
Pelangi masih berdiam di dalam kelas padahal bel pulang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Di kelas hanya ada beberapa anak yang piket, tidak ada Chika dan Dira di kelas Pelangi saat ini.
Beberapa kali Pelangi berdecak sembari menatap ponselnya. Wajahnya jenuh dan kesal. “Kenapa nggak ada yang jemput, sih? Pulang sendirian juga nggak di bolehin,” keluh Pelangi.
Pelangi memutuskan menelepon Saka lagi sebab nomor Raka tidak bisa di hubungi. Sambungan terhubung, detik berikutnya suara Saka terdengar dari seberang.
“Abang, di mana? Bow udah nunggu lama ini,” rengek Pelangi cemberut.
“Di jalan, ban motor gue bocor, Bow. Anjir emang orang yang nyebar paku di jalanan,” sungut Saja jengkel.
“Terus kapan sampainya? Bow lapar, bang,” aku Pelangi sedih. “Bang Raka nggak bisa di hubungi, lagi meeting, ya?”
“Nggak tau tuh orang. Tunggu bentar lagi, jangan ke mana-mana, di sana aja.”
“Iya, deh. Bow tutup.” Pelangi langsung mematikan sambungan telepon. Ia menghela nafas, sepertinya acara menunggunya akan semakin lama.
“Keluar,” tegas seseorang dari arah depan pintu. Suaranya yang berat dan terdengar menyeramkan itu membuat beberapa murid yang sedang piket langsung berlari keluar.
“Eh?” Pelangi mengangguk kepalanya heran, pandangannya tidak bisa melihat siapa yang sudah berani mengusir teman sekelasnya. Namun saat matanya menangkap sosok itu, mata Pelangi langsung membulat. “Bara?” beonya pelan.
Sosok badboy bernama Bara itu mendekat ke arah Pelangi, terlihat senyum miring penuh arti di wajahnya yang punya beberapa bekas luka. Bara duduk di atas meja Pelangi, satu tangannya berada di kantong celana.
“Mau apa?” tanya Pelangi sok berani. Tas di sampingnya sudah ia remas kuat-kuat, siap berlari jika Bara macam-macam.
“Mau kenalan,” sahut Bara kalem.
“Gue udah tau nama lo,” kata Pelangi semakin berani.
“Oh, gue terkenal berarti, ya?”
Ah, ini bukan situasi yang baik untuk mengobrol santai. Buru-buru Pelangi bangkit, menyikut tasnya bersiap untuk pergi. Namun Bara malah menekan kedua pundaknya hingga kembali terduduk, membuat mata Pelangi kian membulat dengan raut wajah syok.
“Tunggu dulu, kita bahkan belum tukaran nomor hp,” seloroh Bara menahan.
“Gue nggak punya nomor handphone,” jawab Pelangi langsung. Netranya bergerak gelisah, berharap ada orang yang bisa membantunya. Masalahnya, ini bukan Gara, dia Bara. Cowok kriminal yang menjadi langganan BK, rumornya sih dia pecandu dan pernah merusak cewek di sekolah ini. Namun entahlah, jika itu benar tidak mungkin Bara masih bisa menginjakkan kakinya di lantai SMA Harapan.
“Masa nggak punya?” Bara mendekatkan tangannya ke Pelangi, tanpa di duga gadis itu, handphone di genggamannya di ambil secepat kilat. “Ini ada,” kata Bara dengan wajah menyebalkan.
“Ba-balikin. Punya abang gue.” Satu-satunya di benak Pelangi saat ini adalah membawa nama abang-abangnya.
Bara dengan santai menunjukkan layar ponsel ke arah Pelangi, senyumnya terlihat penuh ejekan. “Wallpapernya anak ayam,” imbuhnya.
__ADS_1
Pelangi kalah telak, menghindar pun ia tidak bisa. Melawan juga bukan pilihan yang tepat, sebab Pelangi tidak ingin kejadian lalu terulang lagi. Mungkin saja menurutnya jika tidak melawan maka ia tidak akan terluka dan menyebabkan keadaan semakin rumit.
Ting!
“Tuh, nomor gue. Save ya, langka banget itu,” ucap Bara setelah menyalin nomor ponsel Pelangi ke ponselnya sendiri. Bara mengembalikan handphone tersebut pada Pelangi. Tangannya bergerak ke telinga, memperagakan gaya calling. “Semoga hari lo menyenangkan.” Bara menepuk singkat kepala Pelangi, sebelum bangkit dan mengambil langkah pergi.
“Apa urusan lo sama gue sebenarnya?” tanya Pelangi dengan suara keras sehingga menghentikan langkah cowok itu. Detik berikutnya Pelangi merutuki mulutnya yang malah bertanya seperti itu, seharusnya ia biarkan saja Bara pergi.
“Nggak ada apa-apa, sih. Cuman mau kenal lo aja, ternyata lo lebih cantik kalau dari dekat, juga pemberani,” jawab Bara tanpa repot-repot memutar tubuhnya lagi, kepalanya hanya sedikit menoleh ke arah gadis itu.
“Oh, oke. Silahkan pergi,” seloroh Pelangi dengan tangan yang mengarah ke pintu, namun setelah itu ia malah yang duluan berjalan keluar. Melewati Bara yang terlihat tercengang dengan mata beberapa kali mengerjap. Pelangi menepuk pipinya cukup keras hingga beberapa kali.
“Duh, bisa pipis di tempat gue kalau tiap hari gitu,” rutuknya sembari bergidik. “Manusia bukan sih? Guru aja di lawan, apa lagi gue?” lagi-lagi Pelangi bergidik ngeri.
Pelangi memutuskan menunggu Saka di depan gerbang SMA Harapan, nafasnya masih tidak beraturan padahal sudah jelas di sini ia aman. Pelangi memandang layar ponselnya, nomor asing dan satu pesan tertera di sana.
“Langsung save, jangan di abaikan,” eja Pelangi pada pesan yang di kirimkan Bara barusan. Terdapat pula emoticon tengkorak dan badut, membuat bulu kuduk Pelangi merinding. Tanpa pikir panjang ia hapus pesan itu, tanpa perlu memasukkannya ke dalam kontak ponselnya.
“Nggak waras memang,” gumam Pelangi geleng-geleng kepala.
Sepertinya setelah Aidan, akan ada Bara yang masuk dalam hidupnya. Yah, semoga saja semuanya baik-baik saja. Pelangi tidak ingin ada yang bersangkutan dengan kedua abangnya lagi.
...🌈🌈🌈
...
“Nggak boleh,” jawab Raka entah untuk yang ke berapa. Tangannya menjawil hidung adiknya gemas. “Hidung kamu merah, siapa suruh makan es krim seharian dari kemarin,” omel Raka.
“Bow nggak papa, ini cuman karena dingin aja,” alibi Pelangi kian merengek. Kemarin, ia memang makan ice cream begitu banyak bersama Saka, namun selepas bangun tidur, hidungnya sudah memerah dan lehernya sedikit sakit.
“Dingin, kan? Ayo masuk.” Raka berdiri, menatap Pelangi yang semakin merengek sembari menendang-nendang lantai.
“Abang, Bow nggak bisa di giniin,” omel Pelangi.
“Lalu ingin seperti apa?” tanya Raka gemas bukan main.
“Mau es krim, tiga cup doang, habis itu Bow tidur,” tawar Pelangi lagi. Tangannya kembali menarik jari-jari tangan Raka, wajahnya di buat memelas dan manja.
“Ini sudah malam, es krim nggak bagus,” tolak Raka lagi.
“Huaaa abang jahat banget!” teriak Pelangi dengan bibir melengkung ke bawah.
__ADS_1
“Pelangi, berhenti merengek. Ayo masuk, di sini dingin,” ajak Raka lebih tegas. Udara rooftop sudah mulai kencang, ini juga sudah pukul sembilan.
Pelangi mengusap hidungnya, kedua tangannya terentang menghadap Raka. “Gendong,” pintanya terlalu manja.
Raka langsung berlutut di depan Pelangi, memberikan punggungnya untuk memenuhi keinginan adiknya.
Mau tidak mau Pelangi menaiki punggung Raka dan berhenti merengek. Malam ini seharusnya ia makan ice cream, namun Raka menolak dan malah mengancam ingin membuang seluruh ice cream di dalam kulkas jika Pelangi berani mengambilnya.
“Abang, Bow udah besar. Tapi kenapa kayak anak kecil bagi kalian?” tanya Pelangi tiba-tiba. Tangannya memeluk erat leher Raka, dagunya di taruh di atas pundak kokoh abangnya.
“Karena kamu tetap gadis kecil kami.”
“Iya, kenapa? Kenapa Bow selalu di anggap anak kecil? Bow udah besar, bisa melakukan hal sendiri dan memutuskan pilihan Bow sendiri. Bow udah tau mana yang buruk dan mana yang baik, tapi kenapa rasanya bagi kalian Bow nggak bisa lakuin itu semua?” tanya Pelangi beruntun.
Raka terdiam, langkahnya sedikit terhenti namun tak lama kembali berjalan menuju kamar Pelangi. Raka menghela nafas pelan, nyaris tak terdengar. Tapi tak kunjung juga lelaki ini menjawab pertanyaan adiknya.
“Bow udah mau nanya lama, tapi baru sekarang berani,” cicit Pelangi kecewa sebab Raka tidak menanggapi semua pertanyaannya.
“Kamu akan tau jawaban itu semua saat kamu berada di posisi itu,” jawab Raka akhirnya. Jawaban singkat, padat dan jelas itu meluncur sempurna dari mulutnya, tanpa repot-repot menjawab semua pertanyaan Pelangi.
“Bow ud—“ Pelangi tidak bisa melanjutkan perkataannya, tenggorokannya tercekat saat mengingat semua kejadian buruk yang menimpanya beberapa tahun lalu. Pelangi menundukkan kepala. “Benar, Bow belum berada di posisi yang sebenarnya,” lirihnya.
Raka menurunkan Pelangi ke atas kasur, kemudian mendudukkan tubuhnya di samping adiknya. “Menjadi anak kecil jauh lebih menyenangkan daripada menjadi orang dewasa. Di saat seperti ini kamu masih bisa tertawa dan bersikap manja, tapi saat kamu mulai masuk dalam lingkup dunia dewasa, tawamu akan hilang terganti dengan tangis dan kesengsaraan,” tutur Raka panjang penuh makna.
Pelangi mendongak, matanya berkaca-kaca mendengar rentetan kata yang mengenai tepat di dasar hati Pelangi. “Dan abang sedang berada di posisi itu sekarang?” tanya Pelangi dengan pandangan lirih.
“Semua orang pasti mengalami kesulitan,” jawab Raka lugas. “Tapi abang nggak akan biarkan kamu di posisi itu, abang nggak akan biarkan kamu menangis.” Raka usap pipi Pelangi halus, tatapannya tulus dan tegas. Seakan itu janjinya, membuat Pelangi selalu bahagia.
“Tapi sekarang Bow menangis,” sergah Pelangi dengan bibir melengkung ke bawah, diiringi tetesan air mata yang jatuh mengenai pipi dan tangan Raka.
Raka tertawa kecil, ia tarik Pelangi masuk dalam lingkup hangat tubuhnya, mendekap gadis kecil ini erat-erat. “Menangislah jika perlu, itu akan mengurangi beban yang sedang menimpa kamu,” bisik Raka halus.
Pelangi terisak, bayang-bayang masa depan mulai mengusai pikirannya. Tentang sulitnya kehidupan, tentang tangis kesakitan dan frustrasi sebab kehidupan. Semua gambaran itu tercetak jelas di kepalanya, seakan itu adalah kejadian yang terjadi padanya nanti.
“Bow nggak bisa bayangin berada di posisi itu,” gumam Pelangi. Tangannya mencengkeram erat baju Raka, terisak penuh ketakutan. “Bagaimana kalai Bow nggak bisa lewatin itu semua?” tanya Pelangi. Tidak sedikit orang yang bunuh diri dan stres karena masalah hidup, dan Pelangi tidak pernah berpikir sejauh itu.
“Kamu pasti bisa melewatinya. Abang di sini, selalu di dekat kamu dan nggak akan pernah pergi. Masa depan ada di tangan kamu, lika-liku kehidupan di tangani oleh pikiranmu,” jawab Raka sambil mengelus punggung Pelangi menenangkan. Kecupan-kecupan ringan ia layangkan di pucuk kepala Pelangi dan kening gadis itu.
Pelangi menarik diri, mengusap pipinya yang basah. Tatapannya sayu, bibirnya tidak melengkung ke atas lagi. “Bang Raka pasti pergi, abang punya kehidupan juga,” kata Pelangi.
Raka menggeleng tegas, tangannya menggapai kedua tangan Pelangi dan menggenggamnya seerat mungkin. “Kamu adalah kehidupan abang yang sebenarnya. Sampai kapan pun hanya kamu” tegas Raka penuh penekanan.
__ADS_1
...🍁🍁🍁...