Rapunzel & Obsesi Dua Pria

Rapunzel & Obsesi Dua Pria
18| Bali


__ADS_3

Ini bukan kali pertama Pelangi pergi ke Bali, ini juga bukan kali pertama Pelangi pergi hanya bersama abangnya. Namun Pelangi merasa enggan karena abangnya ke sini untuk pergi liburan, masalahnya Pelangi sedang banyak ulangan harian di sekolah.


Dua minggu bukan waktu yang singkat, itu sangat lama bagi Pelangi. Entah bagaimana bisa ayah dan bunda membolehkan Raka membawanya selama itu. Pelangi pun tidak kuasa menolak.


“Ya ampun akhirnya sampe juga. Deket doang padahal ya tapi capeknya kayak ngejar dia,” celetuk Saka sambil melempar kopernya ke sembarang arah dan berbaring di atas ranjang.


Saka memang ikut kemari, abangnya satu itu bahkan rela izin juga demi menemani Pelangi. Saka tahu, membiarkan Pelangi bersama Raka berduaan hanya akan membuat perempuan itu kaku. Sehingga dengan sikap ramah dan baik hatinya Saka, dia menemani Pelangi agar ada teman canda.


“Bukan kamarmu ini,” ujar Raka datar seperti biasa.


“Cari kamar lain sana, gue udah ngeship ama yang ini,” jawab Saka tak tahu-tahu.


Pelangi menghela nafas, padahal ia sedang malas pergi jauh seperti ini. Tubuhnya terduduk di sofa, memandang ke luar jendela di mana pantai seakan mengajaknya ke sana.


“Keluar, kamarmu di sebelah,” tegas Raka lagi.


“Nggak mau! Bow tidur di sini, kan? Gue juga harus tidur di sinilah!”


Pelangi membaringkan tubuhnya di atas sofa, mengeluarkan jam yang di berikan Aidan padanya. Sebenarnya, ini bukan jam tangan Pelangi, jam tangannya ada di dalam tas hari itu. Dan Pelangi rasa, itu hanya akal-akalan Aidan saja untuk mendekatinya.


Tanpa Pelangi sadari ia tersenyum. Aidan sudah membuat perasaannya terombang-ambing seperti ini. Cowok itu satu-satunya yang berani menampilkan wajah di hadapan Raka, bahkan memanggil namanya. Cowok itu berbeda.


“Saka. Ke kamarmu sekarang!” tegas Raka lebih serius, sorot matanya mengilat amarah.


“Apaan sih bang?! Gue duluan kok yang rebahan di sini!” tolak Saka enggan beranjak.


“Berisik banget sih kalian!” teriak Pelangi kesal.


“Apa katamu?” ulang Raka dingin.


Pelangi bangkit, memandang Raka dengan tatapan jengah. Ia sedang tidak mood, semua karena ulah abangnya satu itu. “Berisik Bow bilang! Kurang kedengaran?!” sentak Pelangi jengkel.

__ADS_1


Raka mendekatinya, namun Pelangi bangkit dan berjalan keluar sambil mengentak kaki. “Biar Bow yang tidur di samping! Awas kalau Bang Raka masuk!” setelah itu, Pelangi menutup rapat pintu kamar hotel. Perkataannya barusan hanya berlaku untuk Raka.


Dor dor!!


“Buka! Kamu kenapa sih?!” teriak Raka dari luar di iringi ketukan pintu yang keras.


“Bodo,” balas Pelangi acuh. Ia melepas jaket, menyisakan tanktop putih dan celana panjang. Pelangi merebahkan tubuhnya di atas kasur.


“Gue suka punya abang, tapi nggak suka kalau di giniin terus. Gue harus nurut terus sama dia, ke mana-mana ngikut aja. Sialan!!” maki Pelangi kelewat jengkel. Ia juga tidak punya banyak keberanian melawan Raka, abangnya itu terlalu dominan.


“Kapan gue punya pacar? Gue juga pengen dapat uwu-uwu dari cowok yang gue cintai,” tanya Pelangi hampa. Kadang, jika orang tidak mengenal Pelangi, mereka sering mengira ia adalah seorang pelacur yang mau saja di bawa ke mal oleh Raka. Semua orang memandangnya penuh cemooh hanya karena Pelangi jalan bersama abangnya yang paling tua.


Namun berbeda saat Pelangi jalan bersama Saka, semua orang terlihat iri dengan sikap manis dan menyebalkan dari cowok itu. Semua terasa baik-baik saja saat Saka ada bersamanya.


Pelangi menghela nafas, ia terlalu banyak berpikir. “Aidan, bawa gue pergi. Nikahin aja sekalian nggak papa kok, asal bisa jauh-jauh dari Bang Raka,” pinta Pelangi sungguh-sungguh.


Kadang Pelangi heran, Raka terlalu posesif padanya. Raka juga memperlakukannya berbeda, tatapannya pun tidak mampu Pelangi pahami. Setiap malam, Pelangi selalu mendengar pintu kamarnya terbuka, namun Pelangi tidak tahu siapa yang masuk.


Yang jelas, Raka berbeda seperti Saka. Mereka punya sikap yang berbeda saat memperlakukan Pelangi.


“Sh*t,” sungut Pelangi saat mendengar pintu kamar hotelnya terbuka. Buru-buru ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, bibir bawahnya ia gigit kuat-kuat.


“Kamu marah karena abang bawa ke sini?”


Pelangi tidak menjawab, karena ia sedang berakting tidur padahal hari sudah sore. Mata Pelangi bahkan tidak terpejam, rasanya deg-degan saat mendengar suara Raka yang berat. Raka punya akses di mana saja untuk melakukan hal yang dia mau.


“Abang cuman ingin liburan sama kamu. Pekerjaan di kantor buat abang stres, Bow,” kata Raka lagi.


Pelangi berdecih dalam hati, bisa-bisanya Raka membawa pekerjaan dalam aksi liburannya. Raka tidak pernah stres dalam pekerjaan, pria itu sangat mencintai bekerja. Hingga mustahil bahwa dia stres dan ingin liburan.


Raka menghela nafas singkat. “Katakan apa yang kamu inginkan.”

__ADS_1


“Keluar.”


“Tidak akan.”


“Pergi!” tegas Pelangi muak. Ia bangkit, menunjukkan wajahnya yang memerah di hadapan Raka. “Aku nyuruh abang keluar! Abang yang keluar atau aku yang keluar?!”


“Kamu?” tatapan Raka jatuh pada pakaian yang Pelangi kenakan, wajahnya mengeras detik itu juga.


“Apa?! Apa, ha?!” pekik Pelangi dengan mata berkaca-kaca. Ia benci berkelahi seperti ini, namun melawan Raka adalah keharusan yang Pelangi lakukan.


“Oke, gue yang pergi!” tugas Pelangi sambil beranjak dari tempatnya. Masa bodoh dengan raut Raka yang siap murka sebab sikap dan perkataannya.


“Ingin pergi dengan pakaian seperti itu, hm?”


“Iya! Kenapa memangnya?!” sahut Pelangi kian berani. Ia menurunkan tanktopnya, juga menurunkan satu tali tanktop tersebut ke samping. “Seperti ini lebih bagus!” kemudian, Pelangi keluar tanpa sempat Raka tahan.


“Bow! Lo gila?!” pekik Saka keras dengan wajah melotot saat melihat Pelangi di koridor. Dia mendekati Pelangi dan langsung melepas bajunya dan memakaikannya ke tubuh mungil adiknya. “Lo kenapa?” tanya Saka cemas.


Pelangi menangis, nyatanya ia ketakutan. “Bow pengen pulang,” isaknya pilu.


Saka menarik Pelangi masuk ke kamar awal, tak lupa menguncinya. Saka menarik tangan Pelangi untuk duduk di sofa, mengusap air matanya dan memandangnya sedih.


“Bang Raka yang bikin lo kayak gini?”


Pelangi mengangguk, Raka membuat tubuhnya gemetar hanya karena tatapan pria itu. “Bang Raka abangnya Bow, kan? Tapi kenapa Bang Raka berbeda memperlakukan Bow?” tanya Pelangi.


Saka terdiam, tangannya menggaruk kepala. “Gue juga bingung, tuh orang abang lo atau bukan. Kalau menurut gue sih, dia bukan abang gue,” jawab Saka acuh. “Gue nggak mau punya abang dominan kayak dia.”


Pelangi akhirnya tersenyum, perkataan Saka memang tidak lucu, namun cukup membuatnya terhibur. “Gue ke pantai boleh? Sendirian tapi,” pinta Pelangi.


“Boleh, asal jangan lama-lama. Udah senja,” pesan Saka halus.

__ADS_1


Yah, hanya Saka yang bisa membuat Pelangi senyaman ini. Pelangi hanya berharap selalu berada di sisi Saka, di manapun ia berada saat bersama Raka, Pelangi ingin Saka ikut bersama.


...🍁🍁🍁...


__ADS_2