
Malam semakin larut, namun Pelangi tidak sama sekali membuka matanya sedari sore. Selang infus melekat di tangan kirinya, tubuhnya terbaring lemah di atas tempat tidur kesayangannya.
Lebam di pipinya sudah di obati, sudut bibirnya yang robek juga sudah di obati. Tubuh pucat Pelangi membuat semua orang cemas, padahal infus lumayan cukup mengganti cairan yang hilang beberapa jam yang lalu.
“Yah, kapan Pelangi sadar? Ini sudah jam sebelas, dia belum makan atau minum,” ucap bunda cemas.
“Pelangi kita sedang lelah, Bun, dia ingin tidur katanya,” sahut ayah tenang. Padahal, pria ini yang paling cemas dan menutupinya dengan wajah tenang.
“Tapi sampai kapan? Kita bawa ke rumah sakit aja, ya? Bunda takut kenapa-napa sama Pelangi.”
“Bunda, Bow nggak kenapa-napa. Jangan seperti ini, Bunda buat Saka jadi khawatir lagi,” ucap Saka sambil memeluk ibunya dari samping. Bunda sangat cemas, sedari tadi tidak berhenti menangis.
“Bunda duduk, yah?” ajak ayah.
Raka tidak sama sekali berbicara, pria itu hanya berdiri di sisi ranjang Pelangi dan memandangnya tanpa henti. Tidak ada yang beranjak dari kamar ini setelah kedatangan Pelangi, semua orang menunggunya bangun dari tidur panjangnya.
Penantian mereka ternyata tidak begitu lama. Pelangi menggeliat, kedua katanya yang bengkak mulai terbuka. Pelangi meringis, tubuhnya terasa sangat sakit.
“Sayang, dengar suara Bunda, Nak?” bunda mengusap-ngusap pucuk kepala Pelangi, beliau tersenyum hangat. “Sudah enakan?” tanya bunda lembut.
Pelangi mengubah posisinya menjadi duduk, ia memandang satu persatu anggota keluarganya. Kehadiran mereka saat ini cukup membuat Pelangi merasa baikan dan sehat.
“Minum dulu.” Saka menyodorkan air putih ke Pelangi.
“Bow bikin kalian cemas, ya?” tanya Pelangi langsung. Ia menunduk, sangat merasa bersalah karena tidak pulang dan malah membuat situasi semakin pelik. “Bow minta maaf udah buat kalian semua cemas. Seharusnya Pelangi nggak sembunyi,” akunya menyesal.
“Kami cemas padamu, tapi kamu tidak salah, sayang. Hei, jangan menundukkan kepala, anak Bunda nggak pernah seperti ini,” bujuk bunda sambil tertawa ringan. Beliau kemudian memeluk Pelangi dan mengusap punggung putrinya penuh sayang.
“Jangan selalu membuat kedua abangmu cemas, sayang,” kata ayah dengan senyum tipis.
Pelangi menatap Raka dan Saka, ia menyesal sudah membuat mereka secemas tadi. “Maafin Bow ya, abang? Jangan benci Bow karena bikin kalian cemas.” Bibir pelangi menurun ke bawah.
“Berbaikanlah, ungkapkan semuanya pada abang-abangmu,” pesan ayah sebelum membawa bunda keluar, memberi waktu untuk anak-anaknya menyelesaikan masalah.
Pelangi menundukkan kepalanya, menyentuh selang infus tidak berani menatap dua kakaknya. Mereka juga tidak ada yang bersuara, biasanya Saka akan selalu bertingkah menyebalkan.
Pelangi mendengar helaan nafas, ia mendongak menatap Raka yang kini mendudukkan tubuh di sampingnya.
__ADS_1
“Sakit?” tanya Raka hanya sekedar basa-basi.
Pelangi langsung mengangguk, ia menuntun tangan Raka dan Saka untuk menyentuh lebamnya. “Em, sakit. Sakit sekali. Rasanya, Bow nggak sanggup hidup lagi.”
“Jangan mati dulu, gue belum liat lo nikah,” celetuk Saka sambil memalingkan wajah.
Pelangi tersenyum haru, nyatanya semuanya baik-baik saja setelah mereka berada di sini. “Bang Saka, maafin Bow ya? Bow bikin Bang Saka jadi pendiam, ya? Bow minta maaf.”
Saka menggeleng pelan, pandangannya mulai meredup dan berair. “Lo bikin gue mau mati bunuh diri, Cil. Kenapa sih, lo demen banget hilang?” omelnya sebal.
“Peluk.” Pelangi rentangkan tangannya ke arah Saka, ia ingin sekali di dekap dengan abang pencicilan ini.
“Jangan bikin gue suka di marahin, Bow. Jangan kayak bocil yang ilang mulu. Sumpah ya, kalau lo ilang gue semakin percaya kalau bumi itu bulat!” celoteh Saka menggebu-gebu.
Pelangi tertawa, ia mengangguk beberapa kali. “Siap, Komandan! Bocil satu ini nggak akan ilang lagi, janji!” ia aculkan kelingkingnya, dan Saka menerimanya. “Emmm, Bang Saka bisa tinggalin Pelangi berdua sama Bang Raka? Nanti Bow ceritain deh ke abang,” pinta Pelangi.
Saka tidak menolak dan mencari alasan untuk tetap di sini. Ia mengangguk, mencium satu pipi Pelangi yang tidak terluka dan kening gadis itu. “Jangan nangis lagi kalau udah cerita sama Bang Raka. Mata lo bengkak banget, Bow.”
“Siyap, bosku!”
Setelah kepergian Saka, Pelangi langsung memandang Raka dalam-dalam. Bibirnya turun ke bawah siap untuk menangis di hadapan abangnya. Raka tidak berbicara, sehingga membuat Pelangi semakin cemas dan merasa bersalah.
Raka menghela nafas untuk ke sekian kalinya. Baju yang di kenakannya masih sama, ia belum ada mandi karena tidak bisa meninggalkan Pelangi dalam kondisi terlelap. Raka mengambil tangan Pelangi yang di infus.
“Abang mau ini yang terakhir kalinya kamu di infus,” ucap Raka setelah lama terdiam. Jarinya mengusap-ngusap punggung tangan pelangi, melihat adiknya di suntik saja sudah membuat Raka hendak mengurung Pelangi agar tidak pernah terluka.
“Bow nggak bisa janji,” cicit Pelangi.
Raka mengecup beberapa kali tangan Pelangi, rautnya sedih dan lirih. “Makan, ya? Kamu cuman makan siang aja kan?”
“Bow nggak lapar.”
“Lalu ingin apa?” Raka merapatkan tubuhnya dengan Pelangi, mengusap surai adiknya yang paling manja ini. “Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan,” ucapnya bagai mengerti kegelisahan adiknya.
Pelangi menggeleng, kebohongan Raka sudah tidak berpengaruh lagi di hatinya. Toh, Pelangi juga berbohong pada kedua abangnya, mereka bahkan sangat percaya padanya. Dan itu membuat Pelangi merasa bersalah karena akhirnya kebohongannya terbongkar.
“Maaf udah bohong sama abang,” ucap Pelangi sungguh-sungguh. “Bang Raka cemas banget ya sama Bow?” tanyanya dengan raut manja. Pelangi hanya ingin mendapatkan kehangatan, namun Raka tidak sama sekali menunjukkan sisi hangatnya.
__ADS_1
Raka hanya menatapnya tanpa ada niatan menjawab pertanyaan adiknya.
“Bang Raka kenapa diam aja? Bow salah banget ya?” tanya Pelangi dengan sedih. Raka masih enggan bersuara, hanya mengelus punggung tangannya lembut. “Bow mau tidur aja lagi. Bang Raka nggak ada ngomong, Bow kayak ngomong sama kulkas!” omelnya cemberut. Pelangi membaringkan tubuhnya membelakangi Raka.
“Berhenti meminta maaf.”
Pelangi menutup matanya, tidak ingin kembali bangkit dan mendengarkan suara abangnya. Pelangi rasa, menyentuh titik perasaan Raka terlampau sulit untuk dilakukan. Raka bukan seperti Saka yang mengeluarkan unek-uneknya dengan sangat gamblang. Raka hanya menyimpannya dan mengatakan satu atau dua patah kata mengenai perasaannya.
“Siapa lelaki itu?” tanya Raka dengan nada serius.
“Bukan orang yang Bow kenal,” jawab Pelangi langsung. Padahal itu yang ingin Pelangi adukan, ia ingin mengatakan bagaimana cara Gara memperlakukannya. Pelangi tahu Raka ingin mendengar penjelasannya secara langsung.
“Bow nggak ingin bahas apa-apa, Bang. Bow mau tidur aja, besok Bow harus sekolah,” alihnya dan segera menutup mata kembali.
“Bersekolah?”
Pelangi akhirnya bangkit, ia tidak bisa mengobrol tanpa menatap lawan bicaranya. Pelangi mengangguk mantap. “Jika Bow nggak berangkat, Bow bakal di cap lemah,” ungkapnya sambil mendongak menatap iris mata kakaknya.
“Siapa yang berani mandang kamu lemah?” nada suara Raka berubah menjadi datar.
“Semua orang juga bakal nganggap gitu. Bow cuman di tonjok, bahkan Bow udah bersikap cool waktu itu. Bow akan di cap lemah jika nggak datang ke sekolah.”
“Persetanan dengan omongan mereka!” umpat Raka keras hingga membuat Pelangi tersentak kaget. Mata itu membulat, adiknya terkejut dengan makiannya. “Besok atau bahkan satu minggu yang akan datang, kamu hanya boleh di rumah,” tekannya mutlak.
“Satu minggu?! Bang Raka nggak usah bercanda. Bow nggak mungkin nggak turun selama itu!” tukas Pelangi tidak terima. Enak saja, ada banyak ulangan harian yang menantinya di hari ke depan. “Bow nggak sakit separah itu abang. Bow bukan di tembak atau di tusuk-tusuk,” rengeknya meminta pengurangan bari libur.
“Dan jika kamu sampai di tembak atau bahkan di tusuk, siap-siap homescooling!,” tegas Raka tanpa bantahan. Melihat Pelangi tercengang membuat Raka menyentil kening itu geram dan gemas. “Tidur, sudah tengah malam,” perintahnya dengan nada yang sedikit melembut.
Pelangi mendesah dalam hati, ia akan menjadi orang asing jika masuk ke sekolah nanti. Satu minggu itu lama, Pelangi bahkan sudah mulai bisa bergaul dengan teman sebayanya. Namun Raka kembali mengurungnya di rumah, Pelangi hanya akan berteman dengan Raka dan Saka saja.
“Menyebalkan!” omelnya kembali merebahkan diri. Kali ini, Pelangi tutup seluruh tubuhnya dengan selimut. “Abang keluar, Bow bisa tidur sendiri,” usirnya jengkel.
“Tidur saja mengomel kamu.”
“Ck!” decak Pelangi kecil, ia memutar bola mata dan mencibir tanpa suara.
Raka geleng-geleng kepala, tahu betul bahwa adiknya tengah mengejeknya di sana. Namun, teringat dengan luka di pipi Pelangi, kembali membuat Raka mengepalkan tangannya penuh dendam. “Dia bermain dengan orang yang salah,” gumamnya penuh intimidasi.
__ADS_1
...🍁🍁🍁
...