
“Nggak heran sih sama akal-akalan yang di buat kakak lo. Mereka pasti nggak mau lo kenapa-napa.”
“Tapi hari ini lo ngajak gue, bahkan abang gue nggak tau. Ah, Bang Raka sama Bang Saka bahkan nggak tau kalau kita temenan,” ucap Pelangi jujur.
“Takut kita nggak bisa dekat lagi, ya?” goda Aidan dengan wajah puas.
Pelangi mengangguk tanpa pikir panjang. Membuat Aidan terpaku dengan netra yang kian hangat. Aidan pikir, Pelangi akan menjawab tidak dan memberi alasan, namun ternyata gadis itu benar-benar polos dan jujur.
“Gue suka harum buku,” ungkap Pelangi dengan mata terpejam, nafasnya beberapa kali tertarik begitu dalam.
“Gue suka harum lo,” sambung Aidan sembari mendekatkan tubuhnya, netranya memandang wajah rupawan perempuan yang matanya kini sudah terbuka. Pelan, Aidan selipkan anak rambut yang berada sisi pipi Pelangi ke daun telinga gadis itu. “Rasanya manis,” bisiknya serak.
“T-tapi gue nggak suka harum lo,” sergah Pelangi dan langsung mendorong tubuh Aidan menjauh, gadis itu berdehem dengan pandangan yang mengarah kesana-kemari.
Aidan terkekeh, puas sekali membuat kedua pipi putih itu memerah. “Ada buku yang mau lo pinjam?” tanyanya mulai melangkahkan kaki kembali.
“Enggak, malas balikinnya nanti.”
“Ya udah ayo balik,” ajak Aidan kemudian. “Atau, mau berduaan aja di sini sampai malam?” gkdanya dengan senyum jahil.
“Sinting!” sungut Pelangi sebelum mengambil langkah cepat menjauhi Aidan. Pelangi mengulum bibirnya, mencegah senyum terbit begitu lebar.
Sedangkan Aidan sudah tidak bisa lagi membendung senyum di wajahnya. Matanya bahkan nyaris menyipit hanya karena tertariknya dua sudut bibirnya ke atas, terlihat begitu tulus dan bahagia. Aidan kemudian mengejar langkah Pelangi.
“Tungguin,” serunya.
“Buruan,” sahut Pelangi tanpa menghentikan langkah cepatnya.
__ADS_1
...🍁🍁🍁...