
Sinar matahari mulai menyusup melalui celah-celah gorden yang terbuka, cahaya terangnya mengusik perempuan yang masih setia menutup mata enggan kembali ke alam realita. Dengkuran halus yang keluar dari mulutnya tanda tidurnya begitu nyenyak.
Namun semakin lama sinar matahari kian terang menyorot wajah Pelangi, mengharusnya gadis itu membuka mata dan berdecak karena terganggu. Detik demi detik berlalu, hingga kesadaran Pelangi mulai terkumpul sepenuhnya.
“Aduh, kok sakit ya pinggang gue?” tanya Pelangi dengan wajah bantal. Ia meringis sembari memegangi pinggangnya yang sakit luar biasa hingga ke perut.
Pelangi bangkit dari posisinya untuk segera mandi, namun saat menyibak selimut, mata gadis itu melotot dengan detak jantung nyaris berhenti.
“Darah?” beo Pelangi dengan tubuh mati rasa, detik berikutnya Pelangi berteriak dan berlari keluar menghampiri kamar sebelah. “ABANG?!!” teriak Pelangi sambil mengedor pintu sebelahnya. Ia menangis, sangat takut.
Pintu terbuka seketika, menampilkan wajah panik Raka dan Saka. “Kenapa? Ada apa?” tanya Raka beruntun.
“Bow kena bang,” lirih Pelangi terisak-isak. Tangannya di tarik masuk, pintu kembali di tutup.
“Ke-kena apa?” pekik Raka semakin panik. “Sayang, kenapa? Kamu kena apa?” Raka merangkum wajah Pelangi, menatap netranya yang berair dengan tatapan cemas luar biasa.
Bukannya menjawab, Pelangi malah semakin menangis.
“Bow, kenapa?!” Saka refleks berteriak pun merasa khawatir saat Pelangi tidak sama sekali menjawab melainkan menangis kejer.
“Bow kena, abang! Bow keluar darah!!” pekik Pelangi kencang.
“Apa?” mata Raka mengerjap, kurang mengerti.
“Mens?! Lo datang bulan, Bow?!”
“Iya, abang!!! Huaaa, Bow nggak bawa pembalut! Kasur Bow juga kena!! Abang, gimana nih?! Bow takut!!” teriak Pelangi kian kejer menangis. Masalahnya, ia mengenai seprai kamar hotel.
“Ya Allah, Bow, kok bisa sih?!” tanya Saka dengan mata melotot. “Aduh, jangan nangis gini dong, Dek. Kayak pertama kali aja lo,” omel Saka sambil menghela nafas lega. Ia pikir Pelangi kenapa-napa.
“Bang Saka!! Bow tembus ini!! Bow nggak bawa apa-apa!! Kalau di liat hantu gimana?!”
Raka mengambil jaketnya yang terlampir di kepala sofa, melilitkannya pada belakang tubuh Pelangi kemudian mendekap tubuhnya menenangkan. “Nggak di liat lagi kok, jangan nangis, ya?” pinta Raka lembut.
“Kasur Bow gimana?! Pasti di liatin hantu abang!!” pekik Pelangi kian jadi, membuat Saka dan Raka bingung harus menghadapi bagaimana.
“Beli pembalut sana bang! Gue jagain Bow di sini,” suruh Saka pada Raka.
__ADS_1
“Kamu yang pergi beli sana! Nggak usah nyuruh-nyuruh!” tukas Raka galak.
“Huaa!!! Kalian jahat banget sama Bow! Aduhh!! Makin banyakkk!!!”
“Apanya yang makin banyak?!” panik Saka sambil melotot. Wajahnya pucat bukan main, kaget menghadapi adiknya yang datang bulan.
“Saka, cepat!” tegas Raka menyuruh Saka agar segera membeli pembalut untuk Pelangi. Sungguh, Raka tidak bisa membayangkan setiap hari Pelangi berteriak dan menangis seperti ini. Rasanya seperti apa, sih?
“Ken—“ Saka tidak mampu melanjutkan perkataannya, ia mengumpat dan mendesis ke arah Raka. “Bentar ya, Bow, gue pergi beli dulu,” kata Saka sambil mengusap rambut Pelangi lembut. “Udah, jangan nangis,” pintanya.
Saka kemudian berjalan keluar, wajahnya sangat pasrah. “Pembalut ada berapa macam, sih? ****, kenapa harus gue??” rutuk Saka. “Sabar, Ka, demi adik tersayang dan tercinta lo. Beliin pembalut adalah cowok sejati!” tegasnya sambil menepuk dada, namun setelahnya tubuhnya kembali lemas.
Pelangi mendongak menatap Raka, netranya yang berkaca-kaca menyorot mata Raka dalam. “Sakit, bang, pinggang Bow. Sakitnya sampai ke dada, sakit banget,” ungkap Pelangi.
Raka mengusap wajahnya, bingung harus menghadapi bagaimana. Ini memang bukan kali pertama, namun bunda selalu siap siaga saat Pelangi hendak datang bulan.
“Di mana sakitnya? Kita ke rumah sakit, mau?” tanya Raka kembali menarik Pelangi dalam dekapannya. Ragu, tangannya mengusap pinggang Pelangi halus. “Yang mana sakitnya?” ulangnya lagi penuh kecemasan.
“Semuanya. Rasanya kayak di tusuk jarum, rasanya kayak mau muntah, mau buang air besar, pokoknya sakit banget,” ritih Pelangi lirih. Nyatanya ini sangat sakit, Pelangi tidak berbohong bagaimana rasa sakit yang ia alami.
Raka membawa Pelangi duduk, namun gadis itu menolak. “Makin sakit kalau berdiri,” ujarnya pelan.
“Kamu mandi dulu, ya? Biar abang yang bersihin bekas kamu,” tutur Raka kelewat lembut.
“Nggak usah, biar Bow sendiri aja yang bersihin. Dosa bang, Bow sadar kalau Bow banyak dosa. Jangan di tawarin bikin dosa lagi,” keluhnya.
Raka tertawa kecil, tangannya masih aktif mengusap pinggang Pelangi berharap nyeri pada tubuh adiknya sedikit berkurang. “Jangan nangis lagi, kamu bikin abang cemas sekali,” pinta Raka sungguh-sungguh.
“Abang mungkin akan nangis juga kalau merasakannya,” gumam Pelangi.
Raka termangu, bibirnya terkatup rapat dan dekapannya kian mengerat. Raka hanya mampu bertanya dalam hati mengenai rasa sakit itu, dan kini ia merasa bersalah pernah menyakiti perasaan adiknya hingga membuatnya menangis.
“Nih, Bow. Buruan mandi, kita ke rumah sakit aja.” Saka datang membawa bungkus keresek lumayan besar berwarna hitam. Topi berwarna hitam di kepalanya di lempar ke kasur, entah dapat dari mana topi itu.
Pelangi membuka keresek tersebut, matanya melotot mendapati banyak bungkus pembalut yang berbeda-beda. “Abang! Ini banyak banget! Bow nggak pake semua ini!” pekik Pelangi kesal.
“Pakai yang lo gunakan selama ini aja, Bow. Sisanya buang,” sahut Saka dengan nafas ngos-ngosan. “Penuh perjuangan gue beli itu,” omelnya.
__ADS_1
Pelangi mendengus, kemudian berjalan ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Tak lama setelahnya, Pelangi keluar dengan pakaian lengkap, kedua abangnya langsung berdiri saat ia keluar.
“Udah enakkan?” tanya Raka dahulu.
“Belum, masih sakit,” jawab Pelangi.
Saka mendekat, mengusap pipi Pelangi yang dingin. “Muka lo pucat, kita ke rumah sakit aja ya, Bow? Kalau lo pingsan gue yang bakal mati,” ucapnya terlalu khawatir.
Pelangi mengibaskan tangannya di udara, ia berjalan keluar kamar untuk segera membersihkan bekas darah di seprai tempat tidurnya. Tanpa menjawab bujukan cemas kedua abangnya, Pelangi segera membersihkan agar cepat berbaring.
“Kamu nggak papa? Ada sesuatu yang bisa ngurangin nyerinya?” tanya Raka.
Setelah membersihkan noda darah hingga tidak terlihat, Pelangi langsung menghela nafas lega. Rasa sakit di pinggangnya ia tahan demi noda itu menghilang, kemudian setelah itu tukang pembersih kamar hotel yang Raka panggil kemari datang dan memasang seprai baru.
“Bow mau air hangat, di peluk di perut,” jawab Pelangi setelah membaringkan tubuhnya di atas kasur kamar inap Raka dan Saka. Kedua matanya terpejam, nafasnya terasa sesak di tarik.
“Pergi cari sana bang! Gantian!” suruh Saka tanpa bantahan.
Awalnya Raka menolak, namun melihat raut kesakitan Pelangi membuatnya tidak tega. “Abang ke bawah dulu, jika nggak kuat nahannya, bilang agar kita ke rumah sakit,” ucap Raka sebelum memberi kecupan di permukaan wajah Pelangi penuh sayang.
Selepas itu, Raka berjalan keluar walau rasanya enggan.
Saka mengambil minyak kayu putih di dalam tas Pelangi, kemudian mendudukkan dirinya di samping adiknya. “Pakai ini mau?” tanyanya.
Pelangi hanya bergumam, matanya terbuka sedikit namun kemudian kembali terpejam.
“Abang buka ya?” tanya Saka lagi meminta persetujuan. Saat Pelangi kembali bergumam, Saka akhirnya berani menyusupkan tangannya di perut adiknya itu. Mengusap permukaan perut Pelangi dengan minyak yang sudah ia teteskan di tangan.
“Tidur, ya? Kalau rasanya nggak enak bilang sama abang.”
“Iya,” jawab Pelangi lirih. Ia mengubah posisi menjadi miring, tangan Saka masih setia mengusap perutnya dan rasanya mulai nyaman.
Saka mengecup pucuk kepala Pelangi, rautnya sedih melihat wajah pucat dan kesakitan adiknya itu. Rasanya pasti sakit sekali, Saka jadi takut jika punya pacar nanti.
“Makasih ya abang karena selalu ada buat Bow. Bow sayang kalian,” lirih Pelangi tulus sebelum jatuh tertidur.
Saka tersenyum, pergerakannya tidak sama sekali terhenti walau Pelangi mulai merasa nyaman. “Abang juga sayang sama Bow. Sayang banget,” balasnya halus.
__ADS_1
...🍁🍁🍁...