
Bel pulang belum berbunyi, namun Pelangi sudah melewati koridor dengan tas di punggungnya. Mata itu masih terlihat begitu sembab dan sayu, tidak ada senyum yang terukir di bibirnya yang pucat.
Seharian ini ia bolos, bersembunyi di rooftop selepas dari taman belakang dan berpisah dari Aidan. Pelangi hanya ingin sendirian, ia tidak ingin terus-terus di tatap benci seluruh penghuni sekolah. Percayalah itu sangat melelahkan.
“Ngi,” suara Aidan terdengar dari belakang tubuh Pelangi, di sertai cekalan yang menahan pergelangan tangan gadis itu. “Mau ke mana?” tanyanya halus.
Pelangi langsung melepas tangan Aidan, tanpa menoleh ia berkata, “Pulang.” Suaranya nyaris tidak terdengar, ia lelah menangis seharian dan merutuki mulut yang sudah mengatakan kebenaran. “Gue mau sendiri dulu,” lanjutnya berharap Aidan mengerti.
“Lo nggak aman sendirian,” cegah Aidan cemas. Ia tidak mendekat untuk menatap wajah Pelangi, Aidan mengerti situasi gadis itu sekarang. “Yang tadi nggak usah di pikirkan, gue bakal jaga jarak,” putusnya tanpa paksaan. “Tapi gue mohon jangan kayak gini, lo buat gue makin sedih.”
“Lo nggak ngerti, Dan,” cicit Pelangi tertahan. Sekuat tenaga ia menutupi mata yang berair, ia enggan kembali menangis dan terlihat menyedihkan di hadapan Aidan lagi.
“Gue ngerti, sangat mengerti. Tapi gue harap lo berhenti memikirkan masalah ini, lambat laun semuanya akan baik-baik aja. Jadi, jangan ngerasa di pojokkan atas keadaan saat ini, apa yang lo cemasin nggak akan terjadi,” tutur Aidan hangat.
“Gue harap begitu,” kata Pelangi singkat namun penuh harap. Kepalanya menunduk, air matanya jatuh kembali namun setelah itu Pelangi langsung melangkahkan kaki pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Aidan yang melihat itu hanya menatap lirih kepergian gadis itu. Punggung Pelangi terlihat begitu rapuh dari belakang, dan Aidan begitu yakin Pelangi semakin rapuh saat netranya di pandang.
Pelangi berlari menuju pagar yang masih tertutup, ia mendekati Pak Samsul. “Pak, bisa bukain pagarnya?” pinta Pelangi.
Pak Samsul mengernyitkan kening, namun segera beliau bangkit dan tersenyum ramah. “Iya, Neng,” jawab Pak Samsul sembari membuka pagar.
“Makasih, Pak.” Pelangi melangkah menyelusuri trotoar, mencari taksi yang lewat atau ojek yang bisa ia tumpangi menuju perusahaan abangnya. Ia perlu kejelasan dari mulut Raka langsung. Saat mendapatkan taksi, Pelangi langsung menaikinya dan memberitahu alamat yang ia tuju.
Di dalam perjalanan, ia termangu dengan tatapan sayu mengarah ke jalanan. Dadanya masih terasa sakit sebab omongan orang-orang, mereka benar-benar menyalahkan dirinya atas kematian Gara. Pelangi menghela nafas panjang, ia lelah.
“Kapan gue hidup kayak orang normal?” monolognya sendiri dengan pandangan semakin merabun. “Kapan gue nggak di tatap benci sama mereka?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Satu air matanya lolos membasahi pipi kembali, terisak penuh kesakitan lagi. “Gue juga nggak mau berada di posisi ini, gue juga mau kayak mereka yang melewati hidup dengan biasa.” Pelangi memang punya teman, tapi ia tetap merasa sendirian.
Pelangi itu selalu di tatap iri semua orang. Pelangi itu selalu di pandang sempurna oleh semua yang melihatnya. Namun di balik banyak warna dalam tubuh pelangi, ada lengkungan ke bawah yang mewakilkan perasaannya bahwa ia tidak benar-benar bahagia. Semua warna yang terlihat hanyalah sebuah topeng bahwa apa pun yang terjadi pancarkanlah cahayamu.
“Gue benci hidup kayak gini.” Untuk sekali lagi, Pelangi katakan ia benci memiliki kakak laki-laki yang posesif. “Gue benci di lukai seperti ini.” Namun ia tidak bisa berbohong, bahwa kehadiran kedua kakaknya selalu menyelamatkannya dari rasa sakit yang di derita.
...🌈🌈🌈
...
Pelangi memasuki perusahaan Raka tanpa ragu. Kakinya terus melangkah tidak peduli tatapan heran orang yang melihatnya. “Saya mau ketemu Pak Raka,” ucap Pelangi tanpa basa-basi.
Sang resepsionis terlihat bingung, namun senyumnya masih terpatri ramah. “Maaf, Dek, atas nama siapa?” tanya resepsionis itu ramah.
“Mbak nggak perlu tau, intinya saya mau ketemu sama Pak Raka,” tekan Pelangi lebih jelas.
“Baik, silahkan ke lantai atas. Adek Bisa tanya kepada sekretaris Pak Raka mengenai keberadaan beliau sekarang.”
Tanpa mengucapkan terima kasih atau membalas perkataan resepsionis wanita itu, Pelangi langsung melangkah menuju lift dan menekan angka lantai paling atas. Di lift, beberapa karyawan menatapnya sinis karena masih mengenakan seragam sekolah, wajah Pelangi pun terlihat begitu jutek.
Selepas lift terbuka, Pelangi langsung berjalan menuju ruangan Raka dengan terburu-buru. “Di mana abang?” tanya Pelangi langsung saat melihat sekretaris Raka berada di depan kursinya.
Wajah Ardan terlihat kaget, pria tersebut langsung berdiri dan menatap Pelangi syok. “Pelangi? Sedang apa kamu di sini?” tanyanya dengan raut panik dan khawatir.
Tanpa mengindahkan perkataan pria tersebut, Pelangi langsung membuka pintu besar ruangan Raka. Cukup keras sehingga terdengar bunyi yang mengganggu telinga. Nafasnya menderu kencang, perhatian beberapa di ruangan tersebut langsung teralih sepenuhnya padanya.
“Pe-Pelangi ...?” wajah Raka kaget luar biasa, pria muda itu berdiri dan sontak mengumpat lumayan keras saat melihat adiknya berdiri di depan pintu dengan pakaian seragam lengkap. Perhatian tiga orang di dalam ruangan tersebut teralih pada Pelangi, mereka mengernyit mencoba mengenali.
“Abang!” teriak Pelangi nyaris menangis. Ia melempar tasnya ke lantai, nafasnya tidak beraturan. “Abang kenapa lakuin itu?!” pekik Pelangi keras dan mulai terisak.
__ADS_1
Wajah Raka mengeras, kedua tangannya terkepal kuat. Secepat kilat, dia mengambil jas yang terlampir di sudut ruangan, langkah lebarnya mendekati Pelangi dan langsung membungkus tubuh mungil itu di balik jas.
“Ngapain kamu di sini?” suara Raka terdengar rendah dan tajam, sorot matanya mengintimidasi penuh amarah. Perhatian Raka kemudian teralih pada ketiga klien-nya, menatapnya lewat ekor matanya yang tajam. “Keluar,” titahnya tanpa segan.
“Y-ya?” kaget salah satu dari mereka.
“Keluar!” suara Raka naik beberapa oktaf, keras dan penuh perintah.
Tanpa basa-basi ketiga orang tersebut langsung mengambil langkah pergi, tidak peduli dengan berkas di atas meja yang belum mereka ambil. Pintu tertutup rapat setelahnya, suasana dalam ruangan menjadi hening dan mencengkam.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Raka datar dan dingin.
“Apa yang aku lakukan?” balik tanya Pelangi dengan berani. Jarinya terangkat menunjuk wajah Raka begitu tajam. “Seharusnya aku yang tanya! Kenapa abang lakuin ini?! Kenapa abang selalu ikut campur sama urusan aku?!” pekik Pelangi histeris penuh amarah.
Raka mengangkat alis, wajahnya mengeras. “Apa katamu?” ulangnya dengan nada rendah.
“Gara meninggal! Dan itu karena Bang Raka!! Semua orang di sekolah bicarin aku! Mereka bilang aku punya abang psikopat dan pembunuh!!” teriak Pelangi hilang kendali. Ini amarah yang benar-benar ia hendak keluarkan sejak perkataan siswa-siswi menyapa telinganya.
Gigi Raka bergemelatuk keras, tatapan yang sudah begitu lama hilang kini terlihat kembali. Sorot dingin dan wajah datar yang mengerikan dan mengintimidasi.
“Di sini bang!” Pelangi tepuk dadanya beberapa kali—begitu keras hingga berbunyi nyaring. “Aku kesakitan! Karena ulah abang, mereka bicarin aku di sekolah! Mereka natap aku benci dan sinis! Mereka juga nganggap aku biang masalahnya!! Semua karena Bang Raka!”
Kali ini, Raka tidak hanya diam. Tangannya yang besar dan keras itu mencengkeram tangan Pelangi yang terus menghantam dada, menekannya kuat tanpa sadar. “Berhenti bicara omong kosong!” sungutnya marah.
“Siapa bilang ini omong kosong?!!” mata Pelangi melotot penuh amarah, cekalan Raka tidak terasa sakit di tangannya. “Abang bunuh Gara! Mereka bilang abang psikopat! Abang biarin Gara sengsara sebelum dia mati!”
“Ya! Abang psikopat! Mereka benar, abang bunuh Gara dengan perlahan. Agar dia tahu bagaimana rasanya bermain dengan api!” sentak Raka keras.
Pelangi menggelengkan kepalanya tak habis pikir, kakinya mulai berjalan mundur. “Aku nggak mau punya abang psikopat!” Pelangi memutar tumit, namun belum sempat ia mengambil langkah, Raka sudah menariknya dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Pelangi meringis sakit.
Pelangi beringsut mundur, jantungnya berdebar melihat Raka tidak menjadi diri pria itu lagi. Matanya setengah membulat, pikirannya blank seketika. “A-apa yang abang lakuin?!” pekiknya terbata.
“Menunjukkan seorang psikopat sesungguhnya,” bisik Raka dengan senyum miring penuh makna. Sorot matanya tajam bagai elang, nafasnya menderu cukup kencang. Tak lupa, lengan kemejanya di gulung hingga siku.
“A-abang ...” panggil Pelangi terisak. Ia ketakutan, ini bukan kakak yang selalu perhatian padanya. Dia bukan Raka yang selalu membuatnya merasa aman.
“Apa, hm?” satu alis Raka terangkat, dia lantas mengurung Pelangi dengan menutup kedua sisi tubuh adiknya yang setengah berbaring dengan kedua tangannya yang kokoh. “Bukankah kamu tidak ingin mempunyai abang yang psikopat?” ucapnya dengan suara serak. “Maka, hari ini aku bukan abangmu.”
Pelangi menggeleng, tangannya bergetar di sisi tubuhnya. Wajah Raka sedekat ini, hidung mereka bahkan nyaris bersentuhan. Pelangi semakin terisak, kedua matanya terpejam saat Raka mengusap pipinya begitu halus.
Dia memang bukan kakak laki-laki Pelangi.
“Seharusnya kamu senang karena dia meninggal dengan cara kejam. Itu balasan yang setimpal dengan perbuatannya karena melukai kamu,” kata Raka tanpa menghentikan usapan tangannya di pipi dingin Pelangi.
“A-abang ...,” panggil Pelangi lagi berharap Raka tersadar dengan apa yang dia lakukan saat ini. “Bow takut.” Sungguh, ia tidak berbohong bahwa wajah Raka kali ini begitu mengerikan baginya melebihi ekspresi marah yang sering Raka tunjukkan.
“Kenapa berubah? Abang suka dengar kamu berbicara tanpa mengucap nama.”
Pelangi menggeleng. Ini salah, Raka seharusnya tidak memperlakukannya seperti ini. “Bow mau pulang,” isaknya takut. Ia menyesal telah datang kemari, sebab yang ia dapatkan hanyalah kemarahan dan sisi dominan Raka yang tidak pernah terlihat sebelumnya.
Raka mengecup pipi Pelangi, senyumnya terpatri tipis dan mengerikan. “Abang suka wajahmu yang ketakutan,” ucapnya di iringi tawa kecil. Sekali lagi, Raka kecup pipi Pelangi sedikit lebih lama. “Jangan pernah menunjukkan wajah ketakutanmu di hadapan orang lain, atau kamu akan tahu akibat setelahnya itu terjadi.”
Pelangi mendorong dada Raka agar menjauh, namun yang ia dapati adalah Raka yang semakin mendekatkan tubuhnya. Wajahnya di layangkan kecupan-kecupan seringan kapas, sesekali lehernya di cumbu halus oleh bibir Raka.
“Abang berhenti,” pinta Pelangi sungguh-sungguh. “Bow minta maaf, Bow nggak akan marah lagi. Berhenti, Bow mohon.” Tangisnya terdengar memohon, Raka sudah bertindak begitu jauh. “Arkh, abang!” pekik Pelangi saat Raka menggigit lehernya, ia syok mendapati perlakuan seperti ini. Tanpa sadar tangannya mencengkeram kemeja Raka.
“Menyesal, huh?”
__ADS_1
Pelangi mengangguk mantap. “Iya, Bow nyesal. Bow sayang Bang Raka, Bow akan lupain masalah itu. Tapi Bow mohon, berhenti, Bow takut,” pintanya tanpa pikir lagi. Yang saat ini Pelangi inginkan hanyalah pergi dari Raka, mengakhiri semua perbuatan abangnya dan mencoba melupakan kejadian ini. Pelangi tidak ingin Raka melalukan hal lebih padanya—mereka terikat sebuah darah dan Pelangi tidak pernah mengharapkan di sentuh seperti ini.
“Kamu sayang abang?”
“Iya! Sayang banget!” jawab Pelangi langsung.
Raka menampilkan smirk, hal terakhir yang dia lakukan adalah mengusap pipi Pelangi kemudian bangkit dari tubuh adiknya. “Bagus,” ucapnya puas. Selepas itu, tanpa mengatakan apa-apa lagi Raka berjalan menuju mejanya, tanpa memperbaiki kemejanya yang berantakan.
Pelangi menutup tubuhnya dengan jas Raka, bibirnya pucat bukan main. Tangisnya hanya mampu di tahan, dadanya dua kali lebih sesak. “Bow pulang,” pamitnya. Kaki Pelangi terasa lemas untuk berdiri, tadi benar-benar mengejutkan baginya. Rasanya wajah Raka masih ada di hadapannya, mencumbu permukaan wajahnya dan lehernya.
“Siapa yang menyuruhmu pulang?”
Langkah Pelangi terhenti, ia meneguk ludah susah payah. Ia bahkan tidak berniat memutar tubuh lagi. “Bow capek, bang. Bow juga lapar,” alibinya berharap segera keluar dari ruangan ini. Dan Pelangi akan pastikan, ini pertama dan terakhir kakinya menginjak perusahaan Raka.
“Kemari,” titah Raka masih dengan suara yang mengintimidasi dengan berat.
Tubuh Pelangi menegang, kakinya terasa semakin lemas. Namun, mau tidak mau Pelangi mendekat, walau jantungnya nyaris terjatuh saat mendapati tatapan Raka yang secara sengaja di tujukan padanya. “Ke-kenapa?” tanya Pelangi tanpa menghilangkah raut ketakutannya. Sungguh, ia ingin mengadu pada ayah dan bunda tentang perlakuan Raka barusan.
Raka menarik tangan Pelangi, mengangkat tubuh gadis itu duduk di meja hadapannya. Kedua lengan yang terekspos sebab lengan kemeja yang di singsing tersebut kembali mengurung tubuh Pelangi. Raka tersenyum—kali ini lebih berbeda.
Jika Raka tersenyum, maka berbeda dengan Pelangi yang malah semakin merasa tegang. Raka kembali membuat tubuhnya nyaris tak berdaya di bawah kuasa pria itu.
“Abang sangat menyayangimu, sampai semua orang pasti berpikir abang tidak normal. Beginilah abang, sayang, apa yang kamu lihat tadi adalah diri abang yang sebenarnya,” tutur Raka mulai melembut. Tangannya mengusap surai adiknya, menatapnya sayu dan bersalah. “Kamu mungkin ketakutan, atau bahkan sangat ketakutan. Tapi seperti itulah abang, abang tidak suka kamu marah-marah dan membentak seperti tadi,” lanjutnya.
Pelangi tidak memotong perkataan Raka, ah atau lebih tepatnya kehilangan kata-kata.
“Kamu tahu bahwa abang nggak suka kamu datang ke kantor, dan kamu malah datang dengan seragam SMA yang mengundang banyak perhatian. Abang nggak suka tubuhmu di pandang orang lain, sayang,” jelas Raka lagi dengan pandangan teduh dan khawatir. “Abang tahu kamu begitu marah karena menjadi bahan gosipan, tapi abang lebih marah jika kamu datang seperti tadi.”
Raka menarik nafas, tangannya merambat naik mengusap kedua pipi adiknya yang dingin. “Abang tidak bisa menjaga amarah abang sendiri, bahkan di hadapan kamu. Jadi abang mohon, jangan pernah melakukan hal yang sama,” pintanya sungguh-sungguh.
“Maaf,” cicit Pelangi sambil menunduk. “Bow cuman muak, Bow capek di tatap nggak suka karena selalu menjadi biang masalah. Bow juga nggak suka kalian di katain pembunuh, makanya Bow minta untuk nggak ikut campur lagi,” kelakar Pelangi mengeluarkan unek-uneknya dengan berani. Ia ingin Raka mendekar keluh kesahnya, walau pada akhirnya yang akan ia dapatkan adalah kemarahan Raka lagi.
“Sudah abang katakan kalau abang nggak akan bisa ngelepas kamu tanpa pengawasan. Kamu bisa terluka lagi, tidakkah kamu tahu cemasnya abang kamu terluka?”
“Bow tau,” jawab Pelangi langsung. “Tapi Bow capek di tatap muak sama mereka, ada aja berita yang buat mereka semakin benci sama Bow.”
“Siapa mereka?”
“Gada,” sahut Pelangi cepat membuat Raka tersenyum geli. Ia lantas cemberut, bibirnya manyun sebal. “Bow mohon, jangan ngambil tindakan yang parah. Jika abang kesal dan marah, abang nggak perlu sampai hajar mereka. Pelangi bisa atasi sendiri.” Entah bagaimana bisa Raka sendiri yang menghilangkan ketakutan yang melanda Pelangi.
“Itu nggak mungkin,” balas Raka tegas. “Kamu nggak mungkin bisa lakuin itu sendirian. Ini mutlak, Pelangi. Siapa saja yang nyakitin kamu, akan berurusan sama abang.”
Pelangi mendesah berat, sampai kapan pun hidupnya tidak akan pernah terbebas dari Raka. “Iya, deh, Bow ngikut aja,” pasrahnya tidak bisa menego lagi. “Bow mau pulang,” pintanya benar-benar ingin.
Raka menggeleng, dia lantas memeluk Pelangi dan menenggelamkan wajahnya di perut adiknya. “Kamu masih takut sama abang?” tanyanya.
“Iya. Bow takut abang lakuin hal yang sama.”
Raka semakin mengeratkan dekapannya, nafasnya terasa sulit untuk di tarik. “Maaf sudah membuat kamu ketakutan. Abang lepas kendali, tapi abang nggak nyesal sudah lakuin itu semua,” ucapnya dengan senyum miring.
“Tapi kenapa harus kayak tadi? Itu salah. Abang nggak boleh lakuin itu ke Bow,” sergah Pelangi berharap Raka sadar dengan perbuatannya. Itu lebih dari keterlaluan. “Semarah apa pun Bang Raka, abang tetap nggak boleh lakuin itu ke Bow,” ulangnya.
“Benar, itu salah,” timpal Raka dengan suara berat. Kedua tangannya saling bertaut di belakang tubuh Pelangi, mencengkeram begitu kuat kedua tangannya sendiri.“Kenapa bisa sejauh ini?” gumamnya bersama dengan tetes air mata yang membasahi pipi.
Raka menangis, namun hanya pria itu yang tahu alasannya.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1