
Ulangan kenaikan kelas di mulai hari ini, kelas di acak dan di gabungkan dengan sesama jurusan. Kelas XI IPS-II di gabungkan dengan XI, duduknya juga di bedakan dari urutan absen.
Pelangi tidak sekelas dengan Dira dan Chika, mereka berada di kelas 1 IPS-II, sedangkan Pelangi ada di kelas 2. Namun, walau mereka tidak sekelas, Chika dan Dira masih menyempatkan untuk pergi ke kelas Pelangi dan menanyakan perihal absennya hari itu.
Pelangi menceritakan semuanya, di mulai dari bisik-bisik para penghuni sekolah, hingga meminta Aidan menjauh. Tiap kata yang ia utarakan terselip kesakitan, namun sebisa mungkin ia tutupi agar tidak membuat kedua temannya merasa cemas.
“Terus, Aidan menjauh?” tanya Chika.
“Gue rasa begitu,” sahut Pelangi berat. “Dia bilang bakal jaga jarak, tapi kenapa gue nggak terima? Bukannya itu yang gue mau?” tanyanya entah pada siapa.
Dira mengusap punggung Pelangi menenangkan. “Semua bakal baik-baik aja, Aidan nggak mungkin pergi sejauh itu, Ngi,” tuturnya menguatkan.
“Kalau dia pergi?” lirih Pelangi takut. Sungguh, hatinya sudah sangat mencintai cowok itu, dan mengapa di saat seperti ini situasi malah datang mengusik. Semua terasa menyebalkan bagi Pelangi.
“Dia nggak bakal pergi, gue jamin,” kelakar Chika yakin. “Lo tau? Aidan nggak pernah dekat sama siapa-siapa, dia juga nggak pernah menjadi bahan gosipan di sekolah. Tapi semenjak dia nolong lo waktu di hajar Gara, Aidan benar-benar berubah,” jelas Chika.
“Gue rasa dia suka sama lo udah lama, cuman baru berani deketin sekarang aja. Kata Fael, Aidan nggak sedingin dulu. Dan nggak sejutek dulu,” tambah Dira. “Lo beruntung, Ngi, bisa ngerubah seseorang menjadi lebih baik. Dan mustahil Aidan bakal pergi gitu aja sedangkan perjuangannya sudah hampir menyentuh akhir. Jangan putus asa, ya? Dia nggak mungkin pergi.”
Mata Pelangi berkaca-kaca, sedari tadi ia begitu susah menahan desakan air mata yang menggenangi pelupuk mata. Pelan, ia tarik Chika dan Dira dalam pelukannya, sangat bersyukur memiliki mereka dalam lingkup pertemanannya.
“Makasih buat semangatnya, terima kasih.” Hanya ini yang bisa Pelangi katakan untuk mewakilkan semua perasaannya. “Makasih udah mau jadi teman gue.” Ia menyesal tidak pernah mengenal mereka lebih dekat dulu, dan bersyukur mereka masih ingin berteman dengannya terlepas dari sikap acuhnya.
Sedangkan di depan kelas, Aidan termangu menatap gadis itu. Niat awalnya hendak menghampiri, namun sial perkataan Pelangi menghentikan langkahnya dan mengiris hatinya begitu saja. Dalam diam Aidan dengarkan perkataan mereka yang hanya terdengar samar, namun dapat Aidan tahu bahwa Pelangi benar-benar tidak ingin Aidan pergi.
“Gue nggak akan pergi, Ngi. Itu sama aja bunuh diri,” ucapnya terdengar sungguh-sungguh. Iris matanya terus terarah pada gadis itu, wajahnya yang sedih dan sendu membuat hati Aidan merasa sakit.
“Siapa sebenarnya abang-abang dia?” gumam Aidan dengan pandangan penuh selidik. “Di dunia ini nggak ada kakak yang seposesif itu sama adiknya, kecuali mereka bukan kandung.”
Aidan memutar tumit perlahan, agak ragu meninggalkan gadis itu dalam tangisnya. Namun bel sudah berbunyi, dan Aidan harus segera menyelesaikan ulangan ini untuk mencari tahu siapa sebenarnya Raka dan Saka. Tapi yang perlu Aidan cari tahu dulu adalah Raka, CEO perusahaan besar sekaligus pria yang terlihat berbeda pandangan matanya kepada Pelangi.
Sepertinya Aidan benar-benar harus menghindar—hanya untuk sesaat. Semua untuk Pelangi, dan Aidan berharap perempuan itu mengerti.
“Oy anak sapi!” sentak Fael di iringi tepukan di pundak Aidan sehingga cowok itu terperanjat pelan.
Aidan berdecak, mendorong Fael agar kembali ke tempat duduknya. “Sana lo! Bikin jantungan aja!” sungutnya kesal.
“Lo kenapa sih, nyet? Dari kemarin galau mulu, berantem ya sama Pelangi?”
Aidan menghela nafas, ia dorong kembali tubuh Fael sedikit keras agar menjauh. “Bukan urusan lo!”
“Jor, liat deh teman lo ini. Bentar lagi mati muda dia, nggak sanggup menahan kegalauan,” celetuk Fael memberitahu Jordan yang duduk anteng di tempat duduknya bagian belakang.
__ADS_1
“Udah deh, El, nggak usah di ganggu. Lagi unmood itu orang, lebih baik lo mundur tanpa di minta daripada di sembur!” sungut Jordan pun ikut jengkel melihat sikap satu sahabatnya itu.
Fael mencebik, lantas menuruti perkataan Jordan. “Hati-hati, Dan, galau lo bisa buat lo mati,” pesannya sok bijak.
Aidan tidak menggubris, diam saja sampai guru pengawas datang dan membagi lembaran ulangan. Aidan mengerjakannya dengan teliti dan cepat, hanya separo dari waktu yang seharusnya, semua soal telah terisi. Aidan merebahkan kepalanya, berpikir keras bagaimana cara mengorek informasi mengenai siapa sebenarnya Raka.
“Ssstt, Jor, nomor 21 dong,” bisik Fael pada Jordan meminta jawaban. Namun cowok itu bagai tuli, Jordan mengerjakan soal tanpa menengok kesana-kemari. Fael pun berdecak, beralih pada Aidan. “Woy, Dan. Bagi jawaban cok!” panggilnya sedikit keras. Namun sama, Aidan tidak sama sekali menggubris.
“Sialan,” Fael bersungut-sungut jengkel.
“Siapa yang sialan?” tanya Bu Tiara garang.
“Eh?” Fael terkejut, semua perhatian mengarah padanya sambil menahan tawa. Fael kembali bersungut-sungut, sebal karena mereka secara tidak langsung menghina kebodohannya. “Saya Bu yang sialan,” sahut Fael.
“Oh, kamu? Memang sih,” kata Bu Tiara santai dan kalem.
“Dasar guru julid!” Fael beedecih.
...🌈🌈🌈...
Dua mata pelajaran telah usai di kerjakan hari ini. Bel pulang berbunyi lebih cepat dari biasanya. Siswa-siswi berhamburan keluar ruangan, siap untuk pulang atau menghabiskan waktu untuk jalan-jalan.
“Ayo, Ngi,” ajak Dira setelah menginjakkan kaki ke kelas Pelangi.
“Kita temani, ya?”
“Enggak usah, bentar lagi datang kok. Kalian duluan aja,” tolak Pelangi lagi.
“Lo serius?” Chika menatap tidak yakin ke arab Pelangi, gadis itu tidak boleh di tinggalkan sendirian.
“Serius, kalian duluan aja.”
Chika dan Dira menghela nafas, tidak bisa juga memaksa. “Ya udah deh, kita duluan ya, Ngi,” pamit Dira di ikuti Chika. Setelah itu, mereka keluar meninggalkan Pelangi sendirian di kelas.
Sebenarnya, abangnya sudah di depan. Raka yang menjemputnya, namun Pelangi malah merasa takut abangnya itu kembali berbuat macam-macam padanya. Terlebih, tiga hari ini Raka menghindarinya dan jarang berada di rumah.
Namun semakin lama Pelangi berdiam di sini, maka Raka akan semakin marah karena sudah membuat cemas. Namun sungguh, untuk saat ini Pelangi tidak ingin hanya berdua dengan Raka, karena itu akan membuatnya semakin takut dengan abangnya sendiri. Tapi biar bagaimana pun, ia harus segera keluar.
Pilihan terakhir Pelangi menelepon Saka. “Abang?” panggil Pelangi setelah panggilan terhubung. Suara bising kendaraan menyapa telinga Pelangi.
“Ya? Hallo, Bow, kenapa?”
__ADS_1
“Abang di mana? Jemput Bow, dong,” rengeknya memelas.
“Lagi di jalan, macet parah.”
Pelangi menghela nafas panjang, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena Raka pasti akan marah. “Masih lama nggak? Bow nggak ada yang jemput,” bohongnya.
“Tunggu aja di kelas dulu, gue usahain datang cepet.”
Lagi, Pelangi menghela nafas. Ia tidak punya pilihan selain pulang bersama Raka. “Bow pulang sama Chika aja, dia bawa mobil kok,” bohongnya lagi.
“Serius? Yaudah kalau gitu, kalau udah datang ke rumah kabarin gue.”
Panggilan berakhir, buru-buru Pelangi menyikut tasnya dan berjalan keluar kelas. Walau ragu, kakinya harus tetap melangkah. “Its okay, Bow, Bang Raka nggak mungkin kayak kemarin lagi,” ucapnya demi menguatkan diri sendiri.
Koridor benar-benar sepi, hanya ada beberapa siswa yang bermain basket di lapangan utama. Langkah demi langkah Pelangi hela, sampai pada akhirnya pandangannya teratah pada sosok cowok yang tengah berjalan berlawanan arah dengannya.
“Aidan?” beonya dengan jantung berdebar. “Ngapain dia masih di sekolah?” monolognya dengan alis mengerut.
Jarak antara mereka perlahan terkikis, entakkan sepatu berbunyi menggema di seluruh penjuru koridor. Kesannya seakan mereka berdua saja yang melewati koridor.
Pelangi memilih menundukkan kepala saat jarak mereka semakin dekat, entah apa keinginannya, tapi ia sungguh ingin di sapa oleh Aidan. Namun sepertinya, cowok itu benar-benar menjaga jarak dengannya. Aidan melaluinya begitu saja, tanpa melirik seakan Pelangi tak kasat mata.
Pelangi meneguk saliva susah payah, ia terkesiap melihat perubahan sikap Aidan. Langkahnya mulai melambat, seiring tangan yang terangkat menyentuh dada. Di sana, rasanya nyeri dan sesak.
“A-Aidan ...?” beonya benar-benar tidak percaya bahwa semuanya berubah hanya dalam sekejap saja. Ia tolehkan kepalanya, cowok itu tetap berjalan dengan bahu tegap tanpa menoleh sedikit pun.
Pelangi terkekeh miris, matanya sedikit buram. “Kenapa malah kecewa sih, Bow? Bukannya ini yang lo mau?” ucapnya pada dirinya sendiri. Kembali ia sentuh dadanya, di sana rasanya begitu sakit.
“Gue benci jatuh cinta,” gumamnya. Satu bulir air mata jatuh tanpa bisa di cegah, namun Pelangi tidak terisak. Ia hanya ... terluka.
Sesaat air matanya hendak jatuh lagi, Pelangi segera mengusapnya dengan kasar. Ia tarik nafas panjang-panjang, menghembuskannya perlahan agar sesak di dada sedikit berkurang. Dari kejauhan, Pelangi melihat Raka berjalan ke arahnya, tubuh tegap pria itu berbalut jas berwarna hitam. Raka menghampirinya.
“Kenapa lama sekali? Kamu buat abang cemas,” sentak Raka saat tubuhnya berdiri tepat di hadapan Pelangi.
“Tadi ada yang ketinggalan,” sahut Pelangi singkat. Ia menoleh sekali lagi ke belakang, Aidan sudah tidak ada di sana. “Ayo pulang,” ajaknya kemudian melangkah duluan.
Raka merangkul pundak Pelangi, mengusap pundak gadis itu beberapa kali. “Ingin mampir?” tanyanya.
“Enggak, Bow capek, mau pulang aja.” Pelangi tahu perkataannya akan menyinggung Raka, namun ia juga tidak bisa bersikap ceria di hadapan abangnya. Pelangi hanya ingin semesta memihak padanya, biarkan hari ini hidupnya mengalir bagai air.
“Ya sudah, kita pulang sekarang.”
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, mata Pelangi hanya menatap ke samping. Pandangan kosong dan lelah, kejadian beberapa saat lalu kembali berputar di kepalanya. Rasanya ingin marah, namun ini yang Pelangi inginkan sebelumnya. Lama memikirkan Aidan, Pelangi jatuh tertidur di tengah perjalanan.
***