
Nafas Aidan menderu, dadanya terasa begitu sakit. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya, sorot matanya menjadi begitu tajam. “Sialan,” makinya dengan suara rendah. Aidan benar-benar ingin menghantam siapa saja untuk mengurangi kekesalannya.
“Brengsek!” ia mengumpat lagi—sedikit lebih keras. “Pengecut! Penjilat ludah! Lo goblok, Dan! Kenapa lo malah ngejauh di saat lo bilang nggak akan ngejauh sampai kapanpun!” gertaknya pada dirinya sendiri.
“Brengsek!! Lo bilang ngejaga jarak, sialan! Bukan ngejauh!!!” Aidan menghantam dinding sisi toilet yang tidak terpakai, nafasnya menderu begitu kencang.
Aidan marah, marah pada dirinya sendiri. Bagaimana netra itu menatapnya dalam diam dan pandangannya sayu, cukup membuat Aidan di cap seorang brengsek yang tidak bisa bertanggung jawab. Sejauh ini, ia mencoba bersikap tidak seperti biasa pada Pelangi, namun yang ia dapat adalah sakit hati karena melihat wajah terluka gadis itu.
“Anjing!” keras, Aidan kembali mengumpat dan meninju dinding. “Gue nggak bisa kayak gini lebih lama!” seru Aidan penuh amarah. Ia tidak bisa menciptakan jarak sejauh ini, Aidan benci menatap netra kesakitan gadis itu.
“Nggak, Dan, lo harus cari tau siapa Raka sebenarnya,” kata Aidan dengan pandangan menusuk dan dendam. Namun sungguh, ia tidak bisa sejauh ini dengan Pelangi. “Aarrgg!!” Aidan mengacak rambutnya, situasi macam apa yang tengah melandanya saat ini.
“Persetanan dengan siapa Raka!” sungut Aidan keras dengan langkah yang kembali ke gedung utama. Langkahnya yang besar, sorot matanya yang tajam, dan raut wajahnya yang marah cukup membuat semua orang menyingkir saat ia lewat.
Aidan tidak tahan. Ia ingin Pelangi.
Suara pintu yang di dorong keras membuat beberapa orang menjerit. Aidan menyelisiri kelas yang di gunakan Pelangi untuk ulangan, namun gadis itu tidak berada di sana. Tidak menemukan Pelangi di sana, Aidan beralih pada kelas di sebelahnya. Ia melihat Chika dan Dira yang bercengkerama ringan.
“Di mana Pelangi?” tanya Aidan to the point.
“Eh?” Chika terkejut. “D-di ...” matanya melirik Dira, mereka meringis dan menggeleng serentak. “Kita nggak tau Pelangi di mana, dari tadi nggak ada di kelas,” lanjut Chika.
Aidan mengumpat dalam hati, tanpa mengatakan apa-apa ia berjalan keluar dan mencari keberadaan Pelangi saat ini. Bel masuk tinggal lima menit, Aidan tidak ingin kehabisan waktu. Sungguh, ia perlu menjelaskan sesuatu pada gadis itu.
“Wow wow wow, kalem bro.” Fael menahan pundak Aidan saat berpapasan dengannya di koridor. Melihat sahabatnya itu bagai orang kesetanan membuat Fael ngeri melihatnya.
“Tenang dulu, Dan, jangan marah-marah kayak gini,” sambung Jordan mengingatkan.
Aidan tidak mengindahkan perkataan kedua sahabatnya, netranya yang merah menatap nyalang siapa saja. “Minggir,” sentaknya dingin.
“Woy bro, lo kayak bocah banget anjir!” Jordan bersungut jengkel. Sikap Aidan benar-benar membuatnya dan Fael jengkel.
“Apaan sih kalian?!” mata Aidan menyorot kesal Fael dan Jordan.
“Kita tau lo patah hati, tapi dengan sikap lo kayak gini Pelangi pasti nggak suka,” seloroh Jordan bijak. “Jika lo kayak gini, gue rasa Pelangi malah makin ngejauh. Lo tau kan, dia nggak mau lo kenapa-napa?”
Aidan terdiam. Nyatanya dirinyalah yang menjauh.
“Kalau lo takut dia di ambil orang duluan, sans aja. Pelangi cuman suka sama lo,” kata Fael ikut-ikutan bijak. Namun, keseriusannya tidak bertahan lama, sebab cowok itu malah menepuk dada dan memasang wajah bangga bukan main. “Nggak sia-sia lo cerita masalah lo ke gue. Wih, gue pakar dari segala pakar asal lo tau,” ujar Fael penuh percaya diri.
“Najis banget sih tai!” Jordan bersungut-sungut sembari menoyor geram kepala Fael. Cowok itu tidak akan pernah serius dalam hal apapun.
“Kalian nggak tau rasanya di posisi gue,” gumam Aidan pelan. “Gue capek selalu ngalah dengan keadaan, ada saatnya gue mau menang.” Sorot matanya berubah lir dan sendu.
“Kita memang nggak tau rasanya di posisi lo. Kita juga nggak tau sedalam apa luka yang lo sembunyiin. Tapi, Dan, situasi saat ini belum tepat untuk kalian menjalin kedekatan lagi. Gosip Gara belum sepenuhnya reda, dan dengan sikap lo barusan bisa buat sekolah makin gempar dan yang jadi sasaran ya Pelangi!” kelakar Jordan panjang lebar. “Gue cuman nggak mau kalian malah semakin jauh, lo bakal sulit gapai dia,” tambahnya dengan suara penuh ketulusan.
Fael yang hendak menyambung perkataan Jordan terhenti, ia merasa bingung ingin mengatakan apa. “Ah, kita satu pemikiran, Jor,” kekeh Fael sambil menepuk pundak Jordan beberapa kali.
Jordan mendelik, kemudian berdecih.
__ADS_1
“Lo benar.” Aidan tidak bisa menampik bahwa perkataan Jordan sudah menyudutkannya. “Tetap kayak gini, ya?” tanyanya hampa.
“Iya, saat semuanya sudah mulai membaik, jalan lo menuju Pelangi juga mudah. Intinya, tunggu dan tahan diri lo sendiri.”
Aidan menekan pangkal hidungnya, sungguh itu berat. “Tatapan matanya, Jor. Matanya buat gue mati rasa,” akunya.
“Anjay!”
Plak! Jordan memukul kepala Fael keras. Dia melotot galak. “Bisa serius nggak sih, lo?” sentaknya jengkel.
Fael cemberut dan mendesis ikut kesal. “Iya-iya gue diem.”
Jordan kembali menatap Aidan, netranya selalu menyiratkan keseriusan. Jordan adalah orang yang selalu serius jika keadaannya memang harus serius. “Jika lo takut mandang mata dia, lo bisa liat dia dari jauh. Yang lo perlu tau adalah Pelangi baik-baik aja, gue rasa itu yang di lakukan laki-laki sejati.” Jordan menggidikkan bahunya. “Soalnya gue juga bukan cowok sejati,” lanjutnya bersama helaan nafas.
Perlahan, senyum Aidan terbit begitu tipis. Tangannya terangkat, menepuk pundak Jordan tanda terima kasih. “Lo benar, tahu dia baik-baik aja lebih dari cukup buat gue,” ucapnya perlahan merasa tenang. “Thanks, bro.” Aidan kemudian berlari menuju kelas, bersamaan dengan bel masuk berbunyi.
“Woy, cok! Lo bilang makasih ke Jordan doang?!” teriak Fael tidak terima.
Bukannya menyahut, Aidan malah memberikan jempolnya tanpa menghentikan larinya. Hanya sebentar sebelum tubuh itu menghilang.
“Setan!” Fael mengumpat tidak terima Aidan hanya memberi jempol ke arahnya. Dengan wajah merajuk Fael pandangi Jordan, bibirnya sedikit mencebik. “Gue cemburu!” serunya keras.
Jordan merasa mual, wajahnya ngeri bukan main. “Belok ternyata lo,” gumam Jordan sembari geleng-geleng kepala. Setelah itu, tanpa mengatakan apa-apa lagi ia berlari menghindari Fael yang tidak waras itu.
“MAKSUD LO APA ANJIR?! GUE MASIH DOYAN APEM YA!!!” teriak Fael menggema, sehingga mengundang perhatian Bu Yuna.
...🌈🌈🌈...
Pulang sekolah ini, Pelangi masih berdiam di dalam kelas. Jari-jarinya mengetuk ponsel, bingung harus berbuat apa. “Ayo, Ngi, lo butuh dia,” gumamnya meyakinkan.
Pelan, Pelangi buka ponselnya dan mencari nama Raka. Tanpa ragu ia hubungi nomor itu, menunggu dengan jantung berdebar.
“Abang?” panggil Pelangi saat sambungan terhubung.
“Ya, sayang? Kenapa?”
“Abang di mana?” tanya Pelangi basa-basi.
“Di kantor. Kamu sudah pulang?”
Ah, sepertinya ini situasi yang tepat. “Ini udah mau bubar,” jawabnya. “Hemm ... Bang Raka, Bow boleh jalan-jalan sama Chika dan Dira?” pinta Pelangi sambil menggigit bibir.
Hening beberapa saat, Raka tidak berkata lagi hingga membuat Pelangi menggigit bibirnya semakin dalam. “Nggak boleh, ya?” ia mendesah kecewa.
“Ingin kemana?”
Senyum Pelangi langsung terbit. “Jalan-jalan! Cari buku, beli jajan, pokoknya Bow mau jalan-jalan sama teman Bow,” serunya mengatakan semuanya. “Boleh ya, bang? Hari ini doang kok, nggak bakal lama juga,” rengeknya memaksa.
“Janji tidak lama?”
__ADS_1
“Janji!” pekik Pelangi spontan. “Bow nggak akan matiin ponsel atau nggak angkat telepon. Bow janji.”
“Ya sudah.”
“Serius?”
“Iya, sayang. Pergilah, bermain sepuasmu,” kata Raka lembut.
Pelangi tersenyum, namun hatinya merasa resah. “I love you my brother! I love you so much!” ucapnya terlalu bahagia.
Raka tidak menyahut, hanya terdengar deheman berat suaranya. Namun tak lama kemudian, Raka menjawab, “Aku juga mencintaimu.” Kemudian, sambungan terputus.
Senyum Pelangi pudar, bukan karena balasan dari Raka barusan, melainkan kebohongan yang lagi-lagi ia tujukan. “Maafin Bow ya, Bang? Bow bohong lagi,” ucapnya bersalah. Namun hanya ini alasan yang bisa ia gunakan agar Raka percaya.
“Kak Jingga, aku butuh Kakak hari ini,” bisik Pelangi. Ia kemudian menggendong tasnya, berjalan keluar sekolah sendirian. “Gue tinggal naik taksi dan ngasih alamat perusahaan Kak Jingga,” gumamnya yakin.
Setelah mendapatkan taksi, Pelangi memandangi kartu nama yang ia simpan baik-baik. Hanya hari ini ia punya keberanian, maka dari itu Pelangi tidak ingin menyia-nyiakan.
“Semoga Kak Jingga tau gimana caranya keluar dari masalah ini. Aduh, gue pusing.” Sungguh, pikiran Pelangi tidak seluas orang lain yang berpengalaman soal percintaan. Jingga adalah orang yang tepat untuk Pelangi datangi, wanita itu pasti tahu bagaimana cara keluar dari zona membingungkan seperti ini.
“Hemm, Kaka Jingga ada di kantor nggak, ya? Kan, selama ini dia nutupin identitasnya?” Pelangi jadi merasa bingung. “Ah, coba pergi aja dulu. Entar kalau nggak ketemu pulang aja,” monolognya.
Taksi yang di tumpangi Pelangi pun akhirnya sampai di depan gedung pencakar langit bertuliskan J Fashion. Tulisan khasnya yang berwarna emas itu membuat sekujur tubuh Pelangi merinding. Ia mulai melangkah masuk dan menuju resepsionis.
“Ada yang bisa kami bantu, Dek?” sapa sang resepsionis ramah.
“Boleh saya bertemu dengan pemilik perusahaan ini?” Pelangi jadi gugup, ia tidak tahu harus mengatakan apa.
“Sudah punya janji sebelumnya?”
Pelangi menggeleng. “Belum, tapi saya kenal pemilik perusahaan ini.”
Sang resepsionis terlihat terkejut, namun tak lama setelahnya senyumnya kembali terbit menutupi keterkejutannya. “Maaf Dek, kalau belum ada janji tidak bisa bertemu dengan pemilik perusahaan ini. Mungkin kamu bisa datang lain kali setelah membuat janji, ya?”
Pelangi mendesah kecewa, identitas Jingga benar-benar di jaga rapat. Atau bahkan hanya segelintir orang yang mengenal Jingga dalam perusahaan ini. Pelangi pun tersenyum ke arah resepsionis tersebut. “Terima kasih ya, Mbak,” ucap Pelangi.
“Terima kasih kembali.”
Dengan langkah berat Pelangi berjalan keluar gedung, dengan hampa ia pandangi kartu nama itu lirih. “Seharusnya gue nerima ajakan Kak Jingga buat pergi jalan-jalan. Kayak gini kan susah,” dumelnya menyesal.
Di kartu nama, tertera nama perusahaan dan nomor ponsel. Pelangi langsung teringat perkataan Jingga saat mereka pertama kali bertemu. “Ini nomor ponselku, kamu bisa hubungiku di sini langsung. Oh iya, kartu nama ini nggak di berikan ke sembarang orang.” Sepertinya benar, bahwa ini nomor asli dari Jingga.
Segera Pelangi hubungi nomor itu, bagaimanapun caranya ia harus bertemu dengan Jingga. Pelangi perlu berkeluh kesah tentang percintaannya, karena di hanya pada Jingga hatinya terarah.
“Hallo, Kak,” sapa Pelangi pelan penuh rasa cemas. Ia takut salah orang. Namun, saat mendengar suara Jingga, membuat Pelangi tersenyum dan langsung mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan Jingga.
Ternyata, Jingga memang sosok yang misterius. Bukan ingin bertemu di perusahaannya langsung, perempuan itu malah ingin bertemu di tempat umum. Ah, Pelangi rasa ini saatnya menceritakan bahwa ia sudah di buat gila oleh Aidan.
...***...
__ADS_1