Rapunzel & Obsesi Dua Pria

Rapunzel & Obsesi Dua Pria
21| Gosip


__ADS_3

Seharusnya mereka pulang hari ini, namun karena Pelangi sedang datang bulan, akhirnya mereka kepulangan mereka di tunda. Raka menepati janjinya akan pulang lusa, namun Pelangi malah yang menahannya.


Pelangi hanya ingin rebahan di masa awal kena datang bulan seperti ini ia takut akan tembus dan mengotori tempat-tempat lain. Mungkin besok mereka bisa kembali pulang.


“Bang Raka ke mana?” tanya Pelangi sambil mengubah posisinya menghadap Saka yang duduk di sofa.


“Keluar tadi bentar,” jawab Saka tanpa mengalihkan fokusnya pada game di hpnya.


Pelangi membulatkan mulut, ia mangut-mangut saja. Hari masih siang, cuaca juga begitu panas. Pelangi bahkan ingin bermain air sebelum kembali pulang, namun sepertinya ia tidak bisa.


“Bow lapar, bang. Pengen makan di luar,” rengek Pelangi. Dua hari ini ia hanya berdiam di kamar, tidak keluar sama sekali. Padahal nyeri si pinggangnya sudah menghilang, tapi rasanya untuk bergerak sangat malas.


Saka menghentikan gamenya segera, memasukkan ponsel ke dalam saku celananya dan berdiei menghampiri Pelangi. “Mau makan di mana?” tanya Saka.


“Di mana aja yang penting Bow makan di luar.”


“Oke.” Saka mengambil dompetnya juga sweater untuk Pelangi. “Baju lo pendek, pake,” suruhnya. Pelangi mengangkat tangannya, Saka mengenakan sweater tersebut ke tubuh Pelangi. Kemudian mereka berjalan keluar.


Mereka memutuskan makan di pinggiran pantai, tempatnya lumayan ramai karena saatnya untuk makan siang. Pelangi dan Saka duduk si meja yang kosong dan langsung memesan makanan.


Pelangi teringat sesuatu, buru-buru ia mendekatkan kursinya lebih mepet pada Saka. “Abang, Bow pengen cerita,” bisiknya.


“Cerita ya cerita aja, Bow. Nggak usah berbisik juga kayak ceritain bisnis narkoba,” cibir Saka.


“Ck! Ini lebih heboh kalau sampai ketahuan,” decak Pelangi gemas.


“Yaudah cerita buruan,” kata Saka pun merasa penasaran.


“Abang tau CEO J Fashion?”


Saka menggeleng acuh, tidak begitu tertarik dengan siapa CEO perusahaan ternama tersebut. Bunda bahkan kadang heboh sendiri sebab tidak pernah melihat secara langsung CEO J Fashion, namun bagi Saka itu bukan berita yang wah.


“Gue di samperin sama CEO dong, bang! Perempuan ternyata, cakep bangett,” pekik Pelangi penuh antusias. Kartu nama Jingga masih Pelangi simpan dengan rapat di dalam dompetnya, takut saja ketahuan oleh Raka nantinya.


“Nggak usah percaya, Bow. Di dunia ini banyak modus penipuan. Biar cewek, kalau udah jahat ya jahat.”


Pelangi cemberut, Saka tidak begitu antusias dengan ceritanya. Bahkan tidak percaya dengan perkataan. “Ada buktinya kok bang, dia baik banget lagi sama gue. Ah pokoknya Bunda harus tau.”


“Iya, percaya kok gue,” sahut Saka ogah-ogahan. Selepas makanan di hidangkan di depan mereka, buru-buru Saka menyantapnya tak lupa menghidangkan seafood kesukaan Pelangi di hadapan gadis itu. “Makan, nggak usah ngoceh mulu,” imbuhnya sambil menyentil pelan hening adiknya.


“Nyebelin!” decak Pelangi kesal.

__ADS_1


Setelah menghabiskan makan, Pelangi mengajak Saka berkeliling area pantai untuk mencari oleh-oleh untuk bunda dan teman-temannya. Ada banyak wisatawan yang datang, padahal ini bukan weekend.


“Eh itu Bang Raka bukan, sih?” tanya Pelangi sambil memicingkan mata ke salah satu restoran pinggir pantai.


“Mana?”


“Itu, bang, pakai baju putih.” Tunjuk Pelangi ke sosok itu. Dahinya mengernyit. “Bang Raka punya pacarkah?” tanya Pelangi terheran-heran.


“Nggak usah ngawur, Bang Raka mana pernah ngelirik cewek,” cibir Saka sambil tertawa mengejek. “Bukan dia itu mah. Abang lo itu Bow, nggak mungkin mau ketemu cewek di tempat kayak gini. Sama kliennya aja harus ada sekretarisnya yang nememin,” oceh Saka panjang.


Pelangi menggaruk belakang kepalanya, ia mengakui dalam hati. Raka memang tidak pernah bertemu dengan perempuan selain klien, tidak heran dia di sebut-sebut gay oleh media.


“Udahlah ayok cari oleh-oleh. Bukan Bang Raka itu.”


“Iya, kayaknya bukan,” kata Pelangi sambil mangut-mangut. Ia kembali fokus mencari oleh-oleh yang paling bagus dan menarik perhatiannya.


“Eh malam kemarin Bang Raka ada nanya sama gue, katanya kamu ada dekat sama cowok, ya?” tanya Saka.


Pelangi langsung mendongak menatap Saka, pikirannya blank seketika. Kenapa baru sekarang Raka membahasnya, bukankah bertemu dengan Aidan sudah lima hari yang lalu.


“Enggaklah! Yakali gue dekat sama cowok,” sergah Pelangi cepat sambil cengegesan.


Ya, Pelangi mengetahuinya.


...🌈🌈🌈


...


Senin ini, Pelangi kembali masuk sekolah. Sepertinya ada banyak materi yang tertinggal karena liburan ke Bali tempo hari. Namun tidak masalah, Raka yang akan bertanggung jawab apabila nilainya sampai jelek di rapor nanti.


“Akhirnya masuk sekolah juga lo, Ngi. Nggak ada lo rasanya beda gitu,” sambut Chika dengan wajah senang.


Pelangi hanya tersenyum, ia menaruh tasnya dan duduk di sana dengan tenang. “Memangnya kalian ngapain aja selama gue nggak hadir?” tanya Pelangi penasaran.


“Nggak banyak sih, cuman praktik panah doang yang asyik,” jawab Dira.


“Serius?!” pekik Pelangi terkejut. “Sayang banget gue nggak ikut,” kata Pelangi lemas. Ia suka panah, materi panah di olahraga adalah kesukaannya. Di rumah, Raka selalu mengajarinya memanah, namun semenjak tangan Pelangi lecet sebab panah tersebut, jadilah panahan itu di buang semua. Yah, begitulah Raka.


“Tapi yang lo harus tau, Ngi, tentang gosip lo sama Aidan di sekolah!” pekik Chika heboh. Dia mendekatkan tubuhnya ke Pelangi, siap menceritakan kejadian di sekolah beberapa hari ini. “Kata anak-anak lo pacaran sama Aidan, tapi nggak dapat restu dari abang lo. Jadi tuh ya gosipnya beredar kalau kalian backstreet!”


Pelangi tercengang, matanya mengejap beberapa kali. “Kok bisa mereka mikir gitu?” tanya Pelangi terheran-heran.

__ADS_1


Dira menggidik bahu. “Mungkin karena kedekatan kalian di puncak waktu itu, di tambah Aidan bantuin lo dari Gara. Yang makin hebohnya itu waktu lo di samperin Aidan di depan abang lo,” jelas Dira gamblang.


“Gue nggak pacaran sama dia. Kita bahkan nggak dekat,” tolak Pelangi keras. Perkataan Saka terngiang-ngiang di kepalanya, yang Pelangi takutkan adalah imbas dari perbuatannya.


“Iya, kita percaya kok. Itu cuman gosip murahan doang, Ngi, semoga aja abang lo nggak salah paham kalau tau ini,” kata Chika peka.


Pelangi menghela nafas, semuanya jadi semakin rumit saja. Padahal hari ini Pelangi ingin menghampiri Aidan dan menanyakan maksud cowok itu memberinya jam tangan, juga ingin menanyakan dari mana tahu warna kesukaannya. Namun jika sudah seperti ini, Pelangi tidak mungkin nekat.


“Terus, Aidan nanggapi kayak apa?” tanya Pelangi penasaran.


“Biasa aja dia, nggak ngaruh juga gosip murahan sama anak kayak dia. Tenang aja, Ngi, kalau ada yang berani macam-macam sama lo, kita yang maju paling depan,” ujar Chika sambil menepuk dada.


Dira menoyor kepala Chika gemas. “Kalau ada yang berani ganggu Pelangi karena rumor itu, ya jelas abang-abang dia yang langsung turun tangan.”


Pelangi tertawa, Chika dan Dira sudah sangat mengenalnya. Namun hingga hari ini, Pelangi tidak tahu di mana rumah mereka atau hal-hal yang mereka sukai dan tidak di sukai. Sepertinya Pelangi sudah terlalu membuat jarak yang jauh.


“Sore ini, mau ke rumah gue?” tawar Pelangi sungguh-sungguh.


“Hah?” Chika dan Dira cengo, wajah keduanya terkejut bukan main.


“Main ke rumah gue. Sekalian gue mau ngenalin kalian sama abang-abang gue. Biar mereka juga tau siapa teman gue di sekolah.”


Dira langsung mengangkat tangan. “Gue nggak ikut kayaknya deh, Ngi. Gue tahu diri, gue bukan kriteria teman buat lo.”


Chika ikut-ikutan mengangkat tangan. “Gue juga, Ngi. Udah tahu diri gue kalau nggak bakal di terima, jadi udah, mundur alon-alon aja.”


Pelangi tertawa renyah, lucu melihat ekspresi Chika dan Dira. “Seserem itu ya abang-abang gue?” tanya Pelangi di balas anggunakan cepat kedua temannya. Pelangi lantas tertawa lebih keras. “Tenang aja, kalian nggak bakal di apa-apain kok. Kalian kan teman gue dari kelas sepuluh, abang gue juga pasti suka. Mau, ya?” rujuk Pelangi.


“Tapi, gimana kalau abang lo nggak suka sama kita? Mereka nggak mungkin cari latar belakang keluarga kami, kan?” raut Chika terlihat takut dan enggan, dia masih sayang nyawanya


Pelangi tidak tersinggung dengan perkataan Chika, karena itu memang fakta. Kedua kakaknya akan mencari latar belakang orang yang dekat dengannya, tidak heran Chika dan Dira terlihat sangat takut.


“Gue pastikan kalian aman. Kalau mereka berani selidiki kalian, gue sendiri yang akan pukul mereka,” kata Pelangi tegas. Ia kemudian tertawa, menatap memohon kedua temannya. “Mau, ya?” pinta Pelangi lagi.


Chika dan Dira akhirnya mengangguk, mereka tersenyum. “Iya, kita mau kok,” sahut mereka bersama.


Mengenalkan Chika dan Dira pada abangnya adalah sebuah keharusan. Pelangi ingin bebas berteman bersama Chika dan Dira, maka dari itu kedua kakaknya harus tahu siapa temannya.


Kini yang barus Pelangi lakukan adalah menghampiri Aidan dan bertanya lebih serius. Namun bukan untuk hari ini, entah itu esok atau nanti. Yang jelas, Pelangi benar-benar harus bertemu dengan Aidan secara langsung.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


__ADS_2