
Di luar tengah hujan deras, petir dan gemuruh terdengar menyeramkan di malam-malam seperti ini. Pelangi duduk di meja belajarnya dengan pandangan fokus pada beberapa buku yang akan diulangkan esok, earphone menyumpal telinganya dengan volume kecil.
Apa pun keadaannya, Pelangi harus mendapatkan peringkat tiga besar di kelas. Jangan karena masalah sepele seperti ini ia malah galau dan malas belajar. Memalukan sekali jika karena laki-laki ia mendapat peringkat buruk.
“Sedang apa?”
“Yarobun!” Pelangi terkesiap refleks menoleh ke samping. “Abang,” omelnya cemberut. Tangannya memegangi dada, terkejut bukan main dengan suara Raka tepat di telinganya.
“Kamu nggak dengar abang masuk?” kata Raka sambil berjalan melihat koleksi buru Pelangi.
“Bow pakai ini, nggak mungkin denger,” balasnya masih terlihat sedikit kesal. Pelangi melepas earphone, menaruhnya di laci kemudian memfokuskan pandangannya pada Raka. “Abang ngapain di sini?” tanyanya balik.
“Tentu saja melihatmu,” jawab Raka enteng.
“Bow lagi belajar, bentar lagi tidur kok,” kata Pelangi cuek. Ia alihkan kembali fokusnya pada buku di hadapannya, mengoret-nyoret rumus dan menghafalnya.
“Tidur dengan abang malam ini, mau?” bisik Raka.
Pelangi menahan nafasnya, kemudian mengeluarkannya perlahan. Raka selalu bisa membuatnya jantungnya dan nyaris mata hanya karena suaranya yang serak. “Bow tidur sendirian malam ini, lagipula Bow nggak takut kok,” bohongnya. Kenyataannya, Pelangi takut tidur sendirian saat hujan petir seperti ini.
“Yakin?”
“Yakin banget,” tukas Pelangi mantap. Ia menunjuk keluar, menunjukkan pada Raka bahwa hujan di luar bukan masalah besar baginya. “Cuman hujan air, bukan hujan batu,” ucapnya asal.
Bukannya tersinggung karena secara langsung di tolak, Raka malah menerbitkan senyum tipis. Tangannya hinggap di pucuk kepala Pelangi, mengusapnya halus dan penuh kasih sayang.
“Ngelawak, huh?” sindirnya geli.
Pelangi memanyunkan bibirnya, sebal karena Raka malah menertawakannya. “Bow serius, Bow bisa tidur sendiri,” tolaknya lagi.
Perlahan, Raka berlutut di hadapan Pelangi, membuat gadis itu mengerjap dengan pandangan terkejut. “Maaf buat kamu ngejauh dan merasa nggak nyaman,” gumamnya.
Pandangan Pelangi menjadi sendu, ia tidak tahu bahwa Raka akan kembali meminta maaf seperti ini. Namun untuk menyahut lidah Pelangi terasa kelu, kosakata dalam otaknya menghilang begitu saja.
“Abang kangen kamu, Bow. Kangen sikap manja kamu, kangen tawa kamu, abang kangen semua yang telah berubah dari diri kamu karena ulah abang sendiri,” tutur Raka dengan suara berat. Tangannya menggapai satu tangan Pelangi, menggenggamnya seerat mungkin. “Bisa kamu kembali seperti dulu? Abang benar-benar merindukan kamu.”
Tangis Pelangi pecah tanpa mampu di cegah, bersama hujan ia teteskan air mata penuh kesedihan. Netranya yang berair, memandangi Raka lamat-lamat. “A-abang ...?” ia tidak menyangka Raka akan berbicara panjang terlepas dari menjauhkan pria itu beberapa hari ini.
“Mau maafin abang? Apa perlu abang beli perusahaan es krim agar kamu memaafkan abang?” Raka ulas senyum manis nan tulus.
__ADS_1
Pelangi tidak bisa menahan lagi, ia berhambur dalam dekapan Raka—menangis di pundak lebar abangnya. “Bow juga kangen Bang Raka,” akunya. Pelangi tidak bisa menampik bahwa ia juga merindukan sosok Raka dalam kesehariannya.
“Jadi, di maafin?”
“Iya, Bow maafin,” sahut Pelangi sambil menarik ingus. “Tapi janji beliin perusahan es krim,” tagihnya kembali merengek dan manja.
“Waduh, bakal bangkrut abang,” kekeh Raka pura-pura terkejut.
Pelangi melepas pelukannya, mengusap air matanya sendiri kemudian memandang Raka kembali. Tangannya terangkat mengusap rahang abangnya. “Bang Raka keliatan kurusan,” ucapnya.
“Nggak lagi setelah ini,” sahut Raka bersama seulas senyum tipis.
“Abang berdiri, Bow entar makin sedih.” Ia angkat kedua pundak Raka agar kembali berdiri, bibirnya masih melengkung ke bawah.
Raka terkekeh, tangannya mengusap pucuk kepala Pelangi dan melayangkan satu kecupan lama di sana. “Tidurlah,” suruhnya.
Pelangi mengangguk, ia merapikan meja belajarnya dan menyimpan buku untuk besok di dalam tas. Tubuhnya mulai berbaring, selimut menutup tubuhnya hingga sebatas dagu.
“Abang temani sampai kamu tidur,” kata Raka sambil duduk di pinggiran ranjang.
Tanpa banyak bicara lagi Pelangi tutup kedua matanya, elusan Raka pada kepalanya membuatnya merasa begitu nyaman. Tak lama setelahnya, Pelangi menggapai mimpinya—masuk ke dalam alam bawah sadar yang mengalir bagai air.
...
Aidan membuka pintu balkon apartemennya, menatap hujan yang sedari petang tadi mulai mengguyur. Tidak ada bintang, atau bahkan bulan. Hanya ada gelap dan petir yang membawa suara mengerikan.
Kursi di balkon bagai tidak terlihat di mata Aidan, ia malah duduk di lantai sembari memeluk lutut erat-erat. Pandangannya terus menatap langit, pandangannya sendu dan menunjukkan kerinduan.
“Ma, Pa, aku kangen,” bisiknya pada malam—di terbangkan oleh angin. Seharusnya malam ini cerah, namun mengapa hujan malah mengguyur dan membiarkan bintang tak tampak.
“Tahu kenapa aku nggak suka malam?” tanya Aidan seakan berbicara pada kedua orang tuanya. “Karena setiap malam aku harus menahan sesak akibat merindukan kalian,” bisiknya. Nafas Aidan mulai tersendat-sendat.
“Tapi kalian tahu kenapa aku tetap menunggu malam datang?” tanyanya lagi. Benar-benar membayangkan papa dan mamanya berada di hadapannya saat ini, mendengarkan keluh kesah yang ia alami. “Karena hanya dengan menatap bintang rindu itu perlahan berkurang.” Ia cengkeram dadanya, di sana sesak sekali.
“Tapi malam ini hujan, dan aku tersiksa sendirian karena merindukan kalian.” Tangisnya pecah, tetes air matanya membasahi pipi seiring hujan yang semakin deras. Seakan mengerti perasaannya, hujan juga ikut menangis di malam penuh kesakitan ini.
“Ma, kapan Kak Jingga bahagia?” tanyanya dengan suara berat. “Kapan Kak Jingga terbebas dari janji itu? Dia berhak bahagia, Ma. Saatnya dia menikmati hidupnya sendiri, bahkan dia sudah begitu kaya sekarang. Seharusnya janji itu nggak di perlu di buat,” adunya penuh rasa bersalah.
“Aku bisa bahagia dengan caraku sendiri, melihat Kak Jingga tersenyum saja itu sudah lebih dari cukup. Ma, Pa ... bebaskan Kak Jingga dari janji itu,” tekannya penuh rasa sakit. Air matanya mengalir deras, tanpa ragu ia terisak hingga sesenggukan.
__ADS_1
Aidan menepuk dadanya keras dan beberapa kali. “Di sini, di sini sakit sekali. Melihat Kak Jingga menyembunyikan identitasnya sendiri buat aku benci diriku sendiri, Ma. Melihat Kak Jingga selalu bersikap baik-baik aja, itu ngebuat diriku sendiri nggak berguna.”
Ada banyak rasa sakit yang Aidan derita, namun semuanya ia pendam dalam-dalam. Menutupi dengan kesibukannya setiap hari, melalukan kegiatan di tiap waktu senggang, semua itu hanya untuk menutupi rasa sakit yang Aidan derita.
Bahkan Fael dan Jordan saja, tidak tahu sedalam ini lukanya. Mereka adalah sahabatnya yang paling lama, mereka mengenal karakternya begitu baik. Namun yang tidak Fael dan Jordan ketahui adalah rahasia terbesarnya tentang rasa sakit di dalam hati.
Aidan terlalu pandai menutupinya.
“Ma, Pa,” panggilnya lirih. Tangan Aidan terangkat menyentuh langit dari kejauhan, memandang dalam senyap. “Aku hanya berharap Kak Jingga bahagia, sudah saatnya dia menikmati kariernya sekarang,” pintanya sungguh-sungguh.
“Kak Jingga sudah berjuang banyak untukku, tapi sampai hari ini aku nggak bisa balas jasa dia.” Kakaknya adalah harta terindah yang Aidan punya, Jingga adalah satu-satunya keluarga yang setia berada di sampingnya terlepas dari semua masalahnya. Di tengah badai menerpa, Jingga datang membawa cahaya dan menyingkirkan badai.
Jingga sangat berarti baginya, sehingga yang Aidan inginkan saat ini hanyalah kakaknya bahagia.
Kini, Aidan biarkan air matanya terus lolos dari pelupuk, terisak tanpa segan. Saatnya ia menangis bersama hujan, mengeluarkan semua beban di pundak di bawah guyuran hujan dan malam.
Aidan termenung, menatap langit kian dalam. Di sana, dapat ia lihat wajah kedua orang tuanya tersenyum, mereka sudah bahagia di sana. Namun Aidan sendiri, ia terluka.
Dalam tangisnya, Aidan teringat Pelangi. Gadis itu membawa sejuta warna dalam kehidupannya yang biasa, memberi sebuah rasa yang untuk kali pertama Aidan rasa. Entah bagaimana bisa, Aidan mengulas senyum tipis di tengah bulir air mata yang jatuh.
“Ma, ada yang ingin aku ceritakan,” ujarnya sembari menarik nafas panjang. Tangannya mengusap pipi, bukan saatnya untuk bersedih. “Aku suka cewek di sekolahku, aku menyukainya sudah begitu lama. Dia siswi kelas IPS, dia sangat manis dan manja. Tapi dia bukan perempuan yang terbuka pada siapa saja, dia gadis cuek di sekolah,” jelas Aidan menceritakan semua hal yang ia ketahui tentang Pelangi.
Perlahan, senyumnya terbit, dadanya yang sesak berangsur menghilang. “Namanya Pelangi, cantik bukan? Yah, sama seperti orangnya.” Ia terkekeh. “Sejauh ini, kami dekat, selalu bercanda jika ada waktu senggang di sekolah. Dan sejauh ini juga, aku mengenal Pelangi semakin dalam. Dia bukan gadis yang cuek, dia hanya punya ketakutan.” Satu tangan Aidan mengepal.
“Dia cantik sekali, Ma, sangat cantik seperti Mama. Aku ingin memilikinya, menjadikan dia milikku—hanya milikku. Tapi, aku harus berjuang begitu keras untuk mendapatkannya,” adunya penuh penekanan. Sorot matanya yang sendu kini mulai memancarkan sebuah tekad. “Tapi hari ini, aku cuman bisa memandang dari jauh, melewatinya begitu saja, dan tidak berani menggapainya lebih dekat.”
Ingatan tentang perubahan sikap Aidan hari ini membuatnya merasa tak nyaman. Tentang bagaimana ia menjauhi Pelangi, bersikap tidak mengenal pada gadis itu. Mengingat hal tersebut, membuat Aidan pas di katakan brengsek.
“Tapi apa yang aku lakukan ada alasannya, Ma. Aku tau Pelangi nggak mau aku terluka, maka dari itu dia minta aku ngejauh. Awalnya, aku enggan menjauh, namun melihat netranya yang ketakutan, di sana aku yakin untuk menjaga jarak dengannya.” Aidan menghela nafas, ia merindukan perempuan itu.
“Setelah apa yang aku cari ketemu, maka aku akan langsung menghampirinya dan memeluknya seerat mungkin. Aku merindukannya, Ma, aku rindu semua yang ada di diri Pelangi. Aku merindukannya, sangat merindukannya,” ungkapnya dengan sorot sedih. Kedekatan yang tercipta hanya beberapa waktu, selepas itu mereka bagai orang asing.
“Aidan benar-benar kangen Pelangi, sama seperti Aidan kangen kalian,” bisiknya hampa.
Tubuh Aidan bersandar pada pembatas balkon, ia semakin erat memeluk lututnya. Hujan masih setia mengguyur, menemani sepinya malam ini di tengah kerinduan yang melanda. Tawa Pelangi berkeliaran di kepalanya, senyum dan wajah cemberut gadis itu muncul di kepalanya. Sukses membuat Aidan menjadi gila karena kerinduan.
“Brengsek!!! Gue benar-benar buat Pelangi jadi milik gue seutuhnya! Raka, liat apa yang gue lakuin nanti!” sentaknya penuh dendam.
Aidan marah, sama seperti yang di alami Jingga saat ini. Perempuan itu berdiri di sisi pintu balkon, menatap adiknya yang termangu di menatap hujan dengan amarah yang dalam. Kedua tangan Jingga terkepal keras, sorot matanya menandakan bahwa saatnya melancarkan aksinya.
__ADS_1
...***...