
Tok tok tok.
Suara pintu di ketuk terdengar, Pelangi yang sedang menyembunyikan tubuhnya di balik selimut hanya bergumam pelan. Hari sudah malam, namun ia enggan beranjak untuk makan malam atau bahkan mandi. Pelangi hanya ingin berbaring, tenggelam dalam kegelapan kamar dan sendirian.
“Sayang,” panggil bunda setelah lampu kamar di nyalakan.
Pelangi tidak menggubris, ia begitu lelah. Namun sebisa mungkin ia hendak melelapkan mata, maka semakin sulit pula perlakuan Raka hilang dari kepalanya.
Bunda duduk di samping Pelangi, menatapnya sendu dan sedih. Tangan beliau terangkat mengusap kepala putrinya di balik selimut berwarna biru langit. “Putri Bunda ini kenapa? Kamu tau? Ayah begitu cemas karena kamu tidak mau turun makan,” tutur bunda lembut.
Pelangi menahan mulutnya agar tidak terisak, dadanya kembali terasa sesak hingga sulit untuk mengambil nafas. Perlakuan Raka masih membekas di ingatannya, walau mereka sudah berbaik beberapa jam yang lalu.
“Maafin Bunda yang selalu sibuk bekerja sampai lupa kamu butuh perhatian Bunda. Sayang, Bunda minta maaf,” kata wanita tersebut lirih.
“Bunda nggak salah,” sergah Pelangi segera. Ia benci bunda menyalahkan diri sendiri. “Bunda nggak pernah salah,” ulangnya kali ini membuka selimut yang menutup tubuh. Membiarkan bunda menatap wajahnya yang bengkak dan mata yang menangis.
“Ada apa?” panik bunda lantas mengusap kedua pipi putrinya. “Apa yang membuat putri Bunda paling cantik ini menangis?” tagih bunda.
Kali ini, Pelangi sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menangis di hadapan bunda, terisak penuh kesakitan dan ketakutan. “B-Bow ...” ia tidak bisa melanjutkan perkataannya, rasanya terlalu sulit mengatakan kebenaran yang membuatnya menjadi seperti ini.
“Sstt ... nggak usah bicara dulu. Menangislah sampai puas, setelah itu jika kamu ingin cerita Bunda akan selalu di sini,” tutur bunda halus dan hangat, lalu wanita cantik ini menarik putrinya dan mendekapnya menenangkan. “Menangislah, keluarkan semua beban di hatimu, sayang.” Bunda tepuk pelan punggung Pelangi, juga melayangkan kecupan hangat di pucuk kepala putrinya.
“Te-terima kasih karena sudah datang di situasi yang tepat, Bunda,” ucap Pelangi tulus. Sesibuk apapun bunda, wanita itu selalu ada di saat situasi Pelangi seperti ini. Bunda adalah malaikat nyata yang tidak bersayap.
“Itu kewajiban Bunda,” sahut beliau cepat. Usapannya semakin menenangkan, tangis Pelangi mulai mereda walau tubuhnya masih bergetar hebat. “Bunda benar-benar minta maaf karena lambat mendekapmu. Bunda minta maaf.”
Pelangi menggeleng, namun ia tidak berkata. Untuk saat ini, Pelangi hanya ingin menangis, menangis hingga merasa benar-benar puas. Nyatanya memang hanya di dekapan seorang ibu seseorang merasa nyaman.
“Bunda,” panggil Pelangi dengan suara serak dan isak yang ikut bersama.
__ADS_1
“Iya, sayang?”
“Gara meninggal,” akunya sambil memejamkan mata. “Dia meninggal, Bun,” ulangnya tak tahu harus mendeskripsikan bagaimana kematian cowok itu.
Bunda tampak tidak terkejut, rautnya santai seakan itu sudah di prediksikan oleh bunda. “Cowok yang menonjokmu itu, kan?” tanya bunda dan Pelangi mengangguk. “Dia pantas mati, siapa pun yang ngelukai putri Bunda, maka dia harus lenyap.”
Pelangi tersentak, jawaban bunda di luar ekspetasinya—sama seperti Raka mengatakannya. “Bu-bunda ...?” kini Pelangi tahu, dari mana dapatnya sisi dominan Raka.
“Iya, Bunda tahu itu kejam. Tapi itu setara dengan perlakuannya yang kurang ajar. Bunda saja tidak pernah melukai kamu sedikit pun, dan dia dengan mudahnya membuat pipimu membiru?” sentak bunda sinis penuh dendam. “Dia pantas mendapatkannya,” tekan beliau puas.
“Bunda, tapi Bow di tatap benci seluruh siswa-siswi. Mereka bilang Bow biang dari kematian Gara!”
“Semuanya? Bagaimana dengan Chika dan Dira?” tanya bunda santai.
Pelangi terdiam, mulutnya yang hendak kembali mengomel kini tertahan. Pelangi sedikit menundukkan kepalanya. “Mereka enggak,” cicitnya pelan.
“Lalu? Apa yang kamu cemaskan? Apa mereka semua temanmu? Apa mereka ada saat kamu di lukai?” serbu bunda hingga menyudutkan Pelangi. “Orang yang berbicara banyak adalah orang nggak tau apa-apa. Namun sebaliknya, orang yang singkat ucapannya adalah orang yang tahu semuanya.”
Bunda menggenggam kedua tangan Pelangi, menyorot netra putrinya penuh ketegasan. “Yang kamu butuhkan adalah mereka yang diam saat semua orang membicarakanmu. Namun sayangnya, hanya satu di antara sepuluh orang yang seperti itu.”
“Benar,” timpal Pelangi tanpa penolakan. Semua perkataan bunda membungkam mulutnya, menghilangkan kosakata dalam otaknya. Hingga yang bisa Pelangi katakan hanyalah kata ‘benar'.
“Berhenti memikirkan semua masalah itu. Lambat laun, gosip itu akan lenyap,” kelakar bunda sambil tersenyum. Tangan hangat wanita ini mengusap pipi basah Pelangi, kemudian menarik hidung putrinya begitu gemas. “Jadi, berhenti menangis. Bisa-bisa Bunda yang turun tangan,” gurau bunda.
Pelangi langsung memeluk bunda, menenggelamkan tubuhnya dalam lingkupan hangat ibunya. “Bunda memang yang terbaik di dunia. Bunda selalu punya cara untuk bantu Bow keluar dari masalah. Bow sayang banget sama Bunda,” kata Pelangi benar-benar tulus dan lega.
“Tentu saja kamu harus berterima kasih,” kekeh bunda gemas. “Sudah, lebih baik kamu makan. Selepas itu tidur,” suruh bunda.
Pelangi menarik diri, ia kembali gelisah. “Hm, Bunda. Sebenarnya ada hal lain yang mengganggu Bow selain kematian Gara,” bisik Pelangi pelan.
__ADS_1
“Apa itu?”
“Tentang ...” Pelangi menggantungkan perkataannya, hatinya di landa gelisah dan gundah. ‘perlakuan Raka siang tadi' sambungnya hanya dalam hati. Pelangi ingin mengatakan semua perbuatan Raka pada bunda, dan bertanya apakah mereka saudara kandung. Ini benar-benar salah, Pelangi tidak bisa diam saja jika Raka kembali melalukan itu padanya.
“Tentang apa? Jangan buat Bunda penasaran dong, sayang,” gemas bunda.
Pelangi menggeleng, ia tersenyum dan berusaha bersikap biasa. “Tentang besok. Bow nggak masuk sekolah, ya?” pinta Pelangi sambil menyengir.
“Besok Sabtu, kan?”
Pelangi mengangguk.
“Ya sudah, silahkan tidur sampai siang,” sahut bunda kalem.
Pelangi memekik, senyumnya terbit lebar dan semakin lebar. “Sayang bunda banyak-banyak!” serunya kembali ceria. Sejenak saja, Pelangi ingin berdiam sendirian di kamar tanpa ingin di ganggu siapa-siapa selain bunda dan ayah.
“Nggak usah teriak-teriak. Ayo, buruan makan. Kamu bisa kena omel tiga pria di sana,” paksa bunda galak.
“Yah, Bunda ... Bow nggak nafsu makan. Bow tidur aja, ya? Besok pagi-pagi Bow sarapan, habis itu tidur lagi,” celotehnya menego.
“Kamu ini,” gemas bunda sambil menyentil halus kening putrinya. “Ya sudah, istirahat saja kalau begitu.”
Pelangi mengangguk dan tersenyum senang. Tubuhnya kembali berbaring, menarik selimut hingga sebatas dada. “Bunda, tidur sama Bow ya malam, mau?” tanya Pelangi memohon.
“Tentu saja Bunda mau,” seru bunda tanpa basa-basi langsung berbaring di sisi tubuh putrinya. Tangannya yang halus mengusap surai Pelangi, memberikan rasa aman dan nyamannya elusan seorang ibu.
'Seperti ini lebih bagus, tapi gue nggak akan biarin Raka melakukan hal yang sama' ucap Pelangi dalam hati. Untuk ke depannya, Pelangi rasa mereka perlu membuat jarak. Ah, atau lebih tepatnya Pelangi yang akan menciptakan jarak antara mereka.
...🍁🍁🍁
__ADS_1
...