Rapunzel & Obsesi Dua Pria

Rapunzel & Obsesi Dua Pria
12| TOUR,YEY!


__ADS_3

“Selamat pagi semua!” sapa Pelangi riang pada semua anggota keluarganya yang sudah berkumpul di meja makan.


“Selamat pagi juga, sayang,” jawab bunda di iringi yang lainnya.


Senyum Pelangi seindah pagi ini, wajahnya sangat antusias. Pelangi menaruh ranselnya di bawah kaki meja. “Hari ini Bow berangkat sama Bang Raka,” imbuh Pelangi memberi tahu.


Semalam, Pelangi tidak bisa tidur saking senangnya. Belum lagi abangnya tidak begitu mengerikan padanya, Raka sepertinya tersentuh dengan pencerahan Pelangi tadi malam. Sungguh, rasanya sangat bahagia mendapat izin dari Raka dan keluarganya untuk pergi tour bersama teman-temannya.


“Kayaknya cuaca mendung deh. Soalnya di sini ada yang bikin mentari insecure,” celetuk Saka tak tahu-tahu.


Pelangi tersenyum lebar, ia beranjak dan mencium pucuk kepala Saka. “Bow cantik ya? Makasih,” ucapnya dan kembali ke tempat duduknya.


“Bersenang-senanglah hari ini, sayang. Asal, jangan buat dua abangmu cemas. Mengerti?” kata ayah lembut dan melempar senyum hangat.


Pelangi mengangguk, ia sangat bahagia nyaris tak mampu mendeskripsikannya. Rasanya luar biasa, belum datang saja sudah membuat Pelangi segembira ini.


“Cepat habisin sarapanmu,” suruh Raka saat melihat adiknya senyum-senyum sendiri.


Setelah selesai makan, Pelangi bersiap-siap untuk pergi. Ayah dan bunda sudah berangkat duluan, tinggal Raka dan Saka saja lagi. Kini Pelangi berjalan bersisian dengan Saka, dia ikut mengantar Pelangi.


“Lo tau nggak? Tadi malam Bang Raka manis banget tau,” beritahu Pelangi berbisik.


“Serius? Setelah marah-marah sama gue dia bersikap manis sama lo? Gue rasa Bang Raka ada gangguan,” balik bisik Saka.


Pelangi mengangguk setuju. “Bang Raka anti banget kan tuh ya sama rooftop, tapi tadi malam dia mau Bow ajak ke sana. Terus nih ya bang, Bang Raka ketawa nyaring banget, bebas gitu,” ungkap Pelangi memberitahu semuanya pada Saka. Mulai dari semua perkataan awal Pelangi, sampai sikap manis abangnya yang jarang di tunjukan.


“Terus tuh ya bang, gue tidur sama Bang Raka. Lo tau aja kan kalau Bang Raka tu ngelarang keras masuk kamar dia. Eh gue di ajak, dong! Gila ya kamarnya aja kaya banget!” pekik Pelangi menggebu-gebu saat menceritakannya.


“Bang Raka kayaknya lagi kasmaran tuh, Bow, makanya goodmood banget. Gue aja ya seumur hidup nggak pernah masuk kamar dia woy!”


Pelangi beberapa kali berdecak, sungguh misterius abangnya satu itu. “Lo tau? Ada foto kita bertiga di kamar dia, paling besar. Gemes banget tau, gue umur tujuh tahun mungkin waktu itu,” jelas Pelangi lagi.


“Bang Raka benar-benar manis.” Saka geleng-geleng kepala, sangat tidak mengerti dengan pikiran Raka. “Lo kudu sering-sering tidur di kamar dia, Bow! Cari rahasia dia, jangan lupa bagi tau gue. Bakal seru nih,” saran Saka sambil menampilkan smirk.


“Setuju!” timpal Pelangi kemudian bertos ria dengan Saka. Menceritakan Raka memang menyenangkan, apa lagi orangnya tidak sedang di sini.

__ADS_1


“Ayo buruan bang ke mobil, entar aura dinginnya keluar kalau kita lama.” Pelangi menarik tangan Saka untuk segera ke mobil. Raka sudah menunggu di sana.


...🌈🌈🌈


...


Mobil Raka memasuki kawasan SMA Harapan, sudah ada banyak bus yang terparkir di halaman sekolah. Siswa-siswi terlihat sangat antusias, mereka membawa ransel yang tidak terlalu besar.


Pelangi turun dari mobil di susul Raka dan Saka. Semua pandangan mengarah pada mereka, terlebih saat Pelangi membawa ransel yang secara langsung menunjukkan bahwa Pelangi ikut.


“Ya ampun Bow deg-degan bang,” pekik Pelangi dengan kaki yang terasa lemas. Apa lagi saat melihat bus di sana, rasanya benar-benar senang.


“Kapan kamu berangkat?” tanya Raka.


“Jam sembilan kayaknya,” jawab Pelangi sembari menatap kedua kakaknya. “Kalau kalian mau pulang, pulang aja. Bow nggak papa kok,” ucapnya sambil tersenyum.


“Mana bisa gue pulang duluan sedangkan lo belum berangkat,” seloroh Saka.


“Abang tungguin sampai kamu berangkat.”


“Rasanya ya kayak naik mobil lah,” jawab Saka.


Pelangi berdecak sembari memandang jengah Saka. Abangnya satu itu memang perusak suasana yang menyenangkan. Melihat banyak siswa-siswi yang mulai berkerumun membuat Pelangi mengernyitkan keningnya.


“Kayaknya absen dulu deh bang. Supaya tau siapa yang ikut,” kata Pelangi.


Raka menggenggam tangan Pelangi dan membawanya ke sana. “Ayo abang temani.”


Saka mengintili dari belakang, ada banyak yang menyapanya karena memang ia lulusan SMA Harapan. Kebanyakan perempuan, namun Saka tidak merespons kecuali yang menyapa laki-laki.


Pelangi meneguk ludah saat menyadari bahwa Aidan yang memegang buku absensi. Seharusnya di berikan ke ketua kelas, tapi sepertinya Aidan yang memang memegang absensi XI IPS-II. Entah ke mana Dafa sehingga Aidan yang mengabsen kelasnya.


“Gue Pelangi Anindira,” ucap Pelangi langsung saat tubuhnya berdiri di paling depan. Tanpa perlu basa-basi atau bahkan menyebutkan nama cowok itu, Pelangi hanya ingin semuanya berjalan dengan semestinya dan tidak membuat kakaknya terganggu.


“Oke,” balas Aidan dengan senyum tipis.

__ADS_1


“Ayo bang ke sana, Bow mau liat busnya dari dekat,” ajak Pelangi buru-buru. Melihat tatapan Raka yang tajam saja sudah membuat bulu kuduk Pelangi berdiri, jangan sampai abangnya itu menyadari senyum tersirat dari Aidan.


“Dia yang menjabat jadi Ketos lo, Bow?” tanya Saka setelah Pelangi menariknya untuk menjauh, pandangannya masih sesekali menatap ke belakang, di mana cowok itu sibuk mengabsen nama-nama.


“Iya, anak IPS.”


“Kamu tahu?” kali ini Raka yang bertanya. Nada suaranya terdengar biasa, namun situasi saat ini membuat Pelangi merinding.


“Masa Bow nggak tau sama Ketos Bow sendiri? Di lengan bajunya juga ada lambang kelas dia,” sahut Pelangi tanpa gugup. Harus seperti ini agar tidak mengundang kecurigaan kakaknya. Pelangi mengibaskan tangannya di udara. “Bow nggak kenal banget sama dia, udahlah jangan ganggu mood Bow deh abang-abang.” Pelangi memandang berbinar bus di hadapannya, sebentar lagi ia akan menaiki ini ramai-ramai.


Setelah merasa tidak ada yang datang lagi, guru-guru mulai berpencar untuk mengurus anak murid mereka. Pemberitahuan dari Aidan menyuruh semuanya segera masuk ke dalam bus.


“Bow pergi ya? Jangan awasin Bow ya, Bang Raka? Cuman tiga hari kok,” pinta Pelangi dengan wajah memelas. “Setelah tiga hari ini, Bow akan berdiam di rumah aja. Tapi selama tiga hari itu juga kalian jangan awasin Bow ya?”


“Iya-iya, jangan macam-macam lo di sana. Jangan karena dibiarkan bebas lo malah deket-deket sama anak cowok. Kalau ketahuan sama gue, elo yang gue kurung dalam lemari,” omel Saka panjang lebar.


“Iya Bang Saka, Bow udah janji kok sama Bang Raka kalau nggak akan deket-deket sama cowok. Bow janji juga sama Bang Saka.”


“Jangan sampai hilang lo!” sentak Saka sebelum melayangkan kecupan di kening Pelangi.


Raka mengusap pucuk kepala Palangi dengan lembut, kemudian turun ke pipinya yang halus. “Hati-hati di sana, jangan sampai terluka. Ingat, kabari abang setiap saat,” pesan Raka terlalu cemas.


“Siyap abang! Pokoknya Bow nggak akan buat kalian cemas.” Pelangi mengepalkan tangannya dan tersenyum lebar.


Raka mencium seluruh permukaan wajah Pelangi tanpa segan, kemudian tersenyum tipis dan membiarkan adiknya mulai masuk ke dalam bus. Pelangi melambai saat dia duduk di dekat jendela, terlihat sangat bahagia keinginannya tercapai.


“Ayo bang kita pulang, gue ada kuliah jam sembilan,” ajak Saka segera.


Sekali lagi Raka tatap Pelangi yang sangat bahagia di dalam sana, bus belum berangkat namun sepertinya Raka yang harus duluan pergi. Raka menghela nafas sebelum mengambil langkah lebar kembali ke mobil.


Hanya kali ini Raka membiarkan Pelangi pergi jauh, untuk yang kedua kalinya tidak akan pernah Raka izinkan lagi.


...🍁🍁🍁


...

__ADS_1


__ADS_2