Rapunzel & Obsesi Dua Pria

Rapunzel & Obsesi Dua Pria
38| Bara


__ADS_3

Ternyata hujan masih setia bertahan hingga pagi mendatang. Rintiknya masih ramai, langit pun tidak cerah jadinya. Hawa dingin semakin menusuk kulit kala angin menerpa tubuh..


“Selamat pagi semua,” sapa Pelangi ceria. Ia berjalan mengecup pipi bunda, lalu berganti pada ayah dan Raka. Pelangi kemudian duduk di samping bunda, padahal Raka sudah menarik kursi agar duduk di sebelahnya.


“Selamat pagi juga sayang,” balas bunda sambil melayangkan kecupan beberapa kali di pucuk kepala putrinya. Gadis itu tersenyum.


Acara sarapan pun di mulai, Raka selalu memberi potongan ayam miliknya ke piring Pelangi. Sudah biasa, Raka memang selalu seperti itu jika menu makanan ada ayamnya. Jika di lihat-lihat, Raka adalah pria idaman sekali, begitu beruntung perempuan yang bisa mencuri perhatian Raka.


“Eh, Bang Saka mana? Bow kira udah turun.” Pelangi celingak-celinguk. “Masih tidur, ya?” Pantas saja rasanya ada yang kurang, ternyata Saka belum ada kelihatan batang hidungnya.


“Kenapa cari-cari? Kangen ya?” celetuk Saka bersamaan dengan tubuh janggungnya yang muncul.


“Dih! Geer banget!” cibir Pelangi sambil memeragakan gaya muntah. Namun kemudian ia mendekatkan tubuhnya ke arah Saka. “Harini antarin gue ke sekolah ya, bang? Takut macet kalau naik mobil,” kata Pelangi. Kemarin, ia sempat terjebak kemacetan saat di antar oleh ayah, dan hari ini Pelangi enggan terjebak macet lagi.


“Hujan,” sambar Raka tenang.


“Ah, iya juga.” Pelangi mendesah kecewa.


“Tenang, Bow! Gue bakal ikut anterin lo, kok. Tenang-tenang.” Saka menunjukkan wajah santai dan sedikit terlihat bangga. Netranya melirik Raka, senyum Saka terpatri miring.


“Oke kalau begitu!”


Pelangi kembali menyuap sarapan dengan tenang. Tidak ada obrolan lagi di antara mereka selain bunda yang menanyakan beberapa pekerjaan ke ayah. Pelangi tidak ada angkat bicara, ia masih sedikit canggung dengan Raka.


“Bow udah.” Pelangi meneguk air putih, selepas itu ia menyikut tasnya. “Ayo, bang. Bow harus cepat,” ajaknya tak sabaran.


“Bentar-bentar.” Saka menghabiskan susu di hadapannya dengan beberapa kali teguk saja. Sekitaran bibirnya yang celemotan di biarkan saja tanpa repot membersihkannya terlebih dahulu.


“Kang Jorok,” gumam Pelangi geleng-geleng kepala. Pelangi berpamitan pada bunda dan ayah, setelah itu Pelangi, Raka dan Saka berjalan beriringan menuju depan.

__ADS_1


Raka membukakan pintu untuk Pelangi di bagian belakang, gadis itu langsung masuk setelah mengucapkan terima kasih. Mobil pun akhirnya melesat membelah jalanan yang basah.


Pelangi condongkan tubuhnya ke depan, menatap Saka lamat-lamat. “Bow perhatiin, Bang Saka nggak pernah kuliah, ya?” tanya Pelangi terheran-heran.


“Kuliah gue enteng, Bow. Yang penting sering absen aja sih,” sahut Saka kalem.


“Enak banget. Gitu bisa lulus, bang?” Pelangi benar-benar heran, selama Saka memasuki dunia perkuliahan, cowok itu jarang sekali pergi ke kampus untuk mengikuti kelas. Entah bagaimana bisa dia naik ke semester dua.


“Bisalah! Kalau skripsi lo bener, ya pasti lulus. Lagian gue swasta, yang penting rajin bayar aja mah!”


“Menyesatkan,” sungut Raka datar.


“Dih!” Saka berdecih jengah. “Masih mending gue mau kuliah, kalau kagak bagemane? Lagian yah, bokap udah kaya. Ngapain gue repot-repot kerja nantinya?”


Pelangi langsung bertepuk tangan, matanya berbinar-binar. “Keren, bang! Kata-katanya menyentuh dasar hati Bow yang paling dalam!” seru Pelangi bangga.


Saka langsung menepuk dada, mengangkat dagu setinggi-tingginya dengan wajah songong bukan main. “Semoga lo jadi kayak gue, selalu membanggakan!”


Sontak saja Raka tertawa, pria itu benar-benar tertawa. Sedangkan Saka ternganga, terlihat juga kesal karena Raka menertawakannya. Saka menoleh ke Pelangi, gadis itu memasang tampang polos yang membuat Saka gemas sekaligus kesal.


“Mulut lo, Bow,” omel Saka menyentil pelan bibir bawah Pelangi.


Tak lama kemudian, mobil Raka memasuki kawasan SMA Harapan. Siswa-siswi terlihat sedikit, ada beberapa orang yang berlari memasuki sekolah dengan tangan menutup kepala. Pelangi bersyukur karena Raka memarkirkan mobilnya di tempat yang tertutup.


“Bow turun yang, bang?” pamit Pelangi sambil menggendong tasnya. Ia memajukan tubuh, menyalimi tangan Raka dan Saka bergantian, namun yang pertama kali ia kecup pipinya adalah Saka. “Bow pergi dulu,” pamitnya lagi. Namun, belum sempat ia memundurkan tubuh, Raka menarik wajahnya dan melayangkan kecupan di pinggir bibirnya. Pelangi terpaku dengan mata membulat.


“Kerjakan soal dengan benar,” ucap Raka setelah melepas rangkumannya pada wajah Pelangi. Wajah pria itu benar-benar tidak menunjukkan keterkejutan.


“O-oke.” Pelangi jadi blank, bahkan ia turun dari mobil masih terbayang wajah Raka sedekat itu dengannya. Pelangi menepuk kedua pipinya, kedua matanya mengedip beberapa kali. “Gila, hampir aja kena bibir,” gumamnya. Ia syok sekali.

__ADS_1


Saat hendak memasuki gedung sekolah, mata Pelangi tidak sengaja melihat sebuah mobil sport berwarna gold memasuki kawasan sekolah. Semua perhatian mengarah ke mobil itu, dan pekikan terkejut tak terelakkan lagi saat Aidan turun dari mobil itu.


Mata Pelangi mengerjap, ia sedikit meneguk ludah. “Ganteng banget parah,” ucapnya tanpa sadar.


Aidan menyisir rambutnya yang mulai basah karena melewati hujan. Gayanya yang santai namun cool tersebut benar-benar melelehkan puluhan kaum hawa hanya karena menatapnya. Pelangi saja sampai tidak bisa berkedip, seperti yang ia katakan, Aidan begitu tampan.


Pelangi terpana, jantungnya nyaris melebihi batas normal. Ini gila, benar-benar gila. Bagaimana bisa Aidan bersikap demikian di hadapan semua orang, sungguh, Pelangi merasa tidak rela saat ketampanan Aidan di lihat perempuan lain.


“Enggak! Enggak! Gue harus bisa ngongtrol perasaan gue sendiri.” Pelangi menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Berhenti mikiran Aidan, ini yang terbaik,” tekannya pada dirinya sendiri.


Sesaat Pelangi mendongak, pandangannya beradu dengan Aidan. Hanya beberapa saat, sebelum cowok itu mengalihkan pandang dan menyenggang pergi melewati Pelangi bagai orang asing. Netra yang tadinya sempat bertabrakan, seperti hanya sebuah pandangan tak sengaja.


“Aduh, kok malah ada air mata sih?” dumel Pelangi sambil mengusap ujung matanya. Ia tidak berbohong, cinta yang Pelangi rasa tidak sedangkal anak remaja, ini cinta sungguhan yang Pelangi rasa. “Kenapa di saat kayak gini gue malah jatuh cinta?” tanyanya pada dirinya sendiri.


“Sialan.” Pelangi mengumpat sembari memegangi dadanya. “Sakit banget!” sungguh, rasanya benar-benar gila. Ini kali pertama ia mengumpat hanya karena di cueki oleh seorang laki-laki, sepertinya cinta memang akan selalu mengubah seseorang.


Langkah demi langkah Pelangi hela dengan gontai, melalui siapa saja tanpa minat. Wajahnya yang ceria berubah drastis hanya karena sikap Aidan. Ah, itu sangat menyakitkan.


“Masih sembunyi di balik ketakutan ternyata? Cih, pecundang!”


Pelangi sontak menggantikan langkahnya saat seseorang berbisik di telinganya. Pelangi memutar kepala, melihat Bara melempar smirk padanya. Pelangi membeku.


“Jalan sama gue bahkan berani bohong sama abang sendiri berani, masa sama orang yang di suka nggak berani? Ck! Ck! Ck! Benar-benar pecundang!” Bara berdecak penuh ejekan.


Pelangi meneguk ludah, ia tidak mampu berkata-kata. Ini kali pertama Pelangi melihat Bara semenjak hari itu. Dan hari ini Bara memunculkan wajahnya dan memberi banyak kata-kata yang memohok dan menampar keras hati Pelangi.


“Selamat menikmati masa penyesalan, girl.” Bara melambai singkat, sebelum mengambil langkah pergi dengan tangan di masukkan ke dalam saku celana.


Pelangi terdiam cukup lama, memahami arti dari perkataan cowok itu. Perkataannya memang mudah di pahami, namun yang membuat Pelangi blank seperti ini ialah mengapa Bara repot-repot mengatakan hal itu padanya seakan dia peduli.

__ADS_1


Mata Pelangi menatap di mana Bara menghilang, sepertinya ia mengerti. “Jadi, hari itu Bara mau nemuin gue sama Aidan?” tanyanya penuh keyakinan. “Dan hari ini, dia mau gue juga berjuang .” Yah, Bara memang tidak buruk.


...***...


__ADS_2