
Aidan berjalan gontai menuju lantai apartemennya berada. Hari sudah malam, dan Aidan baru saja pulang setelah bekerja paruh waktu di salah satu bar di Jakarta. Tanpa pekerjaan itu, mungkin saja Aidan tidak bisa hidup.
Besok ia harus kembali lagi ke sekolah, melakukan kegiatan seperti biasa dan melakoni perannya sebagai ketua OSIS SMA Harapan. Semua terasa sibuk bagi Aidan, dan tampaknya itu jauh lebih menyenangkan.
Saat kakinya sampai di depan pintu apartemennya, buru-buru Aidan memasukkan angka kuncian dan masuk segera. Bunyi di perutnya tidak sama sekali ia gubris, Aidan hanya ingin tidur saat ini.
“Kenapa baru pulang, sih?”
Mata Aidan melotot detik suara itu terdengar, dengan wajah terkejut ia tolehkan ke asal suara. Lampu tamaran ruang tengah apartemennya membuat Aidan jadi waswas sendiri.
“Siapa?” tanya Aidan siap mengambil ancang-ancang menggeplak kepala sosok itu agar pingsan.
“Kamu tidak mengenaliku?” sosok itu bangkit, menatap Aidan sambil berkacak pinggang. Wajahnya terlihat kesal.
“K-kak Jingga ...?” beo Aidan termangu, antara senang dan tidak percaya.
“Ck! Kamu tuh ya, kenapa baru pulang jam segini?” omel Jingga sambil mendekati Aidan, netranya menatap lirih adiknya yang terlihat jauh lebih kurus dari terakhir mereka bertemu. “Kurus gini karena makan mi tiap hari, ya?” tebak Jingga kembali dengan wajah galak.
“Kak Jingga ngapain di sini?” tanya Aidan tidak sama sekali membalas pertanyaan Jingga. “Oma tahu?” tanyanya lagi dengan alis mengerut.
“Tentu saja menemuimu.” Jingga menyentil kening Aidan gemas, sebelum menarik adik laki-lakinya itu dalam pelukannya. “Kamu makin kurus, Dan. Kenapa nggak tinggal sama Oma aja?”
Aidan membalas pelukan Jingga, menenggelamkan wajahnya di antara bahu hangat kakaknya. Aroma yang masih sangat Aidan sukai sejak dulu, harum yang mengantarkan Aidan pada rasa nyaman dan aman.
Aidan melepas pelukan Jingga. “Aku pulang larut terus, Kak. Kasihan Oma kalau tiap hari aku datang malam,” akunya. “Seperti ini lebih bagus, aku bisa melakukan hal yang aku inginkan tanpa membuat orang lain cemas.”
“Tapi kenapa harus makan mi?” decak Jingga kesal.
“Karena enak, praktis, dan nggak ribet bersihinnya. Paling komplit, Kak.”
Jingga langsung memukul kepala Aidan cukup keras, sehingga anak itu mengaduh kesakitan dam tertawa puas. “Biar bagaimana pun, itu nggak sehat. Kamu mau mati muda?”
“Kak Jingga nyumpahin aku mati?”
“Enggaklah!” sentak Jingga langsung. “Tinggal di rumah kakak aja, ya? Di sana ada Mbak Uni yang ngerawat kamu,” ajak Jingga penuh harap.
Aidan menggeleng tanpa berpikir dahulu, ia berjalan menuju sofa dan duduk di sana sambil memejamkan mata. “Aku udah terbiasa sendirian, jangan ajak aku buat hidup ramai lagi,” bisiknya.
__ADS_1
Jingga termangu, netranya lirih dan sendu. Yang bisa Jingga lakukan hanyalah kembali memeluk adiknya, menyalurkan rasa sayang dan hangat pada adiknya.
“Aku tidak memaksa, tapi aku mohon jangan makan makanan yang nggak sehat. Jika kamu malas memasak, kamu bisa makan di luar,” suruh Jingga tanpa penolakan. Ia mengeluarkan kartu di dalam dompetnya, menaruh di atas meja sebelum bangkit dari duduknya. “Pakai itu untuk kehidupanmu. Gunakan sepuasmu dan jangan kembalikan padaku,” tegasnya.
“Kak! Aku nggak bisa ambil ini!” Aidan bangkit dan menyerahkan kembali kartu itu pada Jingga. “Pekerjaanku lebih dari cukup untuk membiayai hidupku sendiri.”
Jingga tidak menggubris, ia memberi kecupan sayang di pucuk kepala Aidan. “Berhenti dari pekerjaanmu. Ini pilihan, berhenti atau tinggal bersamaku,” tegas Jingga kemudian berlalu sambil mengenakan maskernya.
“Kak,” rengek Aidan sambil membuntuti langkah Jingga, namun kakaknya itu seakan tuli dan langsung keluar dengan cepat. Aidan menatap nanar kartu kredit di tangannya, hidupnya pasti akan berubah setelah ini.
Aidan menghela nafas sambil menatap sendu pintu apartemen yang tertutup rapat. Helaan nafas kembali terdengar sebelum ia berjalan gontai menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Namun belum sempat menaiki anak tangga, beberapa hidangan tersaji di atas meja makan.
“Sesibuk itu masih bisa memasak ternyata,” gumam Aidan dengan senyum kecil. Niat ingin mandi gagal total, kini makanan buatan Jingga jauh lebih menggiurkan.
“Masih ingat makanan kesukaan gue ternyata,” katanya lagi dengan senyum kian lebar. Aidan mulai melahapnya, dengan tetes air mata yang mulai membanjiri pipinya. Rasa masakan yang masih sama, hingga mengharuskan Aidan bernostalgia bersama kenangan.
Aidan tersenyum, namun matanya menangis. Tubuhnya merasa hangat dan nyaman, namun dadanya terasa sesak. Entah sampai kapan ia terjebak di zona menyakitkan ini sendirian. Sepertinya Aidan memang harus memutuskan dua pilihan tersebut.
Berhenti dari pekerjaannya atau tinggal bersama kakaknya.
...🌈🌈🌈
...
Aidan membuntutinya dari jarak yang tidak begitu jauh, Pelangi berharap tidak ada yang curiga dan mengundang lambe turah di sekolahnya. Ini adalah saat yang tepat untuk memperjelas semuanya, sebab jantung Pelangi tidak bisa di kontrol lagi saat melihat jam tangan pemberian Aidan pekan lalu.
Taman belakang sekolah adalah tempat paling bagus untuk berbicara berdua. Mata Pelangi melirik sekitar tempat mereka, berharap tidak ada yang melihat dan membuat berita nantinya. Sudah sabar Pelangi menunggu gosip itu reda, jangan lagi karena ini sekolah semakin gempar.
Pelangi duduk di kursi, sedangkan Aidan hanya berdiri. Pelangi mengeluarkan jam berwarna biru dari saku seragamnya, menyerahkan kembali ke Aidan. “Bukan punya gue. Mungkin lo salah ngasih,” ucapnya sebagai tanpa basa-basi.
Aidan mengangkat alis, senyumnya terpatri tipis. “Itu punya gue, tapi gue kasih ke lo,” sahutnya santai. “Ambil aja, supaya lo ingat terus sama gue.”
“Lo suka sama gue?”
“Iya, gue suka sama lo.”
Pelangi meneguk ludah, ia mengalihkan pandang berharap semburan merah di pipinya tidak terlihat oleh cowok itu. Pelan, Pelangi tarik nafasnya untuk mengurangi debar jantung yang menggila. Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Pelangi, namun bagaimana bisa Aidan menjawabnya begitu cepat.
__ADS_1
“Kenapa kaget gitu? Bukannya lo udah tau kalau gue suka sama lo?” kata Aidan sambil mengambil langkah mendekat. Kedua netranya memancarkan kehangatan, tangannya mulai berani mengusap kepala cewek ini. “Lo juga suka sama gue?” tanyanya.
“Enggak. Gue nggak suka sama lo,” sahut Pelangi langsung. Ia mendongak, menahan sekuat tenaga jantungnya agar bisa menatap netra hangat cowok itu. “Gue nggak pernah suka siapa-siapa, termaksud lo. Gue harap lo sadar, jauhi gue dan jangan pernah berani dekati gue!” gertak Pelangi keras.
“Gue nggak butuh ini!” Pelangi berikan jam tangan itu ke Aidan dengan kasar. Sebelum langkahnya membawa pergi, Aidan sudah menahan tangannya.
“Karena abang-abang lo?”
“Lepas,” kata Pelangi dengan suara rendah, ia bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan cowok itu.
“Karena abang-abang lo?” ulang Aidan lebih terdengar serius.
“Bukan urusan lo.”
Aidan tersenyum miring, dengan berani ia tarik tangan Pelangi hingga tubuh cewek itu membentur tubuhnya cukup keras. Netra Pelangi membulat, namun Aidan tidak peduli. “Jika lo takut sama abang lo, berarti lo suka sama gue. Benar begitu?” bisik Aidan penuh kemenangan.
“Nggak usah sok tau!” sentak Pelangi dengan pandangan menunduk. Sedekat ini dengan Aidan, sudah pasti membuat cowok itu merasakan debar jantungnya yang menggila.
Aidan kian menarik tubuh Pelangi merapat dengan tubuhnya. “Sudah gue katakan, gue nggak mungkin kayak Gara,” ucapnya penuh keyakinan. “Jantung lo udah buktikan semuanya, kalau lo memang suka sama gue. Mata lo bahkan nggak bisa bohong, Ngi.”
Tubuh Pelangi menegang, lehernya terasa tercekat. Terlebih saat Aidan merambatkan tangannya di pinggangnya, membuat sekujur tubuh Pelangi terasa di serang aliran listrik tiba-tiba.
“Jadi pacar gue, Ngi,” pintanya tepat di telinga gadis itu. “Gue siap nanggung akibatnya,” lanjutnya sungguh-sungguh.
Pelangi langsung mendongak, dan entah bagaimana bisa bibir Aidan menempel di keningnya. Kaki Pelangi sudah tidak tahan menopang tubuhnya sendiri, namun Aidan seakan peka dan memeluk tubuhnya tanpa permisi.
“Gue serius, gue suka sama lo,” ucap Aidan lagi. “Jadi pacar gue, Ngi. Mau, kan?”
“Ini salah,” cicit Pelangi dengan netra kosong. “Perasaan ini salah, Dan,” bisiknya. Deru nafas Pelangi terdengar kencang, matanya memerah sebab pengakuan itu.
“Ini kebenaran, gue serius ngungapin semuanya. Gue cuman mau jawaban lo, iya atau enggak.”
“Enggak,” jawab Pelangi langsung kemudian menarik tubuhnya menjauh. “Gue nggak suka sama lo, gue nggak mau jadi pacar lo!” tekan Pelangi dengan kaki yang semakin melangkah menjauh. Suara Saka dan perkataan cowok itu tempo hari menyerang kepala Pelangi, keras dan saling bersahutan dengan suara Raka.
“G-gue nggak bisa ...” Pelangi menggeleng, matanya mulai terasa berair. “Gue nggak bisa, Aidan,” ucapnya sebelum berlari pergi. Pelangi tidak tahu bahwa semuanya akan jadi seperti ini. Entah bagaimana bisa insiden mengembalikan jam tangan berubah menjadi pengakuan perasaan.
“Ngi,” panggil Aidan dengan suara kecil dan tatapan kecewa. Gadis itu menjauh, hilang bersama punggung yang bergetar. Kedua tangan Aidan terkepal keras, netranya berubah menjadi tajam. “Mereka terlalu jauh bermain,” katanya penuh arti.
__ADS_1
🍁🍁🍁