Rapunzel & Obsesi Dua Pria

Rapunzel & Obsesi Dua Pria
35| He Knows


__ADS_3

“Abang,” panggil Pelangi setelah membuka pintu kamar Saka. Hanya kepala gadis itu yang menyembul di balik pintu, matanya melihat kesana-kemari dan menemukan Saka duduk di depan layar komputernya. Pelangi melangkah mendekati Saka.


“Apa, Bow? Jangan ganggu dulu, lagi asyik nih,” ucap Saka tanpa mengalihkan perhatiannya.


“Abang,” rengek Pelangi dengan wajah cemberut. “Bow bosan,” akunya sambil duduk di atas meja belajar Saka.


“Salah elo yang nggak mau sekolah.”


“Ishh!” decak Pelangi jengkel. “Abang peka dong!” dumelnya sembari menarik kursi Saka agar menghadapnya. Wajahnya semakin cemberut, menunjukkan secara langsung pada Saka bahwa ia benar-benar bosan di rumah.


“Apa, Bow ...?” tanya Saka lembut. “Apa, hm?” ulangnya dengan tangan yang mencubit kedua pipi adiknya gemas. Kursinya semakin ia dekatkan, tangannya di taruh di kedua sisi tubuh Pelangi.


“Temenin main, Bow bosan.”


“Main apa? Main ML?” Saka menyeringai.


“Bukan! Bow nggak suka main game. Temenin Bow main yang lain, atau temenin Bow jalan,” ucapnya setengah mendumel. Sungguh, ternyata berdiam di rumah begitu membosankan. Namun mau bagaimana lagi, Pelangi belum ingin masuk sekolah.


Saka menghentikan permainannya, mematikan laptopnya dan memfokuskan seluruh perhatiannya hanya pada Pelangi. “Mau jalan ke mana? Di luar panas, gue juga pasti yakin abang lo yang paling posesif itu nggak bakal ngebolehin.”


“Biarin,” sahut Pelangi langsung. Beruntung Raka pergi bekerja, sehingga Pelangi merasa mulai tenang sendirian di rumah tanpa kehadiran pria itu. Biarkan seperti ini dulu, Pelangi enggan terlibat hal serius pada abangnya sendiri.


“Lo kenapa sih, Bow? Lo bersikap aneh dari semalam,” tuding Saka penuh selidik. “Cerita sama gue, jangan bersikap kayak gini. Lo bikin gue khawatir tau nggak.”


Pelangi menundukkan kepalanya, ia memang sangat ingin menceritakan perbuatan Raka pada semua keluarganya. Namun keberaniannya hanya sekecil padi, ia tidak ingin Raka malah semakin bersikap aneh padanya.


“Bow, dengar. Apa pun masalah lo, kami harus tau. Berhenti mengulangi hal yang sama,” tukas Saka sedikit kesal.


'Jika ini bermasalah dengan orang lain, gue pasti akan cerita. Tapi ini berbeda, ini menyangkut orang terdekat gue.’ Bisik Pelangi hanya dalam hati. Yang bisa Pelangi lakukan hanya menghela nafas panjang, dan hanya bisa menarik Saka dan memeluknya.


“Gue baik-baik aja, gue bisa atasi masalah gue sendiri,” ucap Pelangi dengan suara berat. Sebab ia tidak yakin bahwa ia bisa menyelesaikan masalah ini sendirian.


“Apa masalah lo?” tanya Saka terdengar begitu tegas dan menuntut. “Pelangi berhenti main-main! Gue nggak suka!” sentak Saka keras sembari melepas pelukan Pelangi dengan kasar.


“Gue takut mengatakannya!!” teriak Pelangi dengan mata berkaca-kaca. “Gue takut jika gue bilang masalahnya malah semakin besar! Bow takut abang!!” tidak bisa Pelangi cegah lagi air matanya, netranya berair dan mulai terisak.


Saka menegang, tubuhnya terasa kaku. Entah sadar atau tidak, Saka mengumpat dan tangannya terkepal kuat. “Raka?” hanya satu kata, namun Saka yakin nama itu yang sudah membuat adiknya menjadi seperti ini.


Tangis Pelangi langsung terhenti, matanya sedikit membulat dan jantungnya mulai berdebar kencang.


“Benar karena dia?” Saka langsung bangkit, kedua netranya memancarkan permusuhan dan percikan amarah. Dada Saka naik-turun menahan amarah.


“Abang enggak! Bang Raka nggak ada sangkut pautnya. Ini masalah gue sama orang lain.”


“Siapa orangnya?” tuntut Saka tajam.


“A-ada lah pokoknya! Abang gak—“

__ADS_1


Saka mengangkat tangannya menyuruh Pelangi diam, raut yang selalu menyebalkan itu terganti dengan raut keras dan datar. Tanpa mengatakan apa-apa, Saka mengambil langkah keluar.


“Abang! Bukan Bang Raka!” pekik Pelangi sembari mengejar langkah Saka, susah payah ia menggapai lengan kakaknya itu namun tidak sama sekali di gubris. “Abang ... jangan bersikap kayak gini. Bow semakin takut,” lirihnya kembali terisak.


Langkah Saka terhenti, nafasnya menderu begitu kencang. Tangis Pelangi terdengar tersedu-sedu, membuat hati Saka terasa di iris benda tumpul yang menyakitkan.


“Benar dia, kan?” tanya Saka dengan suara rendah.


Pelangi menggeleng keras, tangannya memeluk lengan Saka berharap amarah abangnya mereda. “Bukan, bukan sama Bang Raka,” tolaknya lagi untuk mengakui.


“LALU SIAPA?!!!” teriak Saka begitu keras hingga Pelangi terperanjat hebat. Saka mengusap wajahnya, memutar tubuhnya dan langsung memegang kedua pundak Pelangi cukup keras. “Katakan yang sejujurnya! Atau Raka benar-benar gue bunuh hari ini juga!”


Pelangi menggeleng, tangisnya kian terdengar nyaring dan ketakutan.


“PELANGI KATAKAN!!!” bentak Saka.


“IYA!! BANG RAKA YANG BUAT GUE KAYAK GINI!!” sahut Pelangi pun ikut berteriak keras.


“Brengsek!!” maki Saka. Tanpa basa-basi ia putar tumit, berjalan menuruni anak tangga tidak peduli Pelangi terus berteriak untuk berhenti. “Bajingan!!” sungut Saka lagi penuh amarah.


“Abang! Bow mohon jangan! Bang Raka nggak apa-apain gue. Dia cuman marah besar sama gue karena datang ke kantor dia. Bang Saka nggak ngelakukan apa-apa!” cegat Pelangi.


Saka bagai tuli, langkah terus membawanya pergi.


“Bang Saka, bow mohon jangan kayak gini.” Pelangi dekap tubuh Saka dari belakang, sehingga menghentikan langkah lebar cowok itu di dekat pintu utama. Seerat mungkin Pelangi peluk tubuh Saka, berharap amarah kakaknya reda dan berhenti membuatnya ketakutan seperti ini. “Bow takut, abang ... Bow takut Bang Saka kayak gini,” jujurnya dengan tubuh bergetar.


Saka tidak merespons, hanya diam dengan kemarahan yang setia bertahan.


Saka perlahan menarik nafas panjang dan menghelanya sekali, meredam amarahnya bulat-bulat hanya karena keadaan Pelangi saat ini. “Lo di apain sama dia?” rendah Saka bertanya.


Pelangi menggeleng, ia enggan mengakui sehingga nanti masalahnya akan semakin rumit. “Bukan masalah besar, Bang Raka cuman peluk gue. Tapi bedanya Bang Raka nunjukkan sisi dominannya sama Bow,” akunya tidak sepenuhnya berbohong. “Bow jujur, bang ... Bow cuman takut sama sisi Bang Raka kemarin.”


Perlahan, nafas Saka mulai teratur. Kedua tangannya yang terkepal kini berangsur melonggar. Tangan Pelangi yang berada di perutnya, ia usap dengan perlahan penuh rasa bersalah. Sorot mata yang tajam membunuh kini berubah menjadi sendu.


“Bow juga takut sama Bang Saka kalau bersikap kayak gini. Bow lebih suka abang yang menyebalkan,” ungkapnya bersama tangis yang mulai mereda.


“Bow,” panggil Saka halus dan lirih. “Gue sayang sama lo, gue juga ngehormati Raka sebagai abang gue. Tapi kalau dia macam-macam sama lo, dia benar-benar mati di tangan gue nggak peduli status kita apa,” ucapnya dengan suara tegas penuh kejujuran.


“Nggak ada yang Bang Raka lalukan selain peluk Bow,” ucap Pelangi lagi.


Saka memutar tubuhnya, mengusap pipi adiknya sehalus mungkin. “Maaf buat lo nangis lagi,” ucapnya merasa bersalah. Kedua mata Pelangi yang bengkak, ia usap sehalus mungkin. “Udah nangisnya, entar kalau abang lo yang gila itu ngeliat, gue yang juga bakal di bunuh sama dia,” guraunya.


Pelangi mengangguk masih dengan bibir melengkung ke bawah. “Maaf juga karena udah buat Bang Saka marah.” Ia menunduk.


“Nggak usah minta maaf.”


“Abang,” panggil Pelangi.

__ADS_1


“Apa?” sahut Saka sambil merapikan rambut Pelangi, juga mengusap pipi yang masih basah itu perlahan-lahan.


“Siapa sebenarnya Bang Raka?” Pelangi menggigit bibirnya berharap pertanyaannya tidak salah. Namun sungguh, perlakuan Raka memang berbeda. Dan selama ini tidak ada jawaban yang pas untuk semua sikap yang Raka tujukan padanya.


“Iblis,” sahut Saka asal. Kemudian, ia mengibaskan tangannya dengan wajah jengkel. “Jalan yuk? Naik motor, kita kebut-kebutan di jalan. Mau, nggak?” ajaknya sambil menaik-naikkan alis.


“Mau!!” pekik Pelangi antusias.


“Ya udah ganti baju sana. Gue ambil jaket dulu.”


Pelangi mengangguk dan berjalan menaiki anak tangga. Setidaknya setelah membuat keributan, Saka tetap akan bersikap seperti biasa padanya. Pun begitu dengan Raka saat itu, dia menyesal telah melakukannya, dan untuk apa Pelangi malah semakin sibuk memikirkan siapa sebenarnya Raka.


“Dia iblis berkedok abang gue,” gumam Pelangi.


...🌈🌈🌈


...


“Huaa abang!!! Bow nggak mau mati!!” teriak Pelangi sekencang-kencangnya saat Saka benar-benar membawanya kebut-kebutan di jalanan. Alhasil kini kedua tangannya memeluk erat perut abangnya, menutup erat kedua matanya, dan tanpa henti berteriak saking terkejutnya.


“Berasa bawa pacar gue!” kata Saka sambil tertawa renyah. Tanpa peduli teriakan Pelangi yang semakin kencang, Saka naikkan kecekapan kendaraannya dan kembali tertawa melihat ekspresi gadis itu.


“Pelan-pelan aja, abang! Bow nggak mau mati muda!” pekik Pelangi keras.


“Perintah dibuat untuk di langgar!” seru Saka semakin menaikkan kecepatan motornya hampir full menyentuh kilometer. Saka tertawa puas dan geli, tubuh Pelangi benar-benar mepet pada tubuhnya, kedua tangan adiknya semakin erat mendekapnya dari belakang.


Lambat laun, kengerian yang menghampiri Pelangi berangsur menghilang. Ia sudah mulai terbiasa, maka dengan berani ia buka matanya, dan berbinar saat pohon yang ia lalui bagai sebuah bayangan saja.


“Keren, bang! Ya ampun Bow berasa di atas awan!” pekik Pelangi kegirangan. Pelan, ia longgarkan dekapannya, senyumnya mulai terbit perlahan-lahan dan lebar.


“Suka?” tanya Saka sembari mengulas senyum tipis.


“Suka!” senyumnya merekah sempurna, semua masalah bagai ikut terbang bersama angin.


“Kita cuman jalan-jalan gini aja lho, Bow. Kita nggak usah singgah,” tutur Saka.


“Iya, nggak papa kok. Gini aja gue udah senang,” ujar Pelangi benar-benar tulus. Ia taruh dagunya di pundak Saka, menatapnya dari samping. “Akhir-akhir ini Bow stres banget, semua masalah kayak mengarah ke gue semua,” akunya sedih.


“Artinya Tuhan sayang sama lo.”


“Tapi gue capek,” lirihnya sendu. “Makanya, Bow harap Bang Saka buat gue bahagia terus, biar gue nggak capek,” tambahnya dengan suara terdengar kecil.


“Iya, sayang ... sebiasa mungkin gue buat lo selalu bahagia. Maaf ya soal tadi, gue banar-benar marah karena Bang Raka bersikap kayak gitu sama lo.”


Pelangi mengeratkan dekapannya, selepas itu tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Di antara Raka dan Saka, Pelangi jauh lebih merasa nyaman bersama dengan Saka. Walau abangnya itu menyebalkan, tapi Saka tidak pernah menunjukkan sisi mengerikannya selalu pada Pelangi. Sedangkan Raka sebaliknya, pria itu jika dalam mood buruk, maka Pelangi yang menjadi sasarannya.


“Bow cuman mau bahagia sama kalian,” bisiknya pelan. “Jika gue nggak bisa bahagia sama orang lain, setidaknya kalian yang bisa buat gue bahagia.” Setelah itu, Pelangi biarkan mereka membelah jalan dalam keadaan hening. Matanya perlahan terpejam, menikmati embusan angin yang menerpa wajah dan menerbangkan anak rambutnya.

__ADS_1


Ini menyenangkan, Pelangi harap esok ada hal yang baik menunggunya.


...🍁🍁🍁...


__ADS_2