Rapunzel & Obsesi Dua Pria

Rapunzel & Obsesi Dua Pria
13| Puncak


__ADS_3

“Kita senang banget lo ikut, Ngi. Kita kira lo nggak jadi pergi karena nggak di izinin,” kata Chika begitu antusias.


“Iya, gue kaget banget waktu liat lo datang sama dua abang lo. Gue kira mereka ikut juga,” decak Dira terkagum-kagum sekaligus terkejut.


Pelangi terkekeh, kedua abangnya memang selalu menggemparkan tempat di mana mereka berdiri. Sepertinya Raka dan Saka sudah pulang, Pelangi tidak melihat mereka lagi di luar.


“Eh lo duduk sendirian ya? Gue aja deh yang temenin ya, Ngi?” tawar Chika.


Benar, Pelangi duduk sendirian saat ini. Chika dan Dira duduk di belakangnya. Pelangi menggeleng. “Nggak papa kok,” balasnya tidak masalah.


“Ada gue.”


Pelangi langsung menoleh ke samping, matanya membulat melihat Aidan langsung duduk di sampingnya tanpa bilang-bilang dulu. Mata Pelangi mengerjap kaget.


“Bus kelas gue penuh, jadi gue numpang di sini aja. Boleh kan gue duduk di samping lo?” Aidan menoleh ke arah Pelangi, ia tersenyum geli melihat wajah kaget gadis itu.


“Bo—boleh ...,” jawab Pelangi terbata. Namun segera ia menggeleng dan menjauhkan diri. “Nggak boleh!” sentaknya dengan suara cukup keras.


“Kenapa? Di sini kosong, kan? Lagipula, nggak ada tempat duduk yang kosong selain di sini,” kata Aidan santai.


Bus mulai berjalan, Pelangi langsung menatap ke luar takut masih ada keberadaan abangnya. Namun sepertinya ia aman, tapi tetap saja ia sudah berjanji.


“Chi, duduk sama gue ya?” pinta Pelangi dengan pandangan penuh arti kepada Chika.


Chika terlihat bingung harus mengiyakan atau tidak, Dira pun sama bingung dan ragunya. Mereka tahu bagaimana takutnya Pelangi berdekatan dengan laki-laki, namun Aidan juga terlihat enggan untuk beranjak.


“Ayo dong, Chi?” bujuk Pelangi lagi dengan wajah memelas.


“Iya, Ngi, gue pindah.” Chika berdiri, namun dia tercengang melihat Aidan malah memasang earpohone di telinganya dengan santai.


“Gue aja deh yang ke belakang,” tawar Pelangi deg-degan. Ia bangkit namun tertahan sebab ia tidak bisa lewat. “Duh gimana nih?” gumamnya cemas. Sesekali pandangannya mengarah ke sekitaran jalan, takut kedua kakaknya melihatnya.


“Lo bisa pindah?” pinta Pelangi pada Aidan sambil menyentuh pundak cowok itu dengan jarinya. “Gue nggak bisa duduk sama cowok,” jujurnya.


Aidan tidak menanggapi, terlihat bodo amat dan pura-pura tidak mendengar. Dia asyik saja dengan lagunya, padahal jika tahu, earphone itu tidak tersambung dengan ponselnya.


“Udah, Ngi, nggak papa. Anggap aja lo duduk sendirian,” bisik Dira ikut cemas.

__ADS_1


Pelangi kembali duduk, ia menyesal karena menolak tawaran Chika untuk duduk bersama tadi. Jika sudah seperti ini, Pelangi hanya mampu berdiam dan membiarkan Aidan duduk di sampingnya.


Perjalanan akan sangat jauh, dan selama itu Pelangi harus bersabar karena Aidan masih setia duduk di sampingnya enggan sama sekali beranjak dan peka dengan ketidaknyamanan yang Pelangi rasa.


“Lo aman, Ngi?” tanya Chika dengan raut wajah tak nyaman. “Maaf ya nggak bisa bantu lo,” ucapnya merasa bersalah.


Pelangi mulai menyunggingkan senyum tipis dan menenangkan. “Nggak papa kok, Chi,” sahut Pelangi ringan. Walau kini hatinya merasa resah, Aidan duduk di sampingnya, jantungnya pun berdebar. Entah berdebar karena takut kakaknya melihatnya, atau karena Aidan duduk di sampingnya.


“Eh?!“ Pelangi nyaris memekik kencang saat kepala Aidan tiba-tiba bersandar di bahunya. Jantung Pelangi sudah tidak bisa di ukur lagi betapa kencang degupnya.


“Abang-abang lo cakep banget ya, Ngi. Pantas aja lo betah sama mereka terus.”


Pelangi meneguk ludah, tidak mampu lagi berpikir logis. Intinya saat ini Pelangi shock luar biasa, sehingga tidak berpikir lagi untuk menjauhkan kepala Aidan segera dari bahunya.


“Nama panggilan lo, Bow, ya? Manis sekali.”


Tubuh Pelangi menegang mendengar kekehan lembut dari bibir cowok itu. Ya ampun, Pelangi tidak tahu perasaan apa yang sedang ia rasa saat ini.


Aidan menunjukkan ujung earphone yang tidak tersambung ke handphone, dia kembali tertawa. “Sorry kalau gue menyebalkan,” bisiknya.


“Gue terganggu,” cicit Pelangi tertahan. Kepala cowok itu masih bersandar nyaman di pundaknya, seakan di sana tempat paling nyaman hingga membuatnya enggan beranjak.


Alunan musik menyapa telinga Pelangi, jantungnya kian berdebar. Teman sekelas Pelangi banyak yang curi-curi pandang ke arah mereka, membuat pipi Pelangi memerah sebab malu.


“Aidan, gue terganggu sama perilaku lo,” tegas Pelangi lebih serius.


Aidan akhirnya mengangkat kepalanya, namun tidak menjauhkan wajahnya. Earphone yang terhubung di telinga mereka bagai tali yang menyalurkan rasa. Aidan tersenyum lebar hingga kedua matanya nyaris menyipit.


“Akhirnya lo nyebut nama gue,” kekeh Aidan senang.


Pelangi membuang muka, langsung melepas earphone di telinganya dan menatap ke luar jendela. Pelangi memegang dadanya, di sana, jantungnya berdetak teramat kencang. Sampai-sampai Pelangi harus menarik nafas panjang agar jantungnya kembali normal.


“Nanti di puncak jangan jauh-jauh dari gue, ya? Gue nggak mau lo kenapa-napa,” tutur Aidan tiba-tiba terdengar serius.


...🌈🌈🌈...


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya bus mereka berhenti di tempat tujuan. Semua orang perlahan turun sambil membawa ransel mereka masing-masing, segarnya alam membuat mereka tersenyum lebar.

__ADS_1


Pelangi memandang berbinar tempat yang siap ia jajah, melewati berbagai jalan dan tanjakan untuk sampai di ujung puncak tempat mereka berkemah selama tiga hari. Pelangi merasa deg-degan.


“Ayo, Ngi, ke sana,” ajak Chika sambil menunjuk kumpulan guru yang memberi banyak arahan pada mereka.


Tour SMA Harapan bukan seperti berkeliling hutan untuk mencari bendera dan mengikuti anak panah untuk mendapatkan hadiah saat datang lebih awal. SMA Harapan menerapkan agenda berkenalan dengan alam, tidur di tenda selama tiga hari dan menikmati perjalanan singkat mengelilingi hutan bersama-sama.


SMA Harapan tidak ingin mengambil risiko dengan membiarkan anak-anak mereka berkeliling hutan berkelompok berkedok permainan. Lebih bagus berkeliling bersama di temani dengan guru. Selain merefresh pikiran, bisa jadi juga sebagai sarana edukasi.


“Lo jangan jauh-jauh dari kita ya, Ngi? Kalau mau apa-apa bilang aja ke kita,” ucap Dira terlalu perhatian.


“Iya, Dir. Nggak usah khawatir,” sahut Pelangi ringan.


Perjalanan di mulai, biasanya di paling belakang anak-anak OSIS dan beberapa guru laki-laki untuk jaga-jaga. Yang perempuan juga di suruh berjalan di paling depan bersama beberapa anak OSIS juga dan guru.


Dan Pelangi bernafas lega karena Aidan tidak berada di dekatnya lagi. Cowok itu di baris paling belakang, bersama teman-temannya yang lain. Pelangi berjalan dengan antusias.


“Di sini enak ya perjalanannya, nggak terlalu jauh perjalanannya jadi nggak capek kalau jalan kaki lagi kayak gini,” tutur Chika sedikit lega.


“Lo benar, Chi. Gue bahkan waktu udah mau pingsan, untung aja ada Fael yang nolongi,” timpal Dira sambil terkikik-kikik gemas.


“Halah modus doang dia, Dir. Lo nggak tau aja kalau Fael tu friendly ke semua cewek.”


“Biarin, yang penting gue dapat perhatian dari dia,” ledek Dira acuh.


Pelangi hanya tersenyum menanggapi tingkah kedua temannya. Rasanya benar-benar asing saat berada di posisi sekarang bersama dengan orang lain dan temannya. Ini adalah hal baru yang Pelangi rasakan.


“Memangnya, dulu kalian ke mana?” tanya Pelangi penasaran.


“Ke Bogor, Ngi. Lo tau aja kan perjalanannya tuh jauh, belum lagi kalau macet. Jadi, ya, capek di perjalanan doang,” jelas Chika gamblang.


“Ah ... Bogor, ya?” gumam Pelangi. Ia juga pernah ke puncak daerah Bogor bersama keluarganya, di sana sangat indah namun sayangnya mereka tidak menginap.


“Iya Bogor. Setelah istirahat sebentar, kita mulai tuh pasang tenda terus siap-siap buat jalan-jalan,” lanjut Chika menjelaskan. Akhirnya, perjalanan mereka menuju puncak di temani dengan cerita panjang dari Chika dan Dira. Mereka menceritakan banyak hal yang terjadi di Bogor waktu itu.


Pelangi menikmati cerita Chika dan Dira. Akhirnya Pelangi punya cerita yang menyenangkan semasa SMA.


Pelangi menoleh sedikit ke belakang, namun ternyata Aidan menatapnya. Cowok itu sedikit memiringkan kepala agar dapat melihat Pelangi lebih jelas, senyum Aidan terlempar lebar ke arah Pelangi.

__ADS_1


Buru-buru Pelangi memutar kembali kepalanya ke depan. Aidan benar-benar membuat jantung Pelangi hendak copot hanya karena senyum dan tatapan matanya. Ya ampun, pipi Pelangi terasa panas.


...🍁🍁🍁...


__ADS_2