Rapunzel & Obsesi Dua Pria

Rapunzel & Obsesi Dua Pria
17| Liburan Sebelum Waktunya


__ADS_3

“Hm ... Kak Pelangi?”


Seseorang memanggil Pelangi dengan suara cicitan, suaranya berasal dari samping sang empu. Pelangi menoleh, ia menghentikan suapan makanan dari bekal yang ia bawa.


“Ya?” jawab Pelangi.


Siswi yang memanggil Pelangi tersebut menyodorkan dua novel ke depan Pelangi. Senyumnya tertampak canggung. “Boleh minta tanda tangan?” tanyanya dengan ekspresi gugup.


Pelangi mengerjap, ia seketika lupa dengan siswi di hadapannya. Ah benar, Pelangi seorang penulis. Namun ia tidak terkenal, menulis hanyalah kegiatan yang Pelangi lakoni hanya karena gabut saja. Terlebih setiap hari ia terkurung di rumah. Dan entah keajaiban dari mana, karyanya di bukukan oleh penerbit.


“Nggak boleh ya, Kak?” siswi tersebut mendesah kecewa.


“Eh, boleh, kok. Sini-sini.” Pelangi mengambil pulpen di dekat tangannya, membuka lembar pertama novel tebal tersebut. Pelangi menyoretkan tanda tangannya di dua buku tersebut.


“Makasih banyak, Kak,” ucap siswi tersebut tulus. Matanya berbinar cerah, tampak sangat senang mendapat tanda tangan langsung dari Pelangi.


“Gue seharusnya yang bilang makasih karena udah datang ke sini dan minta tanda tangan gue,” tutur Pelangi senang. Ia menepuk pundak siswi yang sepertinya adik kelas tersebut, Pelangi melempar senyum ramah.


Siswi tersebut menundukkan kepala sebelum berpamitan keluar kelas. Gadis itu memeluk kedua novelnya erat, senyumnya merekah lebar bahkan saat hilang dari pandangan Pelangi.


“Senang banget punya penggemar,” kekeh Pelangi. Ia kembali menyuap nasi yang ia bawa dari rumah, memakannya sendirian seperti biasa.


Fans pertama Pelangi tentu saja kedua abangnya. Masing-masing dari mereka memiliki buku hasil imajinasi Pelangi, bahkan mereka merengek meminta tanda tangannya. Mengingat hal itu membuat Pelangi tersenyum.


Drtt drtt


Pelangi mengambil ponselnya yang bergetar, senyumnya kembali terbit saat melihat Raka yang meneleponnya. Tumben, biasanya kakaknya satu ini akan menelepon saat istirahat kedua.


“Hallo abang?”


“Sudah makan?” tanya Raka di seberang sana. Abangnya terdengar sibuk.


“Ini lagi makan.”


“Baguslah.”


Pelangi mengangguk, setelah itu hanya ada hening. Terdengar suara ricuh dari seberang sana, pekikkan perempuan terdengar sangat dominan. Pelangi mengernyitkan dahinya.


“Bang Raka di mana? Kok rame banget?” tanya Pelangi penasaran.


“Di sini, di kelasmu.”


Pelangi mendongak saat suara Raka terdengar dekat dengannya. Mata Pelangi lantas melotot saat melihat Raka berdiri di depan mejanya dengan ponsel yang masih berada di telinga. Raka mengulas senyum sangat tipis.


“Sudah kenyang?” tanya Raka sambil mengusap ujung bibir Pelangi.


“Abang ngapain di sini?” Pelangi berdiri, ia memandang sekitarnya di mana para siswi menatap ke arah Raka dengan pandangan terpesona. Pelangi menghela nafas berat, Raka membuat sekolahnya kembali gempar karena kehadirannya.


“Abang gerah, Bow,” bisik Raka dengan wajah terganggu.

__ADS_1


Pelangi langsung peka, ia menarik Raka agar keluar dari kelasnya dan membawanya ke taman belakang sekolah. Di sana pasti sepi, sehingga tidak membuat abangnya terganggu.


“Abang ngapain ke sini? Ada urusan bisnis, ya?”


Raka menggeleng, ia menarik Pelangi untuk duduk di sampingnya. “Mengurus surat izinmu,” jawabnya ringan.


“Hah?” cengo Pelangi dengan wajah bodoh.


Raka menyentil gemas kening Pelangi, kemudian terkekeh saat adiknya meringis dan cemberut. “Kita ke Bali hari ini. Abang sudah izin pada wali kelasmu untuk libur seminggu,” jelas Raka melonggarkan kebingungan yang Pelangi rasa.


“Ngapain? Bow masih sekolah bang, lagipula ini bukan waktunya libur sekolah,” omel Pelangi jengah. “Kalau Bow ada ulangan dadakan gimana? Nasib nilai Bow gimana?” pasalnya, Pelangi bukan siswi yang begitu pandai.


Raka berdiri, mengancing kembali jasnya dan merapikannya dengan gaya khas Raka—cool. “Nggak usah bawel. Ayo.” Raka menarik tangan Pelangi untuk segera pergi dari taman belakang.


“Abang, Bow nggak bisa di giniin,” rengek Pelangi kian cemberut. “Tiga hari aja ya di Bali? Atau kalau bisa satu hari aja,” nego Pelangi memelas.


“Oke, kita dua minggu di sana.”


Mulut Pelangi ternganga, matanya mengerjap bodoh. Tak lama setelahnya, Pelangi mengentak-entakkan kakinya sebal hingga mengundang banyak perhatian penghuni koridor.


“Abang jahat banget sih, Bow nggak bisa libur selama itu,” rutuk Pelangi kian kesal. Namun tak lama ia berucap seperti itu, langkah Raka terhenti hingga membuat Pelangi mengulum bibirnya dengan wajah panik.


“Pelangi?”


Mata Pelangi mengerjap mendengar namanya di panggil. Bukan suara Raka, melainkan suara yang kini membuat jantungnya berdebar tanpa di minta. Aidan memunculkan wajahnya di hadapan abangnya, bahkan berani memanggil nama Pelangi.


Mata Aidan sedikit menyorot Raka singkat, sebelum memfokuskan pandangannya ke Pelangi. Aidan tersenyum ramah, dia memberikan jam berwarna biru ke gadis itu. “Jam tangan lo ketinggalan di bus, nggak sengaja terlepas mungkin,” kata Aidan santai.


“Sama-sama,” jawab Aidan kian berani.


“Ayo bang kita pergi. Dua minggu, kan? Oke, Bow bakal nurutin permintaan Pak Bos,” kata Pelangi pasrah bukan main, entah bagaimana nasibnya kalau libur selama dua minggu. “Duluan ya?” pamit Pelangi pada Aidan kemudian menarik Raka untuk segera pergi.


“Ayo bang cepet jalannya, entar ketinggalan pesawat,” rutuk Pelangi kian cepat mendorong tubuh Raka menjauhi Aidan. Sesekali mata Pelangi menatap ke belakang, namun sialnya Aidan malah mengedipkan satu matanya ke arah Palangi.


'Damn guy!’ sungut Pelangi dalam hati. Tidak tahukan cowok itu bahkan jantung Pelangi nyaris jatuh ke perut.


...🌈🌈🌈


...


“Nyali lo besar banget anying!” sungut Fael dengan wajah frustrasi, antara kesal, takjub dan gemas. “Lo lupa sama keadaan Gara yang sampai hari ini nggak bangun-bangun. Tuh orang pasti mati, sialan!” Fael kian jadi mengumpat, benar-benar terkejut dengan ramainya pembicaraan sekolah tentang Aidan yang menghampiri Pelangi tepat di depan abang gadis itu.


Jordan menepuk pundak Fael cukup keras, menginstruksi cowok itu untuk berhenti mendumel. “Ini baru gantle. Dia datangi cewek yang dia suka di depan abangnya sendiri,” tutur Jordan cukup puas. “Pengorbanan cinta yang mengharukan brou,” tambahnya.


“Tapi, Jor, lo nggak mikir gimana nasib Aidan nanti? Teman lo itu pasti bonyok pulang sekolah ini!”


“Tenang aja, Aidan jago bela diri. Sabuk hitam dia,” timpal Jordan masih santai.


“Jor, lo nggak tau aja kalau si abang Pelangi tuh juga sabuk hitam! Tubuhnya kekar banget, coyy!! Lo liat foto dia dari anak-anak? Lo liat, Jor! Jasnya ketat banget!!” Fael tidak kuasa mendeskripsikan bagaimana tubuh Raka, tubuh pria muda itu benar-benar idaman para wanita. Fael lantas menatap dirinya sendiri dengan nanar.

__ADS_1


“Aidan juga kekar, lo nggak liat ciwi-ciwi natapnya lapar?”


Plak!


“Lapar, mbahmu!” sungut Aidan setelah mengeplak kepala Jordan. Ia memutar bola mata jengah mendengar setiap perkataan dua sahabatnya. “Bisa kalian diam? Berisik banget kayak kecoak!”


“Yailah, Dan, lo nggak liat kecemasan di mata gue?” Fael mendekati Aidan dan mendekatkan wajahnya meminta Aidan menatap matanya. “Betapa cemasnya diri ini wahai priaku.”


Plak!


Kali ini Aidan menampar pipi Fael cukup keras hingga cowok itu berteriak kencang. “Lo gay? Gue ogah main sama lo anjing!”


Jordan bertepuk tangan mendengar makian Aidan. “Gue salut sama lo, muka lo memang cocok main di sinetron kekerasan. Psikopat! Berwajah dua lo, Dan!!”


Aidan memutar bola mata, ia mengumpulkan beberapa berkas di atas meja OSIS. Tidak ia pedulikan kedua sahabat gilanya yang makin hari semakin tidak waras.


“Dan, lo beneran suka sama Pelangi?” tanya Fael masih mempertahankan topik mengenai Pelangi, jangan sampai sinetron mengalahkan topik yang sedang hangat seharian ini. “Gue saranin lupakan perasaan lo, Dan. Gue nolak hubungan kalian berdua, gue sayang sama lo, Dan!”


“Nih cowok nggak beres gue rasa.” Aidan bangkit dari duduknya, menatap ngeri Fael yang memasang wajah menjijikkan. “Pelangi masuk sekolah langsung gue tembak tuh cewek. Nggak usah ngoceh lagi lu!” tegas Aidan sebelum melangkah keluar ruang OSIS.


Jordan dan Fael menyusulnya, melalui koridor yang ramai membicarakan betapa hot-nya abang Pelangi dan betapa beraninya Aidan menghampiri gadis itu.


“Lo serius suka sama Pelangi, bro?” kali ini Jordan yang bertanya dengan serius.


“Iya, gue suka sama cewek itu kali pertama dia nonton gue main basket. Gue suka sama cewek yang namanya Pelangi Anindira Androcles,” tegas Aidan di akhir katanya, menekan marga gadis itu.


“Wow!” Jordan terkagum-kagum melihat keseriusan Aidan.


Aidan menghela nafas, perasaannya bukan sekedar main-main. “Dia cewek pertama yang tahu kalau gue nggak punya Papa sama Mama. Dia cewek pertama yang buat gue jatuh cinta pada pandangan pertama,” tutur Aidan kembali. Wajahnya tegas tanpa keraguan, itu adalah kebenaran.


“Gue nggak pernah seserius ini, kan? Kali ini, kalian bakal lihat keseriusan gue buat dapatin dia.” Aidan menoleh ke arah dua sahabatnya, mereka hanya terdiam terlebih Fael yang sedari tadi tak henti mengoceh.


Jordan bertepuk tangan, juga menepuk pelan bahu Aidan. “Gue dukung lo buat napatin Pelangi,” ujar Jordan serius. Senyumnya muncul perlahan, ia ikut senang mendengar perkataan Aidan. “Kawal Aidan sampai jadian!!” teriak Jordan dengan tangan terkepal di udara.


“Kawal Aidan sampai jadian!!” seru Fael ikut-ikutan berteriak.


“Apaan sih kalian?” Aidan mendorong kedua pundak sahabatnya, namun senyumnya terpatri tipis dan tulus.


“Tapi, Dan, bagemana kalau abang dia matahin perjuangan lo? Pelangi tuh kayak pelangi, hanya mampu di lihat tak mampu kau gapai,” seloroh Fael kembali cemas.


“Kata-kata lo!” Jordan menoyor kepala Fael jijik.


“Bangkit lagilah! Apa gunanya kaki kalau nggak mampu bangkit!” jawab Aidan santai.


“Ini baru teman gue!” seru Jordan bangga.


“Tapi, Dan, kalau kaki lo yang di patahin, gimana cara lo berdiri?!”


“Gobloknya elo, Fael!!” Jordan bersungut-sungut kesal, beberapa kali kepala cowok itu ia toyor saking geramnya.

__ADS_1


“Pake otak lo dulu sana! Baru ngoceh!” geram Aidan sebelum berjalan meninggalkan kedua temannya.


...🍁🍁🍁...


__ADS_2