
Setelah merasa puas berbelanja alat kecantikan, mereka memutuskan untuk makan. Tentu saja resto ayam yang menjadi sasaran utama, terlebih untuk Pelangi yang pencinta ayam pedas melebihi apa pun.
“Wah, gede banget paha ayamnya. Ayam lagi murah kayaknya,” kata Pelangi berbinar. Dua paha ayam pedas di tambah nasi satu porsi cukup membuat Pelangi bahagia. Pelangi mulai melahapnya.
Melihat itu, Raka tersenyum dan bangkit. Dia berjalan mengitari Pelangi, mengambil ikat rambut di dalam saku celanya. Kemudian, mencepol asal rambut Pelangi agar gadis itu makan dengan nyaman.
“Makasih abang.”
Saka memutar bola mata, jengah sekali melihat sikap Raka yang selalu seperti itu. “Cocok jadi babu,” sindirnya tak tahu-tahu. “Siklus kehidupan lo bagaimana sih, bang? Monoton banget asli!” sungut Saka kini lebih terarah pada Raka saat menanyakannya.
“Makan saja makananmu,” sentak Raka dengan wajah yang setia datar dan ucapan yang dingin dan tajam.
“Kasihan adek gue selalu di kekang sama lo! Cari bini sana!”
Raka tiba-tiba menatap tajam Saka tanpa suara, namun sorot matanya sudah mewakilkan semuanya bahwa Raka tengah jengkel. Saka meringis, dia bangkit untuk duduk di samping Pelangi namun kerah bajunya di tahan dari belakang oleh Raka.
“Mau ke mana kamu? Duduk,” instruksi Raka kelewat dingin.
“Cemburuan banget, sih!” decak Saka kembali pada posisinya.
Pelangi hanya tertawa menanggapi kedua abangnya, mulutnya penuh dengan makanan kesukaannya.
“Bow mau es krim habis ini, ya?” pinta Pelangi.
“Hanya satu,” sahut Raka tanpa bantahan.
Mereka kembali makan dengan tenang, Saka pun tidak kembali mengoceh setelah mendapat ancaman bayar sendiri makanannya. Masalahnya, Saka tidak mempunyai uang, semuanya habis untuk motor dan tongkrongannya. Alhasil menuruti perkataan Raka adalah satu-satunya pilihan.
“Eh, Pelangi?”
Ketenangan itu buyar saat meja mereka kedatangan satu perempuan, dia menyapa Pelangi, namun arah pandangnya mengarah ke Raka dan Saka.
Pelangi mengerjap, mencoba mengingat siapa perempuan ini. “Siapa?” tanya Pelangi dengan suara kecil.
“Gue, Wendy. Kita pernah satu les sebelumnya,” sahut perempuan bernama Wendy tersebut.
__ADS_1
“Ah, iya.” Pelangi hanya menanggapi, padahal ia tidak ingat sama sekali siapa perempuan bernama Wandy ini.
Tanpa permisi Wendy tiba-tiba duduk di samping Pelangi, terlihat sok akrab. “Kebetulan banget kita ketemu di sini. Udah jarang ya kita nggak ketemu.”
“Iya, udah lama banget,” kekeh Pelangi kaku.
“Eh, abang-abang lo, ya?” tanya Wendy sembari menatap Raka dan Saka.
“Iya, dia abang-abang gue.”
“Hai, gue Wendy,” ujarnya dengan tangan yang terulur ke depan, namun beberapa detik berlalu tangan itu tidak sama sekali di gapai. Raka dan Saka bahkan tidak sama sekali melirik.
“Abang,” tegur Pelangi tidak enak.
“Apa, Bow?” tanya Saka dengan wajah sok kaget, tatapannya kemudian jatuh ke tangan Wendy yang masih terulur. “Eh tangan siapa nih? Kok ada tangannya doang?” Saka melirik sana-sini, lalu meringis ngeri.
Wajah Wendy merah padam seketika, tangannya di tarik dan memaksakan senyum seperti tidak terjadi apa-apa.
Pelangi melototi kedua abangnya. “Ini Bang Raka, dan ini Bang Saka,” kata Pelangi mengenalkan.
Raka tidak menggubris, kebiasaannya jarang memainkan ponsel kini hilang sudah. Raka fokus pada hpnya, menscrol apa pun itu asal tidak berurusan dengan cewek gila ini.
“Abang-abang gue memang gini, jangan di bawa ke hati ya,” kata Pelangi tidak enak. Ia ingat gadis ini, mereka hanya pernah berpapasan di pintu masuk kedung les saat itu. Entah bagaimana bisa dia mengetahui nama Pelangi dan bersikap akrab seperti ini.
“Ke sini sama siapa?” tanya Pelangi.
“Sama teman. Eh, gue boleh minta nomor hp lo?”
“Bo—“ Pelangi tidak bisa melanjutkan perkataannya saat tatapan Saka dan Raka terasa menusuk netranya. Pelangi meneguk ludah, kemudian menggeleng. “Gue nggak punya nomor handphone,” sahutnya.
“Masa, sih? Kalau media sosial?”
“Dia tidak punya itu semua,” jawab Raka dengan sentakan suara dingin dan rendah.
“O-oh ... oke.” Wendy seketika menjadi kikuk, dia tersenyum kaku sebelum bangkit dari posisinya. “Teman gue udah ada tu, gue duluan ya, Ngi,” pamitnya kemudian langsung berlari menjauh.
__ADS_1
“Teman konon,” cibir Saka saat melihat cewek itu menghampiri seorang laki-laki, menggandengnya dengan mesra. “Medusa semakin berkeliaran, meresahkan sekali,” lanjut Saka dengan wajah prihatin.
“Jangan berteman dengannya,” peringat Raka tegas.
“Kenapa? Dia juga teman Bow, kok”
“Yang abang tahu temanmu hanya Chika dan Dira.” Suara Raka kian terdengar dingin, sepertinya abangnya ini sudah sangat muak melihat drama Wendy barusan.
“Iya, abang. Bow nggak akan temenan sama dia,” jawab sambil menundukkan kepala. Setelah itu, Pelangi melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
Raka kembali menatap ke belakang, di mana perempuan itu masih terlihat walau jaraknya sudah begitu jauh. Kilatan amarah tertampang jelas di netranya, wajahnya benar-benar datar dan aurnya mengintimidasi.
“Alhamdulillah, kenyang.” Pelangi mengusap perutnya setelah menghabiskan makanan dan minumannya. “Makin buncit aja perut, Bow,” kekehnya geli.
“Ayo, kita pulang sekarang.” Raka langsung bangkit, memperbaiki setelan jaketnya dan menjenteng kembali beberapa papper bag belanjaan Pelangi.
“Cuci tangan dulu,” rengek Pelangi sambil mengangkat kedua tangannya. “Bang Saka, bawain handphone, Bow,” pintanya.
Saka berdecak, tangannya sudah sangat penuh oleh barang belanjaan adiknya. Di tambah lagi dengan handphone yang punya tali dan berbandul anak ayam tersebut.
“Taruh di leher aja, bang, biar Bow enak ambilnya nanti.”
“Ribet banget sih,” dumel Saka mau tidak mau mengantungkan tali hp adiknya ke lehernya. Mereka berjalan ke toilet dan menunggu Pelangi selesai mencuci tangan.
“Bang Saka memang yang terbaik,” puji Pelangi dengan senyum lebar. “Nunduk, bang, biar Bow bisa ambil,” pinta Pelangi.
Sambil mendumel Saka tundukkan tubuhnya hingga sejajar dengan Pelangi.
“Thank you my brother,” ucap Pelangi setelah mengambil handphonenya. Ia memberi kecupan sayang di pipi Saka.
Saka langsung tersenyum. “Ada nggak sih cewek kayak Bow di dunia ini?” tanya Saka dengan suara gumaman.
“Ayo, kita pulang sekarang,” ajak Raka mengalihkan pemhicaraan mereka, sangat benci mendengar sesuatu yang keluar dari mulut Saka.
Pelangi mengangguk, hari juga sudah mulai sore. Ada banyak hal yang menyenangkan Pelangi rasa hari ini, nyatanya bermain bersama kedua abangnya akan selalu menyenangkan. Cowok yang sudah menguasai pikirannya beberapa hari ini hilang begitu saja, seakan memang hanya singgah sementara dalam pikirannya.
__ADS_1
Benar, Aidan tidak sepenuhnya Pelangi sukai. Cowok itu hanya berbeda, sehingga perhatian Pelangi terarah padanya saja. Sebentar lagi pasti nama Aidan dan semua sikap manis cowok itu akan hilang dalam kepala Pelangi sepenuhnya.