
Sudah tiga hari Pelangi berdiam diri di rumah tanpa di ajak ke mana-mana. Lebam di wajahnya mulai menghilang karena terus di obati, terlebih Raka dan Saka yang tidak henti-hentinya mengingatkan lukanya.
“Bunda, masa Bow tetap di rumah sih? Bow nggak bisa di giniin Bunda,” rengek Pelangi dengan wajah paling sedih di dunia. Sudah kemarin Minggu tidak ada yang mengajaknya keluar rumah, semua seakan sepakat mengurung Pelangi agar cepat sembuh.
Bunda menjitak pelan kepala putrinya. “Kamu ini, di kasih libur kok ngerengek nggak mau,” kata bunda tak habis pikir.
“Iya betul tu, Bun. Kalau jadi Saka, Saka bakal tidur dan main berhari-hari.”
Tapi Pelangi bukan Saka. “Terus Bow harus ngapain di rumah? Ini membosankan Bunda, rasanya tuh hampa.”
“Omonganmu,” sambar Raka yang baru saja muncul bergabung bersama mereka. Pria dengan setelan rapi ini duduk di samping Pelangi, mengecup pucuk kepalanya seperti biasa. “Cepat sarapan. Jangan ngerengek agar cepat sembuh.”
Pelangi mengentakkan sendok di tangannya hingga berbunyi nyaring. Ia langsung menusuk-nusuk pipinya yang lebam cukup keras. “Liat deh, Bow udah nggak sakit. Ini cuman bekasnya doang,” ucapnya seakan itu benar. Nyatanya Pelangi kesakitan, pipinya terluka parah ternyata.
Saka langsung menarik tangan Pelangi, matanya melotot galak. “Lo apa-apaan sih, Bow?” sentaknya kesal.
“Apa? Ini beneran nggak sakit kok!” Pelangi semakin jadi mengunyel-unyel pipinya.
“Pelangi, jangan seperti itu dong. Kamu liat, abang-abangmu menatapmu kayak melihat manusia yang paling jahat di dunia,” seloroh bunda menyudahi. “Ikut Bunda ke butik aja ya, mau?” ajak beliau.
Mata Pelangi langsung berbinar, namun ia teringat bahwa di butik tidak ada tempat yang menyenangkan. Pelangi lantas menggeleng. “Bow tetap nggak ada teman di sana. Bunda pasti sibuk sama pesanan, pelanggan, dan rempongnya gaya bunda kalau ketemu teman. Nggak ah, Pelangi di rumah aja dari pada harus ke butik,” cerocosnya panjang.
“Kamu ini,” gemas ayah.
Pelangi teringat sesuatu, buru-buru ia memalingkan wajah ke arah Raka. “Bow ikut Bang Raka ke kantor aja, ya? Di sana ada banyak makanan enak, kan? Di ruangan abang juga besar, kan? Bow bisa main di sana atau keliling perusahaan abang,” sarannya mantap.
“Ada banyak orang yang nggak kamu kenal di sana,” sahut Raka sebagai penolakan.
“Bow bisa kenalan.”
Raka langsung menoleh, dan Pelangi ciut melihat tatapannya. “Semua orang menyebalkan,” rutuknya sedih.
Saka menepuk pundak Pelangi prihatin. “Abang kuliah siang, kita bisa main. Asal jangan ke luar rumah, Bang Raka bakal seret kamu pulang kalau tahu,” ujarnya tanpa sungkan di hadapan Raka.
__ADS_1
Pelangi hanya mengangguk. Setiap hari ia hanya bermain dengan Saka dan Milo, kadang juga bermain bersama Raka. Ini membosankan, Pelangi sudah mulai terbiasa bermain di luar rumah.
“Bunda sama Ayah berangkat ya, sayang. Jangan sedih seperti ini, jika sudah sembuh Bunda ajak ke Dufan dan jalan-jalan ke manapun Pelangi mau. Udah ya ngambeknya?” rayu bunda menebar janji.
Senyum Pelangi akhirnya kembali lagi, ia mengangguk mantap dan semangat. “Hati-hati Ayah, Bunda. Jangan lupa pulang bawa ayam ya!” pesannya dengan mata berbinar.
Kini hanya tinggal Raka dan Saka di teras rumah. Pelangi bersenandung gembira, ia jadi semangat menyembuhkan luka. Sayang sekali tadi sempat ia unyel-unyel hingga rasanya masih nyeri sampai sekarang.
Pelangi menghampiri Raka. “Hmm abang. Bow boleh berenang?” izinnya hati-hati. “Bow udah lama nggak berenang. Bisa-bisa lupa gaya renang kodok kalau gini ceritanya,” ocehnya menggebu.
“Boleh. Tapi jangan terlalu lama.”
“Yes!” pekik Pelangi spontan. Ia langsung mengecup pipi Raka sebelum berlari masuk sambil menarik tangan Saka.
“Ayo bang kita berenang. Ihhh nggak sabar banget.” Pelangi jingkrak-jingkrak sebab kesenangan. Menatapkan izin Raka itu sama saja mendapatkan izin bertemu dengan Presiden
Pelangi tidak menggunakan baju renang, ia hanya menggunakan bajunya semalam dan langsung nyebur ke kolam. Raka selalu memarahinya menggunakan baju yang ketat dan pendek, pun begitu dengan Saka.
“Cil, nih pake. Takut tenggelem,” ujar Saka sembari melemparkan pelampung leher anak bayi ke Pelangi. Saka tertawa melihat wajah kesal adiknya. Ia melepas bajunya, kemudian menyebur hingga airnya mengenai wajah Pelangi. Saka kembali tertawa.
“Eh, muat?” kaget Saka.
Tak lama mereka berenang, Raka datang dan duduk di kursi sisi kolam renang. Ia memandangi adik perempuannya yang tertawa bahagia saat bermain seperti itu. Raka cukup lega melihat senyum itu hadir kembali, rasanya sakit saat melihat adiknya menangis.
“Eh ada Bang Raka?” kali ini Pelangi yang terkejut. Ia terdiam beberapa saat, takut jika Raka marah melihatnya terlalu berteriak seperti tadi. Namun sepertinya, Raka menikmati teriakannya. Pelangi melambai, senyumnya merekah lebar. “Abang,” sapa Pelangi ceria.
Pelangi mendekati Raka, bertopang dagu di sisi kolam renang. “Bang Raka nggak kerja? Bow kira udah berangkat tadi.”
Raka mendekat, berjongkok di hadapan Pelangi dan langsung mengusap pipinya yang lebam. “Ada yang mau abang katakan.”
“Apa? Bilang aja, Bow dengerin kok.”
Raka membungkam bibirnya untuk sementara. Ia angkat Pelangi agar duduk di atas. Adiknya masih setia menunggunya mengatakan hal tersebut, raut polos nan cantik itu membuat Raka betah memandanginya.
__ADS_1
“Abang harus ke Amerika hari ini,” beritahunya dengan suara berat.
Raut Pelangi langsung berubah lain. Bibirnya terkatup, matanya hanya berkedip lambat.
“Sekitar seminggu. Abang usahakan pulang cepat dan ikut kamu jalan-jalan ke Dufan sama Bunda,” lanjut Raka sedikit panjang.
Pelangi mulai menyunggingkan senyuman, lebar dan menenangkan. “Ada Bang Saka yang bakal jagain Bow di sini. Bang Raka nggak usah cemas, fokus aja sama pekerjaannya,” tutur Pelangi pengertian. “Emm, abang berangkat sekarang?”
“Iya, sekarang.”
“Perlu Bow antar?”
Raka tersenyum dan menggeleng, ia usap rambut Pelangi yang basah sebelum memeluknya penuh sayang. Raka menaruh dagunya di pundak Pelangi.
“Eh, baju Bang Raka bisa basah,” kejut Pelangi.
“Kamu jangan nakal, jangan sering buat orang cemas. Kasihan Bunda yang nggak tenang kalau kamu sudah ke luar rumah.”
Pelangi mengerjap, terkejut dengan perkataan Raka yang lumayan panjang. Ini kali ke dua Raka pergi jauh setelah berkuliah di Kanada selama empat tahun. Rasanya sudah sangat lama tidak di tinggal jauh seperti ini.
“Kabari abang setiap saat,” pesan Raka terlalu posesif.
Pelangi akhirnya mengangguk, ia menepuk-nepuk pundak Raka sambil mengecup pundak kakaknya. “Bow nggak akan bikin cemas abang,” ucapnya sungguh-sungguh.
“Geli banget liat drama kalian! Huek, kalau gue muntah nih kolam renang bakal penuh sama hujatan gue,” celetuk Saka sinis.
Raka menatap tajam Saka, sebelum bangkit dan mencium seluruh permukaan wajah Pelangi. “Abang berangkat, bilang sama Saka jangan suka bolos kuliah,” pesan Raka lagi sebelum melangkah pergi.
“Eh, eh? Dia mau ke mana? Mau matikah?” tanya Saka heboh.
“Sembarangan,” sentak Pelangi.
“Canda mati,” gumam Saka.
__ADS_1
...🍁🍁🍁...