Rapunzel & Obsesi Dua Pria

Rapunzel & Obsesi Dua Pria
16| Sesuatu di dalam lemari


__ADS_3

“Hayu main peta umpet!!” teriak Saka dengan tangan terentang ke atas.


Peta umpet adalah permainan yang Saka sukai, Pelangi pun tidak bisa menolak. Padahal, peta umpet adalah permainan mengerikan bagi Pelangi, ada banyak mitos dan fakta di balik permainan tersebut.


“Lo bisa sembunyi di seluruh rumah kita, nggak ada batasan. Asal jangan ke rooftop,” ucap Saka menjelaskan.


“Oke!”


“Gunting, batu, kertas!”


“Gue menang!!” teriak Saka saat ia melempar kertas, sedangkan Pelangi melempar batu. Melihat Pelangi cemberut membuat Saka terkekeh dan mengacak-acak rambut adiknya gemas. “Buruan sana jaga, gue kudu sembunyi ni,” suruh Saka buru-buru.


“Iye-iye yang menang,” gerutu Pelangi sambil berjalan ke arah dinding dan mulai menutup matanya. Pelangi mulai menghitung, suara derap langkah kaki Saka bahkan tidak sama sekali Pelangi dengar. Saka memang pengumpat yang handal.


Setelah hitungan terakhir, Pelangi langsung membuka mata dan menoleh ke belakang. Ia mencari di sekeliling kamar Saka terlebih dahulu, kemudian berlari ke lantai bawah.


“Mbok Paijo, ada liat Bang Saka?” tanya Pelangi.


“Liat, Neng. Ke taman belakang tadi Mbok lihat.”


“Yes!” decak Pelangi terkagum-kagum. Ia langsung berlari ke taman belakang, mengelilingi sekitaran tempat biasa santai untuk mencari keberadaan abangnya.


Saka menggunakan baju berwarna putih, sehingga saat cowok itu bersembunyi di rerumputan atau pohon mudah untuk Pelangi temukan. Saka tidak suka memanjat, sehingga opsi mencari di atas pohon dicoret.


“Di sini rupanya,” kekeh Pelangi saat melihat baju berwarna putih, bergerak-gerak pula. Pelangi berjalan berjinjit mendekati sasaran. “DUAR!!!”


“ALLAH HUAKBAR!!”


Pelangi tertawa terbahak-bahak saat melihat Saka terguling sebab terkejut. Ia suka melihat ekspresi kaget kakaknya. “Ketemu!” seru Pelangi penuh kemenangan.


Saka mengusap dadanya, nafasnya ngos-ngosan. “Cepet banget lo nemuin gue. Ngaku lo, lo pasti curang, kan?” tuduh Saka sangsi.


Pelangi menepuk dada bangga. “Punya banyak indra gue, bang!” sahutnya sombong.


Permainan kembali di mulai, mereka kembali ke kamar Saka tempat awal permainan itu di mulai. Kali ini Pelangi yang menang, gadis itu terlihat sangat bahagia saat Saka yang jaga.


Pelangi tersenyum picik. “Saatnya membuat rumah gempar,” gumam Pelangi penuh arti.

__ADS_1


...🌈🌈🌈


...


Jarum jam terus bergerak, hingga tidak terasa jarum pendeknya mengarah ke angka empat. Sudah sore, namun ternyata sedari pukul dua tadi rumah tidak henti-hentinya terdengar seruan nama Pelangi.


Sang empu yang membuat rumah kembali heboh kini mulai membuka mata sebab seruan yang semakin dekat terdengar. Mata Pelangi mulai terbuka dan tubuhnya terasa sangat sakit.


“Eh?” mata Pelangi membelak saat menyadari bahwa ia masih berdiam di dalam lemari. Ia tertawa dan menggaruk keningnya bingung sendiri. “Ketiduran ternyata,” kekehnya terasa masih di alam bawah sadar.


“Pelangi! Di mana kamu?”


“Bang Raka?” beo Pelangi saat mendengar suara abang yang ia rindukan seharian ini di sekeliling kamar saja. Benar, Pelangi bersembunyi di lemari pakaian Saka, entah bagaimana bisa semua orang tidak menemukannya padahal tempatnya begitu mudah di temukan.


“Entar aja ah keluarnya, bikin panik aja lagi,” gumam Pelangi senang. Jarang-jarang ia bisa mengerjai satu rumah dengan tingkahnya seperti ini, terlebih Raka kadang tidak bisa di ajak bercanda.


“Tapi pegel tubuh gue. Jam berapa sih ini?” monolognya sendiri. Tubuh Pelangi terduduk di antara pakaian menjuntai Saka, bahkan ada beberapa baju yang Pelangi duduki. Bukan salahnya, salahkan Saka yang punya lemari tidak rapi seperti ini.


“Pelangi dengar suara abang, sayang?” suara Raka kembali terdengar penuh kecemasan. Jika sudah nama Pelangi asli di sebut, maka ia sudah membuat abangnya itu cemas dan kesal.


“Eh apa ini?” kening Pelangi mengerut saat mendapati benda berbungkus di dalam lemari Saka. Ukurannya kecil, namun Pelangi tidak tahu apa itu.


Cit!


Decitan lemari yang di buka paksa membuat Pelangi terkejut dan mengharusnya mendongak. Mata Pelangi mengerjap saat melihat wajah Raka yang menatapnya tajam seakan Pelangi sudah membuat kesalahan besar.


“Abang,” panggil Pelangi sambil menyengir.


“Ngapain kamu di situ?” tanya Raka datar. Dia langsung menarik tangan Pelangi untuk keluar dari lemari milik Saka. “Puas membuat semua orang cemas dengan perbuatanmu?!” bentak Raka kelewat tajam.


Pelangi memanyunkan bibir, ia lantas memeluk Raka berharap kemarahan abangnya berkurang atau bahkan lenyap. Pelangi menggesekkan hidungnya di dada kakaknya. “Bow main peta umpet, bang. Tapi ketiduran, habisnya ngantuk banget,” jelas Pelangi jujur.


Raka menghela nafas singkat, dia membalas dekapan Pelangi dan menggendongnya untuk di dudukan di atas kasur Saka. “Kamu senang?” sindir Raka terlihat jengkel.


“Hehe, iya, senang,” jawab Pelangi sambil mengangkat wajahnya menatap Raka, kemudian mengecup pipi abangnya itu penuh sayang. “I miss you so much, Mr,” bisiknya sungguh-sungguh.


Kini, senyum Raka terpatri tanpa di minta. Tangan kokohnya merangkum wajah Pelangi, kedua netranya memandang mata bulat itu penuh damba. “I miss you too, sweetheart,” balas bisik Saka setelah menempelkan bibirnya di kening Pelangi.

__ADS_1


Pelangi lantas memeluk Raka, ia sangat sayang kakak pertamanya ini. Raka memang selalu membuat kehidupannya monoton, tapi Pelangi rasa itu adalah cara agar dirinya tidak terluka.


“Ayo turun, abang membawakanmu hadiah,” ucap Raka sembari menuntun Pelangi bangkit dan menggenggam tangan perempuan itu erat.


“Eh, abang. Bow ketemu ini.” Teringat benda yang ia temukan di lemari Saka tadi, Pelangi langsung menunjukkannya ke Raka. “Lembek bang kayak slime. Lucu tapi,” gemas Pelangi sembari memencet-mencet benda di dalam bungkus tersebut.


“Sh*t!!” umpat Raka tertahan—cukup keras.


“Bang Raka ...?” mata Pelangi membulat mendengar sungutan abangnya.


“BOW!!! LO DI MANA SIH?!” pekik suara dari luar.


“Bow di sini bang!” teriak Pelangi. Ia sedikit menjauhkan tubuhnya dari Raka, abangnya itu tengah menatapnya marah. Ah entahlah, wajah Raka terlihat merah. Terlebih tadi Raka mengumpat, abangnya itu jarang sekali memaki.


Pintu terbuka, menampilkan Saka yang sudah memasang wajah panik. “Ya ampun, lo ke mana aja neng? Gue—Argh!!“ perkataan Saka terhenti saat tiba-tiba Raka mendekatinya dan mencengkeram kaosnya cukup keras. “Apa-apaan sih?!” pekik Saka tidak mengerti.


“Buang benda itu atau punyamu yang abang potong!”


“Ben—benda apa?!” balik tanya Saka dengan raut bodoh. Namun detik berikutnya memejamkan mata nyaris mengumpat keras saat melihat apa yang sedang Pelangi pegang. “Bow ... itu ...?” tunjuk Saka tidak mampu berkata-kata lagi.


“Apa? Ini?” Pelangi mengangkat bungkusan tersebut dengan wajah bingung. “Punya Bang Saka, kan?” tanyanya polos.


“I-iya punya abang,” gugup Saka saat Raka memandangnya seperti hendak membunuh saja. Setelah kakak pertamanya itu melepas cengkeram di kaosnya, buru-buru Saka merampas bungkusan di tangan Pelangi secepat-cepatnya. “Bukan apa-apa, Bow. Silahkan, silahkan, ada hadiah di bawah.” Saka mendorong Pelangi agar segera keluar dari kamarnya.


“Eh bentar?”


“Apa lagi, neng geulis?” gemas Saka kian gemetar. Masalahnya, ini bukan sembarang benda.


“Bow kayak pernah liat itu bungkusan. Tapi apa ya?” Pelangi mengingat-ngingat.


“Bukan apa-apa. Ayo turun,” alih Raka kembali menggenggam tangan Pelangi.


Pelangi mengikuti langkah Raka, masih dengan wajah mengingat-ingat. Tepat saat hampir di depan pintu, mata Pelangi melotot dan langsung memutar tubuhnya kembali menghadap Saka. “KONDOM!!! YA AMPUN BANG SAKA PAKE BUAT APA?!!” pekik Pelangi terkejut-kejut.


“Mampus! Mati gue!” Saka memukul jidatnya, wajah Raka sudah sangat marah dan datar kini terarah padanya.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


__ADS_2