
“Kak Jingga,” panggil Aidan sesaat sebelum ia turun dari mobil milik kakaknya.
“Apa?”
Aidan jadi ragu mengatakannya, namun ia ingin bercerita demi mengurangi beban di pundak. “Gue suka cewek,” ungkapnya pelan. Ini kali pertama ia memberitahu Jingga.
“Sudah tau.” Jingga terkekeh ringan. Melihat Aidan melotot, membuat Jingga menepuk pundak adiknya beberapa kali. “Aku dengar semua yang kamu katakan semalam, semuanya, tentang perasaan kamu ke Pelangi.”
Mata Aidan hanya mampu membelak.
“Terus, apa masalahnya? Kalian jadian? Atau cuman teman?” Jingga lagi-lagi tertawa.
“Cuman teman,” jawab Aidan langsung rada tidak terima. Kemudian setelahnya, ia berdecak masih tidak menyangka. “Lo benar-benar dengar semua omonganku, Kak?” Aidan jadi sangsi bahwa Jingga menatapnya kasihan.
“Kalau suara hati kamu enggak.” Jingga menggeleng enteng.
“Ck! Gue serius.”
“Aku lebih serius,” tukas Jingga langsung. “Aku dengar semua yang kamu katakan tadi malam, semua perasaan dan luka yang kamu alami.”
Aidan benar-benar tidak bisa berkata lagi. Tidak salah lagi, Jingga benar-benar tahu tentang keresahan yang melanda hati selama ini. Aidan merasa malu sekaligus khawatir, takut kakaknya ikut sedih dan malah menambah beban perempuan itu. Apalagi Aidan ada mengatakan untuk membiarkan Jingga bahagia, dia pasti merasa terbebani mendengar keluh kesah Aidan tadi malam.
“Aidan, kamu adalah adikku, kamu satu-satunya keluargaku. Membahagiakan kamu adalah tanggung jawabku, dan janji itu akan tetap aku lakukan sampai kamu benar-benar bahagia,” tutur Jingga halus dan penuh pengertian. “Aku bahagia, aku bahagia melihat kamu bahagia,” lanjutnya sungguh-sungguh.
Seperti dugaan Aidan. Jingga memang mengatakan bahwa dia bahagia, tapi Aidan tahu Jingga merasa sedih selama ini.
“Tapi, Kak,” Aidan menatap sedih wajah kakaknya.
__ADS_1
“Mama dan Papa menitipkan kamu padaku, permintaan mereka cuman singkat, mereka ingin kamu bahagia. Dan aku di sini akan buat kamu bahagia terus, jadi jangan berpikir bahwa diri kamu adalah beban untukku,” sambung Jingga kemudian. Sorot matanya yang teduh menatap netra adiknya, ia sangat sayang anak ini.
“Dan untuk menggapai Pelangi, aku akan bantu. Sampai kamu benar-benar dapat, sampai dia jadi milik kamu seutuhnya,” tegas Jingga sungguh-sungguh. “Tapi untuk saat ini, kamu hanya perlu menjaga jarak, biarkan situasi membaik terlebih dahulu.”
Sama seperti yang di katakan Jordan. Aidan bergumam dalam hati. Sepertinya ia memang harus menahan segala bentuk perasaan di dalam hatinya saat ini, hanya agar langkahnya semakin mudah nantinya. Aidan menarik nafas, senyumnya terukir tipis.
“Kak Jingga kenal Pelangi?” tanya Aidan. Ia baru menyadari bahwa perkataan Jingga seakan tahu betul siapa Pelangi, dan bagaimana dua penjaga gadis itu.
“Tentu saja, dia perempuan yang manis,” bisik Jingga menggoda adiknya.
Aidan mengangguk menyetujui. “Dia memang manis, sangat manis.” Kadang, saking terlalu manisnya tingkah gadis itu, Aidan pernah berpikir membawa Pelangi lari dan menikahinya di planet lain.
Jingga bersandar pada jok mobil, tangannya bersedekap memandang keluar di mana orang berlalu lalang memasuki apartemen. “Bagaimana bisa kamu jatuh cinta dengan Pelangi?” tanya Jingga penasaran.
“Hah?” mata Aidan mengerjap, kaget kakaknya malah menanyakan hal itu. Aidan meringis dan tertawa kaku, ia malu mengatakannya.
Aidan berdecih, namun ia tidak bisa menampik bahwa setelah mengenal Pelangi ia jauh dari kepribadiannya sendiri. “Yah begitulah,” ungkapnya dengan pandangan menerawang. Perlahan, senyumnya terbit begitu tipis dan tulus.
“Ka-kamu nggak papa?” suara perempuan terdengar di indra pendengaran Aidan di saat senyap melanda. Di mana tangisnya membasahi pipi, bibirnya yang bergetar penuh tangis yang menyakitkan.
“Jangan nangis, nanti orang tua kamu bakal sedih,” tutur gadis itu mulai berani berjongkok di samping Aidan. Rambutnya yang di ikat satu, mata hitam bersinar, dan senyum tipis menenangkan, benar-benar cukup menghipnotis Aidan sehingga tangisnya perlahan mereda.
“Kata Bundaku, kalau ada orang yang meninggal, kita nggak boleh menangis. Soalnya, kita seakan mempersulit mereka untuk pergi.”
Tangis Aidan terhenti, pandangannya terkunci pada gadis cantik di hadapannya ini. Hatinya perlahan merasa tenang, kakaknya yang berada di samping tidak sama sekali bersuara.
“Ini, elap air mata kamu.” Gadis itu memberi selembar tisu dari dalam tasnya, senyum gadis itu menenangkan hati Aidan.
__ADS_1
Aidan menerimanya, menggunakannya kemudian menggenggam tisu itu di tangannya. Tampaknya gadis ini mengenal kedua orang tuanya, sehingga dia berada di pemakaman. Tampaknya juga, mereka seumuran.
“Hemm, aku pergi dulu ya? Abang aku pasti marah nanti,” kata gadis itu sembari berdiri. Namun, secepat kilat Aidan menahan tangannya, menyorot netranya dalam-dalam. Gadis itu mengangkat alis.
“Nama kamu?”
Gadis itu tersenyum, senyum yang menawan dan hangat. “Pelangi. Namaku Pelangi.”
“Dan semenjak hari itu, aku jatuh cinta sama dia,” tutup Aidan di akhir ceritanya. Ia masih sangat mengingat kejadian tersebut, di hari kematian kedua orang tuanya. “Tapi, semenjak hari itu juga kami nggak pernah ketemu lagi.” Yah, itu pertemuan pertama dan terakhir mereka di masa kanak-kanak.
Jingga tersenyum, senyum penuh arti. “Jadi, kelas enam SD kamu mulai mencintainya?”
“Ya, sampai sekarang.” Bahkan untuk berpindah selain hati saja Aidan tidak bisa. Hatinya sudah terarah pada gadis yang terlihat gugup itu, gadis yang memberinya tisu di hari paling menyedihkan untuk Aidan. Gadis itu bak malaikat yang menenangkan Aidan, karena ucapan Pelangi kecil saat itu Aidan mampu bertahan hingga sekarang atas meninggalnya orang tuanya, semua karena Pelangi.
“Ah, kalian benar-benar jodoh.” Jingga terpukau, sangat-sangat tidak menyangka bahwa tanpa ia melangkah adiknya sudah menemukannya. Benar-benar takdir yang indah.
“Aku rasa dia nggak ingat, soalnya kita nggak pernah ketemu lagi setelah hari itu,” ujar Aidan. “Tapi, aku bertemu dengannya kembali di depan gerbang, gadis yang sama, netranya yang aku ingat di luar kepala.” Aidan pikir, mereka tidak akan pernah bertemu lagi, namun ternyata Tuhan sepertinya memang menciptakan mereka bagai Adam dan Hawa.
Jingga menepuk pundak Aidan menyemangati. “Gapai dia sampai dapat, jangan sampai kecolongan,” titahnya.
Aidan mengangguk keras, apapun akan ia lakukan agar gadis itu menjadi miliknya. “Ah, aku nggak pernah tau apa janji yang kamu katakan pada Mama dan Papa. Yang aku tau, kamu cuman mau aku bahagia sampai rela melakukan apa saja,” kata Aidan. Ia teringat akan hal itu, sebuah janji yang tidak Aidan ketahui apa isinya.
“Tentang janjiku?” balik tanya Jingga dengan raut pura-pura berpikir.
“Ya. Aku dengar kamu berjanji di ruangan Papa Mama sebelum mereka meninggal.”
Jingga menyunggingkan senyum miring penuh arti, wajahnya mendekat kemudian berbisik, “Menyatukan kamu dengan Pelangi.”
__ADS_1
...***...