
Ternyata malam ini Raka kembali ke Indonesia, mungkin akan sampai sekitar pukul sebelas malam. Raka mengabari sore tadi ke Pelangi bahwa dia akan pulang, bukan malah senang, Pelangi malah merasa kesal.
Baru sehari Pelangi kembali ke sekolah, dan Raka bahkan langsung pulang. Pelangi ingin melakukan banyak hal lagi, ia ingin menikmati bermain bebas bersama teman-temannya.
Pelangi menghela nafas, mengubah posisinya menjadi duduk dan memandang Saka yang sedang bermain game di komputer. “Bang Saka, kira-kira kalau Bow dekat sama cowok, kalian bolehin nggak?” tanyanya. Ia hanya berani bertanya pada Saka, mana berani Pelangi menanyakan hal ini pada Raka.
Saka langsung menghentikan permainannya, membalas tatapan Pelangi secara penuh. “Kenapa nanya gitu? Lo mau coba pacaran?” tuding Saka sarkas.
“Iya, ada cowok yang Bow taksir di sekolah,” jawab Pelangi langsung. Ia bangkit dari duduknya, kesal dengan pertanyaan balik abangnya. “Bow balik ke kamar, ada banyak kerjaan.” Pelangi memasang wajah dongkol, nyatanya sama saja menanyakan hal itu pada Saka.
Saka berdiri dan menahan tangan Pelangi. “Siapa yang lo taksir? Nggak usah mengada-ngada lo, Bow!” sentak Saka dengan raut tak suka.
“Bukan urusan Bang Saka. Gue bukan boneka yang nggak ada perasaan. Jadi terserah gue mau suka siapa dan pacaran sama siapa saja,” balik sarkas Pelangi. Ia langsung mengempaskan cekalan Saka, kemudian melangkah pergi ke luar.
“Menyebalkan! Gue bukan anak kecil yang di kekang mulu! Jangankan pacaran, ketahuan suka cowok lain aja gempar nih rumah! Anying!” sungut Pelangi tanpa segan. Masa bodoh, ia tidak peduli bahwa ada yang mendengarkan mengumpat.
Pelangi sedang kesal karena Raka kembali, ia sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran abangnya dan kekangan Raka yang mengerikan. Sehingga saat Raka kembali, Pelangi merasa hidupnya akan kembali monoton.
Mungkin saat itu Pelangi merasa enggan di tinggal Raka, namun nyatanya kepergian kakaknya lumayan membuat Pelangi senang. Tidak ada banyak aturan, Pelangi bebas melakukan apa saja di rumah tanpa takut Raka marah dan melarangnya.
Semuanya terasa tenteram saat Raka tidak ada.
Ting!
Suara notif ponsel Pelangi menyadarkannya dari lamunan singkat yang ia buat. Pelangi mendekati meja belajar untuk mengambil hpnya. Nomor tidak di kenal muncul di room chat hpnya.
+62825976×××××
Cuman mau ngabarin kalau gue baik-baik aja. Nggak ada goresan di tubuh gue dari abang lo.
Hmm, sekalian juga mau bilang, good night Rainbow❤️
Entah sadar atau tidak, Pelangi menghela nafas lega. Senyumnya perlahan terbit, tentu saja ia tahu siapa pengirimnya. Cowok itu benar-benar nekat, dan sayangnya hal itu membuat Pelangi sedikit senang. Jantungnya bahkan bergetar saat melihat emoticon tersebut. Terasa asing bagi Pelangi.
“Bagus deh, ketua OSIS nggak boleh sampai nggak masuk,” kekeh Pelangi. Tanpa menambahkan kontak Aidan, Pelangi langsung menghapus tanpa membalas pesannya.
Aidan memang sangat nekat, pesan yang di kirimnya untuk pertama kali membuat Pelangi merasa asing namun juga merasa senang. Cowok itu sepertinya akan selalu seperti ini, dan Pelangi berharap kedua abangnya tidak mengetahuinya.
__ADS_1
“Kayaknya, gue banar-benar naksir cowok di sekolah gue,” gumam Pelangi dengan senyum malu-malu.
...🌈🌈🌈
...
“Bow turun ya, Bang?” kata Pelangi setelah mobil Raka sampai di depan sekolahnya. Pelangi menggapai tangan Raka untuk menyaliminya.
Raka menahan tangan Pelangi saat gadis itu hendak menarik dari genggamannya. “Kamu kelihatan lebih ceria,” ucap Raka dengan pandangan penuh arti.
“Karena abang kembali,” sahut Pelangi segera.
“Kamu ada dekat sama seseorang di sekolah?”
“Iya. Namanya Chika sama Dira,” jawab Pelangi tanpa ragu dan panik. Pelangi tahu betul gelagat Raka, maka dari itu Pelangi sudah menyiapkan semua jawabannya.
“Hanya itu?”
Pelangi mengangguk dan tersenyum, walau kini jantungnya nyaris copot sebab pertanyaan Raka satu ini. Sampai kapan pun, Pelangi tidak akan biarkan abang-abangnya tahu bahwa ia di dekati oleh Aidan.
Raka mengangguk, kemudian tersenyum saat Pelangi mencium pipinya. “Pulang nanti abang nggak bisa jemput, kamu jangan pulang sendirian dan tunggu Saka datang,” pesan Raka panjang.
“Iya abang, Bow ingetin tuh kalimat Bang Raka,” kekeh Pelangi singkat. Kemudian, ia turun dari mobil Raka dan melambai sebelum melangkah masuk.
Pelangi tahu Raka belum sama sekali beranjak, maka sebaik mungkin Pelangi bersikap seperti biasa di sekolah. Supaya Raka tidak mencurigainya dan mencari tahu lebih dalam tentang kehidupannya di sekolah.
Sampai di koridor menuju lantai atas, Pelangi akhirnya bernafas lega dan menarik nafas panjang-panjang.
“Hai, Pelangi,” sapa Dira.
Pelangi tersenyum, ia tidak lagi bersikap acuh. “Hai,” balasnya ringan.
“Lo tau nggak kalau besok sampai Sabtu sekolah kita ngadain tour ke puncak. Semua angkatan ikut, cuman kalau yang mau aja sih,” jelas Dira.
“Oh ya?” kaget Pelangi. Tour di adakan satu tahun sekali, dan kemarin waktu Pelangi kelas X ia tidak di perbolehkan ikut. Padahal waktu itu Saka masih bersekolah di SMA Harapan kelas XII. Sayang sekali jika Pelangi tidak ikut tahun ini.
“Lo ikut, Ngi?”
__ADS_1
“Nggak tau, Dir.”
“Ikut aja yuk? Chika juga ikut, lo pasti di izinin kan tahun ini?”
Pelangi menghela nafas, ia pun tidak tahu akan di izinkan atau tidak. Hari itu tidak hanya Raka yang melarangnya ikut tour, tapi ayah dan bunda juga. Kata mereka umur Pelangi masih terlalu muda untuk ikut agenda semacam itu.
“Liat nanti ya, Dir,” jawab Pelangi.
...🌈🌈🌈
...
Pulang sekolah Pelangi di jemput Saka, kakaknya itu sudah menunggu sebelum kelas bubar. Saka berdiri di sisi badan mobilnya, cowok itu mengenakan kacamata hitam dengan tubuh bersandar pada badan mobil.
“Bang Saka!” teriak Pelangi sambil melambai. Ia berlari mendekati Saka, sudah terbiasa dengan pandangan siswi-siswi yang menatap kagum abangnya. “Cih! Nggak usah kecakepan jadi orang!” cibir Pelangi sambil menarik kacamata hitam Saka dan memakainya.
“Gue emang cakep asal lo tau!” Saka menyentil kening Pelangi. “Lo liat tuh semua cewek liatin gue, nggak heran sih orang gue cakep banget. Nggak ada yang nandingi!” ujarnya penuh percaya diri.
Pelangi memutar bola mata, acuh saja dengan sikap abangnya. Tanpa melepas kacamata hitam yang ia kenakan, Pelangi mulai membuka pintu mobil namun Saka malah menahannya.
“Apaan?” tanya Pelangi.
“Mana cowok yang lo taksir? Ngaku sama abang, nggak usah tipu-tipu lo, Bow!”
Pelangi menepuk pundak Saka keras, ia mendengkus jengah. “Cari sendiri sampai mata lo buta!” sahut Pelangi acuh.
“Gue serius, Bow. Mana cowok yang lo suka?” tanya Saka benar-benar serius.
“Gue cuman bercanda tadi malam. Lo sih, di tanya baik-baik malah sinis. Nyebelin!” sahut Pelangi kesal. Ia kemudian masuk ke dalam mobil dengan cepat, malas sekali meladeni abangnya satu itu.
Saka menyusul masuk, wajahnya ikut kesal. Saka menarik kacamata yang Pelangi kenakan, kemudian menjepit hidung gadis itu geram. “Pertanyaan lo nggak berpaedah!” ucapnya.
Pelangi meringis, ia tidak menanggapi omongan Saka hingga mobil mulai melesat. “Ke kantor ayah ya, Bang? Gue mau minta duit,” ajak Pelangi.
Saka memberikan jempolnya sebagai sahutan.
🍁🍁🍁
__ADS_1