Rapunzel & Obsesi Dua Pria

Rapunzel & Obsesi Dua Pria
11| Menaklukan Singa!


__ADS_3

“Kamu ini apa-apaan sih? Nggak waras kamu ngajak Pelangi ke kantor Ayah?” cerca Raka tajam dengan pandangan mengintimidasi. “Dan bodohnya kamu mengingatkan hal itu pada Pelangi! Otak kamu isinya apa?!” bentaknya kian keras.


Saka menunduk, namun ia tidak takut dengan kemarahan Raka. “Maafin gue. Gue nggak akan ngulangin dan langsung bawa Bow pulang lain kali.”


“Memang harus seperti itu! Sudah aku katakan jangan bawa Pelangi ke mana-mana tanpa seizinku! Apa perlu kutekankan lagi hari ini?!”


“Nggak perlu.”


Raka menatap penuh permusuhan pada Raka, hendak sekali menampar wajah itu namun sayangnya ketukan pintu masih menyelamatkan Saka.


“Abang,” panggil Pelangi dengan kepala yang timbul dari balik pintu.


Raka mengusap wajahnya dengan kasar, sebelum berjalan ke arah Pelangi dan berdiri di hadapannya. “Kenapa belum tidur?” tanyanya.


Pelangi menegakkan badan, ia merasa tidak nyaman pada Saka. “Bow dengar suara abang teriak tadi, jadi ke bangun,” ucapnya jujur.


Raka mengusap pipi Pelangi lembut. “Ayo ke kamarmu,” ajak Raka enggan berlama-lama berada di kamar Saka.


Pelangi menahan tangan Raka untuk tetap berdiam di sini. “Bang Saka nggak salah, jangan marahin dia. Bow yang salah, Bow udah ngajak Bang Raka ke kantor Ayah terus ngajakin keliling perusahaan. Bow yang salah, abang,” aku Pelangi.


“Ayo ke kamarmu,” ulang Raka tidak ingin membahas itu semua.


“Abang,” rengek Pelangi karena Raka enggan mendengarkannya.


“Jangan merengek dan cepat kembali ke kamarmu!”


“Iya iya,” jawab Pelangi tanpa perlawanan lagi. Ia menatap Saka dengan pandangan bersalah, namun abangnya satu itu malah mengangkat jempol dan tersenyum lebar, seakan kemarahan Raka bukan hal yang besar.


Pelangi berjalan di sisi Raka menuju kamar, namun sepertinya ia tidak ingin ke kamar dulu. Pelangi menahan tangan Saka. “Bow mau ke rooftop, boleh? Boleh ya, abang?” pinta Pelangi dengan wajah memelas.


“Nggak boleh, sudah malam dan cuaca dingin,” tolak Raka kembali berjalan.

__ADS_1


“Bang Raka ...,” rengek Pelangi sambil menahan tangan Raka kuat-kuat. “Bisa nggak nurutin yang Bow mau sekali aja?” Pelangi mengerucutkan bibirnya dan memasang wajah semenyedihkan mungkin.


Raka menghela nafas, tingkah Pelangi benar-benar manja dan keras kepala. “Ayo,” jawabnya singkat.


Senyum Pelangi akhirnya terbit, ia jingkrak-jingkrak di tempat sebelum menarik Raka untuk ke rooftop. Saatnya melancarkan aksinya malam ini.


Semilir angin menyapa mereka saat kaki menginjak lantai rooftop. Ada kursi panjang di sana, tempat ini biasa menjadi tempat untuk acara berbeku. Pelangi langsung menarik Raka untuk duduk di sana.


“Enak banget liat bintang di sini. Luas banget,” gumam Pelangi terpana.


Raka tersenyum tipis, sangat tipis hingga hanya ia yang merasakannya. “Dingin?” tanyanya.


“Heem, dingin kayak Bang Raka.” Pelangi memandang Raka, ia tersenyum lebar. Pelangi menyandarkan kepalanya di pundak Raka, menerawang tentang semua ingatannya dengan abangnya. Semua selalu bahagia, dan Pelangi menyesal karena telah merasa bebas saat Raka tidak ada.


“Bow sayang sama Bang Raka. Sayang juga sama Bang Saka. Bow memang nggak pernah punya teman di luar sana, tapi Bow rasa kalian udah cukup jadi teman buat Bow,” tutur Pelangi tiba-tiba. Malam ini, ia ingin menceritakan banyak tentang perasaannya pada Raka. Entahlah, rasanya hanya ingin.


“Bow nggak papa kalau di sekolah nggak ada yang mau menemin Bow karena punya abang yang mengerikan. Bow juga nggak papa kalau semua orang nggak mau deketin Bow karena kalian. Yang Bow harapkan hanyalah abang-abang Bow yang selalu bahagia, pun jika penyebab kebahagiaan kalian adalah Bow sendiri.”


Raka terdiam, tersentuh dengan perkataan adiknya. Bahkan kini, Raka nyaris tak mampu berkata.


“Kamu terganggu dengan sikap abang?” tanya Raka.


Pelangi tersenyum. “Entahlah, rasanya dua-duanya. Ada kalanya Bow ingin kalian ikut campur dalam kehidupan Bow, namun ada juga kalanya Bow ingin kalian biarkan hidup Bow berjalan seperti orang lain,” jawabnya tenang.


“Tapi abang jangan tersinggung, Bow cuman ingin mengatakan. Bow sayang kalian, Bow ingin kalian bahagia selalu,” lanjut Pelangi sambil menggenggam kedua tangan Raka, mengusap punggung kokoh pria itu halus. “Bang Raka jangan berubah setelah Bow mengatakan itu semua. Bow hanya ingin mengatakan, nggak ada maksud buat abang mengubah diri,” ucapnya jujur.


Raka merangkum wajah Pelangi, memandang netranya lamat-lamat. “Abang sayang kamu, abang nggak mau kamu terluka sedikit pun. Maka dari itu abang bersikap demikian, abang harap kamu ngerti.”


“Bow ngerti, sangat mengerti. Bow senang kok di perhatikan terlalu berlebihan sama abang, Bow yakin di luar sana pasti ada yang ingin di posisi Bow sekarang.”


Raka kembali tersenyum, bahagia mendengar bahwa Pelangi tidak begitu masalah dengan sikapnya. Raka mencium kening Pelangi lama, ia sayang sekali dengan perempuan ini, rasa sayangnya bahkan tak mampu di ukur oleh apa pun.

__ADS_1


“Abang sayang kamu,” ucapnya berbisik.


“Kalau abang sayang, Bang Raka bolehin dong Bow ikut tour besok?” Pelangi langsung menyengir, adegan mellow tersebut menjadi hancur berantakan.


“Apa katamu?”


Pelangi mengerucutkan bibirnya, ia menarik-narik tangan Raka. “Boleh ya abang? Bow nggak pernah ikut tour seumur hidup. Ayah juga udah izinin, Bunda dan Bang Saka juga udah ngizinin. Sekarang tinggal Bang Raka, boleh ya abang?” pinta Pelangi terus-menerus membujuk abangnya.


“Kamu tahu kan di sana bahaya?”


“Tau, sangat tau. Semua orang pergi, dan Bow rasa itu sangat aman. Boleh ya Bang Raka? Bow pengen banget ikut tour di jaman SMA sama teman-teman, Bow,” rengek Pelangi tanpa gentar.


“Bagaimana kamu tahu bahwa di sana aman?” tanya Raka seakan memang enggan mengizinkan Pelangi untuk pergi.


“Yakin seyakin-yakinnya melebihi yakin Bow sama kulit manggis yang ada ekstraknya. Bow bahkan udah browsing di internet perjalanan ke puncak, semuanya aman, nggak ada tuh yang namanya licin-licin manja. Intinya aman, bang!” jelas Pelangi dengan nafas ngos-ngosan.


Raka mendengkus geli, ia menyentil kening Pelangi gemas. “Jika abang nggak ngizinin gimana?” tanyanya menyebalkan.


“Bow bakal lakuin banyak cara agar abang mau izinin Bow. Pokoknya Bow mau pergi di tahun ini, Bow mau kayak orang lain, main tanpa perlu di awasin, tidur di tenda dengan cahaya pelita, naik ke puncak sampai lelah, dan mengambil banyak gambar buat kenang-kenangan,” tuturnya panjang. Pelangi sangat ingin ke sana, bagaimanapun caranya akan ia lakukan.


Raka mengangkat alis, siap mendengarkan kembali cerpen adiknya.


“Bow janji nggak akan sampai luka, Bow janji nggak akan dekat-dekat sama anak cowok, Bow janji temenen sama Chika dan Dira doang. Intinya Bow berjanji sejanji-janjinya nggak akan buat Bang Raka dan Bang Saka cemas,” cerocosnya dengan nafas tersengal-sengal. “Aduh hausss. Oksigen kayaknya lagi menipis nih,” dumel Pelangi.


Kali ini Raka tertawa keras, sampai-sampai membuat Pelangi terkejut. Tawa Raka terdengar sangat bebas dan geli, membuat Pelangi ikut tersenyum dan menarik pipi abangnya gemas.


Raka mengacak-acak rambut Pelangi sebelum merangkum wajah gadis itu dan menariknya mendekat. Senyum dan tawa Raka menghilang, di ganti dengan tatapan hangat dan sayang.


“Abang izinkan, tapi dengan satu syarat,” ucap Raka sok misterius.


Pelangi langsung memekik, namun segera ia kesampingkan rasa bahagianya. “Apa syaratnya?” tanya Pelangi tidak sabar.

__ADS_1


Raka menarik wajah Pelangi kian dekat. “Tidur dengan abang malam ini,” bisiknya pelan.


...🍁🍁🍁...


__ADS_2