Rapunzel & Obsesi Dua Pria

Rapunzel & Obsesi Dua Pria
24| Jalan-Jalan


__ADS_3

“Hallo abang! Saatnya skincare-an!” pekik Pelangi setelah membuka kamar Saka hingga berbunyi keras, ia mengangkat boks berisi skincare yang biasa Pelangi pakai.


Saka mengangkat wajahnya dari ponsel, namun hanya singkat karena matanya kembali lagi fokus ke game. “Masih siang, Bow,” ucap Saka.


Pelangi tidak mengidahkan perkataan Saka, ia mendekat dan duduk bersila di atas ranjang. Tangannya mulai aktif mengeluarkan banyak produk di sana. “Rebahan, bang! Gue lagi berbaik hati ngasih skincare gue ke lo,” imbuh Pelangi memaksa.


“Lagi seru ini, udah kill banyak gue.”


“Masa bodoh sama kill this love!” Pelangi langsung mengambil ponsel Saka dan mendudukinya dengan santai. Pelangi menepuk bantal di hadapannya. “Ayo, bang, baring di sini,” suruh Pelangi.


Saka berdecak, tidak bisa juga berbuat apa-apa karena hpnya di duduki Pelangi. Saka merebahkan kepala di atas bantal, matanya tepat berada di bawah wajah adiknya. Saka tersenyum.


“Oke, saatnya perawatan!” pekik Pelangi mulai membuka skincare yang ia butuhkan untuk wajah Saka. Di mulai memberikan bando berbandul anak ayam di kedua sisinya di lanjut pembersih wajah, kemudian di sambung masker di bawah mata dan bibir. Selepas itu, Pelangi membuka bungkusan masker penuh seluruh permukaan wajah dan menempelkannya di wajah Saka.


“Enak, Bow,” gumam Saka sambil tersenyum tenang.


“Iyalah enak! Bow gituloh!” Pelangi mengibaskan rambutnya sambil tersenyum puas.


“Sombuong sekali Anda.”


Setelah rasanya waktunya cukup, Pelangi membersihkan wajah Saka dari beberapa masker tersebut. Tangannya mengurut perlahan, pelan bagai seorang ahli. Selepas itu, Pelangi memberikan banyak produk secara bergantian.


“Sedang apa?”


Sontak Pelangi menoleh ke asal suara, melihat Raka di sana, membuat Pelangi tersenyum. “Lagi main spa-spa sama Bang Saka,” jawab Pelangi.


Raka duduk di samping Pelangi, menatap banyaknya botol di atas kasur dengan pandangan heran. “Semua ini yang sering kamu pakai?” tanya Raka takjub.


“Hehe, iya. Banyak banget ya, bang?”


“Ini tiga kali lipat dari yang abang pakai,” sahut Raka sambil tertawa kecil.


“Wah! Berarti kalau nikah nanti Bow kudu cari orang kaya. Bisa nggak makan apa-apa kalau punya bini kayak Bow!” seru Pelangi menggebu-gebu.


“Pikiranmu.” Raka menyentil pelan kening adiknya, begitu jauh jalan pikirnya hingga ke pernikahan.


Pelangi tertawa, ia mengoleskan produk terakhir di wajah Saka sebelum bertepuk tangan dengan girang. “Selesai! Wah, langsung glowing ya, bang!” pekik Pelangi berbinar.


Saka yang terlalu menikmati tiap sentuhan tangan Pelangi di wajahnya pun akhirnya bangkit dan menatap wajahnya sendirinya. “Nggak heran langsung glowing, skincare lu jutaan, Bow!”


“Bang Saka memang pandai!” kekeh Pelangi sambil memberikan dua jempolnya.


Raka mengusap rambut Pelangi, adiknya ini selalu bisa membuat orang di sekitarnya tersenyum. “Abang juga ingin,” pinta Raka.


Pelangi mengangkat beberapa botol skincare-nya yang habis. “Itu yang terakhir, bang,” aku Pelangi sambil menyengir.


“Oh!! Pantas gue heran kok lo mau bagi-bagi skincere jutaan lo itu sama gue. Ternyata ada udang di balik batu, ya?!” seru Saka tak habis pikir sekaligus gemas.

__ADS_1


“Hehe, maaf abang.”


“Licik sekali Anda.” Saka mendengus dengan wajah yang di buat berlebihan.


“Jadi bagaimana?” tanya Raka dengan mata berkedip beberapa kali. Terlihat begitu polos.


“Beliin yang baru!” teriak Pelangi dengan wajah berbinar. “Mau kan, abang?” tanya Pelangi penuh harap ke arah Raka dan Saka.


“Tapi lakukan hal yang sama dengan abang malam ini,” pinta Raka.


“Siyap, bos! Ayo bang, siap-siap, kita pergi sekarang!” Pelangi mengepalkan tangannya di udara, siap meludeskan isi ATM kedua abangnya hari ini.


“Alamak! Bakal makan tempe tiap hari gue,” gumam Saka prihatin.


...🌈🌈🌈


...


Mal di kawasan pusat kota adalah tujuan mereka kali ini. Mal besar ini bahkan terlihat sangat padat, tidak heran karena hari ini adalah weekend. Ricuh tiap obrolan orang-orang menyapa telinga ketiga orang yang baru saja masuk ini.


Jelas saja kedatangan mereka mengundang banyak perhatian, ah atau lebih tepatnya hanya pada Raka. Semua pandangan tertuju padanya, mengagumi betapa gagahnya sosok CEO muda yang terkenal ini.


Pelangi memandang Raka, ia berdecak kagum pun seperti mereka. “Bang Raka terlalu tampan bari ini, sampai-sampai membuat keadaan ricuh,” kata Pelangi benar-benar takjub. Abangnya hanya menginjakkan kaki, tidak membuat atraksi yang menggiurkan.


“Kamu terganggu?”


“Enggak!” jawab Pelangi langsung di serati galengan kepala. “Bow cuman takjub aja.”


“Bow mau beli buku boleh?” tanya Pelangi meminta persetujuan terlebih dahulu. Karena dari awal ia hanya meminta skincare saja.


“Apapun yang kamu inginkan,” sahut Raka terlalu royal. Pria ini tersenyum hangat ke arah adiknya. “Membuat kamu senang adalah tujuan abang,” ucapnya sungguh-sungguh.


“Gue nggak punya duit, Bow. Jadi gue harap lo sadar bahwa abang lo satu ini miskin,” celetuk Saka dengan wajah tak tahu-tahu.


Pelangi tertawa, ia mengeratkan gandengannya pada lengan kedua kakaknya. “Bang Raka mampu kan belanjain Bow sampai sore?” tanya Pelangi.


“Kita liat saldo ATM dulu ya.”


Lagi-lagi Pelangi tertawa, Raka sangat jarang bercanda seperti ini. “Abang lucu,” ucapnya sambil mencubit pipi Raka gemas.


“Makasih,” jawab Saka kalem dengan wajah tidak tahu menahu.


Mereka memutuskan membeli buku terlebih dahulu, ada banyak buku dan novel yang Pelangi inginkan. Seperti biasa, toko buku selalu sepi pengunjung. Hanya ada beberapa anak remaja yang begitu mencintai novel seperti Pelangi.


Pelangi melepas gandengannya saat memasuki toko, ia berkeliling mencari buku incarannya dengan Raka dan Saka yang tidak berhenti mengekor.


“Wah, ini dia!” pekik Pelangi dengan mata berbinar. Ia menatap sampul berwarna cokelat tersebut, mengarahkannya ke Raka. “Abang punya buku ini?” tanya Pelangi.

__ADS_1


“Bisnis?”


“Iya. Abang nggak punya kan di rumah? Bow mau baca buku kayak gini, supaya bisa jadi kayak abang!” seru Pelangi penuh tekad dan semangat.


“Kamu pasti bisa menggapainya.” Raka mengelus rambut Pelangi bangga dengan semangat gadis itu.


“Eh, Bow, cerita ini keren nggak?” tanya Saka sambil menunjukkan cover novel ke arah Pelangi.


“18+ itu, bang! Alamat di geplak dari rumah abang,” kata Pelangi sambil geleng-geleng kepala melihat novel yang di ambil Saka barusan. Genre romantis bercampur adult itu memang terlihat menarik, namun jauh lebih baik jika tidak membacanya.


“Gue udah 19 tahun, Bow.”


“Terserah deh,” kata Pelangi tidak menahan keinginan Saka. “Eh, nggak jadi ngambil?” heran Pelangi saat Saka malah menaruh kembali novel tersebut.


“Takut khilaf,” sahut Saka asal sebelum berjalan mencari buku yang menarik menurutnya.


Keranjang sudah mulai penuh, ada banyak tumpukan buku yang bercampur dengan buku Raka dan Saka. Namun hampir seluruh buku di dam keranjang adalah milik Pelangi.


“Bow mau beli lemari buku lagi ah. Taruh di mana ya enaknya?” gumam Pelangi dengan jari yang menempel pada dagu, seperti berpikir. “Atau nanti minta Ayah buat perpustakaan aja di atap. Ah, iya, ide bagus tuh!” monolog Pelangi hanya pada dirinya sendiri.


Raka dan Saka terbengong mendengar celotehan gadis itu. Keranjang berisi banyaknya buku di jentang oleh Pelangi, gadis itu memaksa ingin membawanya sendiri.


“Apa lagi ya yang pengen Bow beli?” gumam Pelangi setelah keluar dari toko buku. Papper bag berisi buku-buku di bawa oleh Saka dan Raka di masing-masing papper bag.


Pelangi menoleh ke belakang, menarik Raka dan Saka agar sejajar langkah mereka dengannya. “Langsung beli skincare aja ya, bang? Habis itu makan, terus pulang?”


Raka langsung mengangguk. Namun berbeda dengan Saka yang malah menggeleng. “Nonton dulu kita,” ujarnya.


“Silahkan nonton sendiri,” kata Raka datar sambil merangkul Pelangi dan membawa gadis itu ke toko skincere yang biasa Pelangi hampiri. “Cepat cari barangmu, kita makan setelah ini.”


Saka hanya mampu pasrah saat Raka membawa Pelangi masuk ke toko, sepertinya mereka gagal menonton lagi. “Tubuh doang yang gede, masuk bioskop aja takut,” decih Saka penuh ejekan.


Beberapa pelayan di toko mulai menghampiri mereka, menanyakan produk apa yang di inginkan. Pelangi menyebutkan sepaket skincare yang sering ia gunakan, kemudian mulai berjalan mencari produk yang menarik perhatiannya.


“Chika bilang, Oppa Korea pakai lipblam kayak gini supaya tetap lembap. Bow beliin buat kalian ya?”


Mata Saka langsung melotot, ia merampas lipblam tersebut dan menaruhnya kembali. “Nggak perlu, gue lebih doyan pakai madu daripada lipstik. Dih, geli banget gue.” Saka bergidik ngeri.


“Bukan lipstik itu, bang!”


“Tidak perlu membelinya,” ucap Raka kembali menarik Pelangi menjauhi stan lipstik. Ada-ada saja adiknya ini, di paksa bagaimana pun Raka tidak akan pernah memakai benda itu.


“Aduh, capek banget gue,” keluh Saka sambil berjongkok. Tatapannya sayu mengarah ke Pelangi yang tidak sama sekali lelah mencari kosmetik yang gadis itu inginkan. Malah Saka yang merasa lelah hanya karena melihat adiknya itu.


“Hehe, abang duduk aja, biar Bow yang menjelajah!”


“Nyerah gue. Gini amat jadi cowok,” dumel Saka dengan nafas ngos-ngosan. Ia berjalan ke sisi toko di mana tempat duduk berada. “Gila, nggak sanggup gue tiap hari kayak gini. Mampus duluan!” Saka geleng-geleng kepala, terlihat sangat menyerah menghadapi para kaum hawa pencinta skincare dan kosmetik.

__ADS_1


“Eh?” mata Saka mengerjap saat Raka duduk di sampingnya, wajah pria itu tetap saja datar. “Kecapekan juga ternyata. Kirain sanggup nemenin Bow keliling,” ejek Saka terang-terangan.


🍁🍁🍁


__ADS_2