
Hari ini adalah hari terakhir tour SMA Harapan. Semua murid mulai membenahi barang-barang mereka dan melepas tenda cepat-cepat. Langit masih cukup gelap, namun semuanya di paksa bangun agar tidak terlalu lama di perjalanan.
Awan berkumpul di sekeliling puncak, sinar mentari yang muncul dari arah timur terasa sangat indah dan sinarnya sedikit mengurangi rasa dingin.
“Nggak ada yang tertinggal, kan? Pastikan semua barang tidak ada yang tertinggal,” seru Pak Gibran.
Mereka semua menjawab serempak, masih sibuk membersihkan area sekitar mereka agar tidak tertinggal sampah. Setelah selesai bersih-bersih, mereka berkumpul di tengah-tengah dan berbaris rapi.
“Kalau sudah di rasa lengkap semua, kita bisa kembali segera,” kata Bu Pertiwi.
Sebelum pulang mereka di absen kembali, takut saja ada yang hilang atau belum kembali dari tempat yang mereka datangi. Setelah merasa lengkap, Pak Gibran memberi instruksi untuk segera berjalan.
“Dingin banget, ya ampun,” gerutu Chika sambil memeluk tubuhnya sendiri. Jaketnya sudah sangat tebal, dia bahkan menggunakan syal di lehernya.
“Masih mending dingin sih dari panas. Kalau pulangnya siang ya elo dapat capeknya doang,” kata Dira.
Pelangi hanya terkekeh melihat Chika dan mencibir tanpa suara. Cuaca puncak memang sangat dingin, terlebih mereka semua berangkat lebih pagi dari hari itu. Pelangi yang tidak biasa sarapan terlalu pagi ini di paksa makan agar tidak terjadi apa-apa di perjalanan.
“Kira-kira jam berapa ya kita sampai?” tanya Pelangi.
Dira melihat jam tangannya, masih pukul 7 pagi. “Mungkin sekitar jam sebelas,” jawab Dira tidak begitu yakin.
Pelangi mengangguk mengerti. Ia tidak sabar untuk pulang dan memeluk ayah dan bunda, tak lupa juga kedua abangnya yang paling posesif tersebut. Sedari tadi Pelangi tak henti-hentinya tersenyum.
“Ngi, gue boleh tanya?” kata Chika.
“Tanya aja.”
Chika terlihat ragu menanyakannya, dia sesekali menatap ke arah Dira meminta persetujuan. Namun Dira bagai acuh saja, seakan mengatakan 'tanyakan saja'. Dira mengangguk.
“Lo lagi deket ya sama, Aidan? Eh jangan tersinggung ya, Ngi, gue cuman nanya doang, hehe.” Cengir Chika kaku.
Pelangi menggidik bahu. “Gue nggak deket sama dia. Dia aja yang suka deketin gue,” jawab Pelangi jujur. Memang seperti itulah kenyataannya, selama tiga hari ini Aidan terus menempelinya dan membuat jantung Pelangi kian berdebar.
“Kita senang lo bisa terbuka sama kita dan orang lain, Ngi. Aidan cowok baik, nggak ada alasan untuk Aidan di katakan buruk, semua orang mengenalnya baik,” tutur Dira sambil tersenyum.
Pelangi hanya tersenyum, ia tidak menanggapi perkataan Dira. Nyatanya, tidak ada yang tahu perasaan Pelangi bahkan dirinya sendiri. Aidan memang selalu membuat jantungnya berdebar, namun tidak ada jawaban yang jelas tentang perasaannya. Entah itu debaran cinta, atau waswas sebab kedua abangnya.
__ADS_1
“Yang baik belum tentu baik menurut gue. Tapi untuk Aidan, gue rasa dia memang baik.” Pelangi tersenyum dan berjalan dahulu. Benar, tidak ada alasan untuk Aidan di katakan buruk, semua orang mengenal Aidan, bahkan guru-guru begitu mengagumi sosok itu.
Langkah Pelangi melambat, semua janjinya pada kedua kakaknya kembali terngiang. “Setelah ini, nggak ada lagi yang namanya kedekatan antara gue sama dia,” gumam Pelangi sedih.
Pelangi menoleh ke belakang, Aidan tertawa dan bergurau bersama teman-temannya dan Pak Gibran. Pelangi tersenyum tulus. “Thanks, Aidan, karena udah ngasih pelajaran buat gue. Kedekatan kita memang singkat, tapi gue berharap kedepannya kita bisa sedekat ini lagi.”
Rasa yang ada di hati memang terasa kelabu, namun tidak bisa Pelangi hindari rasa senang dan aman saat cowok itu di sisinya. Aidan orang pertama yang membuat Pelangi merasa aman setelah Raka dan Saka.
...🌈🌈🌈
...
Brak!!
“BANG SAKA, BOW KANGEN BANGET!!”
“Aying-aying banget!!” pekik Saka refleks memaki sebab teriakan dan hantaman keras pintu kamarnya.
Pelangi langsung berhambur memeluk Saka tidak peduli abangnya itu mengumpat dan nyaris melempar bantal ke arahnya. Tubuh Saka yang duduk di tempat tidur langsung Pelangi tindih dan memeluknya seerat mungkin.
“Bow! Gue nggak bisa nafas!!” teriak Saka sambil menepuk sisi kasur.
“Datang dari mana lo? Tiba-tiba aja kayak alien, sumpah,” gerutu Saka dengan wajah sebal. Namun detik berikutnya, ia beralih memeluk adiknya penuh kerinduan. “Gue juga kangen sama lo, Cil. Hidup gue hampa banget tanpa ada dirimu di sisi abang.”
“Huek, bukan abang gue!” sungut Pelangi dan langsung mendorong tubuh Saka menjauh. Pelangi bergidik ngeri. “Makin sekdeng aja lo bang,” cibir Pelangi sambil geleng-geleng kepala.
“Iya, sekdeng karena nggak ada lo,” kekeh Saka bercanda. “Sini duduk dekat abang, kangen banget gue sama lo, Bow,” ucapnya sungguh-sungguh.
Pelangi tersenyum, ia kembali duduk di sisi Saka. “Bow ngangenin banget ya, bang? Gimana ya reaksi Bang Raka kalau tau gue udah balik?” tanya Pelangi penasaran.
“Lho, terus lo datang ke rumah sama siapa, Cil?” balik tanya Saka dengan wajah penuh selidik. “Lo pulang sama cowok yang lo taksir itu, ya?!” tuding Saka yakin.
Pelangi memukul kepala Saka hingga abangnya itu meringis. “Sama Bunda. Bunda jemput Bow di sekolah tadi,” jawab Pelangi cemberut. “Ayah sama Bang Raka nggak tau kalau Bow udah balik, soalnya kan Bow bilang kalau datangnya pasti malam,” tutur Pelangi menjelaskan.
Saka mangut-mangut mengerti. Senyumnya terpatri penuh misteri. “Bang Raka nggak tau kan lo pulang? Jadi gue bisa dong main sama lo sepuasnya?”
Pelangi menggeleng dan merebahkan diri di sisi kasur yang kosong. “Nanti aja deh, bang. Gue capek banget ini, mau rebahan dulu,” tolaknya untuk sementara.
__ADS_1
Saka ikut membaringkan tubuhnya di samping Pelangi, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna abu-abu. “Seru nggak tournya?” tanya Saka.
“Seru banget!” sahut Pelangi langsung penuh antusias. Ia sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Saka. “Gue jalan-jalan keliling hutan ramai-ramai. Kami makan di dalam hutan kalau waktunya makan siang, gue udah kayak anak Pramuka deh, bang,” kekeh Pelangi mengingat semua yang terjadi tiga hari itu.
“Terus kalau udah mau senja, kami kembali ke tenda dan mandi. Di sana ada vila, jadi biasanya yang perempuan mandi di sana. Bang Saka tau, vilanya besar banget, tapi rada horor sih,” lanjut Pelangi bercerita.
“Rumah kita aja lo katain horor, Bow. Apa lagi tempat kayak gitu,” cibir Saka geleng-geleng kepala.
Pelangi menyengir, ia kemudian mengacak-acak rambut abangnya gemas. “Waktu gue tidur, gue denger suara macam-macam. Suara ranting, suara hewan-hewan garang, sama suara ketawa,” cerita Pelangi dengan wajah tegang. Ingat betul ia dengan suara ketawa yang mengerikan kala langit semakin gelap.
“Ketawa gimana maksud lo?”
“Ketawa kunti, bang. Dira sama Chika kaget juga, ternyata mereka denger. Terus yah gue sama mereka langsung intip tuh keluar, eh taunya suara ketawa kakak kelas.” Pelangi bergidik ngeri mengingatnya, entah bagaimana bisa tiga kakak kelas masih berdiam di luar dan gibah hingga tertawa lepas. “Bow sampai mau nangis minta pulang karena suara itu. Ya ampun ...”
“HAHAHAHAHAHA!!” tawa Saka lepas begitu saja, bantal di sisi tubuhnya di gigit dan di lempar saking ngakaknya. Anehnya, Pelangi juga ikut tertawa. “Kunti versi anak sekolah itu mah,” celetuk Saka kembali tertawa keras.
“Nggak lama setelah di ciduk gue sama teman-teman gue, Bu Pertiwi datang terus nyuruh mereka jangan ketawa-ketiwi di tengah hutan. Lucu banget, bukan malah marah, Bu Pertiwi malah cuman nyuruh diam.”
Saka geleng-geleng kepala, tampaknya sangat mengasyikkan tour bersama adiknya. “Terus lo ketawa?” tanya Saka.
Pelangi mengangguk. “Ketawa sampai nangis gue bang. Antara ngakak sama ngeri,” jawab Pelangi dengan wajah yang tidak mampu di deskripsikan lagi.
“Pengalaman yang mengesankan, ya? Gue senang lo bisa merasakan dunia luar,” kata Saka tiba-tiba terdengar serius.
Pelangi terharu, ia memeluk Saka dari samping. “Makasih karena udah izinin Bow pergi dan nggak awasin Bow selama tiga hari,” ucapnya tulus.
Saka mengelus surai panjang Pelangi, mengecup pucuk kepala adiknya yang berbaring di dadanya. “Sama-sama. Yang penting lo senang, itu udah cukup buat abang senang juga.”
Rasanya bahagia mendengar perkataan yang keluar dari bibir abangnya dengan tulus. “Seindah-indahnya suasana luar, yang paling indah tetap rumah,” kata Pelangi dengan senyum tipis penuh arti. Ia teringat dengan perkataan Aidan, dadanya terasa hangat.
“Setelah ini, lo benar-benar di kurung di rumah, Bow. Lo ingat, ada satu monster di rumah kita.”
“Iya, benar,” timpal Pelangi tanpa penolakan.
“Hayu main, Bow. Udah nggak capek, kan?” ajak Saka sambil bangkit dari posisi rebahannya.
“Ayo. Udah nggak capek juga nih.”
__ADS_1
“Hayu main peta umpet!!” teriak Saka dengan tangan terentang ke atas.
...🍁🍁🍁...